kontekstual

Posted: 09/12/2010 in tU9aS kuL...

PENERAPAN PENDEKATAN CTL (CONTEXTUAL TEACHING &
LEARNING) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS & HASIL
BELAJAR POKOK BAHASAN KOLOID SISWA KELAS XI SMA N 1
KENDAL
skripsi
Disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan
oleh
Ratih Irawati
4301403013
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2007
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia
skripsi pada.
Hari :
Tanggal :
Menyetujui,
Dosen Pembimbing I, Dosen Pembimbing II,
Drs. Nuwachid Budi S, M.Si Drs. Kasmui, MSi
NIP. 130604215 NIP. 131931625
Mengesahkan,
Ketua Jurusan Kimia
Drs. Sigit Priatmoko, Msi
NIP. 131965839
iii
PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi FMIPA
UNNES pada tanggal
Panitia:
Ketua Sekretaris
Kasmadi Imam S. Drs. Sigit Priatmoko, Msi
NIP. 0000000 NIP. 131965839
Penguji Penguji/ Pembimbing I
Drs. Nuwachid Budi S, M.Si
NIP. 130604215
Penguji/ Pembimbing II
Drs. Kasmui, Msi
NIP. 131931625
iv
PERNYATAAN
Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini adalah benar-benar hasil
karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau
seutuhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini
dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.
Semarang, Juli 2007
Ratih Irawati
NIM. 4301403013
v
MOTTO
MOTTO
• ‘Sesungguhnya di samping kesukaran terdapat kemudahan’ (Al Insyirah 5).
• ‘No one can walk backward into future’ (Herghesheimer, Joseph).
• ‘The only good is knowledge, and the only evil is ignorance’ (Diogenes
Laertius).
Skripsi ini untuk:
1. Orang tuaku tercinta.
2. Kakakku; mba Mus, mba Nung, dan
mas Faizin yang selalu memberiku
motivasi dan semangat hidup.
3. Kakek dan Alm. Nenek yang selalu
mendoakanku.
4. Anis, Dyah, Trias, Yeni, Kristin
‘Geng 6’ yang berada di sampingku
dalam suka dan duka.
5. My self
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah S.W.T yang senantiasa melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Penerapan Pendekatan
CTL (Contextual Teaching & Learning) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil
Belajar Pokok Bahasan Koloid Siswa Kelas XI SMA N 1 Kendal” dapat
terselesaikan. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan Kimia di FMIPA UNNES.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:
1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberi kesempatan kepada
penulis untuk menyelesaikan studi Strata 1 jurusan Kimia FMIPA Unnes.
2. Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang yang telah memberi ijin untuk
melaksanakan penelitian.
3. Ketua Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Semarang yang telah
membantu dalam hal administrasi.
4. Drs. Nurwachid Budi S, M.Si dan Drs. Kasmui, M.Si sebagai dosen
pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam
menyusun skripsi.
5. Drs. Sutopo, M.Pd sebagai kepala SMA N 1 Kendal yang telah memberi ijin
kepada penulis untuk melaksanakan penelitian.
6. Nur Anni Kartikawati, S.Si sebagai guru kimia SMA N 1 Kendal yang
berkenan membantu dan bekerjasama dengan penulis selama penelitian.
vii
7. Teman-teman Pendidikan Kimia angkatan 2003 yang telah memberikan
bantuan kepada penulis.
8. Semua pihak yang telah berkenan membantu penulis baik selama penelitian
maupun selama penyusunan skripsi ini, yang tidak mungkin penulis sebutkan
satu persatu.
Akhirnya penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi penulis pada
khususnya dan bagi para pembaca pada umunya.
Semarang, Agustus 2007
Penulis
viii
ABSTRAK
Irawati, Ratih. 2007. Penerapan Pendekatan CTL (Contextual Teaching &
Learning) untuk Meningkatkan Aktivitas & Hasil Belajar Pokok Bahasan Koloid
Siswa Kelas XI SMA N 1 Kendal. Skripsi, Pendidikan Kimia, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang.
Pembimbing I Drs. Nurwachid Budi S, M.Si, Pembimbing II Drs. Kasmui, M.Si.
Kata kunci: Pendekatan kontekstual, aktivitas belajar, hasil belajar, koloid
Observasi awal pada siswa kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal menunjukkan
rendahnya aktivitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Hasil observasi
kelas menunjukkan bahwa siswa kurang termotivasi untuk menjawab pertanyaan
yang diberikan guru dan sebagian besar siswa menganggap bahwa kimia
merupakan mata pelajaran yang sulit. Permasalahan tersebut menyebabkan hasil
belajar kimia kurang maksimal yang berdampak tidak tercapainya ketuntasan
belajar secara klasikal maupun individu.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil
belajar kimia pokok bahasan koloid dengan pendekatan CTL (Contextual
Teaching & Learning). Subyek penelitian ini adalah kelas XI IPA 1 tahun
pelajaran 2006/2007 dengan jumlah 43 siswa. Metode pengumpulan data yang
digunakan adalah dokumen data tentang kondisi awal siswa diambil dari nilai tes
semester I. Tes yang diberikan sebelum (pre tes) dan setelah (post tes) bertujuan
untuk mengetahui hasil belajar kognitif. Penilaian afektif, psikomotorik, aktivitas
siswa diperoleh dari pengamatan melalui lembar observasi, data analisis kuesioner
diperoleh melalui lembar kuesioner.
Berdasarkan data yang diperoleh, nilai rata-rata aktivitas siswa mengalami
peningkatan. Rata-rata nilai aktivitas siswa pada siklus I sebesar 64,4 dengan
ketuntasan secara klasikal 65,1%, pada siklus II rata-rata nilai 68,2 dengan
ketuntasan secara klasikal 74,4%, dan pada siklus III rata-rata nilai 71,7 dengan
ketuntasan secara klasikal 86. Adanya peningkatan aktivitas siswa juga disertai
dengan peningkatan hasil belajar. Hasil belajar kognitif pada siklus I rata-rata nilai
sebesar 69,7 dengan ketuntasan belajar klasikal 58,1%, rata-rata nilai siklus II
76,7 dengan ketuntasan belajar klasikal dan 72,1%, rata-rata nilai pada siklus III
sebesar 77dengan ketuntasan belajar klasikal 86%. Rata-rata nilai hasil belajar
psikomotorik pada siklus I sebesar 63,1 dengan ketuntasan belajar klasikal
62,8%, pada siklus II rata-rata nilai sebesar 65,4 dengan ketuntasan belajar
klasikal 74,4%, dan pada siklus III rata-rata nilai 70,2 dengan ketuntasan belajar
klasikal 88,4%. Rata-rata nilai hasil belajar afektif pada siklus I sebesar 62,6
dengan ketuntasan belajar klasikal 53,5%, pada siklus II rata-rata nilai 66,8
dengan ketuntasan belajar klasikal 72,1, dan rpada siklus III rata-rata nilai 69,5
dengan ketuntasan belajar klasikal 86%.
Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan, dengan penerapan pendekatan
kontekstual (CTL) dalam proses pembelajaran pokok bahasan koloid dapat
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal.
ix
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………………… i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ……………………………………………………. ii
PENGESAHAN …………………………………………………………………………….. iii
PERNYATAAN ……………………………………………………………………………. iv
MOTTO ……………………………………………………………………………………….. v
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………. vi
ABSTRAK ……………………………………………………………………………………. viii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………. ix
DAFTAR TABEL ………………………………………………………………………….. xii
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………………………… xiii
DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………………….. xiv
BAB I. PENDAHULUAN
A. Alasan Pemilihan Judul …………………………………………………… 1
B. Penegasan Istilah ……………………………………………………………. 5
C. Rumusan Masalah ………………………………………………………….. 6
D. Tujuan Penelitian ……………………………………………………………. 6
E. Manfaat Penelitian …………………………………………………………. 6
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Tinjauan Pustaka ……………………………………………………………. 7
1. Pengertian Belajar …………………………………………………….. 7
x
2. Aktivitas Siswa dalam Kegiatan Pembelajaran ……………… 8
3. Hasil Belajar …………………………………………………………….. 10
4. Pendekatan Kontekstual …………………………………………….. 12
5. Pendekatan Kontekstual dalam KTSP ………………………….. 18
6. Meningkatkan Hasil Belajar Kimia dengan Pendekatan
Kontekstual ………………………………………………………………. 19
7. Penerapan Pendekatan Kontekstual dalam
Pembelajaran Pokok Bahasan Koloid …………………………… 20
8. Kompetensi Dasar yang Ingin Dicapai …………………………. 28
B. Hipotesis Tindakan ………………………………………………………… 29
BAB III. METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Subyek Penelitian ………………………………………….. 30
B. Fokus Penelitian …………………………………………………………….. 30
C. Rancangan Penelitian ……………………………………………………… 31
D. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas …………………………………. 32
E. Teknik Pengumpulan Data ………………………………………………. 34
F. Perangkat Penelitian ……………………………………………………….. 36
G. Metode Analisis Data ……………………………………………………… 41
H. Tolok Ukur Keberhasilan ………………………………………………… 43
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ………………………………………………………………. 45
1. Kondisi Awal ……………………………………………………………. 45
2. Data Hasil Penelitian …………………………………………………. 46
B. Pembahasan …………………………………………………………………… 58
xi
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ……………………………………………………………………….. 69
B. Saran …………………………………………………………………………….. 70
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………….. 71
LAMPIRAN …………………………………………………………………………………. 72
xii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Perbedaan pendekatan kontekstual dengan pendekatan tradisional ….. 17
2. Perbedaan larutan, sistem koloid, dan suspensi …………………………….. 20
3. Jenis-jenis sistem koloid …………………………………………………………….. 21
4. Aplikasi kimia koloid dalam industri …………………………………………… 26
5. Nilai hasil belajar (kognitif) siklus I, II, dan III pada
pokok bahasan koloid melalui pendekatan kontekstual siswa
kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal ………………………………………………… 47
6. Nilai psikomotorik pada pokok bahasan koloid melalui pendekatan
kontekstual siswa kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal ………………………. 50
7. Nilai afektif pada pokok bahasan koloid melalui pendekatan
kontekstual siswa Kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal …………………….. 52
8. Hasil observasi pelaksanaan tindakan guru siklus I, II, dan III
pada pokok bahasan koloid melalui pendekatan kontekstual
siswa Kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal ………………………………………. 54
9. Hasil observasi aktivitas siswa siklus I, II, dan III pada pokok
bahasan koloid melalui pendekatan kontekstual siswa
kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal ……………………………………………….. 55
10. Hasil kuesioner pengamatan minat siswa siklus I, II, dan III
pada pokok bahasan koloid melalui pendekatan kontekstual siswa
kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal ………………………………………………… 57
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Prosedur kerja penelitian tindakan kelas ………………………………………. 31
2. Diagram Peningkatan rata-rata hasil belajar kognitif ……………………… 49
3. Diagram peningkatan persentase ketuntasan belajar kognitif secara
klasikal ……………………………………………………………………………………. 49
4. Diagram peningkatan rata-rata hasil belajar psikomotorik ………………. 51
5. Diagram peningkatan persentase ketuntasan belajar psikomotorik
secara klasikal …………………………………………………………………………… 51
6. Diagram peningkatan rata-rata hasil belajar afektif ………………………… 53
7. Diagram peningkatan persentase ketuntasan belajar afektif secara
klasikal …………………………………………………………………………………….. 54
8. Diagram peningkatan rata-rata nilai aktivitas siswa ……………………….. 56
9. Diagram peningkatan persentase aktivitas siswa …………………………… 56
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Daftar Nilai Semester I Tahun Pelajaran 2006/2007 ………………………… 72
2. Kisi-kisi Soal Uji Coba Siklus I …………………………………………………… 74
3. Soal Uji Coba Siklus I ……………………………………………………………….. 75
4. Kisi-kisi Soal Uji Coba Siklus II …………………………………………………. 81
5. Soal Uji Coba Siklus II ………………………………………………………………. 82
6. Kisi-kisi Soal Uji Coba Siklus III ……………………………………………….. 88
7. Soal Uji Coba Siklus III …………………………………………………………….. 89
8. Kunci Jawaban Soal Uji Coba …………………………………………………….. 93
9. Analisis Validitas, Daya Pembeda, Tingkat Kesukaran, dan
Reliabilitas Soal Siklus I …………………………………………………………….. 94
10. Analisis Validitas, Daya Pembeda, Tingkat Kesukaran, dan
Reliabilitas Soal Siklus II ……………………………………………………………. 102
11. Analisis Validitas, Daya Pembeda, Tingkat Kesukaran, dan
Reliabilitas Soal Siklus III ………………………………………………………….. 110
12. Kisi-kisi Soal Siklus I ……………………………………………………………….. 117
13. Soal Siklus I …………………………………………………………………………….. 118
14. Kisi-kisi Soal Siklus II ………………………………………………………………. 122
15. Soal Siklus II ……………………………………………………………………………. 123
16. Kisi-kisi Soal Siklus III ……………………………………………………………… 128
17. Soal Siklus III …………………………………………………………………………… 129
18. Kunci Jawaban Soal ………………………………………………………………….. 133
19. Lembar Observasi ……………………………………………………………………… 134
xv
20. Lembar Pengamatan Minat Siswa ……………………………………………….. 142
21. Rencana Pembelajaran ………………………………………………………………. 143
22. Lembar Kerja Siswa ………………………………………………………………….. 169
23. Daftar Nilai Pre tes dan Post tes …………………………………………………. 175
24. Daftar Nilai Aktivitas Siswa Pokok Bahasan Koloid dengan
Pendekatan CTL Siwa Kelas XI IPA 1 ……………………………………….. 177
25. Daftar Nilai Afektif Pokok Bahsan Koloid dengan Pendekatan
CTL Siswa Kelas XI IPA 1…………………………………………………………. 179
26. Daftar Nilai Psikomotorik Pokok Bahasan Koloid dengan
Pendekatan CTL Siswa Kelas XI IPA 1 ………………………………………. 181
27. Rekapitulasi Nilai Kinerja Guru ………………………………………………….. 183
28. Hasil Kuesioner Minat Siswa pada Pokok Bahasan Koloid Melalui
Pendekatan Kontekstual Siswa Kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal …… 184
29. Foto Penelitian …………………………………………………………………………. 185
30. Surat-surat Ijin Penelitian …………………………………………………………… 186
BAB I
PENDAHULUAN
A. Alasan Pemilihan Judul
Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan
merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui
proses pembelajaran dan atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh
masyarakat. Sesuai dengan UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional Pasal 3 pendidikan bertujuan untuk mengembangkan
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Tujuan yang diharapkan ini sulit dicapai apabila siswa dianggap
sebagai obyek pembelajaran dengan kegiatan yang mengutamakan
pembentukan intelektual dan tidak melatih mereka menjadi insan yang kreatif,
mandiri, demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk mencapai tujuan di atas, pemerintah telah melakukan
pembaharuan melalui pengembangan kurikulum, dari kurikulum lama yang
cenderung content based menjadi kurikulum yang berbasis kompetensi
(competency based). Sesuai dengan amanat Garis Besar Haluan Negara
(GBHN) 1999-2004, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)
menetapkan kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum 1994 menjadi
2
kurikulum 2004 yang telah dilakukan mulai tahun ajaran 2004/2005.
Kurikulum tersebut diperbaharui dengan kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) yang mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan untuk tersusunnya kurikulum pada tingkat satuan
pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dengan mengacu kepada
standar isi dan standar kompetensi lulusan serta berpedoman pada panduan
yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kurikulum
tingkat satuan pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun dan
dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut:
1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan
peserta didik dan lingkungannya.
2. Beragam dan terpadu.
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan.
5. Menyeluruh dan berkesinambungan.
6. Belajar sepanjang hayat.
7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
(www.sma1-sltg.sch.id).
Perubahan kurikulum ini tentunya harus diikuti dengan penggunaan
pendekatan atau strategi pembelajaran yang sesuai.
3
Sains berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara
sistematis, sehingga sains bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan
yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip tetapi merupakan
suatu proses penemuan. Pendidikan sains menekankan pada pemberian
pengalaman langsung atau mengembangkan kompetensi agar siswa mampu
memahami alam sekitar secara ilmiah. Oleh karena itu, pendekatan yang
diterapkan dalam pembelajaran sains adalah memadukan antara pengalaman
proses sains dan pemahaman produk sains. Kimia merupakan salah satu
bagian dari sains yang erat kaitannya dengan alam.
Pembelajaran kimia yang dilakukan di SMA Negeri 1 Kendal selama
peneliti melakukan observasi adalah sebagai berikut:
a. Pendahuluan berupa upaya untuk menarik perhatian siswa ke dalam topik
bahasan melalui penjelasan tujuan, penjajagan pengetahuan prasyarat atau
memotivasi dengan menunjukkan manfaat mempelajari topik tersebut.
b. Kegiatan inti yaitu pengenalan konsep yang dibahas melalui metode
cermah sehingga materi bahasan dipahami siswa dilanjutkan dengan
latihan.
c. Kegiatan penutup yang dapat berupa pengambilan kesimpulan, rangkuman
atau pemberian tugas sehubungan dengan topik yang dibahas.
d. Masih terdapatnya pembelajaran yang hanya berlangsung satu arah,
aktivitas siswa hanya mendengar dan mencatat, siswa cenderung pasif,
jarang bertanya, mengemukakan pendapat atau menyanggah pendapat.
4
e. Kegiatan praktikum yang dilakukan hanya untuk membuktikan materi
yang telah diterima dari guru atau teori yang ada di buku/LKS dengan kata
lain siswa hanya memahami apa yang pernah ia terima.
f. Secara klasikal, siswa yang ketuntasannya mencapai 65% sebesar 16,3%.
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching & Learning/CTL)
merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi
yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan
dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Nurhadi
2004: 103). Kelebihan pendekatan ini yaitu hasil pembelajaran diharapkan
alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer
pengetahuan dari guru ke siswa. Dengan konsep tersebut guru tidak hanya
sekedar memberikan informasi tetapi lebih banyak berurusan dengan strategi
untuk membantu siswa mencapai tujuannya.
Pada pokok bahasan Koloid, guru harus dapat mengaitkan antara
materi dengan kehidupan sehari-hari siswa. Berkaitan dengan hal tersebut
diatas maka peneliti mengadakan penelitian berupa tindakan kelas tentang
‘Penerapan Pendekatan CTL (Contextual Teaching & Learning) Untuk
Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Pokok Bahasan Koloid Siswa Kelas
XI SMA Negeri 1 Kendal’.
5
B. Penegasan Istilah
Agar tidak terjadi kesalahpahaman istilah maka perlu ditegaskan istilahistilah
berikut:
1. Aktivitas Belajar
Aktivitas berarti keaktifan, kegiatan, kesibukan. Aktivitas belajar
adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa pada saat proses
pembelajaran untuk mencapai hasil belajar (Hamalik 2005: 171). Aktivitas
yang akan diamati selama pembelajaran adalah aktivitas fisik meliputi
bertanya, mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan guru, dan
mendengarkan penyajian bahan.
2. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh
pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar (Anni 2004: 4).
Hasil belajar dalam penelitian ini adalah hasil prestasi belajar kimia
berupa nilai setelah siswa melakukan proses belajar mengajar kimia pada
pokok bahasan koloid.
3. Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu
guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata
dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota
keluarga dan masyarakat. (Nurhadi 2004: 103).
6
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan hal-hal yang diuraikan pada alasan pemilihan judul diatas
maka permasalahan yang akan diteliti “Apakah dengan pendekatan
kontekstual dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar kimia pokok
bahasan Koloid siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kendal”?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
peningkatan aktivitas dan hasil belajar kimia pokok bahasan Koloid dengan
menggunakan pendekatan kontekstual.
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Bagi siswa
Memudahkan siswa dalam memahami dan menguasai konsep kimia
melalui pengalaman nyata dalam pembelajaran.
2. Bagi guru
Memberi konsep yang jelas mengenai pendekatan kontekstual sebagai
upaya untuk mengembangkan ilmu pendidikan.
3. Bagi sekolah
Penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan bagi pelaksanaan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan, sebagai salah satu acuan dalam upaya
meningkatkan mutu sekolah secara institusioanl.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Belajar
Menurut Hamalik (2005: 28) belajar adalah suatu proses perubahan
tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Slameto (2003: 2)
mengemukakan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman
dari enteraksi dengan lingkungan. Gagne dan Berliner menyatakan bahwa
belajar merupakan proses yang didalamnya terjadi perubahan perilaku karena
hasil dari pengalaman (Anni 2004: 2).
Dari pendapat-pendapat diatas, belajar merupakan suatu proses yang
ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang berupa tingkah laku,
pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan sikap karena pengalaman atau
interaksi dengan lingkungan. Belajar yang efektif dimulai dari lingkungan
belajar yang berpusat pada siswa, siswa aktif dan guru sebagai fasilitator.
Selain itu pengajaran harus berpusat pada ‘bagaimana cara siswa
menggunakan pengetahuan baru, dan menumbuhkan komunitas belajar dalam
bentuk kerja kelompok sangat diperlukan’(Depdiknas 2002: 5).
Darsono (2000: 30-31) mengemukakan ciri-ciri belajar antara lain:
a. Belajar dilakukan dengan sadar dan mempunyai tujuan sebagai arah
kegiatan dan sebagi tolok ukur keberhasilan.
8
b. Belajar merupakan suatu proses interaksi antara individu dengan
lingkungan, berarti individu harus aktif dengan menggunakan berbagai
potensi yang dimiliki untuk belajar, misalnya perhatian, minat, pikiran,
emosi, motivasi, dan lain-lain.
c. Belajar mengakibatkan terjadinya perubahan yang bersifat internal dalam
aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang terpisah satu dengan yang
lain pada diri orang yang belajar. Siswa akan belajar lebih baik jika
lingkungan yang diciptakan alamiah. Belajar akan bermakna jika siswa
mengalami apa yang dipelajari, bukan mengetahui semata. Siswa diberi
kesempatan untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri.
2. Aktivitas Siswa dalam Kegiatan Pembelajaran
Menurut Gulo (2002: 73) belajar adalah seperangkat kegiatan, terutama
kegiatan mental intelektual, mulai dari kegiatan paling sederhana sampai
kegiatan yang rumit, seperti kegiatan fisik maliputi melihat, mendengar,
meraba dengan alat indera manusia yang diteruskan pada struktur kognitif
orang yang bersangkutan.
Proses belajar menuntut siswa untuk aktif mencari, menemukan dan
menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk mendapatkan suatu konsep
pelajaran dengan bantuan guru. Oleh karena itu, dalam pembelajaran kimia,
pembelajaran diusahakan sedemikian rupa sehingga keaktifan siswa betulbetul
terwujud.
Hamalik (2005: 171) mengemukakan bahwa pengajaran yang efektif
adalah pengajaran yang menyediakan kesempatan belajar atau melakukan
9
aktivitas sendiri. Aktivitas belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh
siswa pada saat proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar. Untuk
mencapai hasil belajar yang optimal dalam pembelajaran perlu ditekankan
adanya aktivitas siswa baik secara fisik, mental, intelektual, maupun
emosional. Di dalam pembelajaran siswa dibina dan dikembangkan
keaktifannya melalui tanya jawab, berpikir kritis, diberi kesempatan untuk
mendapatkan pengalaman nyata dalam melaksanakan praktikum, pengamatan,
diskusi, dan mempertanggungjawabkan segala hasil pekerjaan yang
ditugaskan.
Menurut Dierich dalam Hamalik (2005: 172), aktivitas siswa dapat
digolongkan menjadi delapan, yaitu:
a Aktivitas visual, meliputi membaca, melihat gambar, mengamati
eksperimen, demonstrasi, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain.
b Aktivitas lisan (oral), meliputi mengemukakan fakta atau konsep,
menghubungkan kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran,
mengemukakan pendapat, wawancara, dan diskusi.
c Aktivitas mendengarkan, meliputi mendengarkan penyajian bahan dan
percakapan atau diskusi kelompok.
d Aktivitas menulis, meliputi menulis cerita, laporan, membuat rangkuman,
mengerjakan tes, dan mengisi angket.
e Aktivitas menggambar, meliputi menggambar, membuat grafik, chart, dan
diagram peta.
10
f Aktivitas metrik, meliputi melakukan percobaan, memilih alat, dan
membuat model.
g Aktivitas mental, meliputi merenungkan, mengingat, memecahkan
masalah, menganalisis, dan membuat keputusan.
h Aktivitas emosional, meliputi minat, membedakan, berani, dan tenang.
Dalam proses belajar mengajar, guru perlu menimbulkan aktivitas siswa
dalam berpikir maupun berbuat. Dalam berbuat siswa dapat menjalankan
perintah, melaksanakan tugas, membuat grafik, diagram, intisari dari pelajaran
yang disajikan oleh guru. Bila siswa berpartisipasi secara aktif, maka ia
memiliki ilmu/ pengetahuan yang baik (Slameto 2003: 36).
3. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar
setelah mengalami aktivitas belajar (Anni 2004: 4). Pada umumnya hasil
belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan
psikomotorik.
Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk
didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis,
mensintesis dan kemampuan mengevaluasi. Kemampuan yang penting pada
ranah kognitif adalah kemampuan menerapkan konsep-konsep untuk
memecahkan masalah yang ada di lapangan (Anni 2004: 6).
Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap,
emosi, dan nilai (Anni 2004: 7).
11
Ranah psikomotorik mencakup menunjukkan adanya kemampuan fisik
seperti ketrampilan motorik dan syaraf, manipulasi objek, dan koordinasi
syaraf (Anni 2004: 9).
Untuk mencapai hasil belajar yang optimal, ada beberapa faktor yang
mempengaruhi, yaitu:
a. Faktor dari dalam siswa, yaitu kemampuan yang dimiliki siswa, motivasi
belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan,
sosial, ekonomi, faktor psikis dan fisik.
b. Faktor dari luar diri siswa, yaitu kualitas pengajaran atau tinggi rendahnya
proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Slameto (2003: 92-93) ada beberapa syarat yang diperlukan
untuk melaksanakan pengajaran yang efektif, yaitu:
1) Belajar secara aktif, baik mental maupun fisik. Di dalam belajar siswa harus
mengalami aktivitas mental, seperti belajar dapat mengembangkan
kemampuan intelektual, berfikir kritis, menganalisis dan aktivitas fisik,
seperti mengerjakan sesuatu, membuat peta dan lain-lain.
2) Guru harus mempergunakan banyak metode pada waktu mengajar. Variasi
metode mengakibatkan penyajian bahan pelajaran lebih menarik perhatian
siswa, mudah diterima siswa, dan kelas menjadi hidup. Metode panyajian
yang selalu sama akan membosankan siswa.
3) Kurikulum yang baik dan seimbang. Kurikulum sekolah yang memenuhi
tuntutan masyarakat dikatakan bahwa kurikulum itu baik dan seimbang.
12
Kurikulum juga harus mampu mengembangkan segala segi kepribadian
siswa, di samping kebutuhan siswa sebagai anggota masyarakat.
4) Pelajaran di sekolah perlu dihubungkan dengan kehidupan yang nyata di
masyarakat. Bentuk-bentuk kehidupan di masyarakat dibawa ke sekolah,
agar siswa mempelajari sesuai dengan kenyataan.
5) Dalam interaksi belajar mengajar, guru harus banyak memberi kebebasan
siswa untuk menyelidiki sendiri, mencari pemecahan masalah sendiri. Hal
ini menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar terhadap sesuatu yang
dikerjakan siswa dan kepercayaan pada diri sendiri.
4. Pendekatan Kontekstual
a. Hakekat Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu
guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata
siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota
keluarga dan masyarakat (Nurhadi 2004: 103). Pengetahuan dan
ketrampilan siswa diperoleh dari siswa mengkonstruksi sendiri
pengetahuan dan ketrampilan baru ketika ia belajar.
Dengan pendekatan kontekstual proses pembelajaran diharapkan
berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami,
bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Siswa mempelajari yang
bermanfaat dan berupaya menggapainya. Dalam upaya itu, siswa
memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
13
b. Penerapan Pendekatan Kontekstual di Kelas
Penerapan pendekatan kontekstual dalam kelas cukup mudah. Secara
garis besar, langkah-langkah pendekatan kontekstual adalah sebagai
berikut:
1) Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna
dengan cara bekerja sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan
dan ketrampilan barunya.
2) Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik.
3) Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4) Menyiapkan ‘masyarakat belajar’ (belajar dalam kelompok-kelompok).
5) Menghadirkan ‘model’ sebagai contoh pembelajaran.
6) Melakukan refleksi di akhir pertemuan.
7) Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara. (Nurhadi
2004: 106).
c. Tujuh Komponen Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual memiliki tujuh komponen utama yang harus
diterapkan dalam pembelajarannya (Depdiknas 2002: 10). Ketujuh
komponen tersebut diuraikan sebagai berikut:
1) Konstruktivisme (Construktivism)
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir secara filosofi
pendekatan kontekstual, pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit
demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit)
dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat
14
fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat.
Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna
melalui pengalaman nyata.
a) Dalam pandangan konstruktivis, ‘strategi memperoleh’ lebih
diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan
mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi
proses tersebut dengan menjadikan pengetahuan bermakna dan
relevan bagi siswa
b) Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya
sendiri, dan
c) Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam
belajar (Nurhadi 2004: 33-34).
2) Menemukan (Inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran
berbasis kontekstual. Pengetahuan dan ketrampilan siswa diperoleh
bukan dari hasil mengingat seperangkat fakta tetapi dari menemukan
sendiri. Siklus inquiry: merumuskan masalah, observasi, bertanya,
mengajukan dugaan (hipotesis), pengumpulan data dan penyimpulan.
(Nurhadi 2004: 43).
3) Bertanya (Questioning)
Pertanyaan dapat digunakan untuk berbagai macam tujuan, bentuk,
dan jawaban yang ditimbulkannya. Dalam kelas, guru mengajukan
pertanyaan untuk bercakap-cakap, merangsang siswa berfikir,
15
mengevaluasi belajar, memulai pengajaran, memperjelas gagasan, dan
meyakinkan apa yang diketahui siswa.
Menurut Nurhadi (2004: 46) dalam pembelajaran yang produktif,
kegiatan bertanya berguna untuk:
a) Menggali informasi, baik administrasi maupun akademis
b) Mengecek pemahaman siswa
c) Membangkitkan respon kepada siswa mengetahui sejauh mana
keingintahuan siswa
d) Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa
e) Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
f) Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
g) Menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
Aktivitas bertanya dapat ditemukan ketika siswa berdiskusi,
bekerja dalam kelompok, ketika menemui kesulitan, ketika mengamati,
dan sebagainya.
4) Masyarakat Belajar (Learning Community)
Dalam masyarakat-belajar, hasil pembelajaran dapat diperoleh dari
kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing
antarteman, antarkelompok, dan antara mereka yang belum tahu.
(Nurhadi 2004: 47)
Masyarakat belajar (learning community) mengandung arti sebagai
berikut:
a) Adanya kelompok belajar yang berkomunikasi untuk berbagai
gagasan dan pengalaman.
b) Ada kerja sama untuk memecahkan masalah.
16
c) Ada tanggung jawab kelompok, semua anggota dalam kelompok
mempunyai tanggung jawab yang sama.
d) Ada komunikasi dua arah atau multi arah.
e) Ada kesediaaan untuk menghargai pendapat orang lain.
5) Pemodelan (Modelling)
Maksudnya dalam sebuah pembelajaran ketrampilan atau
pengetahuan tertentu ada model yang bisa ditiru (Nurhadi 2004: 49).
6) Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau
berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa
yamg lalu (Nurhadi 2004: 51).
Refleksi diperlukan karena pengetahuan harus dikontekstualkan
agar sepenuhnya dipahami dan diterapkan secara luas.
7) Penilaian Sebenarnya (Authentic Assesment)
Assesment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa
memberikan gambaran perkembangan belajar siswa untuk memastikan
bahwa siswa mengalami proses belajar yang benar (Nurhadi 2004: 52).
Gambaran tentang kemajuan belajar siswa diperlukan di sepanjang
proses pembelajaran maka assesment tidak dilakukan di akhir periode,
tetapi dilakukan bersamaan dengan proses pembelajaran.
Karakteristik Autentic Assesment:
a) Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
b) Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
c) Yang diukur ketrampilan dan performansi, bukan mengingat fakta
d) Berkesinambungan
e) Dapat digunakan sebagai feed back.
17
d. Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Tradisional
Menurut Nurhadi (2004: 35-36) perbedaan pendekatan kontekstual
dengan pendekatan tradisional (behaviorisme/ struktural/ objektivisme)
adalah.
Tabel 1. Perbedaan pendekatan kontekstual dengan pendekatan tradisional
No Pendekatan kontekstual Pendekatan tradisional
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Siswa terlibat secara aktif dalam
proses pembelajaran.
Siswa belajar dari teman melalui
kerja kelompok, diskusi, dan
saling mengoreksi.
Pembelajaran dikaitkan dengan
kehidupan nyata atau masalah
yang disimulasikan.
Bahasa diajarkan dengan
pendekatan komunikatif, yakni
siswa diajak menggunakan
bahasa dalam konteks nyata.
Siswa menggunakan kemampuan
berpikir kritis, terlibat penuh
dalam mengupayakan terjadinya
proses pembelajaran yang efektif,
dan membawa skemata masingmasing
ke dalam proses
pembelajaran.
Pengetahuan yang dimiliki
manusia dikembangkan oleh
manusia itu sendiri. Manusia
menciptkan atau membangun
pengetahuan dengan cara
memahami pengalaman.
Hasil belajar diukur dengan
berbagai cara, seperti: proses
bekerja, hasil karya, penampilan,
tes, dan lain-lain.
Pembelajaran terjadi di berbagai
tempat, konteks, dan setting.
Perilaku dibangun atas kesadaran
diri.
Siswa adalah penerima informasi
secara pasif.
Siswa belajar secara individual.
Pembelajaran sangat abstrak dan
teoritis.
Bahasa diajarkan dengan pendekatan
struktural, rumus diterangkan
sampai paham, kemudian dilatihkan.
Siswa secara pasif menerima rumus
atau kaidah (membaca,
mendengarakan, mencatat,
menghafal) tanpa memberikan
kontribusi ide dalam proses
pembelajaran.
Pengetahuan adalah penangkapan
terhadap serangkaian fakta, konsep
atau hukum yang berada di luar diri
manusia.
Hasil belajar diukur hanya dengan
tes.
Pembelajaran hanya terjadi dalam
kelas.
Perilaku dibangun atas kebiasaan.
18
5 Pendekatan Kontekstual dalam KTSP
Pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep belajar, guru
menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan kehidupan
mereka sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pendekatan
kontekstual merupakan pendekatan yang membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka seharihari
sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pendekatan kontekstual
merupakan pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan,
memperluas, menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik mereka
dalam berbagai tatanan kehidupan baik disekolah maupun diluar sekolah.
Selain itu, siswa dilatih memecahkan masalah yang mereka hadapi dalam
suatu situasi, misalnya dalam bentuk stimulasi, dan masalah yang memang ada
dalam dunia nyata. Dengan pendekatan kontekstual siswa belajar diawali
dengan pengetahuan, pengalaman dan konteks keseharian yang mereka miliki
dikaitkan dengan konsep mata pelajaran yang dipelajari di kelas, dan
selanjutnya dimungkinkan untuk mengimplementasikan dalam kehidupan
keseharian mereka (Nurhadi 2004: 4-7).
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan berdasarkan panduan penyusunan
kurikulum yang disusun oleh BSNP. Kurikulum dikembangkan berdasarkan
prinsip-prinsip berikut:
a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan
peserta didik dan lingkungannya.
b. Beragam dan terpadu.
c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan.
19
e. Menyeluruh dan berkesinambungan.
f. Belajar sepanjang hayat.
g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.
(www.sma1-sltg.sch.id).
Dengan demikian, pendekatan kontekstual sesuai dengan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) karena melalui pembelajaran dengan
pendekatan kontekstual siswa akan dibawa tidak hanya masuk ke kawasan
pengetahuan, tetapi juga sampai pada penerapan pengetahuan.
6. Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Dengan Pendekatan Kontekstual
Kimia merupakan ilmu alam, hal-hal yang dipelajari ada dilingkungan
kehidupan kita. Belajar kimia tidak bisa hanya dengan duduk, mendengarkan
ceramah atau cerita saja. Sehingga diperlukan suatu pembelajaran yang efektif
dan kondusif.
Karakteristik pembelajaran efektif adalah memudahkan siswa belajar
sesuatu yang bermanfaat, seperti: fakta ketrampilan, nilai, konsep, dan
bagaimana hidup serasi dengan sesama atau sesuatu hasil yang diinginkan.
Dalam kondisi pembelajaran kondusif, melibatkan siswa secara aktif dalam
mengamati, mengoperasikan alat atau berlatih menggunakan objek konkrit
disertai dengan diskusi yang sesuai, diharapkan siswa dapat bangkit sendiri
untuk berfikir, menganalisis data, menjelaskan ide, bertanya, berdiskusi dan
menulis apa yang dipikirkan sehingga memberi kesempatan siswa untuk
mengkonstruksikan pengetahuan sendiri.
20
7. Penerapan Pendekatan Kontekstual Dalam Pembelajaran Pokok
Bahasan Koloid
Pokok materi koloid pada kelas XI IPA semester II yang dipelajari secara
rinci adalah sebagai berikut:
a. Komponen dan Pengelompokkan Sistem Koloid
Istilah “koloid” diusulkan oleh Thomas Graham (1805-1869) dari
Inggris pada tahun 1861. Sewaktu meneliti proses difusi berbagai zat
dalam medium cairan, Graham mengamati bahwa zat-zat seperti lem kanji,
gelatin, getah dan albumin berdifusi sangat lambat dan tidak mampu
menembus membran tertentu. Kelompok zat-zat ini dinamakan koloid,
yang berarti ’seperti lem” (bahasa Yunani: kolla = lem, oidos = seperti).
Dewasa ini istilah koloid dipakai untuk menyatakan ukuran pertikel
serta sistem campuran. Partikel-partikel suatu zat dikatakan berukuran
koloid apabila berdiameter antara 10-5cm sampai 10-7cm. Yang disebut
sistem koloid adalah suatu campuran zat-zat yang tersebar merata dengan
berukuran koloid dalam suatu zat lain.
Perbedaan larutan, sistem koloid, dan suspensi dapat dirangkum dalam
Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Perbedaan larutan, sistem koloid, dan suspensi
No. Larutan Sistem koloid Suspensi
1.
2.
3.
4.
5.
Satu fasa
Jernih
Diameter partikel
10-5 cm
Dapat disaring
Memisah jika
didiamkan
21
Sebagaimana halnya larutan yang tersususun dari zat terlarut dan pelarut,
sistem koloid juga tersusun dari dua komponen, yaitu fasa terdispersi,
yaitu zat yang tersebar merata serta fasa pendispersi, yaitu zat medium
tempat partikel-pertikel koloid itu tersebar.
Baik fasa terdispersi maupun fasa pendispersi dalam suatu sistem
koloid dapat berupa gas, cair atau padat. Namun perlu dikemukakan
bahwa campuran gas dengan gas tidaklah membentuk sistem koloid, sebab
semua gas akan bercampur homogen dalam segala perbandingan.
Dengan demikian kita mengenal delapan jenis sistem koloid, seperti
tercantum dalam Tabel 3 berikut.
Tabel 3. Jenis-jenis sistem koloid
Fasa
Terdispersi
Medium
Pendispersi
Sistem Koloid Contoh
Gas
Gas
Cair
Cair
Cair
Padat
Padat
Padat
Cair
Padat
Gas
Cair
Padat
Gas
Cair
Padat
Busa
Busa padat
Aerosol cair
Emulsi
Gel
Aerosol padat
Sol
Sol padat
Buih sabun, buih ombak,
krim kocok
Batu apung
Kabut, pengeras rambut
(hair spray).
Susu cair, santan
Keju, mentega, selai
Asap, debu tersebar di udara
Lem kanji, cat, tinta
Kaca, permata, aliase
(perunngu, kuningan)
Dari tabel di atas jelas bahwa proses-proses di alam sekitar kita banyak
berhubungan dengan sistem koloid. Kegunaan dari cabang ilmu “Kimia
Koloid” terdapat di berbagai bidang. Protoplasma dalam sel-sel makhluk
hidup merupakan sistem koloid, sehingga kimia diperlukan untuk
menerangkan reaksi-reaksi dalam sel. Tanah liat yang dicampurkan ke
22
dalam air yang mengandung sedikit NaOH juga merupakan sistem koloid,
dan pemahaman tentang koloid sangat membantu dalam meningkatkan
kesuburan lahan. Dalam bidang industri, kimia koloid banyak
dimanfaatkan pada pembuatan berbagai produk, antara lain biskuit, keju,
mentega, cat, tinta, kosmetika, dan insektisida. Fakta-fakta ini
menunjukkan betapa luas peranan sistem koloid dalam kehidupan kita.
b. Sifat-sifat Koloid
1) Efek Tyndall
Jika seberkas cahaya masuk ke ruangan gelap melalui suatu celah,
maka berkas cahaya itu akan terlihat jelas. Sebab partikel-pertikel debu
dalam ruangan yang berukuran koloid akan menghamburkan cahaya
tersebut.
Peristiwa penghamburan cahaya oleh partikel koloid disebut efek
Tyndall, karena hal ini mula-mula diterangkan oleh John Tyndall (1820-
1893), ahli fisika bangsa Inggris.
Efek Tyndall dapat digunakan untuk membedakan sistem koloid dan
larutan sejati. Partikel-pertikel dalam larutan yang berupa molekul atau ion
terlalu kecil untuk menghamburkan cahaya, sehingga berkas cahaya dalam
larutan tidak terlihat. Sebaliknya, cahaya yang melewati sistem koloid
akan terlihat nyata.
23
2) Gerak Brown
Partikel-pertikel koloid tersebar merata dalam medium pendispersi dan
tidak memisah meskipun didiamkan yang disebabkan karena adanya gerak
terus-menerus secara zig-zag tetapi gesit dari partikel-pertikel tersebut.
Gerakan zig-zag dari partikel koloid dalam medium pendispersinya
disebut gerak Brown, berdasarkan nama ahli botani bangsa Inggris yang
menemukan gerakan ini pada tahun 1827, yaitu Robert Brown (1773-
1858).
Gerak Brown membuktikan teori kinetik molekul, sebab gerakan
tersebut adalah akibat tabrakan antara partikel koloid dengan molekulmolekul
medium pendispersinya dari segala arah. Oleh karena momentum
partikel koloid jauh lebih besar dari molekul mediumnya, maka partikel
koloid bergerak pada garis lurus sampai arah dan kecepatannya diubah
oleh tabrakan berikutnya.
3) Adsorpsi Koloid
Adsorpsi adalah peristiwa penyerapan suatu molekul atau ion pada
permukaan suatu zat. Suatu sistem koloid mempunyai kemampuan
mengadsorpsi, sebab partikel-partikel koloid memiliki permukaan yang
sangat luas. Sifat adsorpsi dari koloid dapat kita saksikan antara lain, pada
proses-proses berikut ini.
a) Pada penyembuhan sakit perut oleh serbuk karbon (norit), campuran
serbuk karbon dengan cairan usus akan membentuk sistem koloid yang
mampu mengadsorpsi kuman-kuman yang berbahaya.
24
b) Pada proses pemurnian gula pasir, gula yang masih kotor (berwarna
coklat) dilarutkan dalam air panas, lalu dialirkan melalui sistem koloid
yang berupa tanah diatom atau karbon. Kotoran pada gula akan
teradsorpsi, sehingga diperoleh gula yang putih bersih.
4) Muatan Koloid Dan Elektroforesis
Partikel-partikel koloid dapat bermuatan listrik sebagai akibat dari
penyerapan ion pada permukaan partikel koloid tersebut. Sebagai contoh,
koloid Fe(OH)3 dalam air akan menyerap kation-kation sehingga ia
bermuatan positif, sedangkan koloid As2S3 bermuatan negatif karena
menyerap ion-ion. Kestabilan suatu koloid selain disebabkan adanya gerak
Brown juga disebabkan adanya muatan listrik pada permukaan partikel
koloid. Gaya tolak-menolak di antara muatan yang sama mencegah
pemisahan atau penggumpalan sehingga sistem koloid menjadi stabil.
Pergerakan partikel koloid di bawah pengaruh medan listrik disebut
elektroforesis. Pada peristiwa elektroforesis, partikel-partikel koloid
dinetralkan muatannya dan digumpalkan pada elektrode.
Beberapa kegunaan dari elektroforesis antara lain sebagai berikut.
a) Untuk menentukan muatan suatu koloid.
b) Untuk mengurangi zat-zat pencemar udara yang dikeluarkan dari
cerobong asap pabrik. Cerobong asap pabrik bagian dalam dilengkapi
dengan “pengendap elektrostatika” berupa lempengan logam yang
diberi muatan listrik, yang akan menarik dan menggumpalkan debudebu
halus dalam asap buangan.
25
5). Koagulasi Koloid
Partikel-partikel koloid dapat mengalami koagulasi (penggumpalan)
dengan cara penambahan suatu elektrolit yang muatannya berlawanan.
Sifat koagulasi partikel koloid antara lain, dapat kita amati pada prosesproses
berikut ini.
a) Pada proses penjernihan air, ditambahkan tawas (Al2(SO4)3 yang
menyediakan ion Al3+ untuk mengendapkan partikel lumpur.
b) Jika bagian tubuh kita mengalami luka, maka ion Al3+ atau Fe3+ segera
menetralkan partikel albuminoid yang dikandung darah, sehingga
terjadi penggumpalan yang menutupi luka.
6). Koloid Liofil dan Koloid Liofob
Berdasarkan sifat adsorpsi dari partikel koloid terhadap medium
pendispersinya, terdapat dua macam koloid.
a) Koloid liofil yaitu koloid yang “senang cairan” (bahasa Yunani: lyo =
cairan; philia = senang). Partikel-partikel koloid akan mengadsorpsi
molekul cairan, sehingga terbentuk selubung di sekeliling partikel
koloid itu. Jika medium pendispersinya air, istilah yang dipakai adalah
hidrofil (senang air). Contoh koloid liofil adalah lem kanji, protein,
dan agar-agar.
b) Koloid liofob, yaitu koloid yang “benci cairan” (phobia = benci).
Partikel-partikel tidak mengadsorpsi molekul cairan. Jika mediumnya
air, istilah yang dipakai ialah hidrofob (benci air). Contoh koloid
hidrofob adalah sol sulfida dan sol-sol logam.
26
c. Pembuatan Koloid
1) Cara Kondensasi
Salah satu cara pembuatan koloid adalah cara kondensasi,
menggumpalkan partikel-partikel larutan yang terlalu kecil menjadi
partikel yang berukuran koloid. Partikel-partikel larutan yang berupa
ion, atom atau molekul dapat dikondensasi atau digumpalkan menjadi
ukuran koloid melalui cara fisis ( penurunan kelarutan) atau cara kimia
(reaksi-reaksi tertentu).
2) Cara Dispersi
Suatu koloid dapat dibuat melalui cara dispersi yaitu
menghaluskan partikel-partikel suspensi yang terlalu besar menjadi
partikel-partikel yang berukuran koloid (Anshory 1999: 122-134).
d. Koloid dalam Kehidupan Sehari-hari
Koloid banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti di alam,
industri, makhluk hidup, dan pertanian. Di industri, aplikasi koloid untuk
produksi cukup luas. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang
penting, yaitu dapat digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat
saling melarutkan secara homogen dan bersifat stabil untuk produksi skala
besar.
Contoh aplikasi kimia koloid dalam industri dapat dilihat pada tabel 4
berikut.
Tabel 4. Aplikasi kimia koloid dalam industri
Jenis industri Contoh aplikasi
Industri makanan
Industri kosmetika dan perawatan
tubuh
Industri cat
Industri kebutuhan rumah tangga
Industri pertanian
Industri farmasi
Keju, mentega, susu
Krim, pasta gigi
Cat
Sabun
Pestisida, dan insektisisda
Penisilin untuk suntikan
27
Aplikasi sistem koloid lainnya, yaitu:
1) Pemutihan gula
Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. Hal ini dilakukan
dengan melarutkan gula ke dalam air, kemudian dialirkan melalui
sistem koloid tanah diatome atau karbon. Partikel koloid akan
mengadsorpsi zat warna tersebut.
2) Pengambilan partikel koloid asap dan debu dari gas buangan pabrik
Contoh alat yang menggunakan prinsip elektroforesis adalah pengendap
Cottrel. Alat ini digunakan untuk memisahkan partikel koloid seperti
asap dan debu yang terkandung dalam gas buangan pabrik. Hal ini
bertujuan untuk mengurangi zat polusi udara, disamping dapat
digunakan untuk memperoleh kembali debu berharga seperti debu
arsenik oksida.
3) Pembentukan delta di muara sungai
Air sungai mengandung partikel koloid pasir dan tanah liat yang
bermuatan negatif. Sedangkan air laut mengandung ion Na+, Mg2+, dan
Ca2+ yang bermuatan positif. Ketika air sungai bertemu air laut, maka
ion positif dari air laut akan menetralkan muatan pasir dan tanah liat.
Akibatnya, terjadi koagulasi yang membentuk suatu delta.
4) Penggumpalan darah
Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif.
Jika terdapat luka kecil, maka luka tersebut dapat diobati dengan pensil
stiptik atau tawas yang mengandung ion Al3+ dan Fe3+. Ion ini akan
28
menetralkan muatan partikel koloid protein dan membantu
penggumpalan darah.
5) Proses penjernihan air
Air mengandung partikel koloid tanah dan lainnya yang bermuatan
negatif. Untuk memperoleh air jernih, maka partikel koloid harus
dipisahkan yang dilakukan dengan penambahan tawas Al2(SO4)3.
Tawas mengandung ion Al3+ yang cukup kecil tetapi bermuatan. Ion
Al3+ terhidrolisis membentuk partikel koloid Al(OH)3 yang bermuatan
positif.
Al3+ + 3H2O Al(OH)3 + 3H+
Al(OH)3 menghilangkan muatan negatif dari partikel koloid lumpur
sehingga terjadi koagulasi. Al(OH)3 mengendap bersama-sama lumpur
(Johari 2004: 297-299).
8 Kompetensi Dasar yang Ingin Dicapai
Kompetensi dasar yang ingin dicapai dalam pembelajaran pokok bahasan
koloid adalah:
a. Mengelompokkan koloid berdasarkan hasil pengamatan dan
penggunaannya di industri.
b. Mengidentifikasi sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari.
c. Membuat berbagai koloid dengan bahan-bahan yang ada di sekitar.
(Depdiknas 2003: 122).
29
Diharapkan kompetensi dasar tersebut dapat tercapai sehingga siswa dapat
menghubungkan dan menerapkan materi pelajaran dalam kehidupan seharihari
dapat berhasil sehingga bermanfaat dalam kehidupan siswa di kemudian
hari. Pendekatan kontekstual sangat tepat digunakan dalam pembelajaran ini
karena selain pendekatan konsep dan pendekatan ketrampilan proses,
pendekatan ini juga melibatkan siswa secara aktif dan mengaitkan materi
pelajaran dengan kehidupan nyata.
Proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual yang melibatkan siswa
secara aktif diharapkan dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk
mengkonstruksi pengetahuan mereka sehingga hasil pembelajaran menjadi
lebih bermakna bagi siswa.
B. Hipotesis Tindakan
Penggunaan metode penelitian tindakan kelas dengan menggunakan
pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa
kelas XI SMA Negeri 1 Kendal.
30
BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang menggunakan
data pengamatan langsung terhadap jalannya proses pembelajaran di kelas. Data
yang diperoleh dianalisis melalui beberapa tahapan dalam siklus-siklus tindakan.
A. Lokasi dan Subyek Penelitian
Tempat pelaksanaan penelitian di SMA N 1 Kendal yang beralamatkan
di Jl Raya Barat No. 126 Kendal, kelas XI IPA 1 semester II tahun ajaran
2006/2007 dengan jumlah 43 siswa yaitu 25 siswa perempuan dan 18 siswa
laki-laki.
B. Fokus Penelitian
Fokus penelitian merupakan apa yang menjadi titik perhatian dalam
suatu penelitian. Fokus penelitian juga biasa disebut dengan obyek penelitian
atau variabel penelitian. Dalam penelitian tindakan kelas ini, yang menjadi
fokus penelitian adalah hasil belajar yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan
psikomotorik serta aktivitas belajar siswa yang meliputi aktivitas fisik siswa
kelas XI IPA 1 semester 2 dalam pembelajaran kimia melalui pendekatan
kontekstual.
31
C. Rancangan Penelitian
Prosedur kerja dalam penelitian ini merupakan siklus kegiatan yang
minimal terdiri atas tiga siklus. Masing-masing siklus meliputi perencanaan,
tindakan, observasi, dan refleksi. Prosedur kerja tersebut secara garis besar
dapat dijelaskan dengan deskripsi umum penelitian tindakan kelas (Arikunto
2006: 74).
Siklus I
Siklus II
Siklus III
Gambar 1. Prosedur kerja penelitian tindakan kelas
Permasalah
an
Rencana
Tindakan
Pelaksanaan
Tindakan
Tersele Refleksi I Observasi I
saikan
Rencana Tindakan Pelaksanaan
Tindakan
Tersele Refleksi II Observasi II
saikan
Rencana Tindakan Pelaksanaan
Tindakan
Tersele Refleksi III Observasi III
saikan
32
D. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas
Seperti yang telah dikemukakan di atas, penelitian tindakan kelas ini
dilaksanakan secara bertahap, yaitu melalui siklus 1, 2, dan 3. Jadi dalam hal
ini, bila setelah diberi perlakuan belum ada peningkatan hasil, maka akan
diadakan perbaikan pada siklus berikutnya. Penjabaran pelaksanaan kegiatan
yang dilakukan setiap siklus adalah sebagai berikut:
1. Menentukan permasalahan
Sebelum dilakukan perlakuan terhadap siswa, peneliti melakukan
observasi situasi dan kondisi siswa, guru dan proses pembelajaran agar
mengetahui akar permasalahan dan bentuk perlakuan yang cocok untuk
dilaksanakan.
2. Perencanaan tindakan
a. Dokumentasi kondisi awal meliputi nilai mata pelajaran kimia sebelum
siklus serta wawancara guru dan siswa guna memberi gambaran
permasalahan yang mendasar dalam penguasaan materi.
b. Merumuskan tindakan sebagai alternatif solusi yaitu melalui
pendekatan kontekstual.
c. Membuat media panduan sebagai alat bantu siswa dengan pokok
bahasan koloid.
d. Membuat rencana pembelajaran yang berisi ketentuan pembelajaran
menggunakan pendekatan kontekstual dengan bantuan media panduan
setiap sub pokok materi.
e. Menyusun rancangan percobaan mengenai:
33
1) Perbedaan larutan, koloid, dan suspensi
2) Sifat-sifat koloid
3) Pembuatan koloid
f. Menyusun evaluasi dan kisi-kisi soal.
g. Menyusun daftar nilai kognitif.
h. Menyusun lembar observasi aktivitas, psikomotorik, afektif dan
kinerja guru yang akan digunakan pada saat pembelajaran.
i. Menyusun lembar pengamatan minat siswa terhadap pembelajaran
kimia melalui pendekatan kontekstual.
3. Pelaksanaan Tindakan
a. Sebelum mengajar, peneliti dan siswa mengadakan kontrak
pembelajaran yang dilakukan pada pertemuan pertama. Disini, peneliti
menjelaskan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan.
b. Untuk setiap pertemuan dilakukan pembelajaran sesuai ketentuan yang
direncanakan dalam rencana pembelajaran.
c. Dalam siklus I, materi yang diajarkan adalah jenis-jenis koloid. Siklus
II membahas tentang sifat-sifat koloid, sedangkan siklus III mengenai
pembuatan koloid.
d. Diadakan pre tes di tiap siklus sebelum pelaksanaan proses
pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual.
e. Memberi tes di akhir siklus (post tes).
4. Observasi
a. Observasi dilakukan oleh guru kelas dan peneliti, yaitu mengamati
jalannya proses pembelajaran.
34
b. Observasi pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan
kontekstual menggunakan media Lembar Kerja Siswa dan
memperhatikan tanggapan siswa terhadap tindakan tersebut serta
mengenali kesulitan-kesulitan yang dialami siswa.
c. Observasi aktivitas siswa, dan afektif selama pembelajaran
berlangsung.
d. Observasi psikomotorik saat melakukan praktikum.
e. Observasi kinerja guru selama pembelajaran berlangsung.
f. Menelaah hasil pre tes dan post tes untuk menilai segi kognitif dengan
memperhatikan reaksi dan tindakan siswa selama pelaksanaan tes.
5. Refleksi
Mendiskusikan hasil pengamatan untuk perbaikan pada pelaksanaan
siklus berikutnya.
6. Analisis Data
Hasil yang diperoleh pada tahap pemantauan dikumpulkan, dianalisis,
dan dievaluasi oleh peneliti sehingga dapat diketahui apakah ada
peningkatan hasil belajar dan aktivitas saat siklus pertama.
E. Teknik Pengumpulan Data
1. Dokumentasi
Hal ini dilakukan dengan mengambil dokumen atau data-data yang
mendukung penelitian meliputi nama-nama siswa yang menjadi subyek
penelitian dan data nilai ulangan semester 1 bidang studi kimia yang
35
diambil dari daftar nilai SMA N 1 Kendal. Data ini akan digunakan untuk
analisis tahap awal.
2. Pemberian tugas terstruktur
Tugas terstruktur diberikan kepada siswa untuk mempelajari dan
mengerjakan soal yang telah dirancang peneliti, dikerjakan secara
individual ataupun berkelompok.
3. Tes
Tes ini digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa dikaitkan
dengan penggunaan pendekatan kontekstual. Metode tes ini diberikan
sebelum dan setelah siswa diberi perlakuan. Sebelum tes digunakan untuk
memperoleh data siswa sebagai subyek penelitian, terlebih dahulu
diadakan uji coba soal pada kelas di luar kelas penelitian. Uji coba soal
yang telah dilaksanakan, bertempat di kelas XII IPA 2 SMA N 1 Kendal.
4. Lembar observasi
Untuk mengetahui mengenai kemampuan segi psikomotorik dan
afektif, dilakukan dengan membuat lembar observasi. Dalam lembar
observasi ini dicantumkan indikator-indikator yang dapat dijadikan acuan
untuk mengamati kemampuan siswa dari segi psikomotorik, afektif selama
pembelajaran berlangsung.
Untuk mengetahui pengaruh penggunaan pendekatan kontekstual
terhadap aktivitas siswa, maka diperlukan lembar observasi sebagai upaya
untuk mengamati pengaruh perlakuan.
5. Lembar Pengamatan Minat Siswa
Untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh pendekatan kontesktual
diserap oleh siswa, maka dilakukan penyebaran lembar pengamatan minat
siswa pada akhir pertemuan yang diisi siswa, dan selanjutnya dianalisis.
36
F. Perangkat Penelitian
Pada tahap ini dilakukan penyusunan instrumen penelitian yang meliputi:
1. Instrumen penelitian
Perangkat penelitian ini terdiri atas rencana pembelajaran, tugas
rumah, lembar observasi aktivitas siswa, psikomotorik, afektif, dan kinerja
guru, lembar pengamatan minat siswa, serta alat ukur hasil belajar yaitu tes
kognitif.
Instrumen berupa lembar soal sebagai alat ukur hasil belajar kognitif
diuji cobakan di luar sampel. Dari hasil uji coba kemudian dianalisis untuk
menentukan soal-soal yang layak dipakai untuk instrumen penelitian.
2. Analisis instrumen
Dalam sebuah penelitian, data mempunyai kedudukan yang sangat
penting, karena data merupakan penggambaran variabel yang diteliti, dan
berfungsi sebagai alat pembuktian hipotesis. Instrumen yang baik harus
memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliabel. (Arikunto
2002: 144).
a. Analisis validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat
kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Sebuah instrumen dikatakan
valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan (Arikunto 2002:
144).
37
Rumus yang digunakan adalah:
q
p
St
r Mp Mt pbis

= (Arikunto 2002: 79)
Keterangan:
rp bis = koefisien korelasi biserial
Mp = rata-rata skor siswa yang menjawab benar
Mt = rata-rata skor seluruh siswa
St =standar deviasi skor total
p = proporsi siswa yang menjawab benar
q = 1-p
1 ( )2
2
pbis
hitung r
t n


=
dengan n = jumlah soal
thitung yang diperoleh dengan rumus tersebut dibandingkan dengan
n siswa pada taraf signifikasi 5%. Item-item yang mempunyai thitung
lebih besar dari ttabel termasuk item yang valid. Dan item yang kurang
dari ttabel termasuk item yang tidak valid perlu direvisi atau tidak
digunakan (Arikunto 2002: 145).
Berdasarkan hasil perhitungan, validitas dengan n = 39 dan taraf
signifikasi 5% diperoleh ttabel 1,687. Hasil perhitungan validitas untuk
soal uji coba siklus 1, 2 dan 3 diperoleh data sebagai berikut:
Siklus 1
Dari 30 soal yang diujicobakan, 19 soal valid
Butir soal yang tidak valid : 1, 3, 11, 13, 17, 20, 21, 22, 26, 29, dan
30.
Butir soal yang valid : 2, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 12, 14, 15, 16, 18,
19, 23, 24, 25, 27, dan 28.
38
Siklus II
Dari 30 soal yang diujicobakan, 24 soal valid.
Butir soal yang tidak valid : 7, 13, 20, 22, 28, dan 30.
Butir soal yang valid : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, 9, 10, 11, 12, 14, 15, 16,
17, 18, 19, 21, 23, 24, 25, 26, 27, dan 29.
Siklus III
Dari 20 soal yang diujicobakan, 15 soal valid.
Butir soal yang tidak valid : 2, 5, 6, 10, dan 12.
Butir soal yang valid : 1, 3, 4, 7, 8, 9, 11, 13, 14, 15, 16, 17, 18,
19, dan 20.
b. Analisis reliabilitas
Sebuah tes dikatakan reliabel apabila tes tersebut dapat
menunjukkan hasil yang ajeg, jika tes tersebut digunakan pada
kesempatan yang lalu. Rumus yang digunakan adalah KR-20, dengan
rumus sebagai berikut:
⎟⎠

⎜⎝


=
1 11 k
r k ⎟



⎜ ⎜

⎛ −Σ2
2
S
S pq
(Arikunto 2002: 101)
Keterangan:
r11 = reliabilitas tes secara keseluruhan
p = proporsi siswa yang menjawab benar
q = 1-p
S2 = varians total
k = banyak soal
39
Hasil perhitungan reliabilitas dengan n = 39 dan taraf signifikasi 5%
diperoleh r tabel sebesar 0,316. Soal uji coba siklus 1, siklus 2, dan siklus
3 diperoleh r11 berturut-turut sebesar 0,822 ; 0,846 ; 0,79. Ketiga harga r11
tersebut lebih besar daripada r tabel, sehingga termasuk reliabel.
c. Analisis daya pembeda
Rumus untuk menentukan daya pembeda adalah:
A
A
J
DP = B
B
B
J
− B (Arikunto 2002: 213)
Keterangan:
DP = daya pembeda
BA = jumlah siswa yang menjawab benar pada butir soal kelompok
atas
BB = jumlah siswa yang menjawab benar pada butir soal kelompok
bawah
JA = banyaknya siswa pada kelompok atas
JB = banyaknya siswa pada kelompok bawah
Kriteria soal-soal berdasarkan daya pembedanya sebagai berikut:
0,00 ≤ DP ≤ 0,20 daya pembedanya jelek
0,20< DP ≤ 0,40 daya pembedanya cukup
0,40< DP ≤ 0,70 daya pembedanya baik
0,70< DP ≤ 1,00 daya pembedanya baik sekali
bila D negatif, semua tidak baik, jadi butir soal yang mempunyai nilai
D negatif sebaiknya dibuang.
Berdasarkan hasil analisis data ujicoba yang telah dilakukan,
analisis daya beda soal untuk setiap siklusnya adalah sebagai berikut:
40
Siklus I
Kriteria jelek : 1, 3, 11, 13, 17, 20, 21, 22, 26, 29, dan 30 (soal
dibuang)
Kriteria cukup : 8, 10, 18, 19, dan 27
Kriteria baik : 2, 4, 5, 6, 7, 9, 12, 14, 15, 23, 24, dan 25.
Kriteria baik sekali : 16 dan 28.
Siklus II
Kriteria jelek : 7, 13, 20, 22, 28, dan 30 (soal dibuang)
Kriteria cukup : 1, 5, 8, 10, 11, 12, 14, 15, 16, 17, 18, 21, dan 27.
Kriteria baik : 2, 3, 4, 6, 9, 19, 23, 24, 25, 26, dan 29.
Siklus III
Kriteria jelek : 5, 10, dan 12 (soal dibuang).
Kriteria cukup : 1, 2, 4, 6, 8, 9, 11, 13, 14, 15, 17, dan 19.
Kriteria baik : 3, 7, 16, 18, dan 20.
d. Analisis tingkat kesukaran
A B
A B
JS JS
IK JB JB
+
+
=
Keterangan:
IK = indeks kesukaran
JBA = jumlah yang benar pada butir soal kelompok atas
JBB = jumlah yang benar pada butir soal kelompok bawah
JSA = jumlah siswa pada kelompok atas
JSB = jumlah siswa pada kelompok bawah
Kriteria yang menunjukkan tingkat kesukaran soal adalah
0,00< IK ≤ 0,30 dikategorikan soal sukar
0,30< IK ≤ 0,70 dikategorikan soal sedang
0,70< IK ≤ 1,00 dikategorikan soal mudah
41
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh taraf kesukaran sebagai
berikut.
Siklus I
Soal mudah : 3, 7, 19, 27, dan 20.
Soal sedang : 1, 2, 4, 5, 6, 8, 9, 10, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 22,
23, 24, 26, 28, dan 29.
Soal sukar : 11, 21, 25, dan 30
Siklus II
Soal mudah : 1, 2, 3, 14, 15, 24, dan 29.
Soal sedang : 4, 5, 6, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 16, 17, 18, 19, 21, 23,
dan 25.
Soal sukar : 7, 20, 22, 26, 27, 28, dan 30
Siklus III
Soal mudah : 1, 9, 11, dan 18.
Soal sedang : 2, 3, 4, 5, 8, 14, 15, 16, 19, dan 20.
Soal sukar : 6, 7, 10, 12, 13, dan 17.
G. Metode Analisis Data
Pada penelitian ini digunakan metode deskriptif dengan membandingkan
hasil belajar siswa sebelum tindakan dengan hasil belajar siswa setelah
tindakan.
42
Langkah-langkah pengolahan data sebagai berikut:
1. Merekapitulasi nilai tes semester I dan nilai pre tes dan post tes pada tiap
siklus.
2. Menghitung nilai rerata atau persentase hasil belajar siswa sebelum
dilakukan tindakan dengan hasil belajar setelah dilakukan tindakan pada
tiap siklus untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar.
3. Penilaian
a. Data nilai hasil belajar (kognitif) diperoleh dengan menggunakan
rumus:
X100%
Jumlah seluruh soal
nilai siswa = jumlah jawaban benar
(Arikunto 2002: 236)
b. Nilai rata-rata siswa dicari dengan rumus sebagai berikut:
N
x
X Σ =
Keterangan:
X = nilai rata-rata
Σ x = jumlah nilai
N = jumlah peserta tes
c. Untuk penilaian afektif dan psikomotorik digunakan rumus sebagai
berikut:
% X100%
N
NP = n
Keterangan:
NP% = Persentase nilai siswa yang diperoleh
n = jumlah skor yang diperoleh
N = jumlah skor maksimal
43
d. Untuk analisis hasil observasi keaktifan siswa yang diperlukan untuk
mengetahui sejauh mana keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Rumus yang digunakan adalah deskriptif persentase yang
menggambarkan besarnya persentase keaktifan siswa dalam proses
pembelajaran.
% X100%
N
NP = n
Keterangan:
NP% = Persentase nilai siswa yang diperoleh
n = jumlah skor yang diperoleh
N = jumlah skor maksimal
e. Ketentuan Persentase Ketuntasan Belajar Kelas
Ketuntasan belajar kelas = X100%
k
Sb
Σ
Σ
Keterangan:
ΣSb = jumlah siswa yang mendapat nilai ≥ 65% dari seluruh
tujuan pembelajaran (Mulyasa 2004: 199)
Σk = jumlah siswa dalam sampel
H. Tolok Ukur Keberhasilan
Menurut Arikunto (2002: 190), manfaat tolok ukur adalah:
1. menyamakan ukuran bagi pengumpul data agar tidak banyak terpengaruh
faktor subyektif
2. menjaga kestabilan data yang dikumpulkan dalam waktu yang berbeda
3. mempermudah peneliti dalam mengolah data agar siapapun dapat
melakukannya.
44
Menurut Mulyasa (2004: 99) seorang peserta didik tuntas belajar jika ia
mampu menyelesaikan, menguasai kompetensi atau mencapai tujuan
pembelajaran minimal 65% dari seluruh tujuan pembelajaran. Sedangkan
keberhasilan kelas dilihat dari jumlah peserta didik yang mampu mencapai
minimal 65%, sekurang-kurangnya 85% dari jumlah peserta didik yang ada di
kelas tersebut.
45
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Kondisi Awal
Kondisi awal subjek penelitian diperoleh melalui observasi penulis dengan
guru bidang studi kimia dan siswa. Berdasarkan hasil observasi, diketahui
bahwa siswa kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal mempunyai hasil belajar yang
rendah dan aktivitas siswa di kelas yang masih kurang. Hal ini dapat dilihat
dari hasil tes semester I didapatkan nilai rata-rata kelas sebesar 56,8, dan 7
dari 43 siswa (16,3%) yang mencapai ketuntasan dalam tes semester I
tersebut (lampiran 1).
Rendahnya hasil belajar siswa dapat disebabkan oleh beberapa faktor, baik
dari dalam diri siswa itu sendiri ataupun pengaruh lingkungan. Metode yang
diterapkan guru sudah cukup baik, namun kurang bervariasi, yaitu hanya
menggunakan metode ceramah dan tugas. Sehingga ada beberapa siswa yang
merasa kesulitan untuk menyerap pelajaran.
Menurut siswa, kesulitan dalam memahami materi kimia disebabkan
karena materinya sulit, banyak rumus dan hafalan. Apabila hal ini tidak segera
diatasi, maka akan mempengaruhi hasil belajar siswa dalam mempelajari
materi koloid, karena pada materi koloid banyak hafalan.
Berdasarkan kondisi awal tersebut, perlu dilakukan tindakan untuk
membantu siswa dalam memahami materi kimia dan mengubah pandangan
46
siswa bahwa kimia bukanlah pelajaran yang sulit dan membosankan. Langkah
yang diambil penulis adalah dengan menerapkan penggunaan pendekatan
kontekstual. Pendekatan kontekstual, merupakan suatu konsep belajar, guru
menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan
dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai anggota keluarga dan
masyarakat. Pendekatan kontekstual merupakan pendekatan yang
memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas, menerapkan
pengetahuan dan ketrampilan akademik mereka dalam berbagai tatanan
kehidupan baik disekolah maupun diluar sekolah. Proses pembelajaran dengan
pendekatan kontekstual yang melibatkan siswa secara aktif diharapkan dapat
memberi kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan
mereka sehingga hasil pembelajaran menjadi lebih bermakna.
2. Data Hasil Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini meliputi tiga siklus. Setiap siklus terdiri atas
tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data hasil
penelitian ini diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan oleh penulis dan
guru mitra (observer) selama proses pembelajaran berlangsung, baik pada
siklus I, II, maupun III.
a. Hasil belajar
1). Hasil belajar kognitif
Nilai hasil belajar kognitif diperoleh setelah seluruh siswa
menjawab soal-soal yang diberikan. Pada siklus I soal yang diberikan
47
sebanyak 20 dengan materi perbedaan larutan, koloid, dan suspensi
serta jenis-jenis koloid. Sedangkan pada siklus II soal yang diberikan
sebanyak 24 meliputi materi sifat-sifat koloid, dan pada siklus III soal
yang diberikan sebanyak 15 meliputi materi pembuatan koloid. Bentuk
soal yang diberikan merupakan soal pilihan ganda. Siswa dikatakan
menguasai materi apabila sekurang-kurangnya 65% dari jumlah soal
dapat dijawab dengan benar. Ketuntasan belajar secara klasikal dinilai
berhasil apabila sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa
menguasai materi. Data hasil belajar (kognitif) pre tes (sebelum) dan
post tes (setelah) diberikan pembelajaran melalui pendekatan
kontekstual untuk setiap siklus dapat dilihat pada tabel 5 berikut.
Tabel 5. Nilai hasil belajar (kognitif) siklus I, II, dan III pada pokok
bahasan koloid melalui pendekatan kontekstual siswa kelas
XI IPA 1 SMA N 1 Kendal
Siklus
I II III
No Pencapaian Pre
tes
Post
tes
Pre
tes
Post
tes
Pre
tes
Post
tes
1.
2.
3.
4.
Nilai terendah
Nilai tertinggi
Rata-rata nilai
Ketuntasan
belajar (%)
31,6
87,5
62,9
48,8
42,1
94,7
69,7
58,1
45,8
95,8
71,4
62,8
58,3
95,8
76,7
72,1
53,3
93,3
72,9
76,7
60
93,3
77
86,0
Keterangan: Data hasil belajar kognitif dapat dilihat pada lampiran 23.
Berdasarkan tabel 5, indikator keberhasilan untuk ketuntasan
belajar, yaitu sekurang-kurangnya 85% siswa memperoleh nilai lebih
besar atau sama dengan 65. Pada siklus I, rata-rata nilai pre tes adalah
62,9 dan rata-rata nilai post tes adalah 69,7 sehingga daya serap secara
individu telah berhasil tetapi secara klasikal daya serapnya masih
48
rendah. Ketuntasan belajar belum mencapai 85% sehingga penelitian
tindakan kelas pada siklus I belum berhasil.
Hasil belajar pada siklus II mengalami peningkatan, yaitu dengan
rata-rata pre tes adalah 71,4 dan rata-rata nilai post tes adalah 76,7.
Secara individu daya serapnya telah berhasil tetapi secara klasikal daya
serapnya belum mencapai 85% sehingga penelitian tindakan kelas
pada siklus II belum berhasil.
Hasil belajar pada siklus III, rata-rata nilai pre tes kelas sebesar
72,9 dan rata-rata nilai post tes sebesar 77. Daya serap secara individu
telah berhasil dan ketuntasan belajar secara klasikal telah mencapai
kriteria yang ditentukan, karena ketuntasan belajar mencapai 86%,
sehingga penelitian tindakan kelas pada siklus III telah berhasil.
Rata-rata nilai post tes dan persentase ketuntasan belajar secara
klasikal meningkat dari siklus I ke siklus II sebesar 7 dan 14%.
Sedangkan dari siklus II ke siklus III rata-rata nilai post tes dan
persentase ketuntasan belajar meningkat sebesar 0,3 dan 13,9%,
sehingga secara keseluruhan penelitian tindakan kelas ini dikatakan
telah berhasil.
Peningkatan hasil belajar kognitif dapat ditunjukkan dalam
diagram berikut.
49
Peningkatan rata-rata hasil belajar kognitif
62,9
71,4 72,9
76,7 77 69,7
0
20
40
60
80
100
1 2 3
Siklus ke-
Rata-rata
nilai
rata-rata pre tes
rata-rata post tes
Gambar 2. Diagram peningkatan rata-rata hasil belajar kognitif
Peningkatan persentase ketuntasan belajar
kognitif secara klasikal
58,10%
72,10%
86%
0,00%
20,00%
40,00%
60,00%
80,00%
100,00%
1 2 3
Siklus ke-
Persentase
Ketuntasan belajar
kognitif secara
klasikall
Gambar 3. Diagram peningkatan persentase ketuntasan belajar kognitif
secara klasikal
2). Hasil belajar psikomotorik
Nilai psikomotorik diperoleh dari lembar observasi yang
didasarkan pada 4 indikator. Hasil yang diperoleh kemudian dianlisis
dan memperoleh nilai sebagai berikut.
50
Tabel 6. Nilai psikomotoirk pada pokok bahasan koloid melalui
pendekatan kontekstual siswa kelas XI IPA 1 SMA N 1
Kendal
No. Pencapaian Siklus ke- I II II
1.
2.
3.
4.
Nilai terendah
Nilai tertinggi
Rata-rata nilai
Ketuntasan belajar (%)
50
70
63,1
62,8
50
70
65,4
74,4
60
80
70,2
88,4
Keterangan: Data hasil belajar psikomotorik dapat dilihat pada
lampiran 26.
Berdasarkan pengamatan penulis ketika praktikum, didapatkan
hasil nilai psikomotorik seperti tertera pada tabel 6 di atas. Penilaian
tersebut didasarkan pada beberapa indikator. Berdasarkan pengamatan
dan hasil penilaian, disimpulkan bahwa dengan menggunakan
pendekatan kontekstual siswa semangat selama praktikum karena
bahan yang digunakan untuk praktikum ada dalam kehidupan seharihari.
Berdasarkan pada tabel 6, indikator keberhasilan untuk ketuntasan
belajar yaitu sekurang-kurangnya 85% siswa memperoleh nilai lebih
besar atau sama dengan 65. Pada siklus I, rata-rata nilai adalah 63,1
sehingga secara individu daya serapnya masih rendah. Dalam hal ini,
penelitian tindakan kelas siklus I belum berhasil.
Hasil belajar psikomotorik pada siklus II mengalami peningkatan
yaitu dengan rata-rata kelas 65,4 dan ketuntasan belajar secara klasikal
sebesar 74,4%. Daya serap secara individu telah berhasil, namun
secara klasikal belum berhasil.
Hasil belajar psikomotorik pada siklus III telah mencapai target,
yaitu dengan rata-rata kelas 70,2 dan ketuntasan belajar secara klasikal
sebesar 88,4%.
51
Rata-rata nilai psikomotorik dan persentase ketuntasan belajar
secara klasikal meningkat dari siklus I ke siklus II sebesar 2,3 dan
11,6%. Sedangkan dari siklus II ke siklus III rata-rata nilai
psikomotorik dan persentase ketuntasan belajar meningkat sebesar 4,8
dan 14%. Sehingga secara keseluruhan penelitian tindakan kelas ini
dikatakan berhasil.
Peningkatan hasil belajar psikomotorik dapat ditunjukkan dalam
diagram berikut.
Peningkatan rata-rata hasil belajar
psikomotorik
63,1
65,4
70,2
55
60
65
70
75
1 2 3
Siklus ke-
Nilai rata-rata
Rata-rata
kelas
Gambar 4. Diagram peningkatan rata-rata hasil belajar psikomotorik
Peningkatan persentase ketuntasan belajar psikomotorik
secara klasikal
62,80%
74,40%
88,40%
0,00%
20,00%
40,00%
60,00%
80,00%
100,00%
1 2 3
Siklus ke-
Persentase
Persentase
siswa yang
tuntas
belajar
Gambar 5. Diagram peningkatan persentase ketuntasan belajar
psikomotorik secara klasikal
52
3). Hasil belajar afektif
Nilai afektif diperoleh dari lembar observasi yang didasarkan pada
10 indikator. Hasil yang diperoleh kemudian dianalisis dan
memperoleh nilai sebagai berikut.
Tabel 7. Nilai afektif pada pokok bahasan koloid melalui pendekatan
kontekstual siswa kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal
No. Pencapaian Siklus ke- I II II
1.
2.
3.
4.
Nilai terendah
Nilai tertinggi
Rata-rata nilai
Ketuntasan belajar (%)
42
74
62,6
53,5
48
76
66,8
72,1
60
76
69,5
86
Keterangan: Data hasil belajar afektif dapat dilihat pada lampiran 25.
Berdasarkan pengamatan penulis ketika pembelajaran berlangsung,
diperoleh hasil nilai afektif seperti tertera pada tabel 7 di atas.
Penilaian tersebut didasarkan pada beberapa indikator. Berdasarkan
pengamatan dan hasil penilaian, disimpulkan bahwa dengan
menggunakan pendekatan kontekstual siswa berminat dalam
pembelajaran karena materi yang diajarkan dikaitkan dengan
kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan pada tabel 7, indikator keberhasilan untuk ketuntasan
belajar yaitu sekurang-kurangnya 85% siswa memperoleh nilai lebih
besar atau sama dengan 65. Pada siklus I, rata-rata nilai adalah 62,6
sehingga secara individu daya serapnya masih rendah. Dalam hal ini,
penelitian tindakan kelas siklus I belum berhasil.
Hasil belajar afektif pada siklus II mengalami peningkatan yaitu
dengan rata-rata kelas 66,8 dan ketuntasan belajar secara klasikal
53
sebesar 72,1%. Daya serap secara individu telah berhasil, namun
secara klasikal belum mencapai 85%.
Hasil belajar afektif pada siklus III telah mencapai target, yaitu
dengan rata-rata kelas 69,5 dan ketuntasan belajar secara klasikal
sebesar 86%.
Rata-rata nilai afektif dan persentase ketuntasan belajar secara
klasikal meningkat dari siklus I ke siklus II sebesar 4,2 dan 18,6%.
Sedangkan dari siklus II ke siklus III rata-rata nilai afektif dan
persentase ketuntasan belajar meningkat sebesar 2,7 dan 13,9%,
sehingga secara keseluruhan penelitian tindakan kelas ini dikatakan
berhasil.
Peningkatan hasil belajar afektif dapat ditunjukkan dalam diagram
berikut.
Peningkatan rata-rata hasil belajar afektif
62,6
66,8
69,5
58
60
62
64
66
68
70
72
1 2 3
Siklus ke- Nilai rata-rata
Peningkatan rata-rata
hasil belajar siswa
Gambar 6. Diagram peningkatan rata-rata hasil belajar afektif
54
Peningkatan persentase ketuntaan belajar afektif secara
klasikal
53,50%
72,10%
86%
0,00%
20,00%
40,00%
60,00%
80,00%
100,00%
1 2 3
Siklus ke-
Peresentase
Peningkatan
persentase siswa
yang tuntas
belajar
Gambar 7. Diagram peningkatan persentase ketuntasan belajar afektif
secara klasikal
b. Hasil observasi kinerja guru
Observasi tentang pelaksanaan tindakan guru terdiri atas 14 item yang
diamati bersama-sama dengan pelaksanaan tindakan dalam proses
pembelajaran melalui pendekatan kontekstual. Kinerja pelaksanaan
tindakan guru berdasarkan pada kesesuaian pembelajaran guru dengan
rencana pembelajaran. Data yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Hasil observasi pelaksanaan tindakan guru siklus I, II, dan III
pada pokok bahasan koloid melalui pendekatan kontekstual
siswa kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal
No. Kegiatan Persentase
1.
2.
3.
Siklus I
Siklus II
Siklus III
71,4%
80%
95%
Keterangan: Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 27.
Hasil observasi kinerja guru dari siklus I ke siklus II mengalami
peningkatan sebesar 8,6%. Sedangkan dari siklus II ke siklus III
peningkatannya sebesar 15%. Kinerja guru sudah baik dari siklus I dan
kenaikan persentase disebabkan karena guru makin terbiasa dengan proses
55
pembelajaran dan mulai memahami karakter siswa, sehingga pada setiap
perencanaan siklus lebih matang.
c. Hasil observasi aktivitas siswa
Observasi tentang aksivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran
melalui pendekatan kontekstual pada pokok bahasan koloid terdiri atas 4
indikator. Secara garis besar, hasil observasi aktivitas siswa dapat dilihat
pada tabel 9.
Tabel 9. Hasil observasi aktivitas siswa siklus I, II, dan III pada pokok
bahasan koloid melalui pendekatan kontekstual siswa kelas XI
IPA 1 SMA N 1 Kendal
No. Keterangan Siklus I Siklus II Siklus III
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Aktivitas siswa kurang
Aktivitas siswa cukup
Aktivitas siswa baik
Aktivitas siswa sangat baik
Rata-rata nilai aktivitas siswa
Persentase ketuntasan nilai
aktivitas secara klasikal
-
9,3%
79%
11,7%
64,4
65,1%
-
2,3%
67,5%
30,2%
68,2
74,4%
-
-
48,9%
51,1%
71,7
86%
Keterangan: data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 24.
Pada siklus I, aktivitas siswa dengan kriteria cukup mencapai 9,3%,
baik 7%, dan sangat baik 11,7%. Sedangkan nilai rata-rata aktivitas siswa
sebesar 64,4 dengan ketuntasan secara klasikal 65,1%. Indikator
keberhasilan untuk ketuntasan belajar yaitu sekurang-kurangnya 85%
siswa memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan 65. Dari nilai ratarata
yang diperoleh, aktivitas belajar siswa masih rendah dan ketuntasan
belajar secara klasikal belum mencapai target.
Pada siklus II, aktivitas siswa dalam proses pembelajaran meningkat.
Hal ini nampak dari semakin banyak siswa yang menjawab pertanyaan
dari guru, semakin berkurangnya siswa yang bicara sendiri. Meningkatnya
aktivitas siswa dengan kriteria cukup hanya 2,3%, aktivitas siswa baik
56
67,5%, dan aktivitas sangat baik 30,2%. Nilai rata-rata aktivitas siswa
pada siklus II sebesar 68,2 dengan ketuntasan belajar secara klasikal
74,4%. Ketuntasan aktivitas belajar siswa belum mencapai target.
Pada siklus III, penelitian dikatakan berhasil karena telah mencapai
indikator keberhasilan yaitu dengan nilai rata-rata aktivitas siswa sebesar
71,7 dengan ketuntasan belajar 86% dan meningkatnya aktivitas siswa
dengan kriteria baik 48,9% dan kriteria sangat baik sebesar 51,1%.
Peningkatan aktivitas siswa dapat ditunjukkan dalam diagram berikut.
Peningkatan rata-rata nilai aktivitas
siswa
64,4
68,2
71,7
60
65
70
75
1 2 3
Siklus ke-
Rata-rata nilai
Rata-rata
aktivitas
siswa
Gambar 8. Diagram peningkatan rata-rata nilai aktivitas siswa
Peningkatan persentase ketuntasan aktivitas siswa
65,10%
74,40%
86%
0,00%
20,00%
40,00%
60,00%
80,00%
100,00%
1 2 3
Siklus ke- Persentase
Persentase
ketuntasan
aktivitas siswa
Gambar 9. Diagram peningkatan persentase aktivitas siswa
57
d. Hasil pangamatan minat siswa
Melalui lembar kuesioner berupa pengamatan minat siswa, penulis
setidaknya mengetahui sejauhmana ketertarikan siswa terhadap proses
pembelajaran yang telah dilaksanakan. Hal ini dapat dikatakan sebagai
umpan balik dari proses pembelajaran. Indikator yang ditanyakan pada
siswa terdiri dari 8 item. Hasil analisis siswa dirangkum pada tabel 10
berikut.
Tabel 10. Hasil kuesioner pengamatan minat siswa siklus I, II, dan III pada pokok
bahasan koloid melalui pendekatan kontekstual siswa kelas XI IPA 1
SMA N 1 Kendal
No. Pertanyaan Jumlah SS S TS STS
1. Saya senang terhadap pembelajaran pokok
materi koloid yang baru saja dilaksanakan
(yaitu dengan pendekatan kontekstual/ CTL).
16 27 – -
2. Saya lebih tertarik dengan pembelajaran yang
dikaitkan dengan kejadian sehari-hari di
lingkungan/ pengalaman saya seperti yang
diterapkan guru.
21 22 – -
3. Saya tidak bosan ketika kegiatan pembelajaran
berlangsung.
19 19 5 -
4. Saya selalu bekerjasama dengan teman satu
kelompok, teman sekelas, dan guru.
20 22 1 -
5. Teman dalam kelompk dapat membantu saya
dalam menerima pokok materi koloid.
23 19 1 -
6. Saya merasa lebih mudah memahami materi
pelajaran dengan pembelajaran (dengan
pendekatan kontekstual/ CTL).
16 26 1 -
7. Saya benar-benar memahami kesimpulan akhir
yang saya buat.
10 27 6 -
8. Setiap pembelajaran, saya ingin proses
pembelajaran dikaitkan dengan kejadian
sehari-hari di lingkungan atau pengalaman
saya seperti yang diterapkan guru.
22 21 – -
58
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa penggunaan
pendekatan kontekstual dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa
dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat terjadi karena pendekatan
kontekstual, merupakan suatu konsep belajar, guru menghadirkan situasi dunia
nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka seharihari
sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pendekatan kontekstual
merupakan pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan,
memperluas, menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik mereka
dalam berbagai tatanan kehidupan baik disekolah maupun diluar sekolah.
Proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual yang melibatkan siswa
secara aktif diharapkan dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk
mengkonstruksi pengetahuan mereka sehingga hasil pembelajaran menjadi
lebih bermakna.
Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus. Pembahasan pelaksanaan
tiap siklusnya adalah sebagai berikut:
1. Silus I
Berdasarkan hasil tes semester I, sebelum penulis melakukan
penelitian, hasil belajar siswa belum memenuhi harapan. Hal ini dapat
diketahui dari nilai rata-rata kelas sebesar 56,8, dan 7 dari 43 siswa
(16,3%) yang mencapai ketuntasan dalam tes semester I tersebut. Bertolak
dari kondisi awal tersebut dilakukan penelitian tindakan kelas untuk
59
mengoptimalkan hasil belajar melalui penerapan pendekatan kontekstual
dalam proses pembelajaran pada pokok bahasan koloid.
Pada awal pembelajaran guru memberikan apersepsi dan motivasi
yang berhubungan dengan materi yang akan dibahas agar siswa lebih siap
menghadapi bahan pelajaran dan mempunyai rasa ingin tahu yang kuat
terhadap materi yang akan dibahas. Kegiatan pendahuluan tersebut diikuti
dengan kegiatan inti. Kegiatan inti dalam proses pembelajaran yang
dilakukan adalah guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil
yang terdiri dari 4-5 siswa, kemudian guru membagikan lembar kerja
siswa/ LKS, setelah itu siswa secara berkelompok melaksanakan kegiatan
praktikum sesuai dengan petunjuk pada LKS. Kemudian masing-masing
kelompok mendiskusikan hasil pengamatannya. Setiap kelompok mengisi
lembar kerja siswa/ LKS dengan bantuan guru. Setiap kelompok diberi
kesempatan untuk mempresentasikan hasil pengamatannya kemudian
diadakan sharing klasikal dan reflkesi.
Kegiatan penutup dalam pembelajaran ini berupa diskusi dan menarik
simpulan dari materi yang telah dipelajari dengan bimbingan guru. Dalam
kegiatan ini siswa diberi kesempatan untuk menanyakan materi yang
kurang dipahami siswa, sedangkan guru menyatukan kerangka berfikir
siswa dengan menjelaskan bagian-bagian yang penting.
Dalam kegiatan pengamatan pada saat praktikum, diharapkan siswa
dapat menggunakan pengetahuan awalnya untuk membangun pengetahuan
baru. Pada kegiatan pengamatan, siswa akan mengalami proses induktif
60
(berdasar fakta nyata) sehingga siswa dapat membangun makna, kesan
dalam memori atau ingatannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Dimyati
(2002: 45) yang mengatakan bahwa dalam belajar melalui pengalaman
langsung, siswa tidak sekedar mengamati tetapi harus menghayati, terlibat
langsung dalam perbuatan dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Hal
tersebut juga didukung oleh pendapat Nurhadi (2002: 105) yang
menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran siswa membangun sendiri
pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar
mengajar.
Dalam kegiatan diskusi akan menciptakan aktivitas bertanya yang
berguna untuk menggali informasi yang dimiliki siswa, mengecek
pemahaman, dan membangkitkan respon siswa. Bertanya dalam
pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong,
membimbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa. Bertanya adalah
suatu strategi yang digunakan secara aktif oleh siswa untuk menganalisis
dan mengeksplorasi gagasan-gagasan (Nurhadi 2004: 45).
Dalam kegiatan sharing klasikal siswa saling melengkapi hasil
temuannya antara satu kelompok dengan kelompok lain. Selain itu, untuk
menyamakan konsep antara siswa yang satu dengan siswa yang lain dan
antara guru dengan siswa dengan memperhatikan keterlibatan dan
keaktifan siswa.
Proses pembelajaran pada siklus I dengan penerapan pendekatan
kontekstual diperoleh rata-rata hasil belajar siswa 69,7 dengan ketuntasan
61
belajar secara klasikal 58,14% pada hasil belajar kognitif. Meningkatnya
nilai rata-rata dan ketuntasan belajar secara klasikal tersebut berarti
pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari meningkat. Pada hasil
belajar psikomotorik diperoleh nilai rata-rata 63,14 dengan ketuntasan
belajar secara klasikal 62,8%. Pada hasil belajar afektif, diperoleh nilai
rata-rata 62,6 dengan ketuntasan belajar secara klasikal 53,5%.
Peningkatan nilai rata-rata pada siklus I ini karena siswa terlibat
langsung secara aktif dalam proses pembelajaran. Hal tersebut sesuai
pendapat John Dewey dalam Dimyati (2002: 116) yang menyatakan
bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk
dirinya sendiri, guru sekedar pembimbing dan pengarah. Dalam setiap
kegiatan belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan baik dari kegiatan
fisik yang mudah diamati sampai kegiatan psikis yang sulit untuk diamati.
Pendapat John Dewey didukung oleh Nurhadi (2004: 8-9) yang
menyatakan bahwa dalam proses belajar mengajar siswa membangun
sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar
mengajar.
Perolehan ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus I sebesar
58,14% belum memenuhi target yang diterapkan, yaitu sekurangkurangnya
85% siswa yang mampu mencapai nilai 65. Perolehan
ketuntasan belajar secara klasikal yang belum memenuhi target ini
disebabkan dari keaktifan siswa yang kurang optimal selain itu guru masih
62
kurang bisa mengelola kelas. Siswa masih enggan bertanya pada guru jika
mengalami kesulitan.
Berdasarkan hasil observasi yang diuraikan di atas, maka di akhir
siklus diadakan refleksi oleh penulis dan guru mitra terhadap pelaksanaan
pembelajaran selama siklus I berlangsung. Hasil refleksi yang
dilangsungkan adalah sebagai berikut:
a. Perlu meningkatakan motivasi bagi siswa untuk meningkatkan
aktivitas selama proses pembelajaran.
b. Perlu diberikan tugas awal sebelum materi dipelajari agar siswa
memiliki persiapan materi.
c. Perlu memberi penguatan kepada siswa yang bertanya dan yang mau
mengerjakan soal di papan tulis, agar dapat memotivasi siswa yang
lain untuk turut aktif dalam pembelajaran.
d. Pengelolaan terhadap waktu pembelajaran perlu diperhatikan dan harus
sesuai dengan alokasi waktu yang telah direncanakan.
e. Selama mengelola kelas perlu perhatian yang khusus kepada siswa
yang ramai misalnya dengan menegur, agar tidak menganggu teman
yang lain sehingga suasana kelas menjadi kondusif.
f. Perlu adanya persiapan dan perencanaan yang matang mengenai
kegiatan, alat, bahan, dan sarana lain yang diperlukan dalam proses
pembelajaran selanjutnya.
Hasil refleksi tersebut menjadi masukan untuk perbaikan kondisi
pembelajaran yang akan dilaksanakan pada siklus II.
63
2. Siklus II
Perbaikan-perbaikan dari hasil refleksi pada siklus I yang diterapkan
pada siklus II ternyata tampak hasilnya. Hal ini dapat diketahui dari proses
pembelajaran yang berjalan lancar. Siswa dapat menyesuaikan diri dengan
kondisi pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual.
Kesiapan siswa dalam pembelajaran lebih baik dibandingkan dengan
siklus I.
Pada observasi pelaksanaan siklus II diperoleh nilai rata-rata hasil
belajar pada siklus II adalah 76,7 dengan ketuntasan belajar secara kalsikal
72,1% pada hasil belajar kognitif. Pada hasil belajar psikomotorik
diperoleh rata-rata 65,35 dengan ketuntasan belajar secara kalsikal 74,4%.
Pada hasil belajar afektif diperoleh nilai rata-rata 66,83 dengan ketuntasan
secara klasikal sebesar 72,1%. Perolehan hasil belajar tersebut
menunjukkan adanya peningkatan jika dibandingkan hasil belajar pada
siklus I. Nilai rata-rata pada siklus II meningkat dari 69,7 pada siklus I
menjadi 72,1 pada siklus II. Ketuntasan belajar secara klasikal mengalami
peningkatan dari 58,14 pada siklus I menjadi 72,1% pada siklus II pada
hasil belajar kognitif yang juga diikuti pada hasil belajar afektif dan
psikomotorik.
Meningkatnya nilai rata-rata dan ketuntasan belajar secara klasikal
tersebut berarti pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari
meningkat. Peningkatan nilai rata-rata pada siklus II ini dipengaruhi oleh
meningkatnya keaktifan siswa.
64
Berdasarkan hasil observasi, diketahui bahwa aktivitas belajar siswa
meningkat selama proses pembelajaran siklus II dibandingkan pada siklus
I. Nilai rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus II meningkat dari 64,41
pada siklus I menjadi 68,25 pada siklus II dan ketuntasan belajar secara
klasikal meningkat dari 65,1% pada siklus I menjadi 74,4% pada siklus II.
Peningkatan ini dapat dilihat dari siswa aktif mengajukan pertanyaan,
menjawab pertanyaan, dan mendengarkan penyajian bahan. Adapun data
hasil observasi dapat dilihat pada lampiran 17.
Pada saat melakukan sharing secara klasikal menunjukkan keaktifan
siswa sudah merata. Meningkatnya nilai rata-rata dan ketuntasan belajar
secara klasikal tidak lepas dari meningkatnya kinerja guru dengan
memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ditemukan pada siklus I.
Tindakan perbaikan tersebut terlihat dari cara guru dalam membimbing
siswa menemukan jawaban sendiri. Selain itu guru berusaha untuk
memotivasi siswa dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan yang
pada akhirnya menuntun siswa untuk menemukan jawabannya sendiri
sehingga siswa benar-benar belajar mencari jawaban dan guru hanya
memberi rangsangan dan bimbingan. Menurut pendapat Slameto (2003:
97) dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk
mendorong, membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk
mencapi tujuan.
Hasil belajar pada siklus II masih perlu ditingkatkan lagi karena
ketuntasan belajar secara klasikal belum mencapai 85%. Hal tersebut
65
menunjukkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran masih perlu
ditingkatkan lagi, sehingga pemahaman siswa terhadap konsep yang
dibahas akan lebih optimal.
Keterlibatan siswa yang masih belum optimal disebabkan adanya
berbagai kendala diantaranya siswa yang masih bercanda sendiri dengan
temannya, masih ada siswa yang pasif, tidak mau menjawab pertanyaan
dari guru atau mengemukakan pendapatnya. Selain itu, guru kurang bisa
memanfaatkan waktu dengan baik dan kekurangtegasan guru dalam
mengorganisasi siswa pada saat pengamatan.
Berdasarkan anlisis data di atas, selanjutnya diadakan refleksi atas
proses pembelajaran yang telah berlangsung dan diperoleh hasil sebagai
berikut:
a. Guru harus meningkatkan pengelolaan pembelajaran dalam kelas
b. Lebih memotivasi siswa khususnya pada siswa yang pasif pada saat
proses belajar mengajar.
c. Guru harus berusaha memanfaatkan waktu dengan baik dan tegas
dalam mengorganisasikan siswa pada saat pengamatan.
Meskipun rata-rata hasil belajar telah memenuhi target, namun
ketuntasan secara klasikal belum memenuhi target. Hasil refleksi ini
digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk merencanakan proses
pembelajaran pada siklus berikutnya.
66
3. Siklus III
Materi yang dipelajari pada siklus III adalah mengenai pembuatan
koloid. Proses pembelajaran melalui pendekatan kontekstual berlangsung
lancar.
Berdasarkan observasi pelaksanaan siklus III diperoleh bahwa nilai
rata-rata hasil belajar kognitif sebesar 77 dengan ketuntasan secara
klasikal 86%. Rata-rata hasil belajar psikomotorik sebesar 70,2 dengan
ketuntasan secara klasikal 88,4%. Rata-rata hasil belajar afektif sebesar
69,5 dengan ketuntasan secara klasikal 86%. Pencapaian hasil belajar
tersebut telah memenuhi target yang ditetapkan untuk indikator yaitu,
sekurang-kurangnya 85% siswa mendapat nilai ≥ 65. Jika dibandingkan
dengan hasil belajar pada siklus I, siklus II dan sebelum tindakan hasil
belajar tersebut mengalami peningkatan. Hal ini berarti pemahaman siswa
terhadap materi yang dipelajari meningkat. Meningkatnya pemahaman
siswa tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya kinerja guru dan keaktifan
siswa dalam proses pembelajaran. Pada siklus III, nilai rata-rata aktivitas
sebesar 71,7 dengan keruntasan klasikal sebesar 86%.
Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa guru telah meningkatkan
kinerjanya dalam mengelola proses pembelajaran. Kinerja guru selama
proses pembelajaran siklus III termasuk dalam kriteria sangat baik.
Melalui teguran yang tegas, guru dapat mengendalikan siswa yang ramai
sehingga kondisinya lebih kondusif. Guru juga memotivasi siswa supaya
aktif bertanya, mengajukan pendapat, dan menjawab pertanyaan dari guru.
67
Selain itu, guru berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain untuk
memberikan bimbingan dan arahan kepada siswa yang masih tampak
bingung terhadap materi. Hal ini menyebabakan seluruh kelompok merasa
diperhatikan sehingga keaktifan siswa meningkat.
Dalam proses pembelajaran terjadi peningkatan jumlah siswa yang
aktif mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, dan mereka juga
sudah melakukan praktikum dengan tertib dan tepat waktu. Terlihat
kerjasama kelompok juga menunjukkan peningkatan. Peningkatan
banyaknya siswa yang terlibat aktif selama proses pembelajaran
merupakan salah satu indikator yang menunjukkan motivasi siswa untuk
belajar meningkat.
Selain diadakan post tes sebagai evaluasi, pada akhir pembelajaran
siklus III, siswa juga diberi kuesioner pengamatan minat siswa terhadap
pembelajaran yang telah dilakukan, yang berhubungan dengan pendekatan
kontekstual. Ternyata tanggapan siswa secara umum cukup baik, hal ini
ditunjukkan dengan hasil kuesioner yang dapat dilihat pada tabel 10.
Siswa merasa tertarik mengikuti pembelajaran dan menyukai suasana
kelas. Kondisi demikian dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan
aktivitas dan hasil belajarnya. Penggunaan pendekatan kontekstual dapat
digunakan untuk proses pembelajaran. Melalui pembelajaran demikian,
siswa tidak mengalami kesulitan dan merasa bahwa materi kimia bukanlah
hal yang harus ditakutkan.
68
Seperti pada siklus II, pada akhir siklus III juga diadakan refleksi
terhadap pelaksanaan proses pembelajaran. Hasil kegiatan refleksi siklus
III adalah sebagai berikut:
a. Sebagian besar siswa mempunyai aktivitas yang tinggi selama
pembelajaran, yaitu dengan rata-rata nilai aktivitas sebesar 71,7.
b. Tanggapan siswa terhadap pembelajaran cukup baik.
c. Penggunaan pendekatan kontekstual dapat membantu siswa dalam
memahami materi.
Hasil refleksi ini menunjukkan pelaksanaan pembelajaran pada siklus
III dinilai cukup berhasil dan telah memenuhi target penulis seperti yang
tercantum dalam indikator keberhasilan.
Uraian di atas menunjukkan bahwa adanya peningkatan aktivitas dan
hasil belajar dari siklus I sampai siklus III setelah diterapkannya
pembelajaran melalui pendekatan kontekstual. Hal ini sesuai dengan
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ambarwati (2005: 57)
diperoleh simpulan bahwa dengan menggunakan pendekatan kontekstual
(CTL) pada konsep sistem gerak dapat meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar siswa MTS N Parakan Kabupaten Temanggung.
69
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada
Bab IV dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan pendekatan kontekstual
aktivitas dan hasil belajar siswa kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal dapat
meningkat. Peningkatan ini dapat dilihat dari:
1. Rata-rata nilai aktivitas siswa sebesar 64,4 pada siklus I, 68,2 pada siklus
II dan 71,7 pada siklus III.
2. Rata-rata nilai hasil belajar kognitif pada post tes sebagai evaluasi sebesar
69,7 pada siklus I, 76,7 pada siklus II, dan 77 pada siklus III.
3. Rata-rata nilai hasil belajar psikomotorik sebesar 63,1 pada siklus I, 65,4
pada siklus II, dan 70,2 pada siklus III.
4. Rata-rata nilai hasil belajar afektif sebesar 62,6 pada siklus I, 66,8 pada
siklus II, dan 69,5 pada siklus III.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka saran yang dapat
diberikan adalah:
1. Penerapan pendekatan kontekstual perlu dikembangkan pada topik lain
yang mempunyai permasalahan yang sama.
70
2. Jika akan diterapkan pendekatan kontekstual perlu adanya sistem kontrol
yang baik oleh guru pada saat siswa melaksanakan pengamatan dan
diskusi sehingga siswa benar-benar memanfaatkan waktu untuk
memahami materi dengan baik.
71
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, Fitriana. 2005. Skripsi: Penerapan Pendekatan Kontekstual Untuk
Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa pada Konsep Sistem
Gerak di MTS N Parakan Kabupaten Temanggung. Semarang:
UNNES.
Anni, Chatarina.T. 2004. Psikologi Belajar. Semarang: UPT MKK UNNES.
Anshory, Irfan. 1999. Acuan Pelajaran Kimia SMA. Jakarta: Erlangga.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
. 2002. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Darsono, Max, dkk. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang : IKIP
Semarang Press.
Depdiknas. 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and
Learning). Jakarta: Dirjendikdasmen.
. 2003. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian.
Jakarta: Dirjendikdasmen.
Dimyati. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Gulo. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo.
Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Johari. 2004. Kimia SMA. Jakarta: Erlangga.
Mulyasa. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Rosda Karya.
Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004 Pertanyaan dan Jawaban. Jakarta: Grasindo.
. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK.
Malang: Universitas Negeri Malang.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
PT Rineka Cipta.
http://www.sma1-sltg.sch.id/modules.php/.htm [accessed 21 / 03 / 2007]
72

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) UNTUK PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP
PROGRAM LINEAR
( PTK Pembelajaran di Kelas X SMK Pertiwi Kartasura )
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Guna Mencapai Derajat S-1
Pendidikan Matematika
Disusun oleh:
HAFIDH MUDHOFAR
A 410 040 191
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2008
i
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan teknologi yang sangat pesat sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan. Dengan berkembangnya teknologi ini mengakibatkan berkembangnya ilmu pengetahuan yang memiliki dampak positif maupun negatif. Perkembangan teknologi ini dimulai dari negara maju, sehingga Indonesia sebagai negara berkembang perlu mensejajarkan diri dengan negara-negara yang sudah maju tersebut.
Pendidikan matematika merupakan salah satu fondasi dari kemampuan sains dan teknologi. Pemahaman terhadap matematika, dari kemampuan yang bersifat keahlian sampai kepada pemahaman yang bersifat apresiatif akan berhasil mengembangkan kemampuan sains dan teknologi yang cukup tinggi (Buchori, 2001:120-121). Mengingat pentingnya matematika dalam pengembangan generasi melalui kemampuan mengadopsi maupun mengadakan inovasi sains dan teknologi di era globalisasi, maka tidak boleh dibiarkan adanya anak-anak muda yang buta matematika. Kebutaan matematika yang dibiarkan menjadi suatu kebiasaan, membuat masyarakat kehilangan kemampuan berpikir secara disipliner dalam menghadapi masalah – masalah nyata.
Pendidikan merupakan proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dirinya dan untuk meningkatkan harkat dan martabat
1
2
manusia, sehingga manusia mampu untuk menghadapi setiap perubahan yang terjadi, menuju arah yang lebih baik.
Pembelajaran adalah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid (Syaiful Sagala, 2006 : 61). Dalam mata pelajaran matematika, sebagai upaya agar materi yang disampaikan benar–benar dapat diterima dan dikuasai oleh siswa dapat dilakukan dengan memberikan soal–soal, baik berupa soal cerita maupun soal objektif. Konsep–konsep yang diajarkan dikelas kurang dipahami oleh siswa, sehingga kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal matematika masih kurang, ini membuat atau menjadikan siswa malas belajar matematika.
Proses pembelajaran membutuhkan metode yang tepat. Kesalahan menggunakan metode, dapat menghambat tercapainya tujuan pendidikan yang diinginkan. Dampak yang lain adalah rendahnya kemampuan bernalar siswa dalam pembelajaran matematika. Hal ini disebabkan karena dalam proses siswa kurang dilibatkan dalam situasi optimal untuk belajar, pembelajaran cenderung berpusat pada guru, dan klasikal. Selain itu siswa kurang dilatih untuk menganalisis permasalahan matematika, jarang sekali siswa menyampaikan ide untuk menjawab pertanyaan bagaimana proses penyelesaian soal yang dilontarkan guru.
3
Dari beberapa model pembelajaran, ada model pembelajaran yang menarik dan dapat memicu peningkatan penalaran siswa yaitu model pembelajaran CTL. Pada dasarnya, pembelajaran CTL adalah suatu sistem pengajaran yang cock dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademik dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa. Dalam pembelajaran ini siswa harus dapat mengembangkan ketrampilan dan pemahaman konsep matematika untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pengajaran matematika mempunyai tujuan yang sangat luas, salah satu tujuannya adalah agar siswa memiliki keterampilan menghubungkan matematika dengan kehidupan sehari-hari dan menerapkannya dalam soal-soal. Dengan demikian penggunaan model pembelajaran CTL perlu diberikan oleh guru dalam proses belajar, agar dapat mencapai hasil belajar yang lebih baik.
Belajar dengan model pembelajaran CTL akan mampu mengembangkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah-masalah serta mengambil keputusan secara objektif dan rasional. Disamping itu juga akan mampu mengembangkan kemampuan berfikir kritis, logis, dan analitis. Karena itu siswa harus benar-benar dilatih dan dibiasakan berfikir secara kritis dan mandiri. Dengan menggunakan model pembelajaran CTL diharapkan siswa mampu menyelesaikan soal–soal matematika.
Penerapan model pembelajaran CTL dalam pembelajaran matematika khususnya pokok bahasan program linear melibatkan siswa untuk dapat
4
berperan aktif dengan bimbingan guru, agar peningkatan kemampuan siswa dalam memahami konsep dapat terarah lebih baik.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka akan dilakukan pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Learning untuk peningkatkan pemahaman konsep program linear.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat didentifikasikan beberapa masalah, sebagai berikut:
1. Siswa mengalami kesulitan pada materi program linear.
2. Siswa belum mampu memahami, menafsirkan dan mengaplikasikan konsep program linear.
3. Pembelajaran konvensional mengarah pada terselesainya suatu materi tanpa memperhatikan partisipasi dari peserta didik.
Akar penyebab munculnya permasalahan tersebut adalah guru sebagai fasilitator, dalam tahap persiapan maupun tahap penyampaian materi ajar kurang melibatkan siswa dalam situasi optimal untuk belajar, cenderung pembelajaran berpusat pada guru dan klasikal akibatnya, siswa kurang mampu menangkap ide soal yang kemudian ditampilkan dalam kalimat matematika dengan simbol-simbol. Guru sebagai fasilitator dalam tahap penyampaian materi maupun dalam tahap pelatihan kurang membimbing kerja kelompok
5
dalam menganalisis permasalahan soal cerita matematika sehingga pemahaman siswa terhadap konsep matematika yang dipelajari kurang optimal. Dalam tahap pelatihan maupun dalam tahap penampilan hasil, guru jarang meminta siswa saling menjelaskan proses pemecahan masalah, hal ini menyebabkan siswa mengalami kelemahan dalam melakukan pemecahan masalah.
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, agar penelitian ini lebih terarah dan diharapkan masalah yang dikaji lebih mendalam, perlu adanya pembatasan masalah yang akan diteliti.
Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Metode pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL). CTL adalah suatu sistem pengajaran yang cocok untuk otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademik dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa
2. Pemahaman konsep matematika siswa dalam pembelajaran dibatasi pada pemahaman konsep untuk menguasai materi pokok program linear.
3. Materi matematika dibatasi pada pokok bahasan program linear kelas X.
6
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas maka penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Adakah peningkatan kemampuan siswa dalam memahami konsep program linear dengan model pembelajaran berbasis Contextual Teaching and Learning (CTL) mencapai 65%?
Untuk mengetahui hasil tersebut digunakan indikator sebagai berikut:
a. Menjawab pertanyaan guru / mengerjakan soal ke depan;
b. Mengajukan pertanyaan / tanggapan pada guru;
c. Memberikan tanggapan atas jawaban siswa lain;
d. Mengerjakan soal kedepan.
Tingkat pemahaman konsep berhitung pecahan siswa yang dapat dilihat dari hasil jawaban siswa dalam mengerjakan soal yang diberikan setiap putaran. Hal ini dapat menggunakan kriteria sebagai berikut:
a. Kemampuan mengkonstruksikan soal ke dalam model matematika.
b. Ketepatan dalam mengoperasikan program linier.
c. Proses perhitungan untuk mencari jawaban.
2. Apakah tindakan-tindakan dalam pembelajaran CTL dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan program linier mencapai 65%?
7
E. Pemecahan Masalah
Berdasarkan permasalahan tersebut, pemecahan masalah yang akan dilakukan agar dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa adalah dengan menggunakan pendekatan CTL dalam pembelajaran matematika. Adapun pelaksanaannya sebagai berikut:
1. Peneliti mempersiapkan buku siswa yang beracuan kontekstual serta sarana pembelajaran pendukung dengan mempertimbangkan masukan dari guru matematika kelas X SMK Pertiwi Kartasura.
2. Pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Awal pembelajaran diberikan masalah kontekstual yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Masalah CTL yang digunakan merupakan masalah sederhana yang dikenal siswa. Siswa bekerja secara individual atau kelompok menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri.
b. Menggunakan model matematisasi. Siswa diberi kebebasan membuat model sendiri dalam menyelesaikan masalah.
c. Menggunakan kontribusi siswa. Selama proses pembelajaran kontribusi terbesar diharapkan datang dari siswa.
d. Menggunakan interaksi siswa. Mengoptimalkan proses pembelajaran melalui interaksi siswa dengan siswa, siswa dengan guru dan siswa dengan sarana pembelajaran.
e. Pemanduan (Intertwinning). Pemanduan yang dimaksud pengintegrasian dari unit-unit matematika. Oleh karena itu keterkaitan dan
8
ketergantungan harus dieksplorasikan untuk mendukung terjadinya proses pembelajaran yang bermakna.
F. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan permasalahan diatas maka secara garis besar penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1. Untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa pada pokok bahasan program linear dengan menggunakan model pembelajaran CTL.
2. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal dengan menggunakan. model pembelajaran CTL.
G. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Secara umum, studi ini memberikan sumbangan kepada pembelajaran matematika, utamanya pada layanan peningkatan kemampuan pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran matematika. Telah diakui secara luas bahwa pemahaman konsep matematika memiliki peran yang cukup besar bagi siswa dalam hal motivasi, penampilan dan kecakapannya dalam bidang matematika. Oleh karenanya, wajar jika guru mempunyai keyakinan intervensi dengan siswanya melalui peningkatan pemahaman konsep matematika.
Pengharapan guru (teacher expectations) adalah bagaimana guru menciptakan prestasi akademik saat ini dan pada waktu yang akan datang
9
dan tingkah laku siswanya secara umum (Good dan Brophy, 1990:443). Harapan guru tersebut meliputi keyakinan guru (teachers belief) terhadap peningkatan kemampuan pemahaman siswa, potensi siswa dalam memahami instruksi, dan kesulitan materi yang dihadapi siswa atau kelas. Bersama model lain, studi ini memperkaya proses pembelajaran matematika dengan model pembelajaran CTL.
Secara khusus, studi ini memberikan kontribusi kepada strategi pembelajaran matematika berupa pergeseran paradigma mengajar menjadi paradigma belajar dalam suasana yang gembira. Telah menjadi pandangan yang cukup mapan bahwa paradigma belajar dalam suasana yang gembira untuk memecahkan masalah matematika merupakan aspek yang esensial dalam pembelajaran matematika (De Porter & Hernacki, 1999:48). Di sini, paradigma belajar dalam suasana gembira dipertajam dengan dimensi guru sebagai fasilitator, sehingga stabilitas dan keterkendalian terjaga.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi guru dan siswa. Bagi guru matematika, hasil penelitian dapat digunakan untuk menyelenggarakan layanan pembelajaran yang inovatif dan dapat diaplikasikan untuk mengembangkan model-model pembelajaran lebih lanjut. Bagi siswa, proses pembelajaran ini dapat meningkatkan pemahaman konsep dan kemampuan dalam bidang matematika maupun secara umum kemampuan mengatasi permasalahan dalam hidupnya.

soal ujian ipa

Posted: 29/11/2010 in tU9aS kuL...

DINAS PENDIDIKAN KOTA PADANG PANJANG

UPTD SD NEGERI 18 KOTO PANJANG

UJIAN TENGAH SEMESTER I

TAHUN PELAJARAN 2010/2011

 

LEMBARAN SOAL

Mata pelajaran             : Ilmu Pengetahuan Alam                                 Kelas   :  III (Tiga)

1.      Tulis Nama, Mata Pelajaran pada tempat yang disediakan pada lembar jawaban.

2.      Jawablah soal-soal dibawah ini pada lembar jawaban.

3.      Periksalah pekerjaan dengan teliti sebelum diserahkan kepada pengawas.

 

 

I.       Silangilah salah satu huruf A, B, C, atau D yang kamu anggap paling benar !

 

 

1.      Manusia, hewan dan tumbuhan termasuk ….

a.       Makhluk hidup

b.      Makhluk tak hidup

c.       Benda tak hidup

d.      Makhluk halus

 

2.      Ciri-ciri makhluk hidup antara lain ….

a.       Besarnya tetap

b.      Berkembang biak

c.       Tidak bergerak

d.      Menetap di suatu tempat

 

3.      Ketika merasa lapar, makhluk hidup membutuhkan ….

a.       Minuman

b.      Makanan

c.       Hiburan

d.      Air

 

4.      Makhluk hidup tidak punah, karena makhluk hidup ….

a.       Bergerak

b.      Tumbuh

c.       Berkembang biak

d.      Memerlukan makanan

 

5.      Makhluk hidup yang dapat membuat makanan sendiri adalah ….

a.       Tumbuhan

b.      Hewan

c.       Manusia

d.      Cacing

 

6.      Hewan pemakan daging adalah ….

a.       Kerbau

b.      Sapi

c.       Kelinci

d.      Harimau

 

7.      Teratai hidup di ….

a.       Air

b.      Tanah

c.       Batu

d.      Laut

 

8.      Sayuran dan buah-buahan adalah makanan yang mengandung …

a.       Karbohidrat

b.      Vitamin dan mineral

c.       Protein

d.      Lemak

 

9.      Pertumbuhan dialami oleh ….

a.       Pasir dan batu

b.      Tanah dan pasir

c.       Rumput dan semut

d.      Batu dan pasir

 

 

10.  Makanan yang bergizi adalah makanan yang mengandung ….

a.       Vitamin dan protein

b.      Mineral dan lemak

c.       Karbohidrat dan air

d.      Empat sehat lima sempurna

 

11.  Makanan yang mengandung karbohidrat adalah ….

a.       Buah-buahan

b.      Daging

c.       Nasi

d.      Ikan

 

12.  Makanan yang berasal dari hewan adalah …

a.       Tempe

b.      Telur

c.       Tahun

d.      Mie

 

13.  Saat yang paling baik untuk berolah raga adalah …

a.       Siang

b.      Sore

c.       Pagi

d.      Malam

 

14.  Dibawah ini, yang termasuk lingkungan tidak sehat ….

a.       Air sungai yang bersih

b.      Lingkungan pedesaan

c.       Tumpukan sampah

d.      Wilayah pabrik

 

15.  Pada musim kemarau, debu banyak beterbangan di ….

a.       Lapangan

b.      Persawahan

c.       Pegunungan

d.      Hutan

 

16.  Udara di daerah pegunungan terasa ….

a.       Pengap

b.      Sesak

c.       Panas

d.      Sejuk

 

17.  Kegiatan sehari-hari yang mencemari udara adalah ….

a.       Menyiram halaman

b.      Memangkas tanaman

c.       Mengendarai motor

d.      Bersepeda

 

18.  Nyamuk berkembang biak di …

a.       Air tergenang

b.      Laut

c.       Ruangan

d.      Sungai yang mengalir

 

19.  Lingkungan yang bersih akan membuat tubuh kita menjadi …

a.       Sehat

b.      Sakit

c.       Lemah

d.      Tidak semangat

 

20.  Penyakit diare berjangkit apabila ….

a.       Menggunakan air kotor

b.      Asap rokok

c.       Sampah

d.      Nyamuk

 

 

II.     Isilah titik-titik dibawah ini dengan benar !

 

21.  Hewan pemakan rumput disebut ….

22.  Cacing tanah bernafas menggunakan ….

23.  Semua makhluk hidup membutuhkan udara untuk ….

24.  Penyakit yang terjadi pada mata disebabkan karena kekurangan vitamin ….

25.  Sungai yang dipenuhi sampah akan mengakibatkan ….

26.  Hasil buangan dari proses produksi pabrik disebut ….

27.  Polusi udara dapat menimbulkan penyakit pada …

 

III.  Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan tepat !

 

28.  Tuliskan  4 ciri-ciri makhluk hidup !

29.  Tuliskan bahan makanan yang termasuk empat sehat lima sempurna !

30.  Tuliskan 3 macam pencemaran lingkungan !

 

 

 

 

 

Pembelajaran Pemecahan Masalah Berbasis Kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pecahan di Kelas V SDN 37 Alang Laweh Padang

Abstrak: Berdasarkan pengamatan peneliti di SDN 37 Alang Laweh dan hasil wawancara terhadap siswa dan guru kelas V SDN 37 Alang Laweh Padang, siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari pecahan dalam bentuk soal cerita, serta pembelajaran dilaksanakan oleh guru masih secara konvensional. Hal ini mengakibatkan nilai siswa rendah. Untuk itu penulis melalui penelitian ini mencoba meningkatkan hasil belajar siswa pada pecahan dengan pembelajaran pemecahan masalah berbasis kontekstual. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perencanaan, bentuk dan penilaian pembelajaran pemecahan masalah berbasis kontekstual. Pembelajaran pemecahan masalah yang digunakan yakni model Polya, pembelajaran melalui 4 tahap dan masing masing tahap dikombinasikan dengan komponen Contextual Teaching and Learning (CTL). penelitian tindakan kelas ini dirancang dengan dua siklus yang meliputi tahapan perencanaan dan pelaksanaan. Hasil penelitian dari setiap siklus yang dilaksanakan dalam peneitian ini terlihat peningkatan hasil belajar matematika siswa.

 

Kata kunci: Pembelajaran, Pemecahan Masalah, Kontekstual.

A. Pendahuluan

Dalam setiap kegiatan manusia pada hakikatnya selalu berhadapan dengan masalah, baik masalah yang besar maupun yang kecil. Keberhasilan seseorang dalam kehidupannya, banyak ditentukan oleh kemampuan memecahkan masalah yang dihadapinya, khususnya memecahkan masalah matematika.

Pemecahan masalah menurut (Depdiknas, 2006:416) merupakan “Fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup berbagai masalah dengan berbagai cara penyelesaiannya. Dan pembelajaran matematika dengan pemecahan masalah sebagaimana menurut Sujono (1988:220) “Keterampilan dan kebanggaan siswa akan berkembang karena selama proses pemecahan masalah, siswa dituntut untuk lebih kritis dan analitis terhadap soal-soal yang diberikan kepadanya”.

National Council of Teacher of Matematich (NCTM) (dalam Megawati, 2004:2) menyatakan bahwa pemecahan masalah mempunyai dua fungsi dalam pembelajaran matematika. Pertama, pemecahan masalah merupakan sarana yang penting untuk mempelajari materi matematika, karena banyak konsep matematika yang dapat dikenalkan secara efektif kepada siswa melalui pemecahan masalah. Kedua, pemecahan masalah dapat membekali siswa dengan pengetahuan matematika sebagai dasar dalam memformulasikan, mendekati dan memecahkan masalah sesuai dengan apa yang telah mereka pelajari di sekolah. Ini berarti bahwa pemecahan masalah merupakan bagian yang mendasar dan memegang peranan penting dalam penemuan dan mengaplikasikan konsep-konsep matematika. Pemecahan masalah matematika, selain menuntut siswa untuk berpikir juga dapat mengakibatkan siswa lebih kreatif.

Pembelajaran mengenai pemecahan masalah menekankan pada pembelajaran strategi-strategi pemecahan masalah sebagai alat untuk menyelasaikan masalah. Pembelajaran pemecahan masalah menekankan pada pembelajaran yang melibatkan siswa untuk belajar menggunakan strategi pemecahan masalah dalam permasalahan yang menantang, terutama yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Sebagaimana menurut Depdiknas dalam (KTSP, 2006:416) bahwa “Pembelajaran matematika hendaknya dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem) kehidupan siswa, agar siswa lebih mudah mengembangkan pola pikirnya untuk memecahkan masalah”.

Berdasarkan observasi dan studi awal pada tanggal 24 Maret 2008 di kelas  V SDN 37 Alang Lawas Padang Selatan, terlihat siswa masih kesulitan mengerjakan soal-soal cerita tentang mengubah pecahan ke persen dan kelemahan mentransformasikan masalah verbal lainnya menjadi kalimat matematika.

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa, selain dari faktor siswa sendiri, faktor guru juga menentukan kesulitan yang dialami siswa tersebut. Berdasarkan hasil wawancara tanggal 24 Maret 2008 dengan guru kelas V SDN 37 Alang Laweh Padang, didapat hasil bahwa guru masih menggunakan metode yang konvensional. Manurut Manan (dalam Megawati, 2004:10) pembelajaran matematika secara konvensional siswa diposisikan sebagai orang yang tidak tahu apa-apa yang hanya menunggu dan menyerap apa yang diberikan guru yang akibatnya siswa pasif dan guru yang menjadi aktif. Guru mengikuti alur memberi informasi, ceramah, latihan soal dan pemberian tugas. Pembelajaran matematika secara konvensional mengakibatkan siswa bekerja secara prosedural tanpa memahami konsep yang sebenarnya dan daya nalar serta kreatifitas siswa tidak berkembang. Hal ini mengakibatkan aktifitas belajar siswa rendah, menurunkan hasil dan minat belajar siswa. Selain itu, dalam pembelajaran siswa lebih cendrung mengandalkan teman yang lebih pintar, karena siswa tidak mengerti dengan soal yang diberikan. Apabila hal ini dibiarkan berlanjut, maka akan berindikasi negatif terhadap nilai hasil belajar matematika.

Dari fenomena yang diperoleh di lapangan, maka peneliti menganggap bahwa hal ini masalah yang perlu diatasi, untuk itu perlu dikembangkan suatu pembelajaran yang lebih bermakna. Agar pembelajaran lebih bermakna, maka perlu diciptakan lingkungan yang alamiah yang dekat dengan dunia nyata. Kegiatan pembelajaran secara kontekstual dapat mengarahkan siswa untuk mengaplikasikan teori matematika secara bermakna (Pearson dalam http:// cikgu.net/2003).

Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat membuat pembelajaran menjadi bermakna yaitu pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL). Pendekatan kontekstual menurut Nina (2005:6) adalah “Pendekatan yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi dunia nyata, sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka”. Pendapat lain mengatakan bahwa pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa menghubungkan isi pembelajaran dengan konteks kehidupan sehari-hari untuk menemukan makna (Suwantri, 2007)

Pendekatan kontekstual mempunyai karakteristik sebagaimana menurut Nurhadi (2002:20) yaitu:1) kerja sama; 2) saling menunjang; 3) menyenangkan, tidak membosankan; 4) belajar dengan bergairah; 5) pembelajaran dengan terintegrasi; 6) menggunakan sumber belajar; 5) siswa aktif; 7) sharing dengan teman; 8) siswa kritis dan guru kreatif; 9) dinding kelas penuh dengan hasil karya siswa, peta, gambar, artikel, humor; 10) laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan lain-lain.

Pendekatan kontekstual ini memiliki tujuh komponen utama yaitu          1) konstruktivis (contructivism); 2) menemukan (inquiry); 3) bertanya (questioning); 4) masyarakat belajar (learning community); 5) pemodelan (modeling); 6) refleksi (reflection); dan 7) penilaian yang sebenarnya (auhtenticassesmen), (Nurhadi, 2002:10).

Pendekatan kontekstual ini mempunyai kelebihan yakni pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa, karena pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa, dan strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil (Nurhadi, 2003:4). Selain itu, pembelajaran dengan pendekatan kontekstual  akan menambah semangat dan kreatifitas siswa, karena masalah yang dihadapkan kepada siswa adalah masalah yang ada di lingkungannya dan akan berguna di kehidupan siswa tersebut.

Dengan melihat kelebihan pendekatan kontekstual di atas dan kendala yang ditemui di lapangan pada pembelajaran pemecahan masalah tentang mengubah pecahan ke persen, maka pada pembelajaran pemecahan masalah tentang mengubah pecahan ke persen, pendekatan kontekstual sangat cocok diterapkan. Karena soal-soal tentang pecahan banyak berkaitan dengan kehidupan nyata siswa, sehingga masalah yang timbul adalah masalah yang kontekstual. Dengan demikian, dapat membantu siswa memproses informasi ke dalam otaknya dan menyusun kembali pengetahuannya untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

 

B. Metode penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan ini berkenaan dengan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran pada suatu kelas. Pendekatan kualitatif digunakan karena suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan serta perilaku yang diamati dari orang-orang atau sumber informasi (Bogdar dan Toylor, 1992:21)

Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian tindakan kelas (action research) dibidang pendidikan dan pengajaran matematika, dalam penelitian tindakan kelas diadakan perlakuan tertentu  yang didasarkan pada masalah-masalah aktual yang ditemukan di lapangan. Penelitian ini berkenaan dengan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran matematika pada suatu kelas.

Oleh sebab itu sesuai dengan penelitian tindakan kelas maka masalah penelitian yang harus di pecahkan berasal dari persoalan praktek pembelajaran dikelas sacara lebih profesional.

Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan menggunakan model siklus yang dikembangkan oleh Kemmis ( dalam Ritawati, 2007:21). Model siklus ini mempunnyai empat komponen yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan 2 siklus. Satu siklus berisi empat komponen, setiap siklus diadakan dua sampai  kali pertemuan, dan pada setiap akhir siklus dilakukan tes  akhir tindakan. Pada setiap pertemuan dilakukan pengamatan terhadap aktifitas siswa dan guru selama proses belajar mengajar yaitu selama 2×35 menit, setelah akhir setiap siklus dilakukan tes hasil belajar (bagan siklus penelitian terlampir).

Perencanaa tindakan disusun secara kolaboratif antara peneliti dan guru. Peneliti melakukan studi pendahuluan berupa observasi awal terhadap pembelajaran pemecahan masalah pecahan di kelas V Sekolah Dasar terteliti. Hal ini dilakukan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi guru dan siswa berkaitan dengan pembelajaran pemecahan masalah tentang pecahan dan persen di kelas V Sekolah Dasar.

Studi pendahuluan dilakukan dengan mengamati proses belajar mengajar pemecahan masalah yang sudah dilakukan selama ini. Dari hasil studi pendahuluan diidentifikasi masalah pembelajaran pemecahan masalah berkaitan dengan pecahan dan persen yang sudah dilakukan di kelas V Sekolah Dasar terteliti. Setelah diidentifikasi, diadakan diskusi dan negosiasi antara peneliti dan guru kelas V dan kepala sekolah berkaitan dengan kemungkinan dilaksanakannya penelitian tindakan untuk mengoptimalkan pembelajaran pemecahan masalah tentang pecahan dan persen di kelas V.

Peneliti dan guru merumuskan permasalahan yang akan diangkat sebagai permasalahan penelitian, yakni melaksanakan pembelajaran pemecahan masalah berbasis kontekstusal yang meliputi tahap pemahaman masalah, perencanaan, pelaksanaan dan menilai kembali. Keempat tahap ini dipadukan dengan komponen kontekstual.

Sesuai dengan rumusan masalah hasil studi pendahuluan, peneliti membuat rencana tindakan yang akan dilakukan. Tindakan itu berupa pembelajaran pemecahan masalah yang kontekstual tentang pecahan. Kegiatan itu dimulai dengan merumuskan rancangan tindakan pembelajaran pemecahan masalah yang kontekstual, yaitu dengan kegiatan sebagai berikut: 1) Menyusun rancangan tindakan berupa model pembelajaran. Hal ini meliputi tujuan pembelajaran, memilih dan menetapkan materi, kegiatan belajar mengajar, memilih dan menetapkan media/ sumber belajar serta evaluasi. 2) Menyusun alat perekam data berupa pedoman observasi, pedoman wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. 3) Mendiskusikan dengan guru kelas tentang tata cara pengumpulan data dalam pelaksanaan observasi saat kegiatan dilakukan, agar tidak terjadi penyimpangan dalam pengambilan data.

Pada tahap pelaksanaan tindakan pembelajaran pemecahan masalah yang  kontekstual. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan  dua kali pertemuan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun. Kegiatan dilakukan oleh peneliti sebagai guru praktisi dan guru kelas sebagai observer didampingi teman sejawat. Praktisi melakukan kegiatan pembelajaran di kelas berupa kegiatan interaksi antara guru dan siswa, dan antara siswa dengan siswa.

Tahap pelaksanaan tindakan ini dilakukan dalam tiga siklus. Fokus tindakan pada setiap siklus berupa penerapan pembelajaran pemecahan masalah yang kontekstual dengan mengikuti langkah-langkah pemecahan masalah dan dikombinasikan dengan pendekatan kontekstual.

Pengamatan terhadap tindakan pembelajaran pemecahan masalah yang kontekstual dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Hal ini dilakukan secara intensif, objektif, dan sistematis. Pengamatan dilakukan oleh observer pada waktu  guru praktisi melaksanakan tindakan pembelajaran pemecahan masalah berbasis kontekstual.

Dalam kegiatan ini peneliti dan pengamat berusaha mengenal, merekam dan mendokumentasikan  semua indikator dari proses hasil perubahan yang terjadi, baik yang disebabkan oleh tindakan terencana maupun dampak intervensi dalam pembelajaran pemecahan masalah berbasis kontekstual. Keseluruhan hasil pengamatan direkam dalam bentuk lembaran observasi.

Pengamatan dilakukan secara terus menerus mulai dari siklus I sampai dengan siklus II. Pengamatan yang dilakukan pada satu siklus dapat mempengaruhi penyusunan tindakan pada siklus selanjutnya. Hasil pengamatan ini kemudian didiskusikan dengan guru dan diadakan refleksi untuk perencanaan siklus berikutnya.

Refleksi diadakan setiap satu kali tindakan berakhir. Dalam tahap ini peneliti dan observer mengadakan diskusi terhadap tindakan yang baru dilakukan. Hal-hal yang akan didiskusikan adalah menganalisa tindakan yang baru dilaksanakan, mengulas dan menjelaskan perbedaan rencana dan pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan, serta melakukan intervensi, pemaknaan, dan penyimpulan data yang diperoleh. Hasil refleksi bersama ini dimanfaatkan sebagai masukan pada tindakan selanjutnya. Selain itu, hasil kegiatan refleksi setiap tindakan digunakan untuk menyusun simpulan terhadap hasil tindakan I, II.

Data penelitian ini berupa hasil pengamatan dan wawancara dari pembelajaran pemecahan masalah pecahan pada siswa kelas V Sekolah Dasar, data tersebut berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan dan hasil pembelajaran yang berupa informasi sebagai berikut : a) Pelaksanaan pembelajaran yang berhubungan dengan perilaku guru dan siswa yang meliputi interaksi belajar menajar antara guru dan siswa, siswa dan siswa, siswa dan guru dalam pembelajaran pemecahan masalah.  b) Evaluasi pembelajaran pemecahan masalah pecahan yang berupa evaluasi proses maupun evaluasi hasil. c) Hasil tes siswa baik sebelum maupun sesudah pelaksanaan tindakan pembelajaran pemecahan masalah.

Data yang diperoleh dalam penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis data kualitatif yakni analisa data dimulai dengan menelaah sejak pengumpulan data sampai seluruh data terkumpul. Tahap analisis tersebut antara lain: 1) Menelaah data yang terkumpul. 2) Reduksi data, meliputi pengkategorian dan pengklasifikasian. 3) Menyajikan data, dilakukan dengan cara mengorganisasikan data yang telah direduksi. 4 )Menyimpulkan hasil penelitian dan triangulasi. Kegiatan triangulasi dilakukan dengan cara peninjauan kembali catatan lapangan dan bertukar pikiran dengan ahli, teman sejawat serta guru.

Analisis data dilakukan terhadap data yang telah direduksi baik data perencanaan, pelaksanaan, maupun data evaluasi. Analisis data dilakukan dengan cara terpisah-pisah. Hal ini dimaksudkan agar dapat ditemukan berbagai informasi yang spesifik dan terfokus pada berbagai informasi yang mendukung pembelajaran dan yang menghambat pembelajaran. Dengan demikian pengembangan dan perbaikan atas berbagai kekurangan dapat dilakukan tepat pada aspek yang bersangkutan.

Kriteria keberhasilan setiap tindakan adalah sebagai berikut: seluruh aktivitas guru dan siswa mencapai keberhasilan 80%. Dan nilai ketuntasan siswa yang diharapkan berdasarkan kesepakatan dengan guru kelas yang bersangkutan dan standar ketuntasan materi di SDN 37 Alang Laweh adalah 80 atau 80%.

Penarikan kesimpulan dilakukan dengan cara menafsirkan makna data yang tersaji. Sebelum dilakukan simpulan akhir, terlebih dahulu dilakukan simpulan sementara. Hasil simpulan makna data yang tersaji diverifikasi untuk memperoleh simpulan akhir yang dapat dipercaya. Kegiatan verivikasi dilakukan dengan uji keabsahan temuan yang telah ditentukan.

Penelitian ini  bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengembangkan pembelajaran pemecahan masalah berbasis kontekstual terhadap pecahan bagi siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 37 Alang Lawas.

Pada siklus pertama, guru melakukan penelitian selama 3 kali pertemuan. Pada setiap pertemuan dilakukan pengamatan terhadap aktifitas siswa dan guru selama proses belajar mengajar yaitu selama 2×35 menit, setelah akhir setiap siklus dilakukan tes hasil belajar.

 

C.     Hasil penelitian

Berdasarkan hasil pengamatan pembelajaran siklus I dan hasil catatan lapangan, maka selama pelaksanaan tindakan pertemuan I dan II diperoleh hasil sebagai berikut: 1) Pembelajaran yang dilaksanakan telah mencerminkan model pembelajaran pemecahan masalah yang kontekstual, karena secara umum proses pembelajaran berjalan sesuai dengan rencana yang telah disusun. 2) Hasil pengamatan yang dilakukan guru kelas sebagai pengamat I terhadap aktivitas peneliti (guru praktisi) dlam kegiatan pembelajaran telah mencapai kriteria keberhasilan 92%, yang berarti masuk kategori cukup. Ini berarti kriteria keberhasilan pada pertemuan I belum tercapai. Dan perlu ditingkatkan pada pertemuan sebelumnya. 3) Hasil pengamatan yang dilakukan teman sejawat selaku pengamat II dalam mengamati aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran mencapai kriteria keberhasilan 95,4% atau hanya berada pada kriteria cukup. Ini berarti kriteria keberhasilan belum tercapai. 4) Pembelajaran pemecahan masalah yang kontekstual dengan 4 langkah utamanya, siswa sering tidak mencek hasil kerja, padahal mencek kembali hasil kerja merupakan salah satu langkah pemecahan masalah. 5) Pembelajaran ini dikombinasikan dengan komponen kontekstual, namun siswa belum maksimal dalam melaksanakan komponen kontekstual tersebut. 6) Hasil belajar siswa yang dicapai masih rendah. Hal ini telihat dari tes akhir tindakan. Siswa baru mencapai rat-rata 64,5. nilai ini berada pada taraf cukup. 7) Aktivitas siswa dalam kelompok masih rendah.

Berdasarkan hasil refleksi ini, dapat disimpulkan bahwa aktivitas peneliti dan siswa telah mencapai kategori keberhasilan yang ditetapkan, namun pemahaman siswa terhadap langkah pemecahan masalah masih kurang serta keaktifan siswa masih kurang, sehingga komponen CTL belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Maka perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya. Pelaksanaan siklus II diharapkan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) Peneliti harus merumuskan masalah dengan kalimat yang sederhana dan singkat sehingga mudah dipahami siswa. 2) Peneliti harus membimbing siswa sesuai agar mampu membuat model matematika dengan benar. 3) Peneliti harus lebih giat memancing siswa dengan pertanyaan-pertanyaan dan bimbingan sehigga siswa lebih aktif dan mampu bekerja sama dalam kelompok. Peneliti harus memperhatikan siswa dalam bekerja dalam kelompoknya, agar semuanya terlibat aktif dalam kelompoknya.

Berdasarkan hasil refleksi pada tindakan siklus I, maka ditetapkan pelaksanaan siklus II. Pelaksanaan siklus II lebih ditekankan pada pemahaman siswa terhadap materi dan langkah-langkah pemecahan masalah model Polya serta meningkatkan keaktifan siswa sehingga komponen kontekstual dapat berjalan dengan baik.

Kegiatan yang dilakukan pada siklus II meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Beberapa hal yang dilakukan peneliti pada tahap ini adalah membuat rencana pelaksanaan pembelajaran, lembar observasi, catatan lapangan, dan lembar kerja siswa. Materi yang diambil pada pertemuan I siklus II ini adalah memecahkan masalah yang berkaitan dengan pecahan dan persen. Siklus II dilaksanakan dengan 4 jam pelajaran (2 x pertemuan), dengan rincian 3 jam pelajaran untuk tatap muka dan 1 jam pelajaran untuk tes akhir tindakan.

Tindakan peretama pada pertemuan siklus II ini dilaksanakan pada hari senin tanggal 19 Mai 2008 pukul 08.00- 09.10. Pembelajaran dibagi dalam tiga tahap yaitu tahap awal, tahap inti dan tahap akhir.

Pada tahap awal peneliti/praktisi mengucapkan salam, memotivasi siswa, menyampaikan tujuan pembelajaran, menyampaikan langkah-langkah pembelajaran, membagikan LKS pada masing-masing siswa dalam kelompok. Pada tahap inti, pembelajaran disesuaikan dengan langkah pemecahan masalah polya yang dikombinasikan dengan komponen CTL. Pada langkah memahami masalah, guru meminta siswa memahami masalah dengan membuat apa yang diketahui dan ditanya dari soal. Kemudian guru meminta siswa untuk menuliskan di LKS dan meminta salah satu wakil kelompok untuk menuliskan ke papan tulis, setelah selesai siswa menuliskan di papan tulis lalu guru meminta tanggapan dari kelompok lain, apabila ada jawaban yang berbeda, sambil guru mencek hasil kerja masing-masing siswa.

Pada langkah merencanakan pemecahan masalah, siswa diarahkan dengan pertanyaan-pertanyaan untuk dapat menterjemahkan soal dalam bentuk kontekstual ke dalam model matematika, yakni dengan menentukan terlebih dahulu pemisalan untuk yang diketahui dan ditanya dari soal yang diberikan. Siswa tampak asyik berdiskusi dengan teman kelompoknya dalam menentukan model matematikanya. Guru berkeliling ke masing-masing kelompok untuk mengamati kerja siswa dan memberikan bimbingan bagi kelompok atau siswa yang kurang mengerti dalam menemukan model matematika, kemudian guru memberi instruksi kepada siswa yang sudah menemukan model agar menunjukkan teman yang kurang mengerti dengan model matematika dari soal tersebut. Lalu siswa diminta menuliskan ke papan tulis dan siswa lain diminta untuk menanggapinya.

Langkah berikutnya melaksanakan rencana pemecahan masalah sesuai dengan rencana yang telah dibuat, setelah siswa selesai membuatnya, maka diminta salah satu wakil kelompok untuk menjadi model bagi temannya yang lain sambil guru mencek hasil kerja siswa yang lain. Berikutnya siswa mencek hasil kerjanya dengan menggunakan model yang telah dibuat dan terakhir membuat kesimpulan dari soal tersebut.

Pada tahap akhir siswa diarahkan untuk membuat kesimpulan dari pembelajaran tersebut dan diarahkan merefleksi dari langkah-langkah pemecahan masalah Polya tersebut dan pemberian PR.

 

D. Pembahasan

Berdasarkan catatan hasil dilapangan dan diskusi peneliti dengan guru kelas Va dan teman sejawat di atas,  penyebab dari adanya siswa yang belum dapat menyelesaikan soal pemecahan masalah yang berkaitan dengan persen adalah karena rendahnya pemahaman siswa terhadap soal yang diberikan, siswa masih kesulitan dalam menemukan model matematika dari soal.  Selain itu siswa terbiasa belajar sendiri-sendiri tidak berkelompok sehingga masyarakat belajar belum tercipta atau tidak berjalan yang mengakibatkan siswa yang berkemampuan rendah kesulitan dalam memcahkan soal terutama membuat model matematikanya.

Rencana pelaksanaan pembelajaran ini dirancang berdasarkan langkah-langkah pembelajaran pemecahan masalah berbasis kontekstual. RPP yang disusun berdasarkan program semester sesuai dengan waktu penelitian. Dengan Kompetensi Dasarnya menibah pecahan kebentuk persen dan desimal serta. Dan yang menjadi indikatornya adalah memcahkan masalah yang berkaitan dengan menentukan persentase dari kuantitas dan kelompok. RPP dilakukan tiga tahap yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan akhir. Tahap inti dibagi empat langkah pemecahan masalah model polya yaitu langkah memahami massalah, langkah menyusun rencana pemecahan masalah, langkah melaksanakan rencana pemecahan masalah, langkah meninjau ulang hasil dan membuat kesimpulan. Pada masing-masing langkah dikombinasikan dengan komponen CTL yaitu 1) konstruktivis (contructivism); 2) menemukan (inquiry); 3) bertanya (questioning); 4) masyarakat belajar (learning community); 5) pemodelan (modeling); 6) refleksi (reflection); dan 7) penilaian yang sebenarnya (auhtentic assesmen).

Kegiatan pembelajaran dibagi dalam tiga tahap pembelajaran, yaitu tahap awal, tahap inti dan akhir.

Pada tahap awal langkah yang dilakukan adalah menyiapkan siswa untuk siap belajar dengan cara menyampaikan tujuan belajar agar proses belajar siswa menjadi terarah dan sistematis. selain itu siswa akan terfokus pada satu hal yakni tujuan tersebut. Tujuan belajar juga dapat menimbulkan motivasi siswa. hal ini sesuai dengan pendapat Dahar (dalam Megawati 2004:101) bahwa tujuan dapat mengarahkan alur belajar siswa dan meningkatkan motivasi untuk belajar. pemberian motivasi pada siswa juga dapat dilakukan dengan menyampaikan mamfaat mempelajari materi tersebut, sehingga siswa tersebut terpancing untuk belajar.

Pemberian motivasi juga berfungsi untuk menyiapkan  siswa agar terlibat aktif dalam belajar. Siswa yang telah siap untuk belajar akan memperoleh hasil yang lebih baik dari pada yang tidak siap.

Kemudian pada tahap awal ini peneliti juga memberikan materi prasyarat yakni dengan tanya jawab tentang cara mengubah pecahan ke persen. setelah yakin bahwa siswa sudah menguasai materi prasyarat, pembelajaran pemecahan masalah baru dimulai. Hal ini penting dilakukan karena pengetahuian dibangun berdasrkan pengetahuan awal. sesuai dengan pandangan konstruktivisme, pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa sangat berpengaruh pada pemerolehan hasil belajar selanjutnya. Selain itu Hudoyo (1998:6) berpendapat bahwa pengetahuan perlu dibangun siswa berdasrkan pengetahuan/pengalaman yang telah dimiliki. jika pengetahuan awal tidak memadai, maka pengetahuan baru tidak akan dipahami siswa.

Pada tahap awal ini juga dilakukan pembagian kelompok, karena dalam pembelajaran pemecahan masalah berbasis kontekstual siswa dibiasakan dengan diskusi dan masyarakat belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok belajar. Jumlah kelompok yang ideal untuk masing-masing kelompok menurut  Slavin (dalam Etin, 2007:4)  terdiri dari empat atau lima siswa, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Peneliti membuat kelompok untuk siswa dengan kemampuan untuk masing-masing kelompok yaitu berkemampuan tinggi, menengah dan rendah. Kendala yang dihadapi pada pembagian kelompok ini adalah banyak waktu terbuang untuk membagi kelompok. Peneliti mengatasi kendala ini untuk pertemuan berikutnya adalah dengan menempelkan nama-nama kelompok di kelas, sehingga untuk pertemuan berikutnya siswa ketika akan belajar sudah duduk di kelompoknya masing-masing. Selanjutnya siswa diberi LKS.

Kegiatan inti dibagi dalam beberapa tahapan pembelajaran pemecahan masalah. Kegiatannya adalah memahami masalah, menyususn rencana pemecahan masalah, melaksanakan rencana pemecahan masalah, dan mengkaji ulang hasil.

Dalam langkah memahami masalah ini ditemukan informasi bahwa para siswa tidak mengalami kesulitan dalam memahami masalah, karena ada bantuan LKS. Dengan adanya LKS siswa merasa terbantu untuk mengetahui langkah-langkah dalam memahami masalah. Hal ini menyebabkan siswa merasa senang dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Masalah yang diajukan dalam LKS dapat membantu pikiran siswa sehingga terhindar dari kebuntuan dalam menjawab. Masalah tersebut disusun sedemikian rupa sesuai dengan struktur kognitif siswa sehingga dapat mengarahkan alur pikiran siswa menuju pada suatu respon yang diharapkan. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar siswa balajar secara bermakna. Dalam memecahkan suatu masalah siswa harus mampu memahami masalah sebagimana menurut As’ari (dalam Wanti, 2003:83) menjelaskan bahwa untuk memecahkan masalah perlu memahami masalah. Tanpa adanya pemahaman siswa  terhadap masalah yang dihadapi, maka segala rencana  dan tidakan yang akan dilaksanakan tidak terarah bahkan dimungkinkan rencana dan tindakan itu justru mempersulit permasalahannya. Selain itu agar siswa mudah memahami masalah, maka soal yang diberikan harus ada hubungannya dengan pengalaman siswa atau kehidupan sehari-hari, sehingga siswa tersebut asing dengan permasalahan yang diberikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Pearson (2003) agar pembelajaran tidak asing bagi siswa, perlu diciptakan lingkungan yang alamiah  dan dekat dengan dunia nyata siswa. Oleh karena itu pembelajaran matematikapun perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Kegiatan pembelajaran secara kontekstual dapat mengarahkan siswa untuk mengaplikasikan teori/materi matematika secara bermakna.

Hal ini sesuai dengan pernyataan yang terdapat dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Matematika (SD) tingkat Sekolah Dasar (2006:416) bahwa “Pembelajaran matematika hendaknya dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem) kehidupan siswa, agar siswa lebih mudah mengembangkan pola pikirnya untuk memecahkan masalah”.

Dalam langkah menyususn rencana pemecahan masalah ditemukan bahwa siswa kesulitan dalam mengubah kalimat sehari-hari menjadi model matematika. Hal ini terjadi karena selama ini siswa tidak terbiasa mengerjakan soal dengan menggunakan model matematika. Selain itu selama ini siswa tidak pernah dikenalkan  dengan pematematikaan horizontal. Guru sering mengabaikan pematematikaan horizontal dan lebih cendrung melakukan pematematikaan vertikal. hal ini sesuia dengan pendapat Yuwono  (dalam Megawati, 2004:104) bahwa selama ini pembelajaran matematika lebih menekankan pada pematematikaan vertikal dan cendrung mengabaikan matematika horizontal, akibatnya siswa tidak dapat melakukan pematematikaan horizontal. Siswa cendrung mencari rumus yang telah disediakan dan mengabaikan cara yang lebih panjang untuk menyelesaikan suatu masalah. Namun dengan menggunakan LKS siswa merasa terbantu untuk memecahkan soal dan menemukan model matematika. Selain itu peranan guru dalam menjelaskan tentang model matematika juga sangat penting dalam usaha menemukan model matematika dari soal. Model matematika ditemukan dengan mencari pemisalan dari apa yang diketahui dan ditanya.

Pada langkah melaksanakan rencana pemecahan masalah, pada prinsipnya siswa sudah dapat menggunakan model penyelesaian dengan baik. Namun masih ditemukan sebagian siswa kurang teliti dalam melakukan perhitungan. Hal ini disebabkan waktu yang tersedia tidak mencukupi, sehingga siswa tergesa-gesa dalam melakukan perhitungan dan hasil yang diperoleh banyak yang salah. Untuk mengatasi masalah hal itu, maka guru perlu memperhatikan faktor waktu dalam menyusun rencana pembelajaran, karena dalam pembelajaran dengan menerapkan komponen CTL seperti pemodelan, siswa banyak menghabiskan waktu untuk presentasi ke papan tulis

Selain itu, pada langkah ini ditemukan pula bahwa dalam mengerjakan soal, masih ada siswa yang bekerja sendiri-sendiri. Hal ini disebabkan karena mereka belum terbiasa dalam belajar kelompok. Belajar kelompok jarang diterapkan dalam pembelajaran, akibatnya siswa merasa kesulitan untuk bekerja sama dalam kelompok. Masih ada siswa yang enggan untuk bertanya pada teman kelompoknya. Pada hal dengan belajar kelompok diharapkan mereka saling membantu temannya yang berkemampuan kurang, dan siswa yang malu dalam bertanya dengan guru maka dapat bertanya dengan temannya yang berkemampuan lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan pendapat Hudojo (1979:313) yang menyatakan bahwa belajar dengan berkelompok memungkinkan siswa belajar secara efektif. Mereka dapat saling membantu. Sering terjadi seorang siswa segan menyakan kepada gurunya apabila siswa tersebut tidak mengerti suatu konsep atau suatu masalah matematika, namun siswa tersebut tanpa malu-malu bertanya kepada temannya. Penjelasan siswa yang lebih pandai kadang-kadang lebih mudah dimengerti daripada penjelasan guru, karena siswa pandai mengetahui letak kesukaran yang dialami oelh temannya dan bahasa yang digunakan lebih mudah dipahami. Pernyataan tersebut didukung pendapat Nurhadi (2002:15) bahwa “Dalam konsep learning community, pembelajaran yang diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum tahu. Karena kalau setiap orang mau belajar dengan orang lain, maka setiap orang lain dapat menjadi sumber belajar”. Ini berarti setiap orang akan sangat kaya dengan pengetahuan dan pengalaman.

Pada langkah mengkaji ulang hasil, temuan yang diperoleh pada langkah ini adalah siswa tidak mengkaji ulang pelaksanaan rencana pelaksanaan rencana yang telah disusun, sehingga hasil yang diperoleh kurang tepat. Pada saat dilakukan wawancara, siswa menjawabnya dengan alasan waktu yang tidak cukup dan siswa merasa tidak perlu melakukan pengecekan terhadap hasil. Karena siswa tidak melakukan pengecekan, maka banyak ditemukan kesalahan dalam mencari hasil penyelesaian dan kesalahan dalam menarik kesimpulan. Untuk mengatasi hal ini, peneliti berupaya membimbing siswa  untuk mengkaji ulang pelaksanaan rencana yang telah disusun. Hal ini sesuai dengan pendapat Hudojo dan Sutawijaya (1996/1997:203) yang mengatakan bahwa “Untuk melihat apakah penyelesaian yang diperoleh sudah sesuai dengan ketentuan yang diketahui dan tidak terjadi kontradiksi merupakan langkah terakhir yang penting. Untuk mereview suatu penyelesaian terdapat empat komponen utama yaitu: (1) mengecek hasilnya, (2) menginterpretasikan jawaban yang diperoleh, (3) menanyakan kepada diri sendiri apakah ada cara lain untuk mendapatkan penyelesaian yang sama dan (4) menanyakan kepada diri sendiri apakah ada penyelesaian yang lain”. Pernyataan itu didukung oleh pendapat As’ari dalam Wanti, 2003 :90) yang mengatakan, “pada langkah mengkaji ulang pelaksanaan rencana yang telah disusun, dilakukan pengkajian terhadap semua hal yang telah dilaksanakan”. Setelah itu, validitas setiap langkah yang dilakukan perlu ditanyakan kembali agar dapat diperoleh langkah yang lebih mudah dan terjamin kebenarannya. Sebab sering terjadi langkah tertentu yang menuntut intuisi adalah valid ternyata tidak pernah didukung oleh prinsip, konsep ataupun metode yang ada. Oleh karena itu langkah ini tidak boleh diangap remeh.

Selain itu ditemukan pula pada langkah ini siswa kurang aktif dalam mengungkapkan pendapatnya. Pada saat wakil kelompok melakukan presentasi, siswa kelompok lain tidak memberikan tanggapan atau pertanyaan. Hal ini disebabkan, karena dalam pembelajaran sebelumnya didominasi oleh guru. Siswa tidak pernah diberi kesempatan untuk menyapaikan pendapatnya. Siswa hanya diberi kesempatan untuk menulis di papan tulis tetapi tidak menjelaskan tulisannya. Walupun demikian, dalam penelitian ini guru selalu berusaha agar siswa mau mengemukakan pendapatnya masing-masing. Dalam hal ini siswa telah melakukan refleksi terhadap apa yang baru dipelajari dan apa yang telah dilakukan dimasa lalu hal ini sejalan dengan pendapat Nurhadi (2002:16) yang menyarankan kepada guru “Agar pada akhir pembelajaran, dapat menyisakan waktu sejenak kepada siswa untuk melakukan refleksi”. Realisasi dari refleksi berupa: (1) pernyataan langsung dari apa-apa yang diperoleh hari itu, (2) catatan atau jurnaldi buku siswa, (3) kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu, (4) diskusi, dan (5) hasil karya. Dengan demikian diharapkan dapat menambah wawasan mereka melalui pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh teman-temannya, sehingga dapat terlatih untuk dapat mengkomunikasikan matematika. Pendapat tersebut diperkuat oleh pendapat Yaniawati 2006 (dalam http://Zaki.web.ugm.ac.id) bahwa “salah satu tujuan penting pembelajaran matematika adalah untuk membantu siswa dalam mengkomunikasikan matematika, karena hampir semua masalah yang ada dalam era teknologi memerlukan matematika”.

Dalam tahap akhir ini guru mengadakan tes formatif, hasil tes dari semua siswa masih jauh dari target yang ditetapkan, hal ini terlihat dari 24 siswa hanya 7 orang yang berkemampuan lebih dari 80. Sedangkan rata-rata kelas 64,6. Berarti kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu keberhasilan mencapai 80% atau nilai 80 belum tercapai, karena masih banyak siswa yang mendapat skor dibawah 80. Sehingga perlu dilakukan tindakan silus II.

Rencana pelaksanaan pembelajaran pada siklus II dirancang sebagai mana pelaksanaan pembelajaran pemecahan masalah berbasis kontekstual. Dengan Kompetensi Dasarnya mengubah pecahan ke persen, desimal dan sebaliknya. Sedangkan indikatornya adalah menyelasaikan masalah yang berkaitan dengan menentukan persentase dari kuantitas atau banyak benda. RPP dilakukan tiga tahap yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan akhir. Pada masing-masing langkah pemecahan dalam kegiatan inti dikombinasikan dengan komponen CTL. Namun, pada siklus II ini lebih ditekankan kepada pengaktifan siswa kelompoknya sehingga terjadi masyarakat belajar.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penilaian otentik. Penilaian otentik digunakan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk penilaian yang dapat menggambarkan hasil pembelajaran siswa, motivasi, pemerolehan sikap-sikap terhadap kegiatan di kelas yang relevan  dengan pembelajaran. Berikut ini tabel 4.14 tentang paparan catatan  selama 2 siklus sebagai rekaman kemajuan siswa dan untuk keperluan penilaian proses.

 

E. Penutup

1. SIMPULAN

Dari paparan dan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pemecahan masalah berbasis kontekstual terdiri dari 4 langkah pemecahan masalah dan pada masing-masing langkah pemecahan masalah dikombinasikan dengan komponen CTL. Pembelajaran menggunakan strategi tiga tahapan yaitu tahap awal, tahap inti, dan tahap akhir. Pada tahap awal dilaksanakan kegiatan pengaktifan pengetahuan awal siswa  dan membagi kelompok. Pada tahap inti dilaksanakan dengan komponen CTL, serta pada tahap akhir kegiatan siswa diarahkan untuk merefleksikan langkah-langkah pemecahan masalah dan memberikan pekerjaan rumah.

Penggunaan LKS sangat membantu siswa dalam menyelesaikan soal dalam bentuk soal cerita. Bentuk pembelajaran pemecahan masalah yang kontekstual terhadap pecahan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini terlihat dari pencapaian hasil belajar siswa pada akhir tindakan dengan rata-rata 85,7. Dan keaktifan siswa dalam pembelajaran dapat ditingkatkan.

 

2. SARAN

Disarankan kepada guru kelas V SDN O7 Alang Lawas padang atau guru disekolah lain yang memiliki latar belakang pembelajaran pemecahan masalahnya yang sama dengan kondisi siswa kelas V SDN O7 Alang Lawas Padang agar menggunakan hasil penelitian ini. Guru-guru SD diharapkan dalam menyusun masalah dalam pembelajaran pemecahan masalah berbasis kontekstual hendaknya disesuaikan dengan konteks sehari-hari. Guru perlu lebih kreatif dalam merancang masalah-masalah yang sesuai dengan situasi dunia nyata. Serta guru perlu memberikan perhatian, bimbingan dan motivasi belajar secara sunguh-sungguh kepada siswa yang berkemampuan kurang bdan pasif dalam kelompok, karena siswa yang demikian sering menggantungkan diri pada temannya. Kegiatan ini membantu siswa mengorganisasi gagasan menjadi lebih bermakna.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas

Gullo W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo

Hudojo,H dan Sutawijaya, A. 1996/1997. Matematika. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Guru, Bagian Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

 

Johnson, Elanie B. 2002. Contextual Teaching & Learning: What It Is One Why It Is Here To Stay. Diterjemhkan oleh Ibnu Setiawan. 2007. Contextual Teaching & Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasikkan dan Bermakna. Bandung: Mizan Learning Center

 

Megawati. 2004. Pembelajaran Melalui Pemecahan Realistik Untuk Memahami Konsep SPL Dua Variabel Pada Siswa Kelas II SLTP Suppa. Malang: Universitas Negeri Malang (tesis tidak dipublikasikan)

 

Nurhadi. 2002. Pembelajaran Kontekstual. Jakarta: Depdiknas

Nurhadi. Dkk. 2003. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching And Learning/ CTL) dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.

 

Sujono. 1988. Pengajaran Matematika Untuk Sekolah Menengah. Jakarta: Depdikbud

 

Sukirman. 2001. Pendidikan Matematika. Jakarta: Universitas Terbuka

 

Suantri. 2007. Pengembanagn Model Pembelajaran yang Efektif Dengan Pendekatan Kontekstual. Google, (online), (http://www.wordpress.com/2007/08/01), diakses 10 Februari 2008)

 

Wanti Rohani. 2003. Pemecahan Masalah Kontekstual Terhadap SPL Dua Variabel Pada Siswa Kelas II SMU Negeri III Malang. Malang: Universitas Negeri Malang. (tesis tidak dipublikasikan)

 

Wina, Sanjaya.2005. Pembelajaran dalam Implementasi KBK. Jakarta: Kencana

(http://samrit-amq.blogspot.com/PendekatanKontekstua/lmakalah-ini disampaikan- pada- seminar. Html). diakses pada 02 januari 2008

 

http://Zaki.web.ugm.ac.id

BAHASA INDONESIA

TUGAS AKHIR

ARTIKEL PENELITIAN

 

OLEH

NUR SURYANI

83246

I.02 (S.1)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MASALAH-MASALAH SISWA DI SD

  1. Pengertian masalah

Banyak ahli yang mengungkapkan pengertian masalah, ada yang melihat masalah sebagai ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan, ada yang melihatnya sebagai tidak terpenuhinya kebutuhan seorang dan ada pula yang mengartikan sebagai suatu hal yang tidak mengenakkan.

  1. Ciri-ciri masalah

Prayitno (1985) mengemukakan ciri-ciri masalah ialah:

    1. Masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya.
    2. Menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan atau orang lain.
    3. Ingin atau perlu dihilangkan.

Setiap masalah yang dialami seseorang biasanya mengandung satu atau lebih ciri diatas. Untuk mendalami hal tersebut kita dapat melihat diri sendiri sebagai contoh. Adakah suatu hal, kejadian suasana atau gejala yang tidak disukai adanya, yang dapat menimbulkan kesulitan atau kerugian bagi diri sendiri ataupun bagi orang lain dan atau ingin dihilangkan. Jika ada maka hal itu bisa dikatakan sebagai ciri-ciri adanya masalah pada diri sendiri.

Masalah seperti diatas dapat terjadi pada siapa saja, termasuk murid sekolah dasar. Masalah itu perlu diupayakan penanggulangannya.

  1. Jenis-jenis masalah

Jenis-jenis masalah yang dialami murid sekolah dasar bisa bermacam-macam. Prayitno (1985) menyusun serangkaian masalah murid sekolah dasar. Masalah-masalah itu diklarifikasikan atas:

    1. masalah perkembangan jasmani dan kesehatan.
    2. masalah keluarga dan rumah tangga.
    3. masalah-masalah psikologis.
    4. masalah-masalah social.
    5. masalah kesulitan dalam belajar.
    6. masalah motivasi dan pendidikan pada umumnya.

Stoffter (1986) memgemukakan secara urut jenjang 50 jenis masalah tingkah laku yang dimaksud didasarkan atas hasil penelitian terhadap 481 orang guru sekolah dasar di Amerika Serikat yaitu:

1.      Pencurian

2.      Kekejaman

3.      Aktivitas hetero seksual.

4.      Sering bolos.

5.      Tertekan

6.      Tidak sopan

7.      Merusak barang-barang sekolah

8.      Tidak berpendirian

9.      Suka berbohong

10.  tidak patuh

11.  membenci orang lain

12.  mudah marah

13.  suka mengasingkan diri

14.  bicara / menulis cabul

15.  sering murung

16.  menyontek

17.  egois

18.  suka bertengkar

19.  menguasai orang lain

20.  tidak berminat untuk bekerja

21.  lancang

22.  mudah meremehkan orang

23.  mudah dipengaruhi orang lain

24.  penakut

25.  sering ngompol

26.  masturbasi

27.  malas

28.  tidak ada perhatian

29.  tidak rapi dikelas

30.  suka cemberut

31.  pengecut

32.  suka mengkritik

33.  mudah tersinggung

34.  tidak hati-hati

35.  pemalu

36.  curiga

37.  suka merokok

38.  keras kepala

39.  tidak praktis

40.  mengucapkan kata-kata

41.  menarik perhatian oranglain

42.  suka jorok

43.  tegang

44.  lamban

45.  berfikir tidak karuan

46.  suka mengadu

47.  suka menyelidiki orang lain

48.  suka mengganggu orang lain

49.  penghayal

50.  suka berbisik-bisik.

Masalah diatas, diklasifikasikan sebagai berikut.

a.       Masalah penyesuaian tingkah laku seperti pencurian, kekejaman, merokok, dan mengganggu.

b.      Masalah-masalah emosional seperti depresi, mudah marah, cemberut dan pengecut.

c.       Masalah-masalah moral seperti masturbasi, bicara porno dan tidak sopan.

d.      Masalah belajar seperti bolos, menyontek, tidak ada perhatian, dan lamban.

Masalah masalah belajar memiliki bentuk yang beragam, menurut Prayitno, mengemukakan masalah-masalah belajar sebagai berikut:

1.      kemampuan akademik, yaitu keadaan siswa yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkannya secara optimal.

2.      ketercepatan dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki IQ 130 atau lebih tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajar yang amat tinggi itu.

3.      sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang memiliki akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan pendidikan atau pengajaran khusus.

4.      kurang motivasi dalam belajar, yaitu keadaan siswa yang kurang bersemangat dalam belajar mereka seolah-olah tampak jera dan malas.

5.      bersikap dan berkebiasaan buruk dalam belajar, yaiti kondisi siswa yang perbuatan dan kegiatan belajarnya sehari-hari antagonistic dengan yang seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahuinya dan sebagainya.

e.       Masalah-masalah social kejiwaan seperrti membenci orang lain, menguasai orang lain, mudah meremehkan orang lain dan suka mencampuri urusan orang lain.

Selanjutnya Rice (dalam Shelter dan Stoar,1974) mengklasifikasikan masalah-masalah yang dialami murid-murid sekolah dasar ada enam kategori, yaitu:

a.       Masalah-masalah emosional yakni gelisah, aktivitas berlebihan, tidak matang, infulsif, dan murung.

b.      Kelemahan intelektual seperti tidak bisa memusatkan perhatian dalam waktu yang cukup lama, kemampuan rendah, lemah ingatan, syaraf penerimaan tidak berfungsi sebagai mana mestinya, kebiasaan-kebiasaan buruk dalam belajar, dan hasil belajar rendah.

c.       Kurang motivasi seperti kurang semangat, sikap tidak baik, frustasi serta kurang minat dalam belajar.

d.      Kerusakan moral seperti pendusta, bicara porno, sembrono, mencuri, dan nilai-nilai belum berkembang.

e.       Sakit jasmaniah, meliputi sakit kronis dan kesehatan buruk.

f.       Kesalahsesuaian social seperti tingkah laku anti social yang agresif, konflik keluarga, pengasingan diri dan tingkah laku kasar.

Dari berbagai pendapat ahli di atas dapat diklarifikasikan masalah yang berkaitan dengan perkembangan siswa SD adalah:

a.       Masalah yang berkaitan dengan perkembangan fisik dan kesehatan; seperti kecacatan, gangguan otot gerak, dll

b.      Masalah yang berhubungan dengan belajar; seperti lamban belajar, lemah belajar, dll

c.       Masalah emosional; seperti takut, mudah marah, dll

d.      Masalah moral; seperti bicara porno, menyontek, berbohong, dll

e.       Masalah penyesuaian; seperti kejam, suka mengganggu, dll

f.       Masalah- masalah kelompok

g.       Masalah yang berkaitan dengan keluarga dan rumah tangga

h.      Masalah kepribadian

Berikut beberapa contoh gangguan sosial emosional yang nampak di kelas yaitu :

1.   Anak hiperaktif, anak seperti ini cenderung tidak bisa duduk diam. Ia cenderung bergerak terus-menerus, kadang suka berlarian, suka melompat-lompat, bahkan berteriak-teriak di kelas. Anak ini sulit untuk dikontrol. Ia melakukan aktivitas sesuai dengan kemauannya sendiri. Ia pun suka mengganggu temannya bahkan gurunya.

2. Distractibility child adalah anak yang cenderung cepat bosan. Ia sering kali mengalihkanperhatiannya keberbagai objek lain di kelas. Anak ini mudah dipengaruhi, namun tidak dapat memusatkan perhatian pada kegiatan-kegiatan yang berlangsung di kelas.

3.     Poor self concept anak yang cenderung pendiam di kelas, pasif, atau sangat perasa sehingga mudah tersinggung. Karakteristik anak seperti ini cenderung tidak berani bertanya atau menjawab, serta merasa dirinya tidak mampu. Karena itu,iacenderungkurang berani bergaul serta suka menyendiri.

4.   Anak impulsif. adalah anak yang cepat bereaksi setiap guru memberi pertanyaan di kelas.Namun, jawaban yang diberikan sering kali tidak menunjukkan kemampuan berpikir yang logis. Anak seperti ini ingin menunjukkan bahwa ia adalah anak yang pandai, padahal cara anak itu menjawab justru mencerminkan ketidakmampuannya.

5.   Anak destructive behavior siswa yang suka merusak benda-benda yang ada di sekitarnya. Sikap agresif yang negatif dalam bentuk membanting dan melempar menunjukkan bahwa anak ini adalah anak yang bermasalah (trouble maker). Anak seperti ini cepat tersinggung. Ia bertempramen tinggi, yang menggarah kepada perilaku agresif.

6. Distruptive behavior adalah anak yang sering mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak sopan. Dengan nada mengejek, anak ini cenderung menentang guru. Sumpah serapah berupa kata-kata kasar yang tidak sopan kerap terlontar.

7.    Dependency child anak yang selalu bergantung pada orang tuanya.

Anak seperti ini sering merasa takut dan tidak mampu untuk berani melakukannya sendiri. Ia sangat bergantung pada orang disekitarnya. Sikap orang tua yang terlalu over protective atau sangat melindungi membuat anak sangat tergantung.

8. Withdrawl Ada anak yang mempunyai sosial ekonomi yang sangat rendah, sehingga merasa dirinya bodoh dan enggan untuk mencoba membuat tugas-tugas yang diberikan oleh guru karena dirinya merasa tidak mampu.

9. Learning disability adalalah anak-anak yang tidak memiliki kemampuan mental yang setara dengan anak-anak yang sebaya. Anak seperti ini sulit untuk menganalisis, menangkap isi mata pelajaran, dan mengaplikasikan apa yang dipelajari.

10. Learning disorder adalah anak yang mempunyai cacat bawaan baik kerusakan fisik maupun syaraf. Anak seperti ini cenderung sulit untuk belajar secara normal seperti anak-anak yang sebaya. Anak seperti ini membutuhkan penanganan para ahli yang dilakukan oleh lembaga-lembaga khusus, seperti anak yang menderita Autism Sectrum Disorder/ ASD).

11. Underachiever Ada pula anak yang mempunyai potensi intelektual di atas rata-rata, namun prestasi akademiknya di kelas sangat rendah. Semangat belajarnya juga sangat rendah. Anak seperti ini sering menyepelekan tugas-tugas yang diberikan, dan PR sering dilupakan.

12. Overachiever adalah anak yang mempunyai semangat belajar yang sangat tinggi, ia merespon dengan cara cepat. Anak seperti ini tidak bisa menerima kegagalan. Ia tidak mudah menerima kritikkan dari siapapun termasuk gurunya.

13. Slow learner adalah anak yang sulit menangkap pelajaran di kelas dan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat menjawab dan mengerjakan tugas-tugasnya.

14. Social interseption child adalah anak yang kurang peka dan tidak perduli terhadap lingkungannya. Anak ini kurang tanggap dalam membaca ekspresi dan sulit bergaul dengan teman-teman yang ada di kelas.

Kegiatan muzaraah, mukhabarah ,mudharabah dan sirkah

  1. Muzara’ah

muzara’ah adalah seseorang yang memiliki sawah atau ladang yang menyuruh orang lain menggarap sawah atau ladangnya , yang mana bibitnya berasal dari penggarap.

Kegiatan muzara’ah ini sudah terjadi sejak lama dikarenakan pemilik sawah tidak memiliki cukup waktu untuk menggarap sawahnya, sehingga untuk menggarap sawah yang bersangkutan diserahkan kepada pihak lain.

Kegiatan muzara’ah ini saya amati disekitar tempat tinggal saya yaitu Padang Panjang. Berdasarkan hasil pengamatan saya, sebelum penggarapan sawah dilaksanakan oleh pihak kedua, mereka terlebih dahulu membuat kesepakatan mengenai pembagian hasil, kerugian, pembayaran zakat dan PBB sawahnya.

Berdasarkan hasil pengamatan saya, keuntungan dari sawah tersebut dibagi 3, dengan aturan sepertiga dari hasil panen untuk pemilik sawah, sedangkan dua pertiganya untuk penggarap sawah. Jika terjadi kerugian, maka kerugian tersebut ditanggung oleh kedua belah pihak. Sedangkan masalah zakat dan pembayaran PBB dari sawah yang bersangkutan dibayarkan oleh pemilik sawah.

  1. mukhabarah

Mukabarah adalah orang yang memiliki sawah atau ladang yang menyuruh orang lain menggarap sawah atau ladangnya, yang mana bibitnya berasal dari pemilik sawah.

Kegiatan mukhabarah ini saya amati disekitar tempat tinggal saya. Hal ini terjadi dikarenakan pihak yang memiliki sawah sudah tua dan tidak sanggup lagi menggarap sawahnya sendiri. Karena itulah pihak pemilik sawah menyerahkan penggarapan sawahnya kepada pihak lain yang dipercaya.

Sebelum penggarapan sawah dilakukan oleh orang yang dipercaya pemilik sawah, mereka terlebih dahulu membuat perjanjian yang terkait dengan pembagian hasil, pembayaran zakat, PBB dan masalah jika seandainya terjadi kerugian. Biasanya pada penggarapan sawah yang bibit dan pupuknya berasal dari pemilik sawah, maka hasil panennya dibagi 2. Setengah dari hasil panen untuk pemilik sawah dan setengahnya lagi untuk penggarap sawah. Jika pada saat sawah dipanen diketahui terjadi kerugian, maka kerugian tersebut ditanggung oleh kedua belah pihak. Untuk pembayaran zakat sawah, dibayar oleh kedua belah pihak, sedangkan pembayaran PBB dibayarkan oleh pemilik sawah.

  1. Mudarabah

Mudharabah adalah orang yang memiliki modal meminjamkan modalnya pada pihak lain untuk berdagang.

Kegiatan ini saya amati disekitar tempat tinggal saya, yang mana antara pihak pemilik modal dengan pihak yang meminjam modal masih memiliki hubungan kekerabatan. Pihak yang memiliki modal meminjamkan modalnya pada pihak lain yang bergerak dalam usaha jual beli beras.

Berdasarkan hasil pengamatan saya, antara pihak yang memiliki modal dengan pihak yang menjalankan modal sama – sama bertanggung jawab seandainya terjadi kerugian. Sedangkan keuntung dari usaha tersebut dibagi 3, dengan ketentuan sepertiga untuk yang memiliki modal dan dua pertiganya untuk yang menjalankan modal.

  1. Sirqah

Sirqah adalah kerjasama antara dua orang atau lebih dalam usaha perdagangan, atau disebut juga dengan kongsi dagang.

Kegiatan ini dilakukan orang tua saya dengan para tetangga. Mereka secara bersama – sama membuka koperasi yang menjual barang – barang kebutuhan sehari – hari. Modal untuk membuka koperasi ini bersumber dari pinjaman kelurahan serta dana simpanan wajib dan simpanan sukarela anggota koperasi. Keuntungan dari koperasi konsumsi ini bagi berdasarkan besar kecilnya peranan anggota dalam pengelolaan koperasi dan pemanfaatan jasa koperasi bagi anggotanya. Jika dalam pelaksanaanya terjadi kerugian, maka kerugian tersebut ditanggung oleh semua anggota yang menjadi anggota koperasi.

Jual beli dalam kehidupan sehari – hari

Dalam kehidupan sehari – hari kita sering melihat berbagai transaksi perdagangan, bahkan kita sendiripun sering melakukannya. Transaksi jual beli atau transaksi perdagangan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kita. Kebutuhan kita akan barang dan jasa terus meningkat sedangkan kita sudah tidak mampu lagi untuk mencukupi kebutuhan kita sendiri. Dilain hal, barang yang dihasilkan lebih banyak dan hasil produksi pun berlipat ganda karena kemajuan teknologi, sehingga orang tidak lagi menghasilkan untuk dirinya sendiri tetapi juga memproduksi untuk pasar sehingga muncul transaksi jual beli atau perdagangan.

Contoh – contoh transaksi jual beli dalam kehidupan sehari- hari.

1. Jual beli buah mangga.

Dipasar – pasar tradisional kita sering menjumpai pedagang buah mangga. Mulai dari mangga local sampai mangga luar daerah seperti mangga arummanis. Setiap detik pedagang berusaha menawarka dgangannya kepada calon pembeli. Penjual menggunakan berbagai macam cara untuk menarik hati calon pembeli. Saya sering melihat penjual menawrkan barangnya secara berlebih – lebihan.

Suatu sore dipasar tradisional Bukittinggi saya mengamati seorang pedagang buah mangga. Saya menilai dia melakukan hal – hal yang tidak wajar dalam menawarkan barang dagangannya. Beberapa saat setelah itu saya melihat ada dua orang calon pembeli yang menghampiri pedagang tersebut, pedagang mangga itu berusaha menarik hati pembeli dengan bujuk rayuannya. Saya menilai ia lebih tepat memaksa pembeli dari pada menawarkan dagangannya kepada pembeli. Selang beberapa waktu terjadi tawar menawar harga. Hargayang semula untuk 1 kg mangga adalah 9000 rupiah akhirnya disepakati menjadi 8500 rupiah. Akhirnya saya melihat salah seorang dari calon pembeli mulai memilih buah – buah yang akan dibelinya. Beberapa saat setelah itu pembeli menyerahkan buah pilihannya kepada pedagang untuk ditimbang. Pada saat dia menimbang mangga tersebut pedagang mengganti mangga pilihan pembeli dengan mangga yang lebih kecil dengan alasan  beratnya lebih dari yang diinginkan pembeli. Saya memperhatikan dengan seksama ternyata penjual tidak hanya mengganti satu buah mangga pilhan pembeli tetapi hampir 2/3 mangga pilihan pembeli. Biasanya untuk mangga berukuran besar, 1 kg mangga terdiri dari 3 buah mangga. Akhirnya dalam 1 kg mangga yang dibeli berisi 1 buah mangga pilihan pembeli dan 3 mangga kecil – kecil pilihan penjual.

Saya melihat pembeli menyerahkan uang kertas 10.000 rupiah kepada penjual untuk membayar barang belanjaannya sambil menerima buah mangga yang sudah ditaruh dalam kantong plastic hitam. Saya tidak melihat dan mendengar adanya ijab Kabul antara penjual dan pembeli, yang saya temukan hanya suara teriakan penjual yang menawarkan kembali barang dagangnnya sambil menyerahkan sisa uang kembalian pembeli. Tidak ada jabat tangan sebagai tanda serah terima diantara mereka.

2. Jual beli gorengan.

Ketika jalan sore bersama teman – teman dikos,saya melihat salah seorang penjual gorengan yang sedang melayani pembeli.penjual tersebut mengambilkan sejumlah gorengan sesuai dengan pesanan pembeli. Saya tidak melihat adanya tawar menawar antara penjual dengan pembeli untuk mencapai kesepakatan harga sebelum pembeli memesan gorengan tersebut. Sementara penjual mengambilkan pesanan pembeli, pembeli meletakkan sejumlah uang sesuai dengan harga gorengan yang dipesan diatas meja pemjual. Setelah itu penjual menyerahkan gorengan kepada pembelidan pembeli menerimanya setelah itu langsung pergi. Saya tidak menemukn adanya akad jual beli antara pedagang gorengan dengan pembelinya.

3. Jual beli barang – barang assesoris.

Pada proses jual bali barang  barang assesorisbyang saya lihat, pembeli bebas memilih barang yang diinginkannya kemudian menanyakan harganya kepada penjual. Pada saat itu saya melihat transaksi jual beli gantungan Hp. Pembeli dan penjual melakukan tawar – menawar, lalu satelah harganya disepakati 5000 rupiah, penjual membungkuskan barang yang diinginkan pembeli. Saat itu pembeli menyerahkan uang sebesar 5000 rupiah kepada penjual sambil menerima barang belanjaannya. Setelah mengucapkan treima kasih, pembeli langsung saja pergi tanpa adanya akad jual beli terlebih dahulu.

4. Jual beli buku.

Ditoko buku sari anggrek, pembeli bebas memilih buku yang diinginkannya. Harga buku atau alat tulis yang bersangkutan juga sudah tertera pada barcode buku atau alat – alat tulis tersebut. Setelah pembeli mendapatkan buku atau alat – alat tulis yang dinginkannya, pembeli langsung menuju kasir dan menyerahkan sejumlah uang yang sesuai dengan harga buku atau alat –alat tulis yang diinginkannya. Sebelumnya juga tidak ada tawar menawar barang, dan kasirpun langsung menyerahkan barang setelah pembeli membayarnya. Setelah pembeli megucapkan terima kasih, pembeli langsung meninggalkan toko buku tersebut.

5. Jual beli pulsa (voucher electronic)

pada proes jual beli pulsa kartu pra bayar yang saya amati di simpang jalan RS Stroke Nasional Bukittinggi, saya melihat ada seorang pembeli yang menghampiri counter, setelah itu pembeli memesan pulsa 25.000, penjual meminta pembeli untuk menuliskan no Hp nya pada buku yang telah disediakan penjual. Setelah mengisi buku tersebut penjual menambahkan saldo kartu prabayar pembeli degan jumlah nominal pulsa 25.000. setelah itu penjual meminta pembeli untuk mengecek saldo kartu pra bayar Hp nya. Setelah saldo bertambah sesuai keinginan pembeli baru pembeli tersebut menanyakan harganya kepada penjual, lalu penjual menyebutkan sejumlah harga ( 27.000 rupiah) kemudian pembeli meletakkan uang sejumlah 30.000 rupiah diatas meja penjual sambil memencet – mencet keypad Hp nya. Selang beberapa detik, penjual menyerahkan uang kembaliannya kepada pembeli, pembeli menerima uang kembalian dan mengucapkan terima kasih sambil satu tangannya yang lain sibuk memencet – mencet keypad Hp nya. Pada saat penjual menyerahkan uang kembalian tersebut pembeli sama sekai tidak melihat kearah penjual, pembeli tetap sibuk dengan hp nya.

6. Jual beli barang kebutuhan sehari – hari disupermarket.

Dipasar – pasar swalayan atau supermarket saya tidak melihat adanya penjual yang menawarkan barang dagangannya seperti pada pasar tradisional. Disini barang ditawarkan dngan cara memajangkan barang – barang tersebut ditempat – tempat strategis yang menarik perhatian, yang ada hanya pegawai – pegawai supermarket yang bertugas menjaga keamanan dan kenyamanan pembeli. Pembeli bebas menilih sendiri barang kebutuhan yang diinginkannya dan memasukkannya sendiri kedalam keranjang belanja yang sudah disediakan.tidak ada tawar menawar untuk mencapai kesepakatan harga. Pembeli harus membayar sejumlah harga yang tertulis dalam barcode barang yang dilihnya. Setelah barang yang diinginkan telah diperolehnya lalu pembeli menuju kasir dan menyerahkan sejumlah uang sesuai dengan harga barang – barang yang dipilihnya. Waktu itu harga yang harus dibayarkan oleh pembeli adalah 173.450 rupiah. Pembeli menyerahkan uang sejumlah 175000 kepada kasir. Lalu pihak kasir menyerahkan barang yang dibeli sambil menyerahkan uang kembalian senilai 1500 dan satu biji permen.

POLITIK ISLAM

  1. Pengertian Politik Islam

Dalam kamus besar bahasa Indonesia mengartikan politik sebagai “segala utusan dan tindakan mengenai pemerintahan Negara atau Negara lain”.

M Quraish Shihab mengatakan bahwa dalam Al-Qur’an tidak ditemukan kata yang terbntuk dari akar kat “sasa”-“yasusu”, namun ini tidak berarti bahwa Al-Qur’an tidak menguraikan soal politik. Uraian Al-Qur’an tentang politik secara pintas dapat ditemukan pada ayat – ayat yang berakar kata “hukmi”. Dari akar kata yang sama terbentuk kata hikmah yang pada mulanya berarti kendala.. makna ini sejalan dengan kata “ yasusu” yang berarti kendali.

Disisi lain terdapat persamaan makna antara pengrtian kata hikmah dan politik. Sementara ulama mengartikan hikmah sebagai kebijaksanaan atau kemampuan menangani suatu masalah sehingga mendatangkan manfaat atau menghindarkan mudharat.

M quraish shihab lebih cendrung mengartikan politik sebagai segala urusan dan tindakan berupa kbijakan dan siasat mengenai pemerintahan Negara dan terhadap Negara lain dengan tujuan untuk kemashalatan bersama.

Kekuasaan politik menurut Islam terletak ditangan Allah, artinya Allah adalah penguasa terhadap alam semesta ini.

Firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 18:

Artinya:

“Dan kepunyaan Allhalah kerajaan langit dan bumi serta apa yang terdapat diantara kedunya.

Adapun prinsip-prinsip pokok politik Islam terdapat dalam surat An-Nisa ayat 58-59 yang artinya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada orang yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagi mud n lebih baik akibatnya.

Prinsip pokok dalam politik Islam adalah segala kekuaaan berupa amanat dari Allah. Oleh karena itu masyarakat dituntut untuk memenuhinya. Amanat itu berkaitan dengan banyak hal, seperti berlaku adil terhadap manusia, baik muslim maupun bukan muslim, bahkan mencakup kepada seluruh makhluk.

  1. Prinsip – Prinsip Politik Islam

System politik Islam berdasarkan 3 prinsip, yaitu:

1.            Tauhid

Tauhid berarti mngesakan Allah SWT. Kedaulatan tertinggi hanya pada Nya. Oleh karena itu tak satupun manusia mempunyai hak untuk menentukan maksud dan tujuan hidupnya. Hal ini penuhnya terletak pada Allah SWT. Hanya Allah saja yang berdaulat.

2.            Risalah

Risalah merupakan medium perantara penerimaan manusia terhadap hukum-hukum Allah. Kita sebagai orang yang briman telah menerima dua hal yang harus dijadikan pegangan dalam hidup didunia dan diakhirat. Raulullah telah menegakkn kepada umatnya suatu pola system hidup dengan melaksanakan hukum Islam.

3.            Khalifah

Khalifah berarti perwakilan. Posisi dan tempat manusia dimuka bumi ini adalah dalam posisi khalifah atau wakil Allah. Kalau diperhatikan bahwa yang dinamakan wakil adalah bukan penguasa sesungguhnya. Oleh karena itu yang mengatur seluruh khidupan ini bukan manusia melainkan Allah, dan manusia tinggal melaksanakan aturan-aturan yang telah ditetapkn Allah.

  1. Kontribusi Umat Islam dalam Perpolitikan Nasional

Setelah orde lama hancur wadah politik umat Islam hilang. Islam nampaknya menarik diri dari dunia politik. Manun dengan pembaharuan bangsa ini, umat Islam terlepa dari ikatan yang sempit menuju dunia yang lebih luas. Perjuangan cultural adlah lahan yang sangat luas dibandingkan dunia politik saja.

Pada maa pasca pemrintahan Soeharto memang lahir banyak partai Islam, yang disebabkan prsoalan kekuasaan saja. Islam di Indonesia secara sederhana terdiri atas dua sayap saja, yang terdiri dari tradisionalis dan modernis reformis.

  1. Islam dan Fenomena Global

Perbedaan dalam orientasi cultural telah menyebabkan kultur sekuler mengkritik agama saat ia memasuki ruang public. Sebaliknya kelompok-kelompok keagamaan semakin menegaskan perlunya agama tidak bersikap pasif, dan terpaksa mempergunakan umber-sumber kagamaan dalam memobilisasi para pengikutnya untuk memajukan keadilan social  dan politik ditengah masyarakat.

Banyak peristiwa dalam tiga decade terakhir memperlihatkan bahwa agama punya kontribusi positif dalam mempertahankan kohesi social. Disebagian  Negara, dorongan keagamaan telah berfungsi sebagai salah satu cara yang paling memungkinkan untuk memobilisasi kekuatan social untuk melawan kekuasaan politik Negara otokratik. Lebih dari itu, dengan tidak adanya lembaga demokrasi, institusi-institusi keagamaan menjadi wakil partisipasi public yang terbukti mampu menciptakan rekonsiliasi nasional.

  1. Politics Of Tolerance

Afrika selatan dan bosnia memang bukan contoh Negara agama, tetapi peran agama dalam rekonsiliasi nasional dan pembuatan kebijakan public sangat signifikan. Walaupun mereka dililit persoalan masa lalu yang kelam namun keduanya berhasil mengembangkan politics of tolerance yang mengantarkannya membangun identitas nasional.

Barangkali ini adalah saat yang tepat untuk membongkar konstruk hukum yang cenderung menciptakan batas sektarianisme, dan sebaliknya membangun politics of tolerance. Dalam konteks itu, konstruk semacam ini lahir dari problem dan kebutuhan zamannya, sehingga dirasakan tidak lagi relevan untuk diterapkan sekarang. Sebab batasab sektarianisme dalam bentuk apapun tidak akan bias ditransendenkan, dan justru dapat merumuskan agama sebagai penghalang bagi pengembangan identitas nasional.

Pengamat barat menelusuru sejarah politik Islam dengan menyebut konsep dar al-islam n dar al-hrb ini sebagai akar ideologinya. Bahkan kedua frase ini sering digunakan untuk menjelaskan bangunan normative kebangkitan islam politik yang memposisikan diri vis-à-vis peradapan lain. Padahal,konsep dar-al-islam dan dar-al-harb tidak bisa dilepaskan begitu saja dari konteks historis dan kebutuhan zamannya, dan sama sekali bukan kbutuhan Islam itu sendiri. Karena itu tidak ada alasan untuk khawatir bahwa munculnya komunitas islam transkultural pada akhirnya akan mendominasi dan menguasai komunitas non-Muslimin.

Disadari atau tidak, Islam politik memang belum mampumenjelaskan bagaimana ia bisa tampil diatas panggung politik mutakhir. Sebab, keberadaannya selama ini selalu dirujukkan pada rumusan politik ulama zaman pertengahan. Sepanjang sejarah, islam memang tidak produktif dalam mengelaborasi dimensi politiknya.

Tidak berkembangnya artikulasi diskursif tentang citacita politik Islam menyebabkan miskinnya elaborasi seputar politics of tolerance dalam tradisi Islam. Padahal, politics of tolerance sangatlah krusial bahkan bisa dipandang sebagai prakondisi bagi setiap masyarakat multi religius dan etnik seperti Indonesia.

  1. Respons Agama terhadap Globalisasi

Globalisasi awalnya muncul dalam arena keuangan, perdagangan, dan ekonomi, namun dengan cepat ia meluas melampaui batas cakupannya. Saat ini globalisasi dipandang sebagai sistim atau kecendrungan wordwide yang meliputi keuangan, pertukaran pasar internasional, komunikasi, poltik dan ideology.

Globalosasi bukan sekear istilah baru mengenai hegemoni barat kendati tidak dapat dipungkiri barat memiliki posisi istemewa.

Globalisasi dengan segala dampaknya itu juga akan menyentuh sisi-sisi agama. Sehingga memunculkan banyak kekhawatiran. Yaitu:

    1. globalisasi dipandang sebagai salah satu upaya untuk memperkua model Amerika untuk mencakup seluruh dunia.
    2. dalam perkembangannya, globalisasi akan mnghapuskan batas-bata Negara.

Respon agama terhadap globalisasi:

Dari sudut pandang keagamaan, kehadiran globalisasi tidak selalu brsifat negative. Globalisasi tidak perlu ditolak melainkan perlu disikapi secara arif sebagi suatu tantangan bagi umat beragama.

Pengaruh globalisasi terhadap agama, setidaknya dapat diliht dari munculnya dua respon agama yang tampak berlawanan agama bisa saja merambah dunia global atau justru menentangnya. Yang disebut pertama adalah jalan universalisme: pandangan cultural yang menegaskan bahwa kita semua berada dalam kebersamaan dan kita lebih baik belajar satu sama lain sehingga dapat menjalin bekerjasama. Hal ini dapat mlibatkan ragam cultural yang pada akhirnya mengantarkan umat beragama pada kesatuan kemanusiaan sebagai satu keluarga.

Namun bisa juga muncul kecendrungan sebaliknya. Ideology agama ataupun quasi agama bisa merespon konteks global baru mereka mengasingkan diri (‘uzlah) sembari menekankan bahwa “kami berbeda”.

Fundamentalisme Islam, Kristen, Yahudi, Hindu dan beragam fundamentalisme nasionalis bukanlah agama masa lalu. Sebenarnya mereka lebih mengemukakan ideology-ideologi baru yang pura-pura berupaya mempertahankan hal-hal dari masa lalu yang baik, padahal dibalik semua itu, yang ada hanyalah ketidakmampuan mereka membendung arus modernisasi dan globalisasi.

  1. Agama dan Legitimai Politik

Hingga kini agama diakui memiliki fungsi ganda yakni dengan kaitannya dengan legitimasi kekuasaan dan privilege dan dengan penolakan dan oposisi, dalam fungsi pertama, agama muncul sebagai apologi dan legitimasi status quo dan budaya ketidak adilan: sedangkan dalam fungsi kedua, ia menjadi alat protes, perubahan dan pembebasan.

  1. Hukum Berpolitik Dalam Islam

Politik dalam Islam mempunyai andil yang sangat besar, sehingga dapat dikatakan bahwa Islam sangat menganjurkan adanya politik, karena dengan politik itu sendiri, Islam dapat bertahan dan tersebar dan hal itu dapat dilihat dengan jelas, baik dalam setiap peperangan dan futuhaatnya. Namun dalam perkembangan terakhir, politik dinilai sangat keji dan kotor sehingga tidak heran jika Syekh Muhammad Abduh pernah berkata: ” Auzu billahi min Assiyasah”, dan kemudian oleh para pengikutnya, ungkapan tersebut lebih ditegaskan lagi: “Auzu billahi min Syaitani Assiyasah wa Assasah”.

Politik itu sendiri pernah menjadi polemik antar Imam Syafi’i dengan Ibnu Aqil salah seorang ulama mazhab Hanbali, Ibnu Aqil mengoreksi perkataan imam Syafi’i, “La Siyasata Illa ma wafaqa bihi Assyar’u”, menurutnya bila yang dimaksud Siyasah yang tidak menyalahi prinsip-prinsip agama maka hal itu adalah benar, namun jika yang dimaksud dari kata tersebut hanyalah sebatas apa yang digambarkan oleh islam secara eksplisit maka itu tidak benar. Hal ini menunjukan bahwa setiap prilaku politik dinilai sebagai hal yang benar jika tidak menyalahinilai-nilai yang ada dalam agama.

  1. Islam dan Politik

Sistem yang dibangun oleh Rasulullah Saw dan kaum mukminin yang hidup bersama beliau di Madinah –jika dilihat dari segi praksis dan diukur dengan variabel-variabel politik di era modern– tidak disangsikan lagi dapat dikatakan bahwa sistem itu adalah sistem politik par excellence. Dalam waktu yang sama, juga tidak menghalangi untuk dikatakan bahwa sistem itu adalah sistem religius, jika dilihat dari tujuan-tujuannya, motivasinya, dan fundamental maknawi tempat sistem itu berpijak.

Dengan demikian, suatu sistem dapat menyandang dua karakter itu sekaligus. Karena hakikat Islam yang sempurna merangkum urusan-urusan materi dan ruhani, dan mengurus perbuatan-perbuatan manusia dalam kehidupannya di dunia dan akhirat. Bahkan filsafat umumnya merangkum kedua hal itu, dan tidak mengenal pemisahan antara keduanya, kecuali dari segi perbedaan pandangan. Sedangkan kedua hal itu sendiri, keduanya menyatu dalam kesatuan yang tunggal secara solid; saling beriringan dan tidak mungkin terpisah satu sama lain. Fakta tentang sifat Islam ini amat jelas, sehingga tidak membutuhkan banyak kerja keras untuk mengajukan bukti-bukti. Hal itu telah didukung oleh fakta-fakta sejarah, dan menjadi keyakinan kaum Muslimin sepanjang sejarah yang telah lewat. Namun demikian, ada sebagian umat Islam sendiri, yang mengklaim diri mereka sebagai ‘kalangan pembaru’. Mereka mengklaim bahwa Islam hanyalah sekadar ‘dakwah agama’ maksud mereka adalah, Islam hanyalah sekadar keyakinan atau hubungan ruhani antara individu dengan Rabb-nya. Dan dengan demikian tidak memiliki hubungan sama sekali dengan urusan-urusan yang kita namakan sebagai urusan materi dalam kehidupan dunia ini. Di antara urusan-urusan ini adalah: masalah-masalah peperangan dan harta, dan yang paling utama adalah masalah politik. Di antara perkataan mereka adalah: “agama adalah satu hal, dan politik adalah hal lain”.

Untuk mengcounter nya ada beberapa pendapat orientalis dalam masalah ini Di antara pendapat-pendapat para orientalis itu adalah sebagai berikut:

1.             Dr. V. Fitzgerald berkata: “Islam bukanlah semata agama (a religion), namun ia juga merupakan sebuah sistem politik (a political system). Meskipun pada dekade-dekade terakhir ada beberapa kalangan dari umat Islam, yang mengklaim diri mereka sebagai kalangan ‘modernis’, yang berusaha memisahkan kedua sisi itu, namun seluruh gugusan pemikiran Islam dibangun di atas fundamental bahwa kedua sisi itu saling bergandengan dengan selaras, yang tidak dapat dapat dipisahkan satu sama lain”.

2.             Prof. C. A. Nallino berkata: “Muhammad telah membangun dalam waktu bersamaan: agama (a religion) dan negara (a state). Dan batas-batas teritorial negara yang ia bangun itu terus terjaga sepanjang hayatnya”.

3.             Dr. Schacht berkata: ” Islam lebih dari sekadar agama: ia juga mencerminkan teori-teori perundang-undangan dan politik. Dalam ungkapan yang lebih sederhana, ia merupakan sistem peradaban yang lengkap, yang mencakup agama dan negara secara bersamaan”.

4.             Prof. R. Strothmann berkata: “Islam adalah suatu fenomena agama dan politik. Karena pembangunnya adalah seorang Nabi, yang juga seorang politikus yang bijaksana, atau “negarawan”.

5.             Prof D.B. Macdonald berkata  “Di sini (di Madinah) dibangun negara Islam yang pertama, dan diletakkan prinsip-prinsip utama undang-undang Islam”.

6.             Sir. T. Arnold berkata : ” Adalah Nabi, pada waktu yang sama, seorang kepala agama dan kepala negara”.

7.             Prof. Gibb berkata : “Dengan demikian, jelaslah bahwa Islam bukanlah sekadar kepercayaan agama individual, namun ia meniscayakan berdirinya suatu bangun masyarakat yang independen. Ia mempunyai metode tersendiri dalam sistem kepemerintahan, perundang-undangan dan institusi”.

Sumbangan Islam tatkala gelapnya politik dunia

Di dalam seluruh sejarah kemanusiaan, Islam telah menyumbangkan sesuatu yang sangat besar yang tidak ternilai harganya iaitu “model negara” yang tiada tandingannya sebelum maupun sesudahnya. Negara yang merupakan model itu dinamakan sebagai “Negara Islam” (Daulah Islamiyah). Harus diakui bahwa dunia sudah menerima berbagai sifat atau bentuk negara, baik di dalam praktikal maupun masih merupakan teoritis.

Negara Islam adalah suatu Negara Ketuhanan, di mana firman  Allah menjadi dasarnya dan suara rakyat (musyawarah) berkuasa. Justru, firman Allah (Fox Dei) dan ajaran Nabi (Fox Prophetae) bergabung dengan suara rakyat (Fox Popule) menjadi kekuasaan yang tertinggi di dalam negara. Penggunaan konsepsi atau prinsip ini telah dilakukan oleh Prof H. A.R. Gibb, namun bukanlah di dalam bidang politik sebaliknya di dalam bidang hukum.

Penggabungan ketiga dasar di atas (firman Allah, sabda Nabi dan suara rakyat) merupakan suatu keistimewaan di dalam politik yang tidak ada taranya dalam sejarah. Bahkan, Sir Thomas Arnold, Henry Osborn Taylor dan Goldziher sangat mengagumi bentuk dan sifat Negara Islam yang tersendiri. Dengan menggunakan istilah ‘khalifah‘ dalam pemerintahan negara Islam, Sir Thomas Arnold pernah membuat perbandingan antara negara Islam dengan kerajaan Paus.[2] Walaupun, kedua-duanya mempunyai dasar yang sama iaitu Ketuhanan tetapi kerajaan Paus merupakan kesinambungan daripada pemerintahan imperial Rom. Sedangkan, pemerintahan khalifah dalam Islam adalah suatu corak yang original  yang belum ada contoh sebelumnya, baik di tanah Arab maupun di daerah-daerah lain yang sudah terlebih dahulu maju seperti Yunani, Romawi, Mesir dan Parsi.

Inilah sumbangan yang sangat berharga dari Islam yang dipersembahkannya di dalam sejarah manusia. Suatu negara yang berdasarkan Ketuhanan, di mana suara rakyat memegang kekuasaan. Negara model inilah yang dilanjutkan oleh umat Islam, sama ada oleh para sahabat maupun pengikut agama Islam hingga zaman kini. Negara Islam  model terbaik dalam berbagai sifat dan bentuk negara di dunia. Di samping itu, Negara Islam juga merupakan ‘modal’ bagi umat Islam untuk menyumbangkan segala kepandaian dan kesanggupan mereka di dalam dunia politik baik secara teori maupun praktis.

Kesimpulan

  1. ekonomi islam

Perekonomian sebagai salah satu sendi kehidupan yang penting bagi manusia, oleh al-Qur’an telah diatur sedemikian rupa. Riba secara tegas telah dilarang karena merupakan salah satu sumber labilitas perekonomian dunia. Al-Qur’an menggambarkannya sebagai orang yang tidak dapat berdiri tegak melainkan secara limbung bagai orang yang kemasukan syaithan.
Hal terpenting dari semua itu adalah bahwa kita harus dapat mengembalikan fungsi asli uang yaitu sebagai alat tukar / jual-beli. Memperlakukan uang sebagai komoditi dengan cara memungut bunga adalah sebuah dosa besar, dan orang-orang yang tetap mengambil riba setelah tiba larangan Allah, diancam akan dimasukkan ke neraka (Qs.al-Baqarah:275). Berdirinya Bank Muamalat Indonesia merupakan salah satu contoh tantangan untuk membuktikan suatu pendapat bahwa konsepsi Islam dalam bidang moneter dapat menjadi konsep alternative

  1. politik islam

negara Islam terlahirkan dalam keadaan yang amat jelas. Dan pembentukannya terjadi dalam tatapan sejarah yang jernih. Karena Tidak ada satu tindakan yang dikatakan sebagai tindakan politik atau kenegaraan, kecuali dilakukan oleh negara Islam yang baru tumbuh ini. Seperti Penyiapan perangkat untuk mewujudkan keadilan, menyusun kekuatan pertahanan, mengadakan pendidikan, menarik pungutan harta, mengikat perjanjian atau mengirim utusan-utusan ke luar negeri

EKONOMI ISLAM

A. KONDISI EKONOMI UMAT MANUSIA

Islam sebagai suatu agama mempunyai caranya sendiri dalam mengorganisir berbagai kehidupan penganutnya, baik individu maupun masyarakat.

Tetapi sekarang hamppir semua Negara – nagara islam yan mayoritas penduduknya beragama islam, kehidupan ekonominya tidak dikelola secara Islami, tapi cendrung memakai system ekonomi kapitalis yang mengekor kepada kehendak Negara – negara kaya melalui institusi ysng dikemdalikan oleh Negara barat. Akibatnya kemakmuran dan kedamaian itu hanya dinikmati ole sekeompok minoritas saja, sedangkan jumlah rakyat miskin semakin bertambah, yang akhirnya menjadi masalah besar.

B. SISTEM EKONOMI ISLAM DAN KESEJAHTERAAN UMAT

1. Tujuan ekonomi islam

Tujuan ekonomi islam dirumuskan sebagai berikut:

a.         Mewujudkan peri kehidupan umat manusia yang makmur dam selalu dalam taraf yang lebih maju, dengan jalan melaksanakan produksi barang dan jasa dalam kualitas dan kuantitas yang cukup, guna memenuhi kebutuhan spiritual, dalam rangka menumbuhkan kesejahteraan duniawi maupun ukhrawi secara serasi dan seimbang.

b.        Mewujudkan peri kehidupan ekonmi umat manusia yang adil dan merata, dengan jalan melaksanakan distribusi barang, jasa, kesempatan, kekuasaan dan pendapatan masyarakat dengan jujur dan terarah dan selalu menungkatkan taraf keadilan dan pemerataannya.

c.         Mewujudkan perikehidupan ekonomi umat manusia yang stabil dengan jalan menghindari dari gangguan – gangguan inflasi dan gepresi maupun stagnasi, namun tidak menghambat laju pertumbuhan ekonomi masyarakat yang membawa kearah kegoncangan ekonomi.

d.        Mewujudkan perikehidupan ekonomi yang serasi, bersatu, damai dan maju, dalam suasana kekeluargaan sesama umat, dengan jalan menghilangkan nafsu untuk menguasai, menumpuk harta ataupun sikap – sikap lemah terhadap gejala – gejala yang negatif.

e.         Mewujudkan perikehidupan ekonomi yang relative menjamin kemerdekaan, baik dalam memilih jenis barang dan jasa, memilih system dan organisasi produksi, maupun memilih system produksi, sehingga tingkat partisipasi masyarakat dapat dikerahkan secara maksimal, denan meniadakan penguasaan lebih dari sekelompokmasyarakat ekonomi, serta menumbuhkan sikap – sikap keberamaan (solidaritas).

f.         Mewujudkan perikehidupan ekonomi yang tidak menimbulkan kerusakan dibumi, sehingga kelestarian alam dapat dijaga sebaik – baiknya, baik alam fisik, social, cultural, maupun spiritual keagamaan.

g.        Mewujudkan perikehidupan ekonomi untuk umat manusia yang relative mandiri tanp adanya ketegantungan yang berlebihan dari kelompok – kelompok masyarakat lain.

2. Prinsip ekonomi islam

Kamaruddin hidayat, dkk. (2000: 26) menamakan prinsip ekonomi islam dengan prinsip laba versus zakat. Artinya prinsip ekonomi yang didasarkan atas konsep keTuhanan secara fungsinal. Maksudnya, hal yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi ditetrapkan berdasarkan aturan Allah dalam Alqur’an sebagai mana yang dicontohkan Rasulullah. Diantara prinsip – prinsip tersebet adalah:

a.         Alam ini mutlak milik Allah.

Firman Allah dalam surat Thaha, (20 : 6)

Artinya:

“kepunyaan_Nya lah semua yang ada dilangit, semua yang dibumi, semua yang ada diantara keduanya dan semua yang dibawah tanah”.

Firman Allah dalam surat Al-maidah, (5:120)

Artinya:

“kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada didalamnya dan dia Maha kuasa atas segala sesuatu”.

b.        Alam merupakan karunia Allah yang diperuntukkan bagi manusia.

Firman Allah dalam Alqur’an surat luqman ayat 31.

Artinya:

“tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang ada dilangit dan dibumi dan menyempurnakan untukmu nikmat Nya lahir dan bathin. Dn diantara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang menberi penerangan”.

c.         Alam karunia Allah ini untuk dinikmati dan dimanfaatkan dengan tidak melampaui batas – batas ketentuan.

Firman Allah dalam surat Al-a’raf ayat 31

Artinya:

“hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap memasuki masjid, makam dan minumlah dan janganlah berlebih – lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih – lebihan”.

d.        Hak milik perseorangan diakui sebagai hasil jerih payah, usha yang halah dan nyata boleh dipergunakan untuk hal – hal yang halal pula.

e.         Didalam harta orang kaya itu terdapat hak orang miskin, fakir dan lain sebagainya.

Firman allah dalam surat al-isra ayat 26

Artinya:

“dan berikanlah kepada keluarga – keluarga yang dekat hak nya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur – hamburkan (hartamu) secara boros”.

3. Masalah pokok ekonomi

Menurut kamariddin Hidayat dkk, masalah ekonomi pada umumnya mencakup:

a.         Jenis barang dan jasa yang dihasilkan

Barang dan jasa yang dihasilkan haruslah barang dan jasa yang tidak dilarang oleh agama, seperti barang konsumsi yang diharamkan (misalnya minuman keras, jasa hiburan yang melanggar kesusilaan). Barang dan modal yang digunakan hendaknya juga modal yang tidak dipergunakan ntu menghasilkan barang – barang haram.

b.        System organisasi produksi barang dan jasa

Islam pada dasarnya menganut system organisasi produksi yang relative menjamin kebebasan. Karena hak milik pribadi diakui dalam islam,mak a islam mengakui pula pemilikan factor – factor produksi pada pribadi – pribadi.bahkan pada dasarnya, islam mengizinkan orang ataupun perserikatan orang (individu atau lembaga usaha), untuk mengorgnisasikan factor – factor produksi dalam usaha menaikkan nilai barang atau jasa, gunamemenuhi kebutuhan masyarakat dengan tujuan mencapai laba. Laba yang wajar adalah halal dalam islam.Islam meghendaki harga dari factor – factor produksi tersebut terbentuk secara adil.

c.         System distribusi yang dipakai

Islam mengakui adanya lembaga perdagangan sebagai system distribusi barang dan jasa dengan menggunakan alat ukur berupa uang. Namun perdagangan ini harus dilaksanakan dengan menganut asas keadilan.

Asas keadilan, pembagian kesejahteraan diantara kelompok masyarakat terdapat juga kewajiban zakat.pemerataan dalam memperoleh pendapatan tercermin dalam prinsip larangan ntuk menarik laba secara eksploitatif,larangan untuk membayar upah terlalu rendah dan larangan untuk menetapkan harga terlalu tinggi. Zakat fitrah sebenarnya juga mekanisme ekonomi yang dilakukan secara social. Zakat perniagaan merupakan instrumenekonomi yang penting dalam mengatasi gejala inflasi dan depresi.

d.        Pencapaian tingkat efisiansi

Pembagian kerja dan spesialisasi diizinkan dalam islam. Pembagian kerja dalam pembagian bidang produksi dan distribusi menurut beberapa ulama merupakan fardhu kifayah.

e.         Pencegahan inflasi dan depresi

Inflasi adalah kemerosotan nilai mata uang (kertas) karena banyak atau cepatnya mata uang (kertas) beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang- barang.

Melonjaknya permintaan dapat diakibatkan oleh pola konsumsi masyarakat yang konsumtif, yaitu adanya tambahan pendapatan yang selalu diikuti leh tambahan konsumsi yang tinggi.

Tingkahlaku yang membawa akibat inflasi ini tidak hanya tingkah laku kelompo masyarakat yang boros. Tetapi juga tingkah laku penanam modal yang terlampau agresif disaat inflasi. Invertor dapat menjadi agresif bila kentngan yang diharapkan dapat melebihi “bunga” yang harus dibayar oleh kelompo peminjam modal. Jadi bunga yang diizinkan dapat menumbuhkan ekspansi moneter.karena itu Ilam melarang “riba’, maka ekspansi moneter pun dapat dicegah. Dilihat dari teori moneter barat dalam perekonomian islam, penanaman modal dalam rekan usaha tertentu selalu didasarkan pada pembagian keuntungan yang ail. Dengan pmbagian keuntungan antara anggota syarikat dagang, maka biaya modal selalu dalam keadaan seimbang dengan keuntungan. Disamping itu dengan adanya kewajiban membayar zakat maka ekspansi investasi yang berlebihan dapat diperlunak.

Depresi merupakan kebalikan dari inflasi yang terjadi pada saat resesi. Karena barang yang kurang laku sehingga harga barang diturunkan yang mengakibatkan banyak pengangguran. Oleh krena itu perputaran uang dala prinsip ekonomi islam harus mutlak dilakukan. Pola perputarannya dapat ditemph denngan berbagai cara:

1)      Perputaran dilakukan langsung oleh pemilik. Pola ini palingefektif karena dapat menyerap tenaga kerja, yang berarti pengurangan tingkat penganguran. Ini berarti pemilik uang harus menjadi pengusaha. Persoalannya adalah tidak semua orang punya uang berbakat menjadi pengusaha.

2)      Perputaran uang dilakukan melalui orang lain yang tidak punya usaha, dengan pola bgi keuntungan dan kerugian. Untuk dapat terwujudnya pola ini, yang punya uang sebaiknya juga mengerti pola usaha tempat ia menitipkan uangnya. Jika perlu, yang punya uang menempatkan orang yang dipercayainya masuk dalam perusahaan itu. Persoalannya ialah sejauh mana orang yang dititipkan itu tidak berkhianat terhadap pemilik uang.

3)      Peputaran yang dilakukan secara berantai oleh lembaga keuangan yang netral, yang dikenal dengan lembaga keuangan atau perbankan. Lembaga keuangan atau perbankan menitipkn lagi pada badab usaha lain yang credible dengan syarat – syarat tertentu. Syarat yang uatama adalah dengan membayar bunga pinjaman. Persoalannya adalah apakah bunganya dianggap riba atau perdagangannya yang termasuk riba atau bukan.

4)      Perputaran yang dilakukan dengan jual beli saham.

5)      Perputaran yang dilakukan dengan jual bli barang yang pembayarannya dilakukan hari ini.

f.         Ikhtiar pencegahan in efisiensi

Keadaan – keadaan monopoli atau oligopoli sering tidak dikehendaki karena keadaan ini menghambat tercapainya kseimbangan perekonomian dalam titik pemakaian factor produksi dalam kualitas penuh. Wujuddari in efisiensi dalam keadaan monopolistic dan oligipolistik yang dirasakan masyarakat adalah tingginyatingkat harga jual bagi konsumen.

4. Pemanfaatan sumber daya alam

Dalam pengelolaan sumberdaya alam hendaklah dengan keahlian, dengan kemampuan structural dan dengan manajemen yang baik, agar tercapai efisiensi secara maksimal, sehingga hasilnya dapat meningkatkan kesejahteraan hidup umat manusia.

Pengolahan sumber daya alam haruslah dengan cara–cara yang baik dan halal, dijaga kelestariannya dan keseimbangannya agar lingkungan alam tidak rusak.

5. Proses produksi

a.         Modal

Modal adalah hasil produksi untuk memproduksi selanjutnya atau salah satu hasil produksi dari sebagian kekayaan yang dipergunakan untuk memproduksi selanjutnya.

Kedudukn moal dalam islam adalah nomor 3 setelah manusia dan alam. Oleh sebab itu, bukanlh hidup manusia itu dikorbankan untuk kepentingan modal, tetapi modal untuk kepentingan umat manusia. Modal itu diharapkan berada dan dipertahankan, tidak mengganggu yang pada gilirannya dapat membawa kesejahteraan umat.

Penggunaan modal diharamkan untuk menghasilkan riba, produksi atau kekayaan, baik brupa benda maupun jasa, dan lapangan usahanya harus halal.

Syariaat islam membolahkan pemilik modal mengerahkan modalnya kepada orang lain yang cakap dan berpengalaman (Qiradh) ataupun dalam bentuk kongsi (mudharabah) dengan syarat kedua belah pihak ataupun yang bersekutu memakai system “takafful” yaitu keuntungan dan kerugian dibagi atau ditanggung sesuai dengan kesepakatan.

b.        Alat produksi

Dalam memproduksi sesuatu diperlukan alat produksi yang semakin hari semakin tinggi kualitasnya shingga hasil produksi semakin meningkat, dan kesejahteraan semakin dirasakan umat.

Tentang penggunaan teknologi dalam kegiatan produksi, petunjuknya adalah hadist Rasulullah Saw yaitu:

“kamu lebih mengetahui tentang (cara-cara) urusan dirimu”.

Dengan ditemukannya mesin produksi atau alat tertentu, maka sejak itu muncullah meknisme yang semuanya dikendalikan oleh mekanik sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing. Disatu pihak dapat meningkatkan produktifitas, keahlian spesialis, efisiensi an efektifitas termasuk penggunaan tenaga kerja, namun pihak lain muncullah masalah yang berupa peningkatan jumlah pengangguran. Untuk itulah diperlukan “akhlak” yang dengannya nasib orang banyak dipertimbangkan untuk dicarikn solusinya.

6. Perdagangan dan jual beli.

a. Pengertian jual beli.

Jual beli artinya menjual, mengganti dan menukar (sesuatu dengan sesuatu yang lain).

Secara etimologi jual beli berarti:

Ø  Menurut hanafiah, saling menukar harta dengan harta tertentu. Atau tukar menukar sesuatu yang diingini dengan yang sepadan melalui cara tertentu yang bermanfaat.

Ø  Menurut annawawi, jual beli berarti saling menukar harta dengan harta atas dasar suka sama suka.

Ø  menurutAbu Qudamah, jual beli berarti saling tukar menukar harta dalam bentuk pemindahan milik dan pemilikan.

b. Dasar hukum jual beli

Jual beli sebagai srana tolong menolong antar umat manusia mempunyai landasan yang kuat dalam islam.

Dalam Al-Qur’an surat Albaqarah ayat 275 Allah berfirman:

Artinya:

“….padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba….”

Qur’an surat Albaqarah ayat 198:

Artinya:

“tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki  hasil perniagaan) dari Tuhanmu….

Qur’an surat Annisa ayat 29

Artinya:

“…..kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka  diantara kamu…”

Qur’an surat Albaqarah ayat 282

Artinya:

“dan persaksikanlah, apabila kamu berjual beli….”

Sabda Rasulullah

“nabi Muhammad SAW pernah ditanya: apakah profesi yang paling baik? Rasulullah menjawab: “usaha tangan manusia sendiri dan seperti jual beli yang diberkati”. (HR. Al-Barzaar dan Al-Hakim)

sabda Rasulullah

“pedagang yang jujur dan terpercaya sejajar (tempatnya di sorga) dengan para nabi,siddiqin dan Syuhada”. (HR. Tirmizi)

c. Hukum jual beli

Jual beli itu hukumnya mubah atau boleh. Namun menurut Imam Maliki hukumnya bias berubah menjadi  wajib dalam situasi tertentu. Misalnya jika terjadi praktek penimbunan barang.

d. Rukun dan syarat jual beli

Jual beli merupakan suatu akad dan dipandang sah setelah memenuhi rukun dan syarat jual beli.

Rukun dan syarat jual beli menurut beberapa ulama:

Menurut mahzab Hanafi rukun jual beli hanya ada ijab dan Kabul. Karena menurut mereka yang menjadi rukun dalam jual beli itu hanyalah kerelaan kedua belah pihak untuk berjual beli. Kerelaan hati ini dapat diwujudkan dalam bentuk perkataan atau dalam bentuk perbuatan.

Menurut jumhur ulama rukun jual beli ada empat, yaitu:

1.      orang yang berakad (penjual dan pembeli)

2.      sighat (lafal ijab dan Kabul)

3.      ada barang yang dibeli

4.      ada nilai tukar pengganti barang.

Menurut mahzab Hanafi, orang yang berakad, barang yang dibeli dan nilai tukar barang termasuk syarat jual beli, bukan rukun

e. Permasalahan dalam dalam jual beli

Permasalahan – permasalahan dalam jual beli diantaranya:

1.      barang yang dijual itu bukan milik penjual (barang titipan, jaminan hutang, barang curuian)

2.      sesuai perjanjian, barang tersebut harus diserahka kerumah pembeli pada waktu tertentu, tapi ternyata barang tidak diantarkan dan tidak tepat waktu.

3.      barang tersebut rusak sebelum sampai ketangan pembeli.

4.      barang tersebut tidak sesuai dengan contoh yang telah disepakati.

Dalam kasus – kasus seperti ini, risikonya adalah ganti rugi dari pihak yang lalai.

f. Bentuk – bentuk jual beli

Makhzab Hanafi membagi jual beli dari segi sah atau tidaknya menjadi tiga bentuk:

1. jual beli yang shahih

apabila jual beli itu disyariatkan, memenuhi rukun atau syarat yang ditentukan, barang itu  bukan hak milik orang lain, dan tidak terikat dengan khiar lagi, maka jual beli itu shahih dan mengikat kedua belah pihak.

2. jual beli yang bathil

apabila jual beli itu salah satu atau seluruh rukunnya tidak terpenuhi, atau jual beli itu pada dasarnya dan sifatnya tidak disyariatkan, maka jual beli itu bathil.

Jual beli yang bathil itu sebagai berikut:

a)          jual beli Sesutu yang tidak ada.

b)          Menjual barang yang tidak dapat diserahkan.

c)          Jual beli yang mengandung unsure tipuan.

d)         Jual beli benda najis

e)          Jual beli al-‘urbun

f)           Memperjual belikan air sungai, aiar danau, air laut dan air yang tidak boleh dimiliki seseorang.

3. jual beli yang fasid

menurut mahzab Hanafi, jual beli yang fasid adalah sebagai berikutp;

a)          jual beli al-majhl yaitu benda yang secara global tidak diketahui, dengan syarat ketidak jelasannya itu bersifat menyeluruh.

b)          Jual beli yang dikaitkan dengan sesuatu syarat, seperti ucapan penjual kepada pembeli: “saya jual mobil saya ini kepada anda bulan depan setelah mendapat gaji”

c)          Menjual barang yang ghaib yang tidak dapat diketahui pada saat jual beli berlangsung, sehingga tidak dapat dilihat oleh pembeli.

d)         Jual beli yang dilakukan orang buta.

e)          Barter barang dengan barang yang diharamkan

f)           Jual beli al-ajl

g)          Jual beli anggur untuk tujuan membuat khamar

h)          Jual beli yang bergantung kepada syarat.

i)            Jual beli sebagian barang yang tidak dapat dipisahkan dari satuannya.

j)            Jual beli buah-buahan atau padi-padian yang belum sempurna matangnya untuk dipanen.

7. Muzaara’ah

a)          Pengertian muzaraah

Kerjasama antara dua belah pihak, yaitu pemilik tanah dengan pengelola tanah dimana pemilik tanah yang menyediakan bibit nya.

b)          Rukun muzaraah

Menurut pendapat ulama rukun yaitu:

Ø  Pemilik lahan

Ø  Petani penggarap (pengelola)

Ø  Objek muzaraah yaitu antara manfaat lahan dan hasil kerja pengelola

Ø  Ijab dan kabul

c).    Syarat – syarat muzaraah

Ø  Syarat yang berkaitan dengan orang yang melakukan akad, harus balig dan berakal, agar mereka dapat bertindak ata nama hokum.

Ø  Syarat yang berkaitan dengan benih yang akan ditanam harus jelas dan menghasilkan

Ø  Syarat yang berkaitan dengan lahan pertanian

§   Menurut adat dan kebiasaan dikalangan petani, lahan itu bias diolah dan menghasilkan. Sebab ada tanaman yang tidak cocok ditanami didaerah tertentu.

§   Batas – batas lahan itu jelas.

§   Lahan itu diserahkan sepenuhnya kepada petani untuk diolah dan pemilik lahan tidak boleh ikut campur tangan untuk mengolahnya.

Ø  Syarat yangberkaitan dengan hasil

§   Pembagian hasil panen harus jelas

§   Hasil panen itu benar – benar milik bersama orang yang berakad tanpa ada pengkhususan

Ø  Syarat yang berhubungan dengan objek akad juga harus jelaspemanfaatan benihnya, pupuknya dan obatnya seperti yang berlaku didaerah setempat.

d)         Akibat akad muzaraah

Apabila akad telah melebihi rukun dan syarat, maka akibat hukumnya adalah:

Ø   Petani bertanggung jawab mengeluarkan biaya benih dan pemeliharaan pertanian tersebut.

Ø   Biaya pertanian seperti pupuk, biaya perairan, serta biaya pembersihan tanaman, ditanggung oleh petani dan pemilik lahan sesuai dengan persentase masing – masing.

Ø   Hasil penen dibagi sesuai dngan kesepakatan bersama.

Ø   Pengairan dilaksanakan sesuai dngan kesepakatan bersama dan apabila tidak ada kesepakatan, berlaku kebiasaan didaerah masing – masing.

Ø   Apabila salah seorang meninggal sebelum panen, maka akad dapat berlaku sampai panen dan yang meninggal diwakili oleh ahli warisnya. Lebih lanjut akad itu dapt dipertimbangkan oleh ahli waris, apakah akan diteruskan atau tidak.

e)          Akad muzaraah berakhir

Suatu akad muzara’ah berakhir apabila:

Ø   Jangka waktu yang disepakati sudah berakhir. Namun apabila jangka waktunya sudah berakhir tetapi panen belum dilaksanakan maka ditunggu sampai panen selesai walaupun sudah jatuh tempo.

Ø   Apabila salah seorang wafat, maka akad muzara’ah berakhir. Tetapi menurut imim maliki dan syafi’I berpendapat bahwa akad itu tidak berakhirdan dapat diteruskan oleh walinya.

Ø   Ada uzur salah satu pihak yang menyebabkan mereka tidak dapat melanjutkan akad muzaraah.seperti pemilik lahan tersebut terlibat hutang sehingga lahan itu harus dijual.a

Perbedaan Hadits dan Sunnah

1. Pengertian as-Sunnah

a.     Sunnah menurut bahasa berarti : “Jalan dan kebiasaan yang baik atau yang jelak”. Menurut M.T.Hasbi Ash Shiddieqy, pengertian sunnah ditinjau dari sudut bahasa (lughat) bermakna jalan yang dijalani, terpuji, atau tidak. Sesuai tradisi yang sudah dibiasakan, dinamai sunnah, walaupun tidak baik.

b.     Berkaitan dengan pengertian sunnah ditinjau dari sudut bahasa, perhatikan sabda Rasulullah SAW, sebagai berikut :

“Barang siapa mengadakan sesuatu sunnah (jalan) yang baik, maka baginya pahala Sunnah itu dan pahala orang lain yang mengerjakan hingga hari kiamat. Dan barang siapa mengerjakan sesuatu sunnah yang buruk, maka atasnya dosa membuat sunnah buruk itu dan dosa orang yang mengerjakannya hingga hari kiamat” (H.R. Al-Bukhary dan Muslim).

c.     Sedangkan, Sunnah menurut istilah muhadditsin (ahli-ahli hadits) ialah segala yang dinukilkan dari Nabi SAW., baik berupa perkataan, perbuatan, maupun berupa taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup baik yang demikian itu sebelum Nabi SAW., dibangkitkan menjadi Rasul, maupun sesudahnya. Menurut Fazlur Rahman, sunnah adalah praktek aktual yang karena telah lama ditegakkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya memperoleh status normatif dan menjadi sunnah. Sunnah adalah sebuah konsep perilaku, maka sesuatu yang secara aktual dipraktekkan masyarakat untuk waktu yang cukup lama tidak hanya dipandang sebagai praktek yang aktual tetapi juga sebagai praktek yang normatif dari masyarakat tersebut.

Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas, kata sunnah menurut sebagian ulama sama dengan kata hadits. “Ulama yang mendefinisikan sunnah sebagaimana di atas, mereka memandang diri Rasul SAW., sebagai uswatun hasanah atau qudwah (contoh atau teladan) yang paling sempurna, bukan sebagai sumber hukum. Olah karena itu, mereka menerima dan meriwayatkannya secara utuh segala berita yang diterima tentang diri Rasul SAW., tanpa membedakan apakah (yang diberitakan itu) isinya berkaitan dengan penetapan hukum syara’ atau tidak. Begitu juga mereka tidak melakukan pemilihan untuk keperluan tersebut, apabila ucapan atau perbuatannya itu dilakukan sebelum diutus menjadi Rasul SAW., atau sesudahnya.

2.     pengertian hadist

a.     Hadist yaitu riwayat atau kisah yang dikompilasi dari pernyataan berbagai perawi kurang lebih sekitar satu abad setengah setelah Rasulullah s.a.w.

b.     Pengertian Hadist secara literal berarti perkataan atau percakapan. Dalam terminologi Islam perkataan dimaksud adalah perkataan dari Nabi Muhammad SAW. Namun sering kali kata ini mengalami perluasan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah sehingga berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al Qur’an.

3.     perbedaan sunnah rasul dengan hadist

Sunnah dewasa ini dipahami oleh sebagian besar umat islam dengan hadits Rasul yang shakheh. Padahal dari segi bahasa saja khan sudah jauh dan sangat berbeda. Sunnah khan artinya jalan atau proses atau ketetapan. Sementara hadits artinya perkataan atau berita atau khabar atau juga cerita.

praktek kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. yang disebut sebagai Sunnah.. Hadits berbeda dengan yang dikenal sebagai Sunah. Yang dimaksud dengan Sunah adalah praktek kebiasaan yang dilakukan Rasulullah s.a.w. yang kita ikuti dan muncul bersamaan dengan Al-Quran dan berjalan paralel. Dengan kata lain, Al-Quran adalah Firman dari Allah yang Maha Kuasa, sedangkan Sunah adalah tindakan Rasulullah s.a.w.  Sudah menjadi Sunatullah (kebiasaan bagi Allah s.w.t.) bahwa para Nabi yang membawakan Firman Tuhan sebagai pedoman bagi umat manusia dimana mereka menggambarkan pelaksanaannya melalui tindakan mereka sehingga tidak ada keraguan dalam fikiran manusia berkaitan dengan perintah Tuhan. Para Nabi melaksanakan Firman tersebut dan mengajak serta mendorong umatnya untuk melakukan hal yang sama.

Perbedaan di antara Sunah dan Hadits ialah Sunah itu merupakan praktek berkelanjutan yang dimulai oleh Rasulullah s.a.w. Kedudukan Sunah dalam kepastian ajaran adalah kedua setelah Al-Quran. Sebagaimana Rasulullah s.a.w. ditugaskan untuk penyiaran Al-Quran, beliau juga ditugaskan untuk menetapkan Sunahnya. Sebagaimana Al-Quran bersifat penuh kepastian maka begitu juga dengan Sunah yang berkelanjutan. Kedua tugas tersebut dilaksanakan Rasulullah s.a.w. sebagai kewajiban beliau. Sebagai contoh, ketika shalat dijadikan sebagai suatu kewajiban maka Rasulullah s.a.w. memberikan contoh melalui tindakan beliau berapa jumlah rakaat yang harus dilakukan dalam setiap shalat. Dengan cara sama beliau memperagakan pelaksanaan ibadah haji. Beliau mendidik ribuan dari para sahabat tentang praktek pelaksanaan ibadah. Ilustrasi praktek yang bersifat berkesi-nambungan di antara umat Muslim tersebut disebut sebagai Sunah. Hadits merupakan nur pelengkap dan islam menjadi Nur di atas Nur dimana Hadits menjadi bukti kesaksian dari Al-Quran dan Sunah. Dari sekian banyak sekte atau mazhab yang kemudian muncul di antara umat Muslim, sekte yang benar memperoleh manfaat akbar dari Hadits hakiki. Pandangan yang benar ialah jangan memperlakukan Hadits sebagai suatu hal yang lebih berwenang daripada Al-Quran sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Ahl-i-Hadits1 di zaman ini atau lebih memilih pernyataan Hadits yang bertentangan dengan Al-Quran dibanding Al-Quran itu sendiri, tetapi juga jangan menganggap Hadits sebagai suatu yang sia-sia dan dusta sebagaimana keyakinan dari Maulvi Abdullah Chakralvi.

hadist adalah perkataan atau berita atau khabar atau juga cerita. Hadits Rasul adalah suatu perkataan atau berita atau cerita yang dibawa oleh seseorang atau beberapa orang yang mengabarkan tentang Rasul. Baik itu kehidupan beliau, pribadi beliau, perkataan beliau, maklumat beliau, apa-apa yang pernah beliau lakukan, ijtihad beliau, interaksi beliau dengan para shahabat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan beliau. Tadi dijelaskan bahwa hadirt merupakan sebuah cerita dari sahabat jadi bagaimana kita harus terikat dengannya?

Kita hanya terikat dengan Sunnah/proses (baik Sunnatullah maupun Sunnaturrasul)

  • Sunnatullah adalah alur perjalanan hidup dan peradaban manusia, dimana Allahlah yang telah mengatur dan menetapkannya. Alur kehidupan manusia yang tidak pernah akan berubah sepanjang masa.
  • Sunnaturrasul adalah alur perjalanan hidup dan peradaban manusia, dimana tumbuh berkembangnya adalah upaya dan campurtangan manusia. Alur kehidupan yang secara esensi akan berulang dan terus berulang hingga akhir zaman.

Bagaimana sebuah hadits (sebuah berita) itu akan menjadi Sunnah (proses yang wajib dijalankan) bagi kehidupa kita,menjadi sebuahwajan, cetakan, percontohan bagi alur kehidupan kita. Apa yang ada pada diri Rasul dan apa yang pernah beliau katakan dan beliau lakukan pasti ada saja yang mengabarkannya atau menceritakannya kepada orang lain dari kalangan shahabat ataupun shahabiyah. Cara bersisir beliau, cara berpakaian beliau, cara bejalan beliau, cara makan beliau, tidur beliau, canda tawa beliau, apa yang beliau suka dll, pasti ada yang mengabarkannya. (telepas shaheh tidaknya ya?)

Ketika saya menceritakan peri kehidupan atau perkataan dari seseorang yang saya kenal, kemudian orang yang saya kenal menceritakannya kembali kembali kepada orang lain dan begitu seterusnya. Berita atau cerita yang saya bawa hingga sampai kepada orang yang terakhir, inilah dalam bahasa arab dikatakan sebagai hadits. Orang-orang yang membawa khabar berita tersebut inilah yang disebut sebagai perawi (periwayat).

MANUSIA DAN AGAMA

Umat manusia secara umum meyakini adanya Tuhan yang menciptakan alam dan wajib untuk dipuja dan disembah. Keyakinan yang demikian itu merupakan asas dan pokok dari sebuah agama.

Apakah itu agama? Menurut sebagian orang (baca: cendekiawan), agama   adalah sebuah fenomena yang sulit didefinisikan. WC Smith mengatakan, “Tidak berlebihan jika kita katakan bahwa hingga saat ini belum ada definisi agama yang benar dan dapat diterima”. Meski demikian, para cendekiawan besar dunia memiliki definisi, atau yang lebih tepatnya kita sebut dengan kesimpulan mereka tentang fenomena agama. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

a. Sebagian pemikir mengatakan bahwa apa saja yang memiliki tiga ciri khas di bawah ini dapat disebut sebagai agama:

  • Keyakinan bahwa di balik alam materi ini ada alam yang lain
  • Penciptaan alam memiliki tujuan.
  • Alam memiliki konsep etika.

b. Spencer mengatakan bahwa agama adalah kepercayaan akan sesuatu yang Maha mutlak.

c. Dewey menyebutkan agama sebagai pencarian manusia akan cita- cita umum dan abadi meskipun dihadapkan pada tantangan yang dapat mengancam jiwanya; agama adalah pengenalan manusia terhadap kekuatan gaib yang hebat.

Pada semua definisi tersebut di atas,ada satu hal yang menjadi kesepakatan semua, yaitu kepercayaan akan adanya sesuatu yang agung di luar alam. Namun, lepas dari semua definisi yang ada di atas maupun definisi lain yang dikemukakan oleh para pemikir dunia lainnya, kita meyakini bahwa agama adalah kepercayaan akan adanya Tuhan yang menurunkan wahyu kepada para nabi-Nya untuk umat manusia demi kebahagiaannya di dunia dan akhirat. Dari sini, kita bisa menyatakan bahwa agama memiliki tiga bagian yang tidak  terpisah, yaitu akidah (kepercayaan hati), syari’at (perintah-perintah dan larangan Tuhan) dan akhlak (konsep untuk meningkatkan sisi rohani manusia untuk dekat kepada-Nya). Meskipun demikian, tidak bisa kita pungkiri bahwa asas terpenting dari sebuah agama adalah keyakinan akan adanya   Tuhan   yang    harus disembah.

Mengapa manusia dianggap sebagai makhluk yang mulia?

Dalam terminologi Islam, manusia diyakini sebagai makhluk yang selain memiliki sisi hewani yang sarat dengan kebutuhan-kebutuhan   hewani seperti makan, minum, kesenangan jasmani dan semisalnya, layaknya hewan-hewan lain, ia juga memiliki sisi agung yang dapat menghantarkannya menjadi khalifah Allah di muka bumi. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Sisi kedua manusia ini disebut sebagai sisi rohani. Dari sisi rohani ini, kebutuhan manusia adalah ilmu pengetahuan.

Manusia  merasa  berhak untuk mengetahui apa-apa yang ada disekitarnya. la merasa bahwa itu merupakan haknya yang tidak akan pernah ia berikan kepada siapapun dengan harga berapapun juga. Saat mendengar suara ketukan pintu rumahnya atau saat mendengar suara teriakan orang yang  meminta  pertolongan  ia merasa berhak untuk mengetahui siapa yang berada di balik pintu dan apa yang terjadi pada orang yang berteriak tadi. Hal ini terjadi karena manusia diciptakan Tuhan dengan dibekali rasa ingin tahu. Perasaan inilah yang mendorongnya untuk mengetahui realitas yang ada di sekitarnya dan melakukan banyak eksperlmen demi menyingkap tabir misteri yang menyelimuti alam secara umum. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berhasil dicapai oleh umat manusia adalah berkat rasa keingintahuannya ini.

Bagaimana logikanya, membaca Al Qur’an bisa mengobati penyakit hati dan menentramkan jiwa?

Orang yang membaca Al Qur’an juga pada dasarnya sedang melakukan stimulasi berupa resonansi getaran-getaran elektro-magnetik kepada sistem energi tubuh kita. Bila ayat Al Qur’an dibaca berulang-ulang dengan khusyuk dan penuh ketakwaan, akan mampu melahirkan gelombang elektromagnetik yang menggetarkan diri kita dan menenangkan hati kita. Allah berfirman, “Allah telah menurunkan perkataan yang baik (Al Qur’an) yang serupa lagi berulangulang. Bergetar karenanya kulit orangorang yang takut kepada Tuhanya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.”

Hal ini bisa terjadi karena ayat-ayat Al Qur’an pada hakekatnya mengandung energi dahsyat bagi mereka yang mempercayainya. Sebagaimana diinformasikan Al Qur’an sendiri, “Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung gunung dapat diguncangkan atau bumi jadi terbelah atau karenanya oarang orang yang sudah mati dapat bicara ( itulah Al Qur’an). Sebenarnya segala irusan itu adalah kepunyaan Allah.”

Luar biasa dahsyat energi Al Qur’an, bukan hanya mampu berpengaruh pada diri kita, tetapi gunung, bumi dan manusia yang telah meninggal pun bisa distimulasi oleh energi Al Qur’an. Tetapi energi yang hebat itu bisa dimanfaatkan oleh orang orang yang bersih dan terbuka hatinya serta takwa kepada Allah.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

1. Ekonomi Islam

Dalam kehidupan sehari – hari kita sering melihat berbagai transaksi perdagangan, bahkan kita sendiripun sering melakukannya. Transaksi jual beli atau transaksi perdagangan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kita. Kebutuhan kita akan barang dan jasa terus meningkat sedangkan kita sudah tidak mampu lagi untuk mencukupi kebutuhan kita sendiri. Dilain hal, barang yang dihasilkan lebih banyak dan hasil produksi pun berlipat ganda karena kemajuan teknologi, sehingga orang tidak lagi menghasilkan untuk dirinya sendiri tetapi juga memproduksi untuk pasar sehingga muncul transaksi jual beli atau perdaganganAktivitas jual beli bagi umat islam sudah menjadi hal  yang lumrah dan biasa dilakukan sehari-hari. Namun dalam kehidupan sehari-hari kegiatan jual beli ini sudah banyak yang melenceng dari kegiatan jula-beli yang seharusnya terjadi (yang sesuai dengan )ajaran agama islam, sehingga merugikan orang lain. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulis tertarik untuk membuat makalah yang berjudul “Ekonomi Islam”.

2. Politik Islam

Didalam sejarah kemanusiaan, islam telah menyumbangkan sesuatu yang sangat besar yang tidak ternilai harganya, yaitu model Negara yang tiada tandingannya sebelum maupun sesudahnya. Tapi pada kenyataan sekarang ini politik islam mulai menarik diri dan bersikap apatis terhadap perubahan – perubahan yang terjadi didunia. Islam maupun agama – agama lain pura – pura mempertahankan hal – hal masa lalu yang baik, padahal dibalik semua itu, yang ada hanyalah ketidakmampuan mereka membandung arus modernisasi dan globalisasi. Berdasarkan uraian yang telah penulis kemukakan diatas, maka penulis tertarik untuk membuat makalah yang berjudul “Politik Islam”.

Posted: 27/11/2010 in tU9aS kuL...

tugas kuliah…