Kegiatan muzaraah, mukhabarah ,mudharabah dan sirkah

Posted: 27/11/2010 in tU9aS kuL...

Kegiatan muzaraah, mukhabarah ,mudharabah dan sirkah

  1. Muzara’ah

muzara’ah adalah seseorang yang memiliki sawah atau ladang yang menyuruh orang lain menggarap sawah atau ladangnya , yang mana bibitnya berasal dari penggarap.

Kegiatan muzara’ah ini sudah terjadi sejak lama dikarenakan pemilik sawah tidak memiliki cukup waktu untuk menggarap sawahnya, sehingga untuk menggarap sawah yang bersangkutan diserahkan kepada pihak lain.

Kegiatan muzara’ah ini saya amati disekitar tempat tinggal saya yaitu Padang Panjang. Berdasarkan hasil pengamatan saya, sebelum penggarapan sawah dilaksanakan oleh pihak kedua, mereka terlebih dahulu membuat kesepakatan mengenai pembagian hasil, kerugian, pembayaran zakat dan PBB sawahnya.

Berdasarkan hasil pengamatan saya, keuntungan dari sawah tersebut dibagi 3, dengan aturan sepertiga dari hasil panen untuk pemilik sawah, sedangkan dua pertiganya untuk penggarap sawah. Jika terjadi kerugian, maka kerugian tersebut ditanggung oleh kedua belah pihak. Sedangkan masalah zakat dan pembayaran PBB dari sawah yang bersangkutan dibayarkan oleh pemilik sawah.

  1. mukhabarah

Mukabarah adalah orang yang memiliki sawah atau ladang yang menyuruh orang lain menggarap sawah atau ladangnya, yang mana bibitnya berasal dari pemilik sawah.

Kegiatan mukhabarah ini saya amati disekitar tempat tinggal saya. Hal ini terjadi dikarenakan pihak yang memiliki sawah sudah tua dan tidak sanggup lagi menggarap sawahnya sendiri. Karena itulah pihak pemilik sawah menyerahkan penggarapan sawahnya kepada pihak lain yang dipercaya.

Sebelum penggarapan sawah dilakukan oleh orang yang dipercaya pemilik sawah, mereka terlebih dahulu membuat perjanjian yang terkait dengan pembagian hasil, pembayaran zakat, PBB dan masalah jika seandainya terjadi kerugian. Biasanya pada penggarapan sawah yang bibit dan pupuknya berasal dari pemilik sawah, maka hasil panennya dibagi 2. Setengah dari hasil panen untuk pemilik sawah dan setengahnya lagi untuk penggarap sawah. Jika pada saat sawah dipanen diketahui terjadi kerugian, maka kerugian tersebut ditanggung oleh kedua belah pihak. Untuk pembayaran zakat sawah, dibayar oleh kedua belah pihak, sedangkan pembayaran PBB dibayarkan oleh pemilik sawah.

  1. Mudarabah

Mudharabah adalah orang yang memiliki modal meminjamkan modalnya pada pihak lain untuk berdagang.

Kegiatan ini saya amati disekitar tempat tinggal saya, yang mana antara pihak pemilik modal dengan pihak yang meminjam modal masih memiliki hubungan kekerabatan. Pihak yang memiliki modal meminjamkan modalnya pada pihak lain yang bergerak dalam usaha jual beli beras.

Berdasarkan hasil pengamatan saya, antara pihak yang memiliki modal dengan pihak yang menjalankan modal sama – sama bertanggung jawab seandainya terjadi kerugian. Sedangkan keuntung dari usaha tersebut dibagi 3, dengan ketentuan sepertiga untuk yang memiliki modal dan dua pertiganya untuk yang menjalankan modal.

  1. Sirqah

Sirqah adalah kerjasama antara dua orang atau lebih dalam usaha perdagangan, atau disebut juga dengan kongsi dagang.

Kegiatan ini dilakukan orang tua saya dengan para tetangga. Mereka secara bersama – sama membuka koperasi yang menjual barang – barang kebutuhan sehari – hari. Modal untuk membuka koperasi ini bersumber dari pinjaman kelurahan serta dana simpanan wajib dan simpanan sukarela anggota koperasi. Keuntungan dari koperasi konsumsi ini bagi berdasarkan besar kecilnya peranan anggota dalam pengelolaan koperasi dan pemanfaatan jasa koperasi bagi anggotanya. Jika dalam pelaksanaanya terjadi kerugian, maka kerugian tersebut ditanggung oleh semua anggota yang menjadi anggota koperasi.

Jual beli dalam kehidupan sehari – hari

Dalam kehidupan sehari – hari kita sering melihat berbagai transaksi perdagangan, bahkan kita sendiripun sering melakukannya. Transaksi jual beli atau transaksi perdagangan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kita. Kebutuhan kita akan barang dan jasa terus meningkat sedangkan kita sudah tidak mampu lagi untuk mencukupi kebutuhan kita sendiri. Dilain hal, barang yang dihasilkan lebih banyak dan hasil produksi pun berlipat ganda karena kemajuan teknologi, sehingga orang tidak lagi menghasilkan untuk dirinya sendiri tetapi juga memproduksi untuk pasar sehingga muncul transaksi jual beli atau perdagangan.

Contoh – contoh transaksi jual beli dalam kehidupan sehari- hari.

1. Jual beli buah mangga.

Dipasar – pasar tradisional kita sering menjumpai pedagang buah mangga. Mulai dari mangga local sampai mangga luar daerah seperti mangga arummanis. Setiap detik pedagang berusaha menawarka dgangannya kepada calon pembeli. Penjual menggunakan berbagai macam cara untuk menarik hati calon pembeli. Saya sering melihat penjual menawrkan barangnya secara berlebih – lebihan.

Suatu sore dipasar tradisional Bukittinggi saya mengamati seorang pedagang buah mangga. Saya menilai dia melakukan hal – hal yang tidak wajar dalam menawarkan barang dagangannya. Beberapa saat setelah itu saya melihat ada dua orang calon pembeli yang menghampiri pedagang tersebut, pedagang mangga itu berusaha menarik hati pembeli dengan bujuk rayuannya. Saya menilai ia lebih tepat memaksa pembeli dari pada menawarkan dagangannya kepada pembeli. Selang beberapa waktu terjadi tawar menawar harga. Hargayang semula untuk 1 kg mangga adalah 9000 rupiah akhirnya disepakati menjadi 8500 rupiah. Akhirnya saya melihat salah seorang dari calon pembeli mulai memilih buah – buah yang akan dibelinya. Beberapa saat setelah itu pembeli menyerahkan buah pilihannya kepada pedagang untuk ditimbang. Pada saat dia menimbang mangga tersebut pedagang mengganti mangga pilihan pembeli dengan mangga yang lebih kecil dengan alasan  beratnya lebih dari yang diinginkan pembeli. Saya memperhatikan dengan seksama ternyata penjual tidak hanya mengganti satu buah mangga pilhan pembeli tetapi hampir 2/3 mangga pilihan pembeli. Biasanya untuk mangga berukuran besar, 1 kg mangga terdiri dari 3 buah mangga. Akhirnya dalam 1 kg mangga yang dibeli berisi 1 buah mangga pilihan pembeli dan 3 mangga kecil – kecil pilihan penjual.

Saya melihat pembeli menyerahkan uang kertas 10.000 rupiah kepada penjual untuk membayar barang belanjaannya sambil menerima buah mangga yang sudah ditaruh dalam kantong plastic hitam. Saya tidak melihat dan mendengar adanya ijab Kabul antara penjual dan pembeli, yang saya temukan hanya suara teriakan penjual yang menawarkan kembali barang dagangnnya sambil menyerahkan sisa uang kembalian pembeli. Tidak ada jabat tangan sebagai tanda serah terima diantara mereka.

2. Jual beli gorengan.

Ketika jalan sore bersama teman – teman dikos,saya melihat salah seorang penjual gorengan yang sedang melayani pembeli.penjual tersebut mengambilkan sejumlah gorengan sesuai dengan pesanan pembeli. Saya tidak melihat adanya tawar menawar antara penjual dengan pembeli untuk mencapai kesepakatan harga sebelum pembeli memesan gorengan tersebut. Sementara penjual mengambilkan pesanan pembeli, pembeli meletakkan sejumlah uang sesuai dengan harga gorengan yang dipesan diatas meja pemjual. Setelah itu penjual menyerahkan gorengan kepada pembelidan pembeli menerimanya setelah itu langsung pergi. Saya tidak menemukn adanya akad jual beli antara pedagang gorengan dengan pembelinya.

3. Jual beli barang – barang assesoris.

Pada proses jual bali barang  barang assesorisbyang saya lihat, pembeli bebas memilih barang yang diinginkannya kemudian menanyakan harganya kepada penjual. Pada saat itu saya melihat transaksi jual beli gantungan Hp. Pembeli dan penjual melakukan tawar – menawar, lalu satelah harganya disepakati 5000 rupiah, penjual membungkuskan barang yang diinginkan pembeli. Saat itu pembeli menyerahkan uang sebesar 5000 rupiah kepada penjual sambil menerima barang belanjaannya. Setelah mengucapkan treima kasih, pembeli langsung saja pergi tanpa adanya akad jual beli terlebih dahulu.

4. Jual beli buku.

Ditoko buku sari anggrek, pembeli bebas memilih buku yang diinginkannya. Harga buku atau alat tulis yang bersangkutan juga sudah tertera pada barcode buku atau alat – alat tulis tersebut. Setelah pembeli mendapatkan buku atau alat – alat tulis yang dinginkannya, pembeli langsung menuju kasir dan menyerahkan sejumlah uang yang sesuai dengan harga buku atau alat –alat tulis yang diinginkannya. Sebelumnya juga tidak ada tawar menawar barang, dan kasirpun langsung menyerahkan barang setelah pembeli membayarnya. Setelah pembeli megucapkan terima kasih, pembeli langsung meninggalkan toko buku tersebut.

5. Jual beli pulsa (voucher electronic)

pada proes jual beli pulsa kartu pra bayar yang saya amati di simpang jalan RS Stroke Nasional Bukittinggi, saya melihat ada seorang pembeli yang menghampiri counter, setelah itu pembeli memesan pulsa 25.000, penjual meminta pembeli untuk menuliskan no Hp nya pada buku yang telah disediakan penjual. Setelah mengisi buku tersebut penjual menambahkan saldo kartu prabayar pembeli degan jumlah nominal pulsa 25.000. setelah itu penjual meminta pembeli untuk mengecek saldo kartu pra bayar Hp nya. Setelah saldo bertambah sesuai keinginan pembeli baru pembeli tersebut menanyakan harganya kepada penjual, lalu penjual menyebutkan sejumlah harga ( 27.000 rupiah) kemudian pembeli meletakkan uang sejumlah 30.000 rupiah diatas meja penjual sambil memencet – mencet keypad Hp nya. Selang beberapa detik, penjual menyerahkan uang kembaliannya kepada pembeli, pembeli menerima uang kembalian dan mengucapkan terima kasih sambil satu tangannya yang lain sibuk memencet – mencet keypad Hp nya. Pada saat penjual menyerahkan uang kembalian tersebut pembeli sama sekai tidak melihat kearah penjual, pembeli tetap sibuk dengan hp nya.

6. Jual beli barang kebutuhan sehari – hari disupermarket.

Dipasar – pasar swalayan atau supermarket saya tidak melihat adanya penjual yang menawarkan barang dagangannya seperti pada pasar tradisional. Disini barang ditawarkan dngan cara memajangkan barang – barang tersebut ditempat – tempat strategis yang menarik perhatian, yang ada hanya pegawai – pegawai supermarket yang bertugas menjaga keamanan dan kenyamanan pembeli. Pembeli bebas menilih sendiri barang kebutuhan yang diinginkannya dan memasukkannya sendiri kedalam keranjang belanja yang sudah disediakan.tidak ada tawar menawar untuk mencapai kesepakatan harga. Pembeli harus membayar sejumlah harga yang tertulis dalam barcode barang yang dilihnya. Setelah barang yang diinginkan telah diperolehnya lalu pembeli menuju kasir dan menyerahkan sejumlah uang sesuai dengan harga barang – barang yang dipilihnya. Waktu itu harga yang harus dibayarkan oleh pembeli adalah 173.450 rupiah. Pembeli menyerahkan uang sejumlah 175000 kepada kasir. Lalu pihak kasir menyerahkan barang yang dibeli sambil menyerahkan uang kembalian senilai 1500 dan satu biji permen.

POLITIK ISLAM

  1. Pengertian Politik Islam

Dalam kamus besar bahasa Indonesia mengartikan politik sebagai “segala utusan dan tindakan mengenai pemerintahan Negara atau Negara lain”.

M Quraish Shihab mengatakan bahwa dalam Al-Qur’an tidak ditemukan kata yang terbntuk dari akar kat “sasa”-“yasusu”, namun ini tidak berarti bahwa Al-Qur’an tidak menguraikan soal politik. Uraian Al-Qur’an tentang politik secara pintas dapat ditemukan pada ayat – ayat yang berakar kata “hukmi”. Dari akar kata yang sama terbentuk kata hikmah yang pada mulanya berarti kendala.. makna ini sejalan dengan kata “ yasusu” yang berarti kendali.

Disisi lain terdapat persamaan makna antara pengrtian kata hikmah dan politik. Sementara ulama mengartikan hikmah sebagai kebijaksanaan atau kemampuan menangani suatu masalah sehingga mendatangkan manfaat atau menghindarkan mudharat.

M quraish shihab lebih cendrung mengartikan politik sebagai segala urusan dan tindakan berupa kbijakan dan siasat mengenai pemerintahan Negara dan terhadap Negara lain dengan tujuan untuk kemashalatan bersama.

Kekuasaan politik menurut Islam terletak ditangan Allah, artinya Allah adalah penguasa terhadap alam semesta ini.

Firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 18:

Artinya:

“Dan kepunyaan Allhalah kerajaan langit dan bumi serta apa yang terdapat diantara kedunya.

Adapun prinsip-prinsip pokok politik Islam terdapat dalam surat An-Nisa ayat 58-59 yang artinya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada orang yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagi mud n lebih baik akibatnya.

Prinsip pokok dalam politik Islam adalah segala kekuaaan berupa amanat dari Allah. Oleh karena itu masyarakat dituntut untuk memenuhinya. Amanat itu berkaitan dengan banyak hal, seperti berlaku adil terhadap manusia, baik muslim maupun bukan muslim, bahkan mencakup kepada seluruh makhluk.

  1. Prinsip – Prinsip Politik Islam

System politik Islam berdasarkan 3 prinsip, yaitu:

1.            Tauhid

Tauhid berarti mngesakan Allah SWT. Kedaulatan tertinggi hanya pada Nya. Oleh karena itu tak satupun manusia mempunyai hak untuk menentukan maksud dan tujuan hidupnya. Hal ini penuhnya terletak pada Allah SWT. Hanya Allah saja yang berdaulat.

2.            Risalah

Risalah merupakan medium perantara penerimaan manusia terhadap hukum-hukum Allah. Kita sebagai orang yang briman telah menerima dua hal yang harus dijadikan pegangan dalam hidup didunia dan diakhirat. Raulullah telah menegakkn kepada umatnya suatu pola system hidup dengan melaksanakan hukum Islam.

3.            Khalifah

Khalifah berarti perwakilan. Posisi dan tempat manusia dimuka bumi ini adalah dalam posisi khalifah atau wakil Allah. Kalau diperhatikan bahwa yang dinamakan wakil adalah bukan penguasa sesungguhnya. Oleh karena itu yang mengatur seluruh khidupan ini bukan manusia melainkan Allah, dan manusia tinggal melaksanakan aturan-aturan yang telah ditetapkn Allah.

  1. Kontribusi Umat Islam dalam Perpolitikan Nasional

Setelah orde lama hancur wadah politik umat Islam hilang. Islam nampaknya menarik diri dari dunia politik. Manun dengan pembaharuan bangsa ini, umat Islam terlepa dari ikatan yang sempit menuju dunia yang lebih luas. Perjuangan cultural adlah lahan yang sangat luas dibandingkan dunia politik saja.

Pada maa pasca pemrintahan Soeharto memang lahir banyak partai Islam, yang disebabkan prsoalan kekuasaan saja. Islam di Indonesia secara sederhana terdiri atas dua sayap saja, yang terdiri dari tradisionalis dan modernis reformis.

  1. Islam dan Fenomena Global

Perbedaan dalam orientasi cultural telah menyebabkan kultur sekuler mengkritik agama saat ia memasuki ruang public. Sebaliknya kelompok-kelompok keagamaan semakin menegaskan perlunya agama tidak bersikap pasif, dan terpaksa mempergunakan umber-sumber kagamaan dalam memobilisasi para pengikutnya untuk memajukan keadilan social  dan politik ditengah masyarakat.

Banyak peristiwa dalam tiga decade terakhir memperlihatkan bahwa agama punya kontribusi positif dalam mempertahankan kohesi social. Disebagian  Negara, dorongan keagamaan telah berfungsi sebagai salah satu cara yang paling memungkinkan untuk memobilisasi kekuatan social untuk melawan kekuasaan politik Negara otokratik. Lebih dari itu, dengan tidak adanya lembaga demokrasi, institusi-institusi keagamaan menjadi wakil partisipasi public yang terbukti mampu menciptakan rekonsiliasi nasional.

  1. Politics Of Tolerance

Afrika selatan dan bosnia memang bukan contoh Negara agama, tetapi peran agama dalam rekonsiliasi nasional dan pembuatan kebijakan public sangat signifikan. Walaupun mereka dililit persoalan masa lalu yang kelam namun keduanya berhasil mengembangkan politics of tolerance yang mengantarkannya membangun identitas nasional.

Barangkali ini adalah saat yang tepat untuk membongkar konstruk hukum yang cenderung menciptakan batas sektarianisme, dan sebaliknya membangun politics of tolerance. Dalam konteks itu, konstruk semacam ini lahir dari problem dan kebutuhan zamannya, sehingga dirasakan tidak lagi relevan untuk diterapkan sekarang. Sebab batasab sektarianisme dalam bentuk apapun tidak akan bias ditransendenkan, dan justru dapat merumuskan agama sebagai penghalang bagi pengembangan identitas nasional.

Pengamat barat menelusuru sejarah politik Islam dengan menyebut konsep dar al-islam n dar al-hrb ini sebagai akar ideologinya. Bahkan kedua frase ini sering digunakan untuk menjelaskan bangunan normative kebangkitan islam politik yang memposisikan diri vis-à-vis peradapan lain. Padahal,konsep dar-al-islam dan dar-al-harb tidak bisa dilepaskan begitu saja dari konteks historis dan kebutuhan zamannya, dan sama sekali bukan kbutuhan Islam itu sendiri. Karena itu tidak ada alasan untuk khawatir bahwa munculnya komunitas islam transkultural pada akhirnya akan mendominasi dan menguasai komunitas non-Muslimin.

Disadari atau tidak, Islam politik memang belum mampumenjelaskan bagaimana ia bisa tampil diatas panggung politik mutakhir. Sebab, keberadaannya selama ini selalu dirujukkan pada rumusan politik ulama zaman pertengahan. Sepanjang sejarah, islam memang tidak produktif dalam mengelaborasi dimensi politiknya.

Tidak berkembangnya artikulasi diskursif tentang citacita politik Islam menyebabkan miskinnya elaborasi seputar politics of tolerance dalam tradisi Islam. Padahal, politics of tolerance sangatlah krusial bahkan bisa dipandang sebagai prakondisi bagi setiap masyarakat multi religius dan etnik seperti Indonesia.

  1. Respons Agama terhadap Globalisasi

Globalisasi awalnya muncul dalam arena keuangan, perdagangan, dan ekonomi, namun dengan cepat ia meluas melampaui batas cakupannya. Saat ini globalisasi dipandang sebagai sistim atau kecendrungan wordwide yang meliputi keuangan, pertukaran pasar internasional, komunikasi, poltik dan ideology.

Globalosasi bukan sekear istilah baru mengenai hegemoni barat kendati tidak dapat dipungkiri barat memiliki posisi istemewa.

Globalisasi dengan segala dampaknya itu juga akan menyentuh sisi-sisi agama. Sehingga memunculkan banyak kekhawatiran. Yaitu:

    1. globalisasi dipandang sebagai salah satu upaya untuk memperkua model Amerika untuk mencakup seluruh dunia.
    2. dalam perkembangannya, globalisasi akan mnghapuskan batas-bata Negara.

Respon agama terhadap globalisasi:

Dari sudut pandang keagamaan, kehadiran globalisasi tidak selalu brsifat negative. Globalisasi tidak perlu ditolak melainkan perlu disikapi secara arif sebagi suatu tantangan bagi umat beragama.

Pengaruh globalisasi terhadap agama, setidaknya dapat diliht dari munculnya dua respon agama yang tampak berlawanan agama bisa saja merambah dunia global atau justru menentangnya. Yang disebut pertama adalah jalan universalisme: pandangan cultural yang menegaskan bahwa kita semua berada dalam kebersamaan dan kita lebih baik belajar satu sama lain sehingga dapat menjalin bekerjasama. Hal ini dapat mlibatkan ragam cultural yang pada akhirnya mengantarkan umat beragama pada kesatuan kemanusiaan sebagai satu keluarga.

Namun bisa juga muncul kecendrungan sebaliknya. Ideology agama ataupun quasi agama bisa merespon konteks global baru mereka mengasingkan diri (‘uzlah) sembari menekankan bahwa “kami berbeda”.

Fundamentalisme Islam, Kristen, Yahudi, Hindu dan beragam fundamentalisme nasionalis bukanlah agama masa lalu. Sebenarnya mereka lebih mengemukakan ideology-ideologi baru yang pura-pura berupaya mempertahankan hal-hal dari masa lalu yang baik, padahal dibalik semua itu, yang ada hanyalah ketidakmampuan mereka membendung arus modernisasi dan globalisasi.

  1. Agama dan Legitimai Politik

Hingga kini agama diakui memiliki fungsi ganda yakni dengan kaitannya dengan legitimasi kekuasaan dan privilege dan dengan penolakan dan oposisi, dalam fungsi pertama, agama muncul sebagai apologi dan legitimasi status quo dan budaya ketidak adilan: sedangkan dalam fungsi kedua, ia menjadi alat protes, perubahan dan pembebasan.

  1. Hukum Berpolitik Dalam Islam

Politik dalam Islam mempunyai andil yang sangat besar, sehingga dapat dikatakan bahwa Islam sangat menganjurkan adanya politik, karena dengan politik itu sendiri, Islam dapat bertahan dan tersebar dan hal itu dapat dilihat dengan jelas, baik dalam setiap peperangan dan futuhaatnya. Namun dalam perkembangan terakhir, politik dinilai sangat keji dan kotor sehingga tidak heran jika Syekh Muhammad Abduh pernah berkata: ” Auzu billahi min Assiyasah”, dan kemudian oleh para pengikutnya, ungkapan tersebut lebih ditegaskan lagi: “Auzu billahi min Syaitani Assiyasah wa Assasah”.

Politik itu sendiri pernah menjadi polemik antar Imam Syafi’i dengan Ibnu Aqil salah seorang ulama mazhab Hanbali, Ibnu Aqil mengoreksi perkataan imam Syafi’i, “La Siyasata Illa ma wafaqa bihi Assyar’u”, menurutnya bila yang dimaksud Siyasah yang tidak menyalahi prinsip-prinsip agama maka hal itu adalah benar, namun jika yang dimaksud dari kata tersebut hanyalah sebatas apa yang digambarkan oleh islam secara eksplisit maka itu tidak benar. Hal ini menunjukan bahwa setiap prilaku politik dinilai sebagai hal yang benar jika tidak menyalahinilai-nilai yang ada dalam agama.

  1. Islam dan Politik

Sistem yang dibangun oleh Rasulullah Saw dan kaum mukminin yang hidup bersama beliau di Madinah –jika dilihat dari segi praksis dan diukur dengan variabel-variabel politik di era modern– tidak disangsikan lagi dapat dikatakan bahwa sistem itu adalah sistem politik par excellence. Dalam waktu yang sama, juga tidak menghalangi untuk dikatakan bahwa sistem itu adalah sistem religius, jika dilihat dari tujuan-tujuannya, motivasinya, dan fundamental maknawi tempat sistem itu berpijak.

Dengan demikian, suatu sistem dapat menyandang dua karakter itu sekaligus. Karena hakikat Islam yang sempurna merangkum urusan-urusan materi dan ruhani, dan mengurus perbuatan-perbuatan manusia dalam kehidupannya di dunia dan akhirat. Bahkan filsafat umumnya merangkum kedua hal itu, dan tidak mengenal pemisahan antara keduanya, kecuali dari segi perbedaan pandangan. Sedangkan kedua hal itu sendiri, keduanya menyatu dalam kesatuan yang tunggal secara solid; saling beriringan dan tidak mungkin terpisah satu sama lain. Fakta tentang sifat Islam ini amat jelas, sehingga tidak membutuhkan banyak kerja keras untuk mengajukan bukti-bukti. Hal itu telah didukung oleh fakta-fakta sejarah, dan menjadi keyakinan kaum Muslimin sepanjang sejarah yang telah lewat. Namun demikian, ada sebagian umat Islam sendiri, yang mengklaim diri mereka sebagai ‘kalangan pembaru’. Mereka mengklaim bahwa Islam hanyalah sekadar ‘dakwah agama’ maksud mereka adalah, Islam hanyalah sekadar keyakinan atau hubungan ruhani antara individu dengan Rabb-nya. Dan dengan demikian tidak memiliki hubungan sama sekali dengan urusan-urusan yang kita namakan sebagai urusan materi dalam kehidupan dunia ini. Di antara urusan-urusan ini adalah: masalah-masalah peperangan dan harta, dan yang paling utama adalah masalah politik. Di antara perkataan mereka adalah: “agama adalah satu hal, dan politik adalah hal lain”.

Untuk mengcounter nya ada beberapa pendapat orientalis dalam masalah ini Di antara pendapat-pendapat para orientalis itu adalah sebagai berikut:

1.             Dr. V. Fitzgerald berkata: “Islam bukanlah semata agama (a religion), namun ia juga merupakan sebuah sistem politik (a political system). Meskipun pada dekade-dekade terakhir ada beberapa kalangan dari umat Islam, yang mengklaim diri mereka sebagai kalangan ‘modernis’, yang berusaha memisahkan kedua sisi itu, namun seluruh gugusan pemikiran Islam dibangun di atas fundamental bahwa kedua sisi itu saling bergandengan dengan selaras, yang tidak dapat dapat dipisahkan satu sama lain”.

2.             Prof. C. A. Nallino berkata: “Muhammad telah membangun dalam waktu bersamaan: agama (a religion) dan negara (a state). Dan batas-batas teritorial negara yang ia bangun itu terus terjaga sepanjang hayatnya”.

3.             Dr. Schacht berkata: ” Islam lebih dari sekadar agama: ia juga mencerminkan teori-teori perundang-undangan dan politik. Dalam ungkapan yang lebih sederhana, ia merupakan sistem peradaban yang lengkap, yang mencakup agama dan negara secara bersamaan”.

4.             Prof. R. Strothmann berkata: “Islam adalah suatu fenomena agama dan politik. Karena pembangunnya adalah seorang Nabi, yang juga seorang politikus yang bijaksana, atau “negarawan”.

5.             Prof D.B. Macdonald berkata  “Di sini (di Madinah) dibangun negara Islam yang pertama, dan diletakkan prinsip-prinsip utama undang-undang Islam”.

6.             Sir. T. Arnold berkata : ” Adalah Nabi, pada waktu yang sama, seorang kepala agama dan kepala negara”.

7.             Prof. Gibb berkata : “Dengan demikian, jelaslah bahwa Islam bukanlah sekadar kepercayaan agama individual, namun ia meniscayakan berdirinya suatu bangun masyarakat yang independen. Ia mempunyai metode tersendiri dalam sistem kepemerintahan, perundang-undangan dan institusi”.

Sumbangan Islam tatkala gelapnya politik dunia

Di dalam seluruh sejarah kemanusiaan, Islam telah menyumbangkan sesuatu yang sangat besar yang tidak ternilai harganya iaitu “model negara” yang tiada tandingannya sebelum maupun sesudahnya. Negara yang merupakan model itu dinamakan sebagai “Negara Islam” (Daulah Islamiyah). Harus diakui bahwa dunia sudah menerima berbagai sifat atau bentuk negara, baik di dalam praktikal maupun masih merupakan teoritis.

Negara Islam adalah suatu Negara Ketuhanan, di mana firman  Allah menjadi dasarnya dan suara rakyat (musyawarah) berkuasa. Justru, firman Allah (Fox Dei) dan ajaran Nabi (Fox Prophetae) bergabung dengan suara rakyat (Fox Popule) menjadi kekuasaan yang tertinggi di dalam negara. Penggunaan konsepsi atau prinsip ini telah dilakukan oleh Prof H. A.R. Gibb, namun bukanlah di dalam bidang politik sebaliknya di dalam bidang hukum.

Penggabungan ketiga dasar di atas (firman Allah, sabda Nabi dan suara rakyat) merupakan suatu keistimewaan di dalam politik yang tidak ada taranya dalam sejarah. Bahkan, Sir Thomas Arnold, Henry Osborn Taylor dan Goldziher sangat mengagumi bentuk dan sifat Negara Islam yang tersendiri. Dengan menggunakan istilah ‘khalifah‘ dalam pemerintahan negara Islam, Sir Thomas Arnold pernah membuat perbandingan antara negara Islam dengan kerajaan Paus.[2] Walaupun, kedua-duanya mempunyai dasar yang sama iaitu Ketuhanan tetapi kerajaan Paus merupakan kesinambungan daripada pemerintahan imperial Rom. Sedangkan, pemerintahan khalifah dalam Islam adalah suatu corak yang original  yang belum ada contoh sebelumnya, baik di tanah Arab maupun di daerah-daerah lain yang sudah terlebih dahulu maju seperti Yunani, Romawi, Mesir dan Parsi.

Inilah sumbangan yang sangat berharga dari Islam yang dipersembahkannya di dalam sejarah manusia. Suatu negara yang berdasarkan Ketuhanan, di mana suara rakyat memegang kekuasaan. Negara model inilah yang dilanjutkan oleh umat Islam, sama ada oleh para sahabat maupun pengikut agama Islam hingga zaman kini. Negara Islam  model terbaik dalam berbagai sifat dan bentuk negara di dunia. Di samping itu, Negara Islam juga merupakan ‘modal’ bagi umat Islam untuk menyumbangkan segala kepandaian dan kesanggupan mereka di dalam dunia politik baik secara teori maupun praktis.

Kesimpulan

  1. ekonomi islam

Perekonomian sebagai salah satu sendi kehidupan yang penting bagi manusia, oleh al-Qur’an telah diatur sedemikian rupa. Riba secara tegas telah dilarang karena merupakan salah satu sumber labilitas perekonomian dunia. Al-Qur’an menggambarkannya sebagai orang yang tidak dapat berdiri tegak melainkan secara limbung bagai orang yang kemasukan syaithan.
Hal terpenting dari semua itu adalah bahwa kita harus dapat mengembalikan fungsi asli uang yaitu sebagai alat tukar / jual-beli. Memperlakukan uang sebagai komoditi dengan cara memungut bunga adalah sebuah dosa besar, dan orang-orang yang tetap mengambil riba setelah tiba larangan Allah, diancam akan dimasukkan ke neraka (Qs.al-Baqarah:275). Berdirinya Bank Muamalat Indonesia merupakan salah satu contoh tantangan untuk membuktikan suatu pendapat bahwa konsepsi Islam dalam bidang moneter dapat menjadi konsep alternative

  1. politik islam

negara Islam terlahirkan dalam keadaan yang amat jelas. Dan pembentukannya terjadi dalam tatapan sejarah yang jernih. Karena Tidak ada satu tindakan yang dikatakan sebagai tindakan politik atau kenegaraan, kecuali dilakukan oleh negara Islam yang baru tumbuh ini. Seperti Penyiapan perangkat untuk mewujudkan keadilan, menyusun kekuatan pertahanan, mengadakan pendidikan, menarik pungutan harta, mengikat perjanjian atau mengirim utusan-utusan ke luar negeri

EKONOMI ISLAM

A. KONDISI EKONOMI UMAT MANUSIA

Islam sebagai suatu agama mempunyai caranya sendiri dalam mengorganisir berbagai kehidupan penganutnya, baik individu maupun masyarakat.

Tetapi sekarang hamppir semua Negara – nagara islam yan mayoritas penduduknya beragama islam, kehidupan ekonominya tidak dikelola secara Islami, tapi cendrung memakai system ekonomi kapitalis yang mengekor kepada kehendak Negara – negara kaya melalui institusi ysng dikemdalikan oleh Negara barat. Akibatnya kemakmuran dan kedamaian itu hanya dinikmati ole sekeompok minoritas saja, sedangkan jumlah rakyat miskin semakin bertambah, yang akhirnya menjadi masalah besar.

B. SISTEM EKONOMI ISLAM DAN KESEJAHTERAAN UMAT

1. Tujuan ekonomi islam

Tujuan ekonomi islam dirumuskan sebagai berikut:

a.         Mewujudkan peri kehidupan umat manusia yang makmur dam selalu dalam taraf yang lebih maju, dengan jalan melaksanakan produksi barang dan jasa dalam kualitas dan kuantitas yang cukup, guna memenuhi kebutuhan spiritual, dalam rangka menumbuhkan kesejahteraan duniawi maupun ukhrawi secara serasi dan seimbang.

b.        Mewujudkan peri kehidupan ekonmi umat manusia yang adil dan merata, dengan jalan melaksanakan distribusi barang, jasa, kesempatan, kekuasaan dan pendapatan masyarakat dengan jujur dan terarah dan selalu menungkatkan taraf keadilan dan pemerataannya.

c.         Mewujudkan perikehidupan ekonomi umat manusia yang stabil dengan jalan menghindari dari gangguan – gangguan inflasi dan gepresi maupun stagnasi, namun tidak menghambat laju pertumbuhan ekonomi masyarakat yang membawa kearah kegoncangan ekonomi.

d.        Mewujudkan perikehidupan ekonomi yang serasi, bersatu, damai dan maju, dalam suasana kekeluargaan sesama umat, dengan jalan menghilangkan nafsu untuk menguasai, menumpuk harta ataupun sikap – sikap lemah terhadap gejala – gejala yang negatif.

e.         Mewujudkan perikehidupan ekonomi yang relative menjamin kemerdekaan, baik dalam memilih jenis barang dan jasa, memilih system dan organisasi produksi, maupun memilih system produksi, sehingga tingkat partisipasi masyarakat dapat dikerahkan secara maksimal, denan meniadakan penguasaan lebih dari sekelompokmasyarakat ekonomi, serta menumbuhkan sikap – sikap keberamaan (solidaritas).

f.         Mewujudkan perikehidupan ekonomi yang tidak menimbulkan kerusakan dibumi, sehingga kelestarian alam dapat dijaga sebaik – baiknya, baik alam fisik, social, cultural, maupun spiritual keagamaan.

g.        Mewujudkan perikehidupan ekonomi untuk umat manusia yang relative mandiri tanp adanya ketegantungan yang berlebihan dari kelompok – kelompok masyarakat lain.

2. Prinsip ekonomi islam

Kamaruddin hidayat, dkk. (2000: 26) menamakan prinsip ekonomi islam dengan prinsip laba versus zakat. Artinya prinsip ekonomi yang didasarkan atas konsep keTuhanan secara fungsinal. Maksudnya, hal yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi ditetrapkan berdasarkan aturan Allah dalam Alqur’an sebagai mana yang dicontohkan Rasulullah. Diantara prinsip – prinsip tersebet adalah:

a.         Alam ini mutlak milik Allah.

Firman Allah dalam surat Thaha, (20 : 6)

Artinya:

“kepunyaan_Nya lah semua yang ada dilangit, semua yang dibumi, semua yang ada diantara keduanya dan semua yang dibawah tanah”.

Firman Allah dalam surat Al-maidah, (5:120)

Artinya:

“kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada didalamnya dan dia Maha kuasa atas segala sesuatu”.

b.        Alam merupakan karunia Allah yang diperuntukkan bagi manusia.

Firman Allah dalam Alqur’an surat luqman ayat 31.

Artinya:

“tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang ada dilangit dan dibumi dan menyempurnakan untukmu nikmat Nya lahir dan bathin. Dn diantara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang menberi penerangan”.

c.         Alam karunia Allah ini untuk dinikmati dan dimanfaatkan dengan tidak melampaui batas – batas ketentuan.

Firman Allah dalam surat Al-a’raf ayat 31

Artinya:

“hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap memasuki masjid, makam dan minumlah dan janganlah berlebih – lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih – lebihan”.

d.        Hak milik perseorangan diakui sebagai hasil jerih payah, usha yang halah dan nyata boleh dipergunakan untuk hal – hal yang halal pula.

e.         Didalam harta orang kaya itu terdapat hak orang miskin, fakir dan lain sebagainya.

Firman allah dalam surat al-isra ayat 26

Artinya:

“dan berikanlah kepada keluarga – keluarga yang dekat hak nya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur – hamburkan (hartamu) secara boros”.

3. Masalah pokok ekonomi

Menurut kamariddin Hidayat dkk, masalah ekonomi pada umumnya mencakup:

a.         Jenis barang dan jasa yang dihasilkan

Barang dan jasa yang dihasilkan haruslah barang dan jasa yang tidak dilarang oleh agama, seperti barang konsumsi yang diharamkan (misalnya minuman keras, jasa hiburan yang melanggar kesusilaan). Barang dan modal yang digunakan hendaknya juga modal yang tidak dipergunakan ntu menghasilkan barang – barang haram.

b.        System organisasi produksi barang dan jasa

Islam pada dasarnya menganut system organisasi produksi yang relative menjamin kebebasan. Karena hak milik pribadi diakui dalam islam,mak a islam mengakui pula pemilikan factor – factor produksi pada pribadi – pribadi.bahkan pada dasarnya, islam mengizinkan orang ataupun perserikatan orang (individu atau lembaga usaha), untuk mengorgnisasikan factor – factor produksi dalam usaha menaikkan nilai barang atau jasa, gunamemenuhi kebutuhan masyarakat dengan tujuan mencapai laba. Laba yang wajar adalah halal dalam islam.Islam meghendaki harga dari factor – factor produksi tersebut terbentuk secara adil.

c.         System distribusi yang dipakai

Islam mengakui adanya lembaga perdagangan sebagai system distribusi barang dan jasa dengan menggunakan alat ukur berupa uang. Namun perdagangan ini harus dilaksanakan dengan menganut asas keadilan.

Asas keadilan, pembagian kesejahteraan diantara kelompok masyarakat terdapat juga kewajiban zakat.pemerataan dalam memperoleh pendapatan tercermin dalam prinsip larangan ntuk menarik laba secara eksploitatif,larangan untuk membayar upah terlalu rendah dan larangan untuk menetapkan harga terlalu tinggi. Zakat fitrah sebenarnya juga mekanisme ekonomi yang dilakukan secara social. Zakat perniagaan merupakan instrumenekonomi yang penting dalam mengatasi gejala inflasi dan depresi.

d.        Pencapaian tingkat efisiansi

Pembagian kerja dan spesialisasi diizinkan dalam islam. Pembagian kerja dalam pembagian bidang produksi dan distribusi menurut beberapa ulama merupakan fardhu kifayah.

e.         Pencegahan inflasi dan depresi

Inflasi adalah kemerosotan nilai mata uang (kertas) karena banyak atau cepatnya mata uang (kertas) beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang- barang.

Melonjaknya permintaan dapat diakibatkan oleh pola konsumsi masyarakat yang konsumtif, yaitu adanya tambahan pendapatan yang selalu diikuti leh tambahan konsumsi yang tinggi.

Tingkahlaku yang membawa akibat inflasi ini tidak hanya tingkah laku kelompo masyarakat yang boros. Tetapi juga tingkah laku penanam modal yang terlampau agresif disaat inflasi. Invertor dapat menjadi agresif bila kentngan yang diharapkan dapat melebihi “bunga” yang harus dibayar oleh kelompo peminjam modal. Jadi bunga yang diizinkan dapat menumbuhkan ekspansi moneter.karena itu Ilam melarang “riba’, maka ekspansi moneter pun dapat dicegah. Dilihat dari teori moneter barat dalam perekonomian islam, penanaman modal dalam rekan usaha tertentu selalu didasarkan pada pembagian keuntungan yang ail. Dengan pmbagian keuntungan antara anggota syarikat dagang, maka biaya modal selalu dalam keadaan seimbang dengan keuntungan. Disamping itu dengan adanya kewajiban membayar zakat maka ekspansi investasi yang berlebihan dapat diperlunak.

Depresi merupakan kebalikan dari inflasi yang terjadi pada saat resesi. Karena barang yang kurang laku sehingga harga barang diturunkan yang mengakibatkan banyak pengangguran. Oleh krena itu perputaran uang dala prinsip ekonomi islam harus mutlak dilakukan. Pola perputarannya dapat ditemph denngan berbagai cara:

1)      Perputaran dilakukan langsung oleh pemilik. Pola ini palingefektif karena dapat menyerap tenaga kerja, yang berarti pengurangan tingkat penganguran. Ini berarti pemilik uang harus menjadi pengusaha. Persoalannya adalah tidak semua orang punya uang berbakat menjadi pengusaha.

2)      Perputaran uang dilakukan melalui orang lain yang tidak punya usaha, dengan pola bgi keuntungan dan kerugian. Untuk dapat terwujudnya pola ini, yang punya uang sebaiknya juga mengerti pola usaha tempat ia menitipkan uangnya. Jika perlu, yang punya uang menempatkan orang yang dipercayainya masuk dalam perusahaan itu. Persoalannya ialah sejauh mana orang yang dititipkan itu tidak berkhianat terhadap pemilik uang.

3)      Peputaran yang dilakukan secara berantai oleh lembaga keuangan yang netral, yang dikenal dengan lembaga keuangan atau perbankan. Lembaga keuangan atau perbankan menitipkn lagi pada badab usaha lain yang credible dengan syarat – syarat tertentu. Syarat yang uatama adalah dengan membayar bunga pinjaman. Persoalannya adalah apakah bunganya dianggap riba atau perdagangannya yang termasuk riba atau bukan.

4)      Perputaran yang dilakukan dengan jual beli saham.

5)      Perputaran yang dilakukan dengan jual bli barang yang pembayarannya dilakukan hari ini.

f.         Ikhtiar pencegahan in efisiensi

Keadaan – keadaan monopoli atau oligopoli sering tidak dikehendaki karena keadaan ini menghambat tercapainya kseimbangan perekonomian dalam titik pemakaian factor produksi dalam kualitas penuh. Wujuddari in efisiensi dalam keadaan monopolistic dan oligipolistik yang dirasakan masyarakat adalah tingginyatingkat harga jual bagi konsumen.

4. Pemanfaatan sumber daya alam

Dalam pengelolaan sumberdaya alam hendaklah dengan keahlian, dengan kemampuan structural dan dengan manajemen yang baik, agar tercapai efisiensi secara maksimal, sehingga hasilnya dapat meningkatkan kesejahteraan hidup umat manusia.

Pengolahan sumber daya alam haruslah dengan cara–cara yang baik dan halal, dijaga kelestariannya dan keseimbangannya agar lingkungan alam tidak rusak.

5. Proses produksi

a.         Modal

Modal adalah hasil produksi untuk memproduksi selanjutnya atau salah satu hasil produksi dari sebagian kekayaan yang dipergunakan untuk memproduksi selanjutnya.

Kedudukn moal dalam islam adalah nomor 3 setelah manusia dan alam. Oleh sebab itu, bukanlh hidup manusia itu dikorbankan untuk kepentingan modal, tetapi modal untuk kepentingan umat manusia. Modal itu diharapkan berada dan dipertahankan, tidak mengganggu yang pada gilirannya dapat membawa kesejahteraan umat.

Penggunaan modal diharamkan untuk menghasilkan riba, produksi atau kekayaan, baik brupa benda maupun jasa, dan lapangan usahanya harus halal.

Syariaat islam membolahkan pemilik modal mengerahkan modalnya kepada orang lain yang cakap dan berpengalaman (Qiradh) ataupun dalam bentuk kongsi (mudharabah) dengan syarat kedua belah pihak ataupun yang bersekutu memakai system “takafful” yaitu keuntungan dan kerugian dibagi atau ditanggung sesuai dengan kesepakatan.

b.        Alat produksi

Dalam memproduksi sesuatu diperlukan alat produksi yang semakin hari semakin tinggi kualitasnya shingga hasil produksi semakin meningkat, dan kesejahteraan semakin dirasakan umat.

Tentang penggunaan teknologi dalam kegiatan produksi, petunjuknya adalah hadist Rasulullah Saw yaitu:

“kamu lebih mengetahui tentang (cara-cara) urusan dirimu”.

Dengan ditemukannya mesin produksi atau alat tertentu, maka sejak itu muncullah meknisme yang semuanya dikendalikan oleh mekanik sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing. Disatu pihak dapat meningkatkan produktifitas, keahlian spesialis, efisiensi an efektifitas termasuk penggunaan tenaga kerja, namun pihak lain muncullah masalah yang berupa peningkatan jumlah pengangguran. Untuk itulah diperlukan “akhlak” yang dengannya nasib orang banyak dipertimbangkan untuk dicarikn solusinya.

6. Perdagangan dan jual beli.

a. Pengertian jual beli.

Jual beli artinya menjual, mengganti dan menukar (sesuatu dengan sesuatu yang lain).

Secara etimologi jual beli berarti:

Ø  Menurut hanafiah, saling menukar harta dengan harta tertentu. Atau tukar menukar sesuatu yang diingini dengan yang sepadan melalui cara tertentu yang bermanfaat.

Ø  Menurut annawawi, jual beli berarti saling menukar harta dengan harta atas dasar suka sama suka.

Ø  menurutAbu Qudamah, jual beli berarti saling tukar menukar harta dalam bentuk pemindahan milik dan pemilikan.

b. Dasar hukum jual beli

Jual beli sebagai srana tolong menolong antar umat manusia mempunyai landasan yang kuat dalam islam.

Dalam Al-Qur’an surat Albaqarah ayat 275 Allah berfirman:

Artinya:

“….padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba….”

Qur’an surat Albaqarah ayat 198:

Artinya:

“tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki  hasil perniagaan) dari Tuhanmu….

Qur’an surat Annisa ayat 29

Artinya:

“…..kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka  diantara kamu…”

Qur’an surat Albaqarah ayat 282

Artinya:

“dan persaksikanlah, apabila kamu berjual beli….”

Sabda Rasulullah

“nabi Muhammad SAW pernah ditanya: apakah profesi yang paling baik? Rasulullah menjawab: “usaha tangan manusia sendiri dan seperti jual beli yang diberkati”. (HR. Al-Barzaar dan Al-Hakim)

sabda Rasulullah

“pedagang yang jujur dan terpercaya sejajar (tempatnya di sorga) dengan para nabi,siddiqin dan Syuhada”. (HR. Tirmizi)

c. Hukum jual beli

Jual beli itu hukumnya mubah atau boleh. Namun menurut Imam Maliki hukumnya bias berubah menjadi  wajib dalam situasi tertentu. Misalnya jika terjadi praktek penimbunan barang.

d. Rukun dan syarat jual beli

Jual beli merupakan suatu akad dan dipandang sah setelah memenuhi rukun dan syarat jual beli.

Rukun dan syarat jual beli menurut beberapa ulama:

Menurut mahzab Hanafi rukun jual beli hanya ada ijab dan Kabul. Karena menurut mereka yang menjadi rukun dalam jual beli itu hanyalah kerelaan kedua belah pihak untuk berjual beli. Kerelaan hati ini dapat diwujudkan dalam bentuk perkataan atau dalam bentuk perbuatan.

Menurut jumhur ulama rukun jual beli ada empat, yaitu:

1.      orang yang berakad (penjual dan pembeli)

2.      sighat (lafal ijab dan Kabul)

3.      ada barang yang dibeli

4.      ada nilai tukar pengganti barang.

Menurut mahzab Hanafi, orang yang berakad, barang yang dibeli dan nilai tukar barang termasuk syarat jual beli, bukan rukun

e. Permasalahan dalam dalam jual beli

Permasalahan – permasalahan dalam jual beli diantaranya:

1.      barang yang dijual itu bukan milik penjual (barang titipan, jaminan hutang, barang curuian)

2.      sesuai perjanjian, barang tersebut harus diserahka kerumah pembeli pada waktu tertentu, tapi ternyata barang tidak diantarkan dan tidak tepat waktu.

3.      barang tersebut rusak sebelum sampai ketangan pembeli.

4.      barang tersebut tidak sesuai dengan contoh yang telah disepakati.

Dalam kasus – kasus seperti ini, risikonya adalah ganti rugi dari pihak yang lalai.

f. Bentuk – bentuk jual beli

Makhzab Hanafi membagi jual beli dari segi sah atau tidaknya menjadi tiga bentuk:

1. jual beli yang shahih

apabila jual beli itu disyariatkan, memenuhi rukun atau syarat yang ditentukan, barang itu  bukan hak milik orang lain, dan tidak terikat dengan khiar lagi, maka jual beli itu shahih dan mengikat kedua belah pihak.

2. jual beli yang bathil

apabila jual beli itu salah satu atau seluruh rukunnya tidak terpenuhi, atau jual beli itu pada dasarnya dan sifatnya tidak disyariatkan, maka jual beli itu bathil.

Jual beli yang bathil itu sebagai berikut:

a)          jual beli Sesutu yang tidak ada.

b)          Menjual barang yang tidak dapat diserahkan.

c)          Jual beli yang mengandung unsure tipuan.

d)         Jual beli benda najis

e)          Jual beli al-‘urbun

f)           Memperjual belikan air sungai, aiar danau, air laut dan air yang tidak boleh dimiliki seseorang.

3. jual beli yang fasid

menurut mahzab Hanafi, jual beli yang fasid adalah sebagai berikutp;

a)          jual beli al-majhl yaitu benda yang secara global tidak diketahui, dengan syarat ketidak jelasannya itu bersifat menyeluruh.

b)          Jual beli yang dikaitkan dengan sesuatu syarat, seperti ucapan penjual kepada pembeli: “saya jual mobil saya ini kepada anda bulan depan setelah mendapat gaji”

c)          Menjual barang yang ghaib yang tidak dapat diketahui pada saat jual beli berlangsung, sehingga tidak dapat dilihat oleh pembeli.

d)         Jual beli yang dilakukan orang buta.

e)          Barter barang dengan barang yang diharamkan

f)           Jual beli al-ajl

g)          Jual beli anggur untuk tujuan membuat khamar

h)          Jual beli yang bergantung kepada syarat.

i)            Jual beli sebagian barang yang tidak dapat dipisahkan dari satuannya.

j)            Jual beli buah-buahan atau padi-padian yang belum sempurna matangnya untuk dipanen.

7. Muzaara’ah

a)          Pengertian muzaraah

Kerjasama antara dua belah pihak, yaitu pemilik tanah dengan pengelola tanah dimana pemilik tanah yang menyediakan bibit nya.

b)          Rukun muzaraah

Menurut pendapat ulama rukun yaitu:

Ø  Pemilik lahan

Ø  Petani penggarap (pengelola)

Ø  Objek muzaraah yaitu antara manfaat lahan dan hasil kerja pengelola

Ø  Ijab dan kabul

c).    Syarat – syarat muzaraah

Ø  Syarat yang berkaitan dengan orang yang melakukan akad, harus balig dan berakal, agar mereka dapat bertindak ata nama hokum.

Ø  Syarat yang berkaitan dengan benih yang akan ditanam harus jelas dan menghasilkan

Ø  Syarat yang berkaitan dengan lahan pertanian

§   Menurut adat dan kebiasaan dikalangan petani, lahan itu bias diolah dan menghasilkan. Sebab ada tanaman yang tidak cocok ditanami didaerah tertentu.

§   Batas – batas lahan itu jelas.

§   Lahan itu diserahkan sepenuhnya kepada petani untuk diolah dan pemilik lahan tidak boleh ikut campur tangan untuk mengolahnya.

Ø  Syarat yangberkaitan dengan hasil

§   Pembagian hasil panen harus jelas

§   Hasil panen itu benar – benar milik bersama orang yang berakad tanpa ada pengkhususan

Ø  Syarat yang berhubungan dengan objek akad juga harus jelaspemanfaatan benihnya, pupuknya dan obatnya seperti yang berlaku didaerah setempat.

d)         Akibat akad muzaraah

Apabila akad telah melebihi rukun dan syarat, maka akibat hukumnya adalah:

Ø   Petani bertanggung jawab mengeluarkan biaya benih dan pemeliharaan pertanian tersebut.

Ø   Biaya pertanian seperti pupuk, biaya perairan, serta biaya pembersihan tanaman, ditanggung oleh petani dan pemilik lahan sesuai dengan persentase masing – masing.

Ø   Hasil penen dibagi sesuai dngan kesepakatan bersama.

Ø   Pengairan dilaksanakan sesuai dngan kesepakatan bersama dan apabila tidak ada kesepakatan, berlaku kebiasaan didaerah masing – masing.

Ø   Apabila salah seorang meninggal sebelum panen, maka akad dapat berlaku sampai panen dan yang meninggal diwakili oleh ahli warisnya. Lebih lanjut akad itu dapt dipertimbangkan oleh ahli waris, apakah akan diteruskan atau tidak.

e)          Akad muzaraah berakhir

Suatu akad muzara’ah berakhir apabila:

Ø   Jangka waktu yang disepakati sudah berakhir. Namun apabila jangka waktunya sudah berakhir tetapi panen belum dilaksanakan maka ditunggu sampai panen selesai walaupun sudah jatuh tempo.

Ø   Apabila salah seorang wafat, maka akad muzara’ah berakhir. Tetapi menurut imim maliki dan syafi’I berpendapat bahwa akad itu tidak berakhirdan dapat diteruskan oleh walinya.

Ø   Ada uzur salah satu pihak yang menyebabkan mereka tidak dapat melanjutkan akad muzaraah.seperti pemilik lahan tersebut terlibat hutang sehingga lahan itu harus dijual.a

Perbedaan Hadits dan Sunnah

1. Pengertian as-Sunnah

a.     Sunnah menurut bahasa berarti : “Jalan dan kebiasaan yang baik atau yang jelak”. Menurut M.T.Hasbi Ash Shiddieqy, pengertian sunnah ditinjau dari sudut bahasa (lughat) bermakna jalan yang dijalani, terpuji, atau tidak. Sesuai tradisi yang sudah dibiasakan, dinamai sunnah, walaupun tidak baik.

b.     Berkaitan dengan pengertian sunnah ditinjau dari sudut bahasa, perhatikan sabda Rasulullah SAW, sebagai berikut :

“Barang siapa mengadakan sesuatu sunnah (jalan) yang baik, maka baginya pahala Sunnah itu dan pahala orang lain yang mengerjakan hingga hari kiamat. Dan barang siapa mengerjakan sesuatu sunnah yang buruk, maka atasnya dosa membuat sunnah buruk itu dan dosa orang yang mengerjakannya hingga hari kiamat” (H.R. Al-Bukhary dan Muslim).

c.     Sedangkan, Sunnah menurut istilah muhadditsin (ahli-ahli hadits) ialah segala yang dinukilkan dari Nabi SAW., baik berupa perkataan, perbuatan, maupun berupa taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup baik yang demikian itu sebelum Nabi SAW., dibangkitkan menjadi Rasul, maupun sesudahnya. Menurut Fazlur Rahman, sunnah adalah praktek aktual yang karena telah lama ditegakkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya memperoleh status normatif dan menjadi sunnah. Sunnah adalah sebuah konsep perilaku, maka sesuatu yang secara aktual dipraktekkan masyarakat untuk waktu yang cukup lama tidak hanya dipandang sebagai praktek yang aktual tetapi juga sebagai praktek yang normatif dari masyarakat tersebut.

Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas, kata sunnah menurut sebagian ulama sama dengan kata hadits. “Ulama yang mendefinisikan sunnah sebagaimana di atas, mereka memandang diri Rasul SAW., sebagai uswatun hasanah atau qudwah (contoh atau teladan) yang paling sempurna, bukan sebagai sumber hukum. Olah karena itu, mereka menerima dan meriwayatkannya secara utuh segala berita yang diterima tentang diri Rasul SAW., tanpa membedakan apakah (yang diberitakan itu) isinya berkaitan dengan penetapan hukum syara’ atau tidak. Begitu juga mereka tidak melakukan pemilihan untuk keperluan tersebut, apabila ucapan atau perbuatannya itu dilakukan sebelum diutus menjadi Rasul SAW., atau sesudahnya.

2.     pengertian hadist

a.     Hadist yaitu riwayat atau kisah yang dikompilasi dari pernyataan berbagai perawi kurang lebih sekitar satu abad setengah setelah Rasulullah s.a.w.

b.     Pengertian Hadist secara literal berarti perkataan atau percakapan. Dalam terminologi Islam perkataan dimaksud adalah perkataan dari Nabi Muhammad SAW. Namun sering kali kata ini mengalami perluasan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah sehingga berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al Qur’an.

3.     perbedaan sunnah rasul dengan hadist

Sunnah dewasa ini dipahami oleh sebagian besar umat islam dengan hadits Rasul yang shakheh. Padahal dari segi bahasa saja khan sudah jauh dan sangat berbeda. Sunnah khan artinya jalan atau proses atau ketetapan. Sementara hadits artinya perkataan atau berita atau khabar atau juga cerita.

praktek kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. yang disebut sebagai Sunnah.. Hadits berbeda dengan yang dikenal sebagai Sunah. Yang dimaksud dengan Sunah adalah praktek kebiasaan yang dilakukan Rasulullah s.a.w. yang kita ikuti dan muncul bersamaan dengan Al-Quran dan berjalan paralel. Dengan kata lain, Al-Quran adalah Firman dari Allah yang Maha Kuasa, sedangkan Sunah adalah tindakan Rasulullah s.a.w.  Sudah menjadi Sunatullah (kebiasaan bagi Allah s.w.t.) bahwa para Nabi yang membawakan Firman Tuhan sebagai pedoman bagi umat manusia dimana mereka menggambarkan pelaksanaannya melalui tindakan mereka sehingga tidak ada keraguan dalam fikiran manusia berkaitan dengan perintah Tuhan. Para Nabi melaksanakan Firman tersebut dan mengajak serta mendorong umatnya untuk melakukan hal yang sama.

Perbedaan di antara Sunah dan Hadits ialah Sunah itu merupakan praktek berkelanjutan yang dimulai oleh Rasulullah s.a.w. Kedudukan Sunah dalam kepastian ajaran adalah kedua setelah Al-Quran. Sebagaimana Rasulullah s.a.w. ditugaskan untuk penyiaran Al-Quran, beliau juga ditugaskan untuk menetapkan Sunahnya. Sebagaimana Al-Quran bersifat penuh kepastian maka begitu juga dengan Sunah yang berkelanjutan. Kedua tugas tersebut dilaksanakan Rasulullah s.a.w. sebagai kewajiban beliau. Sebagai contoh, ketika shalat dijadikan sebagai suatu kewajiban maka Rasulullah s.a.w. memberikan contoh melalui tindakan beliau berapa jumlah rakaat yang harus dilakukan dalam setiap shalat. Dengan cara sama beliau memperagakan pelaksanaan ibadah haji. Beliau mendidik ribuan dari para sahabat tentang praktek pelaksanaan ibadah. Ilustrasi praktek yang bersifat berkesi-nambungan di antara umat Muslim tersebut disebut sebagai Sunah. Hadits merupakan nur pelengkap dan islam menjadi Nur di atas Nur dimana Hadits menjadi bukti kesaksian dari Al-Quran dan Sunah. Dari sekian banyak sekte atau mazhab yang kemudian muncul di antara umat Muslim, sekte yang benar memperoleh manfaat akbar dari Hadits hakiki. Pandangan yang benar ialah jangan memperlakukan Hadits sebagai suatu hal yang lebih berwenang daripada Al-Quran sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Ahl-i-Hadits1 di zaman ini atau lebih memilih pernyataan Hadits yang bertentangan dengan Al-Quran dibanding Al-Quran itu sendiri, tetapi juga jangan menganggap Hadits sebagai suatu yang sia-sia dan dusta sebagaimana keyakinan dari Maulvi Abdullah Chakralvi.

hadist adalah perkataan atau berita atau khabar atau juga cerita. Hadits Rasul adalah suatu perkataan atau berita atau cerita yang dibawa oleh seseorang atau beberapa orang yang mengabarkan tentang Rasul. Baik itu kehidupan beliau, pribadi beliau, perkataan beliau, maklumat beliau, apa-apa yang pernah beliau lakukan, ijtihad beliau, interaksi beliau dengan para shahabat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan beliau. Tadi dijelaskan bahwa hadirt merupakan sebuah cerita dari sahabat jadi bagaimana kita harus terikat dengannya?

Kita hanya terikat dengan Sunnah/proses (baik Sunnatullah maupun Sunnaturrasul)

  • Sunnatullah adalah alur perjalanan hidup dan peradaban manusia, dimana Allahlah yang telah mengatur dan menetapkannya. Alur kehidupan manusia yang tidak pernah akan berubah sepanjang masa.
  • Sunnaturrasul adalah alur perjalanan hidup dan peradaban manusia, dimana tumbuh berkembangnya adalah upaya dan campurtangan manusia. Alur kehidupan yang secara esensi akan berulang dan terus berulang hingga akhir zaman.

Bagaimana sebuah hadits (sebuah berita) itu akan menjadi Sunnah (proses yang wajib dijalankan) bagi kehidupa kita,menjadi sebuahwajan, cetakan, percontohan bagi alur kehidupan kita. Apa yang ada pada diri Rasul dan apa yang pernah beliau katakan dan beliau lakukan pasti ada saja yang mengabarkannya atau menceritakannya kepada orang lain dari kalangan shahabat ataupun shahabiyah. Cara bersisir beliau, cara berpakaian beliau, cara bejalan beliau, cara makan beliau, tidur beliau, canda tawa beliau, apa yang beliau suka dll, pasti ada yang mengabarkannya. (telepas shaheh tidaknya ya?)

Ketika saya menceritakan peri kehidupan atau perkataan dari seseorang yang saya kenal, kemudian orang yang saya kenal menceritakannya kembali kembali kepada orang lain dan begitu seterusnya. Berita atau cerita yang saya bawa hingga sampai kepada orang yang terakhir, inilah dalam bahasa arab dikatakan sebagai hadits. Orang-orang yang membawa khabar berita tersebut inilah yang disebut sebagai perawi (periwayat).

MANUSIA DAN AGAMA

Umat manusia secara umum meyakini adanya Tuhan yang menciptakan alam dan wajib untuk dipuja dan disembah. Keyakinan yang demikian itu merupakan asas dan pokok dari sebuah agama.

Apakah itu agama? Menurut sebagian orang (baca: cendekiawan), agama   adalah sebuah fenomena yang sulit didefinisikan. WC Smith mengatakan, “Tidak berlebihan jika kita katakan bahwa hingga saat ini belum ada definisi agama yang benar dan dapat diterima”. Meski demikian, para cendekiawan besar dunia memiliki definisi, atau yang lebih tepatnya kita sebut dengan kesimpulan mereka tentang fenomena agama. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

a. Sebagian pemikir mengatakan bahwa apa saja yang memiliki tiga ciri khas di bawah ini dapat disebut sebagai agama:

  • Keyakinan bahwa di balik alam materi ini ada alam yang lain
  • Penciptaan alam memiliki tujuan.
  • Alam memiliki konsep etika.

b. Spencer mengatakan bahwa agama adalah kepercayaan akan sesuatu yang Maha mutlak.

c. Dewey menyebutkan agama sebagai pencarian manusia akan cita- cita umum dan abadi meskipun dihadapkan pada tantangan yang dapat mengancam jiwanya; agama adalah pengenalan manusia terhadap kekuatan gaib yang hebat.

Pada semua definisi tersebut di atas,ada satu hal yang menjadi kesepakatan semua, yaitu kepercayaan akan adanya sesuatu yang agung di luar alam. Namun, lepas dari semua definisi yang ada di atas maupun definisi lain yang dikemukakan oleh para pemikir dunia lainnya, kita meyakini bahwa agama adalah kepercayaan akan adanya Tuhan yang menurunkan wahyu kepada para nabi-Nya untuk umat manusia demi kebahagiaannya di dunia dan akhirat. Dari sini, kita bisa menyatakan bahwa agama memiliki tiga bagian yang tidak  terpisah, yaitu akidah (kepercayaan hati), syari’at (perintah-perintah dan larangan Tuhan) dan akhlak (konsep untuk meningkatkan sisi rohani manusia untuk dekat kepada-Nya). Meskipun demikian, tidak bisa kita pungkiri bahwa asas terpenting dari sebuah agama adalah keyakinan akan adanya   Tuhan   yang    harus disembah.

Mengapa manusia dianggap sebagai makhluk yang mulia?

Dalam terminologi Islam, manusia diyakini sebagai makhluk yang selain memiliki sisi hewani yang sarat dengan kebutuhan-kebutuhan   hewani seperti makan, minum, kesenangan jasmani dan semisalnya, layaknya hewan-hewan lain, ia juga memiliki sisi agung yang dapat menghantarkannya menjadi khalifah Allah di muka bumi. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Sisi kedua manusia ini disebut sebagai sisi rohani. Dari sisi rohani ini, kebutuhan manusia adalah ilmu pengetahuan.

Manusia  merasa  berhak untuk mengetahui apa-apa yang ada disekitarnya. la merasa bahwa itu merupakan haknya yang tidak akan pernah ia berikan kepada siapapun dengan harga berapapun juga. Saat mendengar suara ketukan pintu rumahnya atau saat mendengar suara teriakan orang yang  meminta  pertolongan  ia merasa berhak untuk mengetahui siapa yang berada di balik pintu dan apa yang terjadi pada orang yang berteriak tadi. Hal ini terjadi karena manusia diciptakan Tuhan dengan dibekali rasa ingin tahu. Perasaan inilah yang mendorongnya untuk mengetahui realitas yang ada di sekitarnya dan melakukan banyak eksperlmen demi menyingkap tabir misteri yang menyelimuti alam secara umum. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berhasil dicapai oleh umat manusia adalah berkat rasa keingintahuannya ini.

Bagaimana logikanya, membaca Al Qur’an bisa mengobati penyakit hati dan menentramkan jiwa?

Orang yang membaca Al Qur’an juga pada dasarnya sedang melakukan stimulasi berupa resonansi getaran-getaran elektro-magnetik kepada sistem energi tubuh kita. Bila ayat Al Qur’an dibaca berulang-ulang dengan khusyuk dan penuh ketakwaan, akan mampu melahirkan gelombang elektromagnetik yang menggetarkan diri kita dan menenangkan hati kita. Allah berfirman, “Allah telah menurunkan perkataan yang baik (Al Qur’an) yang serupa lagi berulangulang. Bergetar karenanya kulit orangorang yang takut kepada Tuhanya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.”

Hal ini bisa terjadi karena ayat-ayat Al Qur’an pada hakekatnya mengandung energi dahsyat bagi mereka yang mempercayainya. Sebagaimana diinformasikan Al Qur’an sendiri, “Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung gunung dapat diguncangkan atau bumi jadi terbelah atau karenanya oarang orang yang sudah mati dapat bicara ( itulah Al Qur’an). Sebenarnya segala irusan itu adalah kepunyaan Allah.”

Luar biasa dahsyat energi Al Qur’an, bukan hanya mampu berpengaruh pada diri kita, tetapi gunung, bumi dan manusia yang telah meninggal pun bisa distimulasi oleh energi Al Qur’an. Tetapi energi yang hebat itu bisa dimanfaatkan oleh orang orang yang bersih dan terbuka hatinya serta takwa kepada Allah.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

1. Ekonomi Islam

Dalam kehidupan sehari – hari kita sering melihat berbagai transaksi perdagangan, bahkan kita sendiripun sering melakukannya. Transaksi jual beli atau transaksi perdagangan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kita. Kebutuhan kita akan barang dan jasa terus meningkat sedangkan kita sudah tidak mampu lagi untuk mencukupi kebutuhan kita sendiri. Dilain hal, barang yang dihasilkan lebih banyak dan hasil produksi pun berlipat ganda karena kemajuan teknologi, sehingga orang tidak lagi menghasilkan untuk dirinya sendiri tetapi juga memproduksi untuk pasar sehingga muncul transaksi jual beli atau perdaganganAktivitas jual beli bagi umat islam sudah menjadi hal  yang lumrah dan biasa dilakukan sehari-hari. Namun dalam kehidupan sehari-hari kegiatan jual beli ini sudah banyak yang melenceng dari kegiatan jula-beli yang seharusnya terjadi (yang sesuai dengan )ajaran agama islam, sehingga merugikan orang lain. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulis tertarik untuk membuat makalah yang berjudul “Ekonomi Islam”.

2. Politik Islam

Didalam sejarah kemanusiaan, islam telah menyumbangkan sesuatu yang sangat besar yang tidak ternilai harganya, yaitu model Negara yang tiada tandingannya sebelum maupun sesudahnya. Tapi pada kenyataan sekarang ini politik islam mulai menarik diri dan bersikap apatis terhadap perubahan – perubahan yang terjadi didunia. Islam maupun agama – agama lain pura – pura mempertahankan hal – hal masa lalu yang baik, padahal dibalik semua itu, yang ada hanyalah ketidakmampuan mereka membandung arus modernisasi dan globalisasi. Berdasarkan uraian yang telah penulis kemukakan diatas, maka penulis tertarik untuk membuat makalah yang berjudul “Politik Islam”.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s