kontekstual

Posted: 09/12/2010 in tU9aS kuL...

PENERAPAN PENDEKATAN CTL (CONTEXTUAL TEACHING &
LEARNING) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS & HASIL
BELAJAR POKOK BAHASAN KOLOID SISWA KELAS XI SMA N 1
KENDAL
skripsi
Disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan
oleh
Ratih Irawati
4301403013
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2007
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia
skripsi pada.
Hari :
Tanggal :
Menyetujui,
Dosen Pembimbing I, Dosen Pembimbing II,
Drs. Nuwachid Budi S, M.Si Drs. Kasmui, MSi
NIP. 130604215 NIP. 131931625
Mengesahkan,
Ketua Jurusan Kimia
Drs. Sigit Priatmoko, Msi
NIP. 131965839
iii
PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi FMIPA
UNNES pada tanggal
Panitia:
Ketua Sekretaris
Kasmadi Imam S. Drs. Sigit Priatmoko, Msi
NIP. 0000000 NIP. 131965839
Penguji Penguji/ Pembimbing I
Drs. Nuwachid Budi S, M.Si
NIP. 130604215
Penguji/ Pembimbing II
Drs. Kasmui, Msi
NIP. 131931625
iv
PERNYATAAN
Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini adalah benar-benar hasil
karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau
seutuhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini
dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.
Semarang, Juli 2007
Ratih Irawati
NIM. 4301403013
v
MOTTO
MOTTO
• ‘Sesungguhnya di samping kesukaran terdapat kemudahan’ (Al Insyirah 5).
• ‘No one can walk backward into future’ (Herghesheimer, Joseph).
• ‘The only good is knowledge, and the only evil is ignorance’ (Diogenes
Laertius).
Skripsi ini untuk:
1. Orang tuaku tercinta.
2. Kakakku; mba Mus, mba Nung, dan
mas Faizin yang selalu memberiku
motivasi dan semangat hidup.
3. Kakek dan Alm. Nenek yang selalu
mendoakanku.
4. Anis, Dyah, Trias, Yeni, Kristin
‘Geng 6’ yang berada di sampingku
dalam suka dan duka.
5. My self
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah S.W.T yang senantiasa melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Penerapan Pendekatan
CTL (Contextual Teaching & Learning) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil
Belajar Pokok Bahasan Koloid Siswa Kelas XI SMA N 1 Kendal” dapat
terselesaikan. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan Kimia di FMIPA UNNES.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:
1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberi kesempatan kepada
penulis untuk menyelesaikan studi Strata 1 jurusan Kimia FMIPA Unnes.
2. Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang yang telah memberi ijin untuk
melaksanakan penelitian.
3. Ketua Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Semarang yang telah
membantu dalam hal administrasi.
4. Drs. Nurwachid Budi S, M.Si dan Drs. Kasmui, M.Si sebagai dosen
pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam
menyusun skripsi.
5. Drs. Sutopo, M.Pd sebagai kepala SMA N 1 Kendal yang telah memberi ijin
kepada penulis untuk melaksanakan penelitian.
6. Nur Anni Kartikawati, S.Si sebagai guru kimia SMA N 1 Kendal yang
berkenan membantu dan bekerjasama dengan penulis selama penelitian.
vii
7. Teman-teman Pendidikan Kimia angkatan 2003 yang telah memberikan
bantuan kepada penulis.
8. Semua pihak yang telah berkenan membantu penulis baik selama penelitian
maupun selama penyusunan skripsi ini, yang tidak mungkin penulis sebutkan
satu persatu.
Akhirnya penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi penulis pada
khususnya dan bagi para pembaca pada umunya.
Semarang, Agustus 2007
Penulis
viii
ABSTRAK
Irawati, Ratih. 2007. Penerapan Pendekatan CTL (Contextual Teaching &
Learning) untuk Meningkatkan Aktivitas & Hasil Belajar Pokok Bahasan Koloid
Siswa Kelas XI SMA N 1 Kendal. Skripsi, Pendidikan Kimia, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang.
Pembimbing I Drs. Nurwachid Budi S, M.Si, Pembimbing II Drs. Kasmui, M.Si.
Kata kunci: Pendekatan kontekstual, aktivitas belajar, hasil belajar, koloid
Observasi awal pada siswa kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal menunjukkan
rendahnya aktivitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Hasil observasi
kelas menunjukkan bahwa siswa kurang termotivasi untuk menjawab pertanyaan
yang diberikan guru dan sebagian besar siswa menganggap bahwa kimia
merupakan mata pelajaran yang sulit. Permasalahan tersebut menyebabkan hasil
belajar kimia kurang maksimal yang berdampak tidak tercapainya ketuntasan
belajar secara klasikal maupun individu.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil
belajar kimia pokok bahasan koloid dengan pendekatan CTL (Contextual
Teaching & Learning). Subyek penelitian ini adalah kelas XI IPA 1 tahun
pelajaran 2006/2007 dengan jumlah 43 siswa. Metode pengumpulan data yang
digunakan adalah dokumen data tentang kondisi awal siswa diambil dari nilai tes
semester I. Tes yang diberikan sebelum (pre tes) dan setelah (post tes) bertujuan
untuk mengetahui hasil belajar kognitif. Penilaian afektif, psikomotorik, aktivitas
siswa diperoleh dari pengamatan melalui lembar observasi, data analisis kuesioner
diperoleh melalui lembar kuesioner.
Berdasarkan data yang diperoleh, nilai rata-rata aktivitas siswa mengalami
peningkatan. Rata-rata nilai aktivitas siswa pada siklus I sebesar 64,4 dengan
ketuntasan secara klasikal 65,1%, pada siklus II rata-rata nilai 68,2 dengan
ketuntasan secara klasikal 74,4%, dan pada siklus III rata-rata nilai 71,7 dengan
ketuntasan secara klasikal 86. Adanya peningkatan aktivitas siswa juga disertai
dengan peningkatan hasil belajar. Hasil belajar kognitif pada siklus I rata-rata nilai
sebesar 69,7 dengan ketuntasan belajar klasikal 58,1%, rata-rata nilai siklus II
76,7 dengan ketuntasan belajar klasikal dan 72,1%, rata-rata nilai pada siklus III
sebesar 77dengan ketuntasan belajar klasikal 86%. Rata-rata nilai hasil belajar
psikomotorik pada siklus I sebesar 63,1 dengan ketuntasan belajar klasikal
62,8%, pada siklus II rata-rata nilai sebesar 65,4 dengan ketuntasan belajar
klasikal 74,4%, dan pada siklus III rata-rata nilai 70,2 dengan ketuntasan belajar
klasikal 88,4%. Rata-rata nilai hasil belajar afektif pada siklus I sebesar 62,6
dengan ketuntasan belajar klasikal 53,5%, pada siklus II rata-rata nilai 66,8
dengan ketuntasan belajar klasikal 72,1, dan rpada siklus III rata-rata nilai 69,5
dengan ketuntasan belajar klasikal 86%.
Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan, dengan penerapan pendekatan
kontekstual (CTL) dalam proses pembelajaran pokok bahasan koloid dapat
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal.
ix
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………………… i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ……………………………………………………. ii
PENGESAHAN …………………………………………………………………………….. iii
PERNYATAAN ……………………………………………………………………………. iv
MOTTO ……………………………………………………………………………………….. v
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………. vi
ABSTRAK ……………………………………………………………………………………. viii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………. ix
DAFTAR TABEL ………………………………………………………………………….. xii
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………………………… xiii
DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………………….. xiv
BAB I. PENDAHULUAN
A. Alasan Pemilihan Judul …………………………………………………… 1
B. Penegasan Istilah ……………………………………………………………. 5
C. Rumusan Masalah ………………………………………………………….. 6
D. Tujuan Penelitian ……………………………………………………………. 6
E. Manfaat Penelitian …………………………………………………………. 6
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Tinjauan Pustaka ……………………………………………………………. 7
1. Pengertian Belajar …………………………………………………….. 7
x
2. Aktivitas Siswa dalam Kegiatan Pembelajaran ……………… 8
3. Hasil Belajar …………………………………………………………….. 10
4. Pendekatan Kontekstual …………………………………………….. 12
5. Pendekatan Kontekstual dalam KTSP ………………………….. 18
6. Meningkatkan Hasil Belajar Kimia dengan Pendekatan
Kontekstual ………………………………………………………………. 19
7. Penerapan Pendekatan Kontekstual dalam
Pembelajaran Pokok Bahasan Koloid …………………………… 20
8. Kompetensi Dasar yang Ingin Dicapai …………………………. 28
B. Hipotesis Tindakan ………………………………………………………… 29
BAB III. METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Subyek Penelitian ………………………………………….. 30
B. Fokus Penelitian …………………………………………………………….. 30
C. Rancangan Penelitian ……………………………………………………… 31
D. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas …………………………………. 32
E. Teknik Pengumpulan Data ………………………………………………. 34
F. Perangkat Penelitian ……………………………………………………….. 36
G. Metode Analisis Data ……………………………………………………… 41
H. Tolok Ukur Keberhasilan ………………………………………………… 43
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ………………………………………………………………. 45
1. Kondisi Awal ……………………………………………………………. 45
2. Data Hasil Penelitian …………………………………………………. 46
B. Pembahasan …………………………………………………………………… 58
xi
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ……………………………………………………………………….. 69
B. Saran …………………………………………………………………………….. 70
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………….. 71
LAMPIRAN …………………………………………………………………………………. 72
xii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Perbedaan pendekatan kontekstual dengan pendekatan tradisional ….. 17
2. Perbedaan larutan, sistem koloid, dan suspensi …………………………….. 20
3. Jenis-jenis sistem koloid …………………………………………………………….. 21
4. Aplikasi kimia koloid dalam industri …………………………………………… 26
5. Nilai hasil belajar (kognitif) siklus I, II, dan III pada
pokok bahasan koloid melalui pendekatan kontekstual siswa
kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal ………………………………………………… 47
6. Nilai psikomotorik pada pokok bahasan koloid melalui pendekatan
kontekstual siswa kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal ………………………. 50
7. Nilai afektif pada pokok bahasan koloid melalui pendekatan
kontekstual siswa Kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal …………………….. 52
8. Hasil observasi pelaksanaan tindakan guru siklus I, II, dan III
pada pokok bahasan koloid melalui pendekatan kontekstual
siswa Kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal ………………………………………. 54
9. Hasil observasi aktivitas siswa siklus I, II, dan III pada pokok
bahasan koloid melalui pendekatan kontekstual siswa
kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal ……………………………………………….. 55
10. Hasil kuesioner pengamatan minat siswa siklus I, II, dan III
pada pokok bahasan koloid melalui pendekatan kontekstual siswa
kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal ………………………………………………… 57
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Prosedur kerja penelitian tindakan kelas ………………………………………. 31
2. Diagram Peningkatan rata-rata hasil belajar kognitif ……………………… 49
3. Diagram peningkatan persentase ketuntasan belajar kognitif secara
klasikal ……………………………………………………………………………………. 49
4. Diagram peningkatan rata-rata hasil belajar psikomotorik ………………. 51
5. Diagram peningkatan persentase ketuntasan belajar psikomotorik
secara klasikal …………………………………………………………………………… 51
6. Diagram peningkatan rata-rata hasil belajar afektif ………………………… 53
7. Diagram peningkatan persentase ketuntasan belajar afektif secara
klasikal …………………………………………………………………………………….. 54
8. Diagram peningkatan rata-rata nilai aktivitas siswa ……………………….. 56
9. Diagram peningkatan persentase aktivitas siswa …………………………… 56
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Daftar Nilai Semester I Tahun Pelajaran 2006/2007 ………………………… 72
2. Kisi-kisi Soal Uji Coba Siklus I …………………………………………………… 74
3. Soal Uji Coba Siklus I ……………………………………………………………….. 75
4. Kisi-kisi Soal Uji Coba Siklus II …………………………………………………. 81
5. Soal Uji Coba Siklus II ………………………………………………………………. 82
6. Kisi-kisi Soal Uji Coba Siklus III ……………………………………………….. 88
7. Soal Uji Coba Siklus III …………………………………………………………….. 89
8. Kunci Jawaban Soal Uji Coba …………………………………………………….. 93
9. Analisis Validitas, Daya Pembeda, Tingkat Kesukaran, dan
Reliabilitas Soal Siklus I …………………………………………………………….. 94
10. Analisis Validitas, Daya Pembeda, Tingkat Kesukaran, dan
Reliabilitas Soal Siklus II ……………………………………………………………. 102
11. Analisis Validitas, Daya Pembeda, Tingkat Kesukaran, dan
Reliabilitas Soal Siklus III ………………………………………………………….. 110
12. Kisi-kisi Soal Siklus I ……………………………………………………………….. 117
13. Soal Siklus I …………………………………………………………………………….. 118
14. Kisi-kisi Soal Siklus II ………………………………………………………………. 122
15. Soal Siklus II ……………………………………………………………………………. 123
16. Kisi-kisi Soal Siklus III ……………………………………………………………… 128
17. Soal Siklus III …………………………………………………………………………… 129
18. Kunci Jawaban Soal ………………………………………………………………….. 133
19. Lembar Observasi ……………………………………………………………………… 134
xv
20. Lembar Pengamatan Minat Siswa ……………………………………………….. 142
21. Rencana Pembelajaran ………………………………………………………………. 143
22. Lembar Kerja Siswa ………………………………………………………………….. 169
23. Daftar Nilai Pre tes dan Post tes …………………………………………………. 175
24. Daftar Nilai Aktivitas Siswa Pokok Bahasan Koloid dengan
Pendekatan CTL Siwa Kelas XI IPA 1 ……………………………………….. 177
25. Daftar Nilai Afektif Pokok Bahsan Koloid dengan Pendekatan
CTL Siswa Kelas XI IPA 1…………………………………………………………. 179
26. Daftar Nilai Psikomotorik Pokok Bahasan Koloid dengan
Pendekatan CTL Siswa Kelas XI IPA 1 ………………………………………. 181
27. Rekapitulasi Nilai Kinerja Guru ………………………………………………….. 183
28. Hasil Kuesioner Minat Siswa pada Pokok Bahasan Koloid Melalui
Pendekatan Kontekstual Siswa Kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal …… 184
29. Foto Penelitian …………………………………………………………………………. 185
30. Surat-surat Ijin Penelitian …………………………………………………………… 186
BAB I
PENDAHULUAN
A. Alasan Pemilihan Judul
Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan
merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui
proses pembelajaran dan atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh
masyarakat. Sesuai dengan UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional Pasal 3 pendidikan bertujuan untuk mengembangkan
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Tujuan yang diharapkan ini sulit dicapai apabila siswa dianggap
sebagai obyek pembelajaran dengan kegiatan yang mengutamakan
pembentukan intelektual dan tidak melatih mereka menjadi insan yang kreatif,
mandiri, demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk mencapai tujuan di atas, pemerintah telah melakukan
pembaharuan melalui pengembangan kurikulum, dari kurikulum lama yang
cenderung content based menjadi kurikulum yang berbasis kompetensi
(competency based). Sesuai dengan amanat Garis Besar Haluan Negara
(GBHN) 1999-2004, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas)
menetapkan kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum 1994 menjadi
2
kurikulum 2004 yang telah dilakukan mulai tahun ajaran 2004/2005.
Kurikulum tersebut diperbaharui dengan kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) yang mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan untuk tersusunnya kurikulum pada tingkat satuan
pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dengan mengacu kepada
standar isi dan standar kompetensi lulusan serta berpedoman pada panduan
yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kurikulum
tingkat satuan pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun dan
dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut:
1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan
peserta didik dan lingkungannya.
2. Beragam dan terpadu.
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan.
5. Menyeluruh dan berkesinambungan.
6. Belajar sepanjang hayat.
7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
(www.sma1-sltg.sch.id).
Perubahan kurikulum ini tentunya harus diikuti dengan penggunaan
pendekatan atau strategi pembelajaran yang sesuai.
3
Sains berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara
sistematis, sehingga sains bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan
yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip tetapi merupakan
suatu proses penemuan. Pendidikan sains menekankan pada pemberian
pengalaman langsung atau mengembangkan kompetensi agar siswa mampu
memahami alam sekitar secara ilmiah. Oleh karena itu, pendekatan yang
diterapkan dalam pembelajaran sains adalah memadukan antara pengalaman
proses sains dan pemahaman produk sains. Kimia merupakan salah satu
bagian dari sains yang erat kaitannya dengan alam.
Pembelajaran kimia yang dilakukan di SMA Negeri 1 Kendal selama
peneliti melakukan observasi adalah sebagai berikut:
a. Pendahuluan berupa upaya untuk menarik perhatian siswa ke dalam topik
bahasan melalui penjelasan tujuan, penjajagan pengetahuan prasyarat atau
memotivasi dengan menunjukkan manfaat mempelajari topik tersebut.
b. Kegiatan inti yaitu pengenalan konsep yang dibahas melalui metode
cermah sehingga materi bahasan dipahami siswa dilanjutkan dengan
latihan.
c. Kegiatan penutup yang dapat berupa pengambilan kesimpulan, rangkuman
atau pemberian tugas sehubungan dengan topik yang dibahas.
d. Masih terdapatnya pembelajaran yang hanya berlangsung satu arah,
aktivitas siswa hanya mendengar dan mencatat, siswa cenderung pasif,
jarang bertanya, mengemukakan pendapat atau menyanggah pendapat.
4
e. Kegiatan praktikum yang dilakukan hanya untuk membuktikan materi
yang telah diterima dari guru atau teori yang ada di buku/LKS dengan kata
lain siswa hanya memahami apa yang pernah ia terima.
f. Secara klasikal, siswa yang ketuntasannya mencapai 65% sebesar 16,3%.
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching & Learning/CTL)
merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi
yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan
dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Nurhadi
2004: 103). Kelebihan pendekatan ini yaitu hasil pembelajaran diharapkan
alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer
pengetahuan dari guru ke siswa. Dengan konsep tersebut guru tidak hanya
sekedar memberikan informasi tetapi lebih banyak berurusan dengan strategi
untuk membantu siswa mencapai tujuannya.
Pada pokok bahasan Koloid, guru harus dapat mengaitkan antara
materi dengan kehidupan sehari-hari siswa. Berkaitan dengan hal tersebut
diatas maka peneliti mengadakan penelitian berupa tindakan kelas tentang
‘Penerapan Pendekatan CTL (Contextual Teaching & Learning) Untuk
Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Pokok Bahasan Koloid Siswa Kelas
XI SMA Negeri 1 Kendal’.
5
B. Penegasan Istilah
Agar tidak terjadi kesalahpahaman istilah maka perlu ditegaskan istilahistilah
berikut:
1. Aktivitas Belajar
Aktivitas berarti keaktifan, kegiatan, kesibukan. Aktivitas belajar
adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa pada saat proses
pembelajaran untuk mencapai hasil belajar (Hamalik 2005: 171). Aktivitas
yang akan diamati selama pembelajaran adalah aktivitas fisik meliputi
bertanya, mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan guru, dan
mendengarkan penyajian bahan.
2. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh
pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar (Anni 2004: 4).
Hasil belajar dalam penelitian ini adalah hasil prestasi belajar kimia
berupa nilai setelah siswa melakukan proses belajar mengajar kimia pada
pokok bahasan koloid.
3. Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu
guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata
dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota
keluarga dan masyarakat. (Nurhadi 2004: 103).
6
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan hal-hal yang diuraikan pada alasan pemilihan judul diatas
maka permasalahan yang akan diteliti “Apakah dengan pendekatan
kontekstual dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar kimia pokok
bahasan Koloid siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kendal”?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
peningkatan aktivitas dan hasil belajar kimia pokok bahasan Koloid dengan
menggunakan pendekatan kontekstual.
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Bagi siswa
Memudahkan siswa dalam memahami dan menguasai konsep kimia
melalui pengalaman nyata dalam pembelajaran.
2. Bagi guru
Memberi konsep yang jelas mengenai pendekatan kontekstual sebagai
upaya untuk mengembangkan ilmu pendidikan.
3. Bagi sekolah
Penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan bagi pelaksanaan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan, sebagai salah satu acuan dalam upaya
meningkatkan mutu sekolah secara institusioanl.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Belajar
Menurut Hamalik (2005: 28) belajar adalah suatu proses perubahan
tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Slameto (2003: 2)
mengemukakan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman
dari enteraksi dengan lingkungan. Gagne dan Berliner menyatakan bahwa
belajar merupakan proses yang didalamnya terjadi perubahan perilaku karena
hasil dari pengalaman (Anni 2004: 2).
Dari pendapat-pendapat diatas, belajar merupakan suatu proses yang
ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang berupa tingkah laku,
pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan sikap karena pengalaman atau
interaksi dengan lingkungan. Belajar yang efektif dimulai dari lingkungan
belajar yang berpusat pada siswa, siswa aktif dan guru sebagai fasilitator.
Selain itu pengajaran harus berpusat pada ‘bagaimana cara siswa
menggunakan pengetahuan baru, dan menumbuhkan komunitas belajar dalam
bentuk kerja kelompok sangat diperlukan’(Depdiknas 2002: 5).
Darsono (2000: 30-31) mengemukakan ciri-ciri belajar antara lain:
a. Belajar dilakukan dengan sadar dan mempunyai tujuan sebagai arah
kegiatan dan sebagi tolok ukur keberhasilan.
8
b. Belajar merupakan suatu proses interaksi antara individu dengan
lingkungan, berarti individu harus aktif dengan menggunakan berbagai
potensi yang dimiliki untuk belajar, misalnya perhatian, minat, pikiran,
emosi, motivasi, dan lain-lain.
c. Belajar mengakibatkan terjadinya perubahan yang bersifat internal dalam
aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang terpisah satu dengan yang
lain pada diri orang yang belajar. Siswa akan belajar lebih baik jika
lingkungan yang diciptakan alamiah. Belajar akan bermakna jika siswa
mengalami apa yang dipelajari, bukan mengetahui semata. Siswa diberi
kesempatan untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri.
2. Aktivitas Siswa dalam Kegiatan Pembelajaran
Menurut Gulo (2002: 73) belajar adalah seperangkat kegiatan, terutama
kegiatan mental intelektual, mulai dari kegiatan paling sederhana sampai
kegiatan yang rumit, seperti kegiatan fisik maliputi melihat, mendengar,
meraba dengan alat indera manusia yang diteruskan pada struktur kognitif
orang yang bersangkutan.
Proses belajar menuntut siswa untuk aktif mencari, menemukan dan
menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk mendapatkan suatu konsep
pelajaran dengan bantuan guru. Oleh karena itu, dalam pembelajaran kimia,
pembelajaran diusahakan sedemikian rupa sehingga keaktifan siswa betulbetul
terwujud.
Hamalik (2005: 171) mengemukakan bahwa pengajaran yang efektif
adalah pengajaran yang menyediakan kesempatan belajar atau melakukan
9
aktivitas sendiri. Aktivitas belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh
siswa pada saat proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar. Untuk
mencapai hasil belajar yang optimal dalam pembelajaran perlu ditekankan
adanya aktivitas siswa baik secara fisik, mental, intelektual, maupun
emosional. Di dalam pembelajaran siswa dibina dan dikembangkan
keaktifannya melalui tanya jawab, berpikir kritis, diberi kesempatan untuk
mendapatkan pengalaman nyata dalam melaksanakan praktikum, pengamatan,
diskusi, dan mempertanggungjawabkan segala hasil pekerjaan yang
ditugaskan.
Menurut Dierich dalam Hamalik (2005: 172), aktivitas siswa dapat
digolongkan menjadi delapan, yaitu:
a Aktivitas visual, meliputi membaca, melihat gambar, mengamati
eksperimen, demonstrasi, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain.
b Aktivitas lisan (oral), meliputi mengemukakan fakta atau konsep,
menghubungkan kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran,
mengemukakan pendapat, wawancara, dan diskusi.
c Aktivitas mendengarkan, meliputi mendengarkan penyajian bahan dan
percakapan atau diskusi kelompok.
d Aktivitas menulis, meliputi menulis cerita, laporan, membuat rangkuman,
mengerjakan tes, dan mengisi angket.
e Aktivitas menggambar, meliputi menggambar, membuat grafik, chart, dan
diagram peta.
10
f Aktivitas metrik, meliputi melakukan percobaan, memilih alat, dan
membuat model.
g Aktivitas mental, meliputi merenungkan, mengingat, memecahkan
masalah, menganalisis, dan membuat keputusan.
h Aktivitas emosional, meliputi minat, membedakan, berani, dan tenang.
Dalam proses belajar mengajar, guru perlu menimbulkan aktivitas siswa
dalam berpikir maupun berbuat. Dalam berbuat siswa dapat menjalankan
perintah, melaksanakan tugas, membuat grafik, diagram, intisari dari pelajaran
yang disajikan oleh guru. Bila siswa berpartisipasi secara aktif, maka ia
memiliki ilmu/ pengetahuan yang baik (Slameto 2003: 36).
3. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar
setelah mengalami aktivitas belajar (Anni 2004: 4). Pada umumnya hasil
belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan
psikomotorik.
Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk
didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis,
mensintesis dan kemampuan mengevaluasi. Kemampuan yang penting pada
ranah kognitif adalah kemampuan menerapkan konsep-konsep untuk
memecahkan masalah yang ada di lapangan (Anni 2004: 6).
Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap,
emosi, dan nilai (Anni 2004: 7).
11
Ranah psikomotorik mencakup menunjukkan adanya kemampuan fisik
seperti ketrampilan motorik dan syaraf, manipulasi objek, dan koordinasi
syaraf (Anni 2004: 9).
Untuk mencapai hasil belajar yang optimal, ada beberapa faktor yang
mempengaruhi, yaitu:
a. Faktor dari dalam siswa, yaitu kemampuan yang dimiliki siswa, motivasi
belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan,
sosial, ekonomi, faktor psikis dan fisik.
b. Faktor dari luar diri siswa, yaitu kualitas pengajaran atau tinggi rendahnya
proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Slameto (2003: 92-93) ada beberapa syarat yang diperlukan
untuk melaksanakan pengajaran yang efektif, yaitu:
1) Belajar secara aktif, baik mental maupun fisik. Di dalam belajar siswa harus
mengalami aktivitas mental, seperti belajar dapat mengembangkan
kemampuan intelektual, berfikir kritis, menganalisis dan aktivitas fisik,
seperti mengerjakan sesuatu, membuat peta dan lain-lain.
2) Guru harus mempergunakan banyak metode pada waktu mengajar. Variasi
metode mengakibatkan penyajian bahan pelajaran lebih menarik perhatian
siswa, mudah diterima siswa, dan kelas menjadi hidup. Metode panyajian
yang selalu sama akan membosankan siswa.
3) Kurikulum yang baik dan seimbang. Kurikulum sekolah yang memenuhi
tuntutan masyarakat dikatakan bahwa kurikulum itu baik dan seimbang.
12
Kurikulum juga harus mampu mengembangkan segala segi kepribadian
siswa, di samping kebutuhan siswa sebagai anggota masyarakat.
4) Pelajaran di sekolah perlu dihubungkan dengan kehidupan yang nyata di
masyarakat. Bentuk-bentuk kehidupan di masyarakat dibawa ke sekolah,
agar siswa mempelajari sesuai dengan kenyataan.
5) Dalam interaksi belajar mengajar, guru harus banyak memberi kebebasan
siswa untuk menyelidiki sendiri, mencari pemecahan masalah sendiri. Hal
ini menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar terhadap sesuatu yang
dikerjakan siswa dan kepercayaan pada diri sendiri.
4. Pendekatan Kontekstual
a. Hakekat Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu
guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata
siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota
keluarga dan masyarakat (Nurhadi 2004: 103). Pengetahuan dan
ketrampilan siswa diperoleh dari siswa mengkonstruksi sendiri
pengetahuan dan ketrampilan baru ketika ia belajar.
Dengan pendekatan kontekstual proses pembelajaran diharapkan
berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami,
bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Siswa mempelajari yang
bermanfaat dan berupaya menggapainya. Dalam upaya itu, siswa
memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
13
b. Penerapan Pendekatan Kontekstual di Kelas
Penerapan pendekatan kontekstual dalam kelas cukup mudah. Secara
garis besar, langkah-langkah pendekatan kontekstual adalah sebagai
berikut:
1) Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna
dengan cara bekerja sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan
dan ketrampilan barunya.
2) Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik.
3) Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4) Menyiapkan ‘masyarakat belajar’ (belajar dalam kelompok-kelompok).
5) Menghadirkan ‘model’ sebagai contoh pembelajaran.
6) Melakukan refleksi di akhir pertemuan.
7) Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara. (Nurhadi
2004: 106).
c. Tujuh Komponen Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual memiliki tujuh komponen utama yang harus
diterapkan dalam pembelajarannya (Depdiknas 2002: 10). Ketujuh
komponen tersebut diuraikan sebagai berikut:
1) Konstruktivisme (Construktivism)
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir secara filosofi
pendekatan kontekstual, pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit
demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit)
dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat
14
fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat.
Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna
melalui pengalaman nyata.
a) Dalam pandangan konstruktivis, ‘strategi memperoleh’ lebih
diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan
mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi
proses tersebut dengan menjadikan pengetahuan bermakna dan
relevan bagi siswa
b) Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya
sendiri, dan
c) Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam
belajar (Nurhadi 2004: 33-34).
2) Menemukan (Inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran
berbasis kontekstual. Pengetahuan dan ketrampilan siswa diperoleh
bukan dari hasil mengingat seperangkat fakta tetapi dari menemukan
sendiri. Siklus inquiry: merumuskan masalah, observasi, bertanya,
mengajukan dugaan (hipotesis), pengumpulan data dan penyimpulan.
(Nurhadi 2004: 43).
3) Bertanya (Questioning)
Pertanyaan dapat digunakan untuk berbagai macam tujuan, bentuk,
dan jawaban yang ditimbulkannya. Dalam kelas, guru mengajukan
pertanyaan untuk bercakap-cakap, merangsang siswa berfikir,
15
mengevaluasi belajar, memulai pengajaran, memperjelas gagasan, dan
meyakinkan apa yang diketahui siswa.
Menurut Nurhadi (2004: 46) dalam pembelajaran yang produktif,
kegiatan bertanya berguna untuk:
a) Menggali informasi, baik administrasi maupun akademis
b) Mengecek pemahaman siswa
c) Membangkitkan respon kepada siswa mengetahui sejauh mana
keingintahuan siswa
d) Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa
e) Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
f) Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
g) Menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
Aktivitas bertanya dapat ditemukan ketika siswa berdiskusi,
bekerja dalam kelompok, ketika menemui kesulitan, ketika mengamati,
dan sebagainya.
4) Masyarakat Belajar (Learning Community)
Dalam masyarakat-belajar, hasil pembelajaran dapat diperoleh dari
kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing
antarteman, antarkelompok, dan antara mereka yang belum tahu.
(Nurhadi 2004: 47)
Masyarakat belajar (learning community) mengandung arti sebagai
berikut:
a) Adanya kelompok belajar yang berkomunikasi untuk berbagai
gagasan dan pengalaman.
b) Ada kerja sama untuk memecahkan masalah.
16
c) Ada tanggung jawab kelompok, semua anggota dalam kelompok
mempunyai tanggung jawab yang sama.
d) Ada komunikasi dua arah atau multi arah.
e) Ada kesediaaan untuk menghargai pendapat orang lain.
5) Pemodelan (Modelling)
Maksudnya dalam sebuah pembelajaran ketrampilan atau
pengetahuan tertentu ada model yang bisa ditiru (Nurhadi 2004: 49).
6) Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau
berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa
yamg lalu (Nurhadi 2004: 51).
Refleksi diperlukan karena pengetahuan harus dikontekstualkan
agar sepenuhnya dipahami dan diterapkan secara luas.
7) Penilaian Sebenarnya (Authentic Assesment)
Assesment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa
memberikan gambaran perkembangan belajar siswa untuk memastikan
bahwa siswa mengalami proses belajar yang benar (Nurhadi 2004: 52).
Gambaran tentang kemajuan belajar siswa diperlukan di sepanjang
proses pembelajaran maka assesment tidak dilakukan di akhir periode,
tetapi dilakukan bersamaan dengan proses pembelajaran.
Karakteristik Autentic Assesment:
a) Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
b) Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
c) Yang diukur ketrampilan dan performansi, bukan mengingat fakta
d) Berkesinambungan
e) Dapat digunakan sebagai feed back.
17
d. Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Tradisional
Menurut Nurhadi (2004: 35-36) perbedaan pendekatan kontekstual
dengan pendekatan tradisional (behaviorisme/ struktural/ objektivisme)
adalah.
Tabel 1. Perbedaan pendekatan kontekstual dengan pendekatan tradisional
No Pendekatan kontekstual Pendekatan tradisional
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Siswa terlibat secara aktif dalam
proses pembelajaran.
Siswa belajar dari teman melalui
kerja kelompok, diskusi, dan
saling mengoreksi.
Pembelajaran dikaitkan dengan
kehidupan nyata atau masalah
yang disimulasikan.
Bahasa diajarkan dengan
pendekatan komunikatif, yakni
siswa diajak menggunakan
bahasa dalam konteks nyata.
Siswa menggunakan kemampuan
berpikir kritis, terlibat penuh
dalam mengupayakan terjadinya
proses pembelajaran yang efektif,
dan membawa skemata masingmasing
ke dalam proses
pembelajaran.
Pengetahuan yang dimiliki
manusia dikembangkan oleh
manusia itu sendiri. Manusia
menciptkan atau membangun
pengetahuan dengan cara
memahami pengalaman.
Hasil belajar diukur dengan
berbagai cara, seperti: proses
bekerja, hasil karya, penampilan,
tes, dan lain-lain.
Pembelajaran terjadi di berbagai
tempat, konteks, dan setting.
Perilaku dibangun atas kesadaran
diri.
Siswa adalah penerima informasi
secara pasif.
Siswa belajar secara individual.
Pembelajaran sangat abstrak dan
teoritis.
Bahasa diajarkan dengan pendekatan
struktural, rumus diterangkan
sampai paham, kemudian dilatihkan.
Siswa secara pasif menerima rumus
atau kaidah (membaca,
mendengarakan, mencatat,
menghafal) tanpa memberikan
kontribusi ide dalam proses
pembelajaran.
Pengetahuan adalah penangkapan
terhadap serangkaian fakta, konsep
atau hukum yang berada di luar diri
manusia.
Hasil belajar diukur hanya dengan
tes.
Pembelajaran hanya terjadi dalam
kelas.
Perilaku dibangun atas kebiasaan.
18
5 Pendekatan Kontekstual dalam KTSP
Pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep belajar, guru
menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan kehidupan
mereka sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pendekatan
kontekstual merupakan pendekatan yang membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka seharihari
sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pendekatan kontekstual
merupakan pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan,
memperluas, menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik mereka
dalam berbagai tatanan kehidupan baik disekolah maupun diluar sekolah.
Selain itu, siswa dilatih memecahkan masalah yang mereka hadapi dalam
suatu situasi, misalnya dalam bentuk stimulasi, dan masalah yang memang ada
dalam dunia nyata. Dengan pendekatan kontekstual siswa belajar diawali
dengan pengetahuan, pengalaman dan konteks keseharian yang mereka miliki
dikaitkan dengan konsep mata pelajaran yang dipelajari di kelas, dan
selanjutnya dimungkinkan untuk mengimplementasikan dalam kehidupan
keseharian mereka (Nurhadi 2004: 4-7).
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan berdasarkan panduan penyusunan
kurikulum yang disusun oleh BSNP. Kurikulum dikembangkan berdasarkan
prinsip-prinsip berikut:
a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan
peserta didik dan lingkungannya.
b. Beragam dan terpadu.
c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan.
19
e. Menyeluruh dan berkesinambungan.
f. Belajar sepanjang hayat.
g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.
(www.sma1-sltg.sch.id).
Dengan demikian, pendekatan kontekstual sesuai dengan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) karena melalui pembelajaran dengan
pendekatan kontekstual siswa akan dibawa tidak hanya masuk ke kawasan
pengetahuan, tetapi juga sampai pada penerapan pengetahuan.
6. Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Dengan Pendekatan Kontekstual
Kimia merupakan ilmu alam, hal-hal yang dipelajari ada dilingkungan
kehidupan kita. Belajar kimia tidak bisa hanya dengan duduk, mendengarkan
ceramah atau cerita saja. Sehingga diperlukan suatu pembelajaran yang efektif
dan kondusif.
Karakteristik pembelajaran efektif adalah memudahkan siswa belajar
sesuatu yang bermanfaat, seperti: fakta ketrampilan, nilai, konsep, dan
bagaimana hidup serasi dengan sesama atau sesuatu hasil yang diinginkan.
Dalam kondisi pembelajaran kondusif, melibatkan siswa secara aktif dalam
mengamati, mengoperasikan alat atau berlatih menggunakan objek konkrit
disertai dengan diskusi yang sesuai, diharapkan siswa dapat bangkit sendiri
untuk berfikir, menganalisis data, menjelaskan ide, bertanya, berdiskusi dan
menulis apa yang dipikirkan sehingga memberi kesempatan siswa untuk
mengkonstruksikan pengetahuan sendiri.
20
7. Penerapan Pendekatan Kontekstual Dalam Pembelajaran Pokok
Bahasan Koloid
Pokok materi koloid pada kelas XI IPA semester II yang dipelajari secara
rinci adalah sebagai berikut:
a. Komponen dan Pengelompokkan Sistem Koloid
Istilah “koloid” diusulkan oleh Thomas Graham (1805-1869) dari
Inggris pada tahun 1861. Sewaktu meneliti proses difusi berbagai zat
dalam medium cairan, Graham mengamati bahwa zat-zat seperti lem kanji,
gelatin, getah dan albumin berdifusi sangat lambat dan tidak mampu
menembus membran tertentu. Kelompok zat-zat ini dinamakan koloid,
yang berarti ’seperti lem” (bahasa Yunani: kolla = lem, oidos = seperti).
Dewasa ini istilah koloid dipakai untuk menyatakan ukuran pertikel
serta sistem campuran. Partikel-partikel suatu zat dikatakan berukuran
koloid apabila berdiameter antara 10-5cm sampai 10-7cm. Yang disebut
sistem koloid adalah suatu campuran zat-zat yang tersebar merata dengan
berukuran koloid dalam suatu zat lain.
Perbedaan larutan, sistem koloid, dan suspensi dapat dirangkum dalam
Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Perbedaan larutan, sistem koloid, dan suspensi
No. Larutan Sistem koloid Suspensi
1.
2.
3.
4.
5.
Satu fasa
Jernih
Diameter partikel
10-5 cm
Dapat disaring
Memisah jika
didiamkan
21
Sebagaimana halnya larutan yang tersususun dari zat terlarut dan pelarut,
sistem koloid juga tersusun dari dua komponen, yaitu fasa terdispersi,
yaitu zat yang tersebar merata serta fasa pendispersi, yaitu zat medium
tempat partikel-pertikel koloid itu tersebar.
Baik fasa terdispersi maupun fasa pendispersi dalam suatu sistem
koloid dapat berupa gas, cair atau padat. Namun perlu dikemukakan
bahwa campuran gas dengan gas tidaklah membentuk sistem koloid, sebab
semua gas akan bercampur homogen dalam segala perbandingan.
Dengan demikian kita mengenal delapan jenis sistem koloid, seperti
tercantum dalam Tabel 3 berikut.
Tabel 3. Jenis-jenis sistem koloid
Fasa
Terdispersi
Medium
Pendispersi
Sistem Koloid Contoh
Gas
Gas
Cair
Cair
Cair
Padat
Padat
Padat
Cair
Padat
Gas
Cair
Padat
Gas
Cair
Padat
Busa
Busa padat
Aerosol cair
Emulsi
Gel
Aerosol padat
Sol
Sol padat
Buih sabun, buih ombak,
krim kocok
Batu apung
Kabut, pengeras rambut
(hair spray).
Susu cair, santan
Keju, mentega, selai
Asap, debu tersebar di udara
Lem kanji, cat, tinta
Kaca, permata, aliase
(perunngu, kuningan)
Dari tabel di atas jelas bahwa proses-proses di alam sekitar kita banyak
berhubungan dengan sistem koloid. Kegunaan dari cabang ilmu “Kimia
Koloid” terdapat di berbagai bidang. Protoplasma dalam sel-sel makhluk
hidup merupakan sistem koloid, sehingga kimia diperlukan untuk
menerangkan reaksi-reaksi dalam sel. Tanah liat yang dicampurkan ke
22
dalam air yang mengandung sedikit NaOH juga merupakan sistem koloid,
dan pemahaman tentang koloid sangat membantu dalam meningkatkan
kesuburan lahan. Dalam bidang industri, kimia koloid banyak
dimanfaatkan pada pembuatan berbagai produk, antara lain biskuit, keju,
mentega, cat, tinta, kosmetika, dan insektisida. Fakta-fakta ini
menunjukkan betapa luas peranan sistem koloid dalam kehidupan kita.
b. Sifat-sifat Koloid
1) Efek Tyndall
Jika seberkas cahaya masuk ke ruangan gelap melalui suatu celah,
maka berkas cahaya itu akan terlihat jelas. Sebab partikel-pertikel debu
dalam ruangan yang berukuran koloid akan menghamburkan cahaya
tersebut.
Peristiwa penghamburan cahaya oleh partikel koloid disebut efek
Tyndall, karena hal ini mula-mula diterangkan oleh John Tyndall (1820-
1893), ahli fisika bangsa Inggris.
Efek Tyndall dapat digunakan untuk membedakan sistem koloid dan
larutan sejati. Partikel-pertikel dalam larutan yang berupa molekul atau ion
terlalu kecil untuk menghamburkan cahaya, sehingga berkas cahaya dalam
larutan tidak terlihat. Sebaliknya, cahaya yang melewati sistem koloid
akan terlihat nyata.
23
2) Gerak Brown
Partikel-pertikel koloid tersebar merata dalam medium pendispersi dan
tidak memisah meskipun didiamkan yang disebabkan karena adanya gerak
terus-menerus secara zig-zag tetapi gesit dari partikel-pertikel tersebut.
Gerakan zig-zag dari partikel koloid dalam medium pendispersinya
disebut gerak Brown, berdasarkan nama ahli botani bangsa Inggris yang
menemukan gerakan ini pada tahun 1827, yaitu Robert Brown (1773-
1858).
Gerak Brown membuktikan teori kinetik molekul, sebab gerakan
tersebut adalah akibat tabrakan antara partikel koloid dengan molekulmolekul
medium pendispersinya dari segala arah. Oleh karena momentum
partikel koloid jauh lebih besar dari molekul mediumnya, maka partikel
koloid bergerak pada garis lurus sampai arah dan kecepatannya diubah
oleh tabrakan berikutnya.
3) Adsorpsi Koloid
Adsorpsi adalah peristiwa penyerapan suatu molekul atau ion pada
permukaan suatu zat. Suatu sistem koloid mempunyai kemampuan
mengadsorpsi, sebab partikel-partikel koloid memiliki permukaan yang
sangat luas. Sifat adsorpsi dari koloid dapat kita saksikan antara lain, pada
proses-proses berikut ini.
a) Pada penyembuhan sakit perut oleh serbuk karbon (norit), campuran
serbuk karbon dengan cairan usus akan membentuk sistem koloid yang
mampu mengadsorpsi kuman-kuman yang berbahaya.
24
b) Pada proses pemurnian gula pasir, gula yang masih kotor (berwarna
coklat) dilarutkan dalam air panas, lalu dialirkan melalui sistem koloid
yang berupa tanah diatom atau karbon. Kotoran pada gula akan
teradsorpsi, sehingga diperoleh gula yang putih bersih.
4) Muatan Koloid Dan Elektroforesis
Partikel-partikel koloid dapat bermuatan listrik sebagai akibat dari
penyerapan ion pada permukaan partikel koloid tersebut. Sebagai contoh,
koloid Fe(OH)3 dalam air akan menyerap kation-kation sehingga ia
bermuatan positif, sedangkan koloid As2S3 bermuatan negatif karena
menyerap ion-ion. Kestabilan suatu koloid selain disebabkan adanya gerak
Brown juga disebabkan adanya muatan listrik pada permukaan partikel
koloid. Gaya tolak-menolak di antara muatan yang sama mencegah
pemisahan atau penggumpalan sehingga sistem koloid menjadi stabil.
Pergerakan partikel koloid di bawah pengaruh medan listrik disebut
elektroforesis. Pada peristiwa elektroforesis, partikel-partikel koloid
dinetralkan muatannya dan digumpalkan pada elektrode.
Beberapa kegunaan dari elektroforesis antara lain sebagai berikut.
a) Untuk menentukan muatan suatu koloid.
b) Untuk mengurangi zat-zat pencemar udara yang dikeluarkan dari
cerobong asap pabrik. Cerobong asap pabrik bagian dalam dilengkapi
dengan “pengendap elektrostatika” berupa lempengan logam yang
diberi muatan listrik, yang akan menarik dan menggumpalkan debudebu
halus dalam asap buangan.
25
5). Koagulasi Koloid
Partikel-partikel koloid dapat mengalami koagulasi (penggumpalan)
dengan cara penambahan suatu elektrolit yang muatannya berlawanan.
Sifat koagulasi partikel koloid antara lain, dapat kita amati pada prosesproses
berikut ini.
a) Pada proses penjernihan air, ditambahkan tawas (Al2(SO4)3 yang
menyediakan ion Al3+ untuk mengendapkan partikel lumpur.
b) Jika bagian tubuh kita mengalami luka, maka ion Al3+ atau Fe3+ segera
menetralkan partikel albuminoid yang dikandung darah, sehingga
terjadi penggumpalan yang menutupi luka.
6). Koloid Liofil dan Koloid Liofob
Berdasarkan sifat adsorpsi dari partikel koloid terhadap medium
pendispersinya, terdapat dua macam koloid.
a) Koloid liofil yaitu koloid yang “senang cairan” (bahasa Yunani: lyo =
cairan; philia = senang). Partikel-partikel koloid akan mengadsorpsi
molekul cairan, sehingga terbentuk selubung di sekeliling partikel
koloid itu. Jika medium pendispersinya air, istilah yang dipakai adalah
hidrofil (senang air). Contoh koloid liofil adalah lem kanji, protein,
dan agar-agar.
b) Koloid liofob, yaitu koloid yang “benci cairan” (phobia = benci).
Partikel-partikel tidak mengadsorpsi molekul cairan. Jika mediumnya
air, istilah yang dipakai ialah hidrofob (benci air). Contoh koloid
hidrofob adalah sol sulfida dan sol-sol logam.
26
c. Pembuatan Koloid
1) Cara Kondensasi
Salah satu cara pembuatan koloid adalah cara kondensasi,
menggumpalkan partikel-partikel larutan yang terlalu kecil menjadi
partikel yang berukuran koloid. Partikel-partikel larutan yang berupa
ion, atom atau molekul dapat dikondensasi atau digumpalkan menjadi
ukuran koloid melalui cara fisis ( penurunan kelarutan) atau cara kimia
(reaksi-reaksi tertentu).
2) Cara Dispersi
Suatu koloid dapat dibuat melalui cara dispersi yaitu
menghaluskan partikel-partikel suspensi yang terlalu besar menjadi
partikel-partikel yang berukuran koloid (Anshory 1999: 122-134).
d. Koloid dalam Kehidupan Sehari-hari
Koloid banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti di alam,
industri, makhluk hidup, dan pertanian. Di industri, aplikasi koloid untuk
produksi cukup luas. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang
penting, yaitu dapat digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat
saling melarutkan secara homogen dan bersifat stabil untuk produksi skala
besar.
Contoh aplikasi kimia koloid dalam industri dapat dilihat pada tabel 4
berikut.
Tabel 4. Aplikasi kimia koloid dalam industri
Jenis industri Contoh aplikasi
Industri makanan
Industri kosmetika dan perawatan
tubuh
Industri cat
Industri kebutuhan rumah tangga
Industri pertanian
Industri farmasi
Keju, mentega, susu
Krim, pasta gigi
Cat
Sabun
Pestisida, dan insektisisda
Penisilin untuk suntikan
27
Aplikasi sistem koloid lainnya, yaitu:
1) Pemutihan gula
Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. Hal ini dilakukan
dengan melarutkan gula ke dalam air, kemudian dialirkan melalui
sistem koloid tanah diatome atau karbon. Partikel koloid akan
mengadsorpsi zat warna tersebut.
2) Pengambilan partikel koloid asap dan debu dari gas buangan pabrik
Contoh alat yang menggunakan prinsip elektroforesis adalah pengendap
Cottrel. Alat ini digunakan untuk memisahkan partikel koloid seperti
asap dan debu yang terkandung dalam gas buangan pabrik. Hal ini
bertujuan untuk mengurangi zat polusi udara, disamping dapat
digunakan untuk memperoleh kembali debu berharga seperti debu
arsenik oksida.
3) Pembentukan delta di muara sungai
Air sungai mengandung partikel koloid pasir dan tanah liat yang
bermuatan negatif. Sedangkan air laut mengandung ion Na+, Mg2+, dan
Ca2+ yang bermuatan positif. Ketika air sungai bertemu air laut, maka
ion positif dari air laut akan menetralkan muatan pasir dan tanah liat.
Akibatnya, terjadi koagulasi yang membentuk suatu delta.
4) Penggumpalan darah
Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif.
Jika terdapat luka kecil, maka luka tersebut dapat diobati dengan pensil
stiptik atau tawas yang mengandung ion Al3+ dan Fe3+. Ion ini akan
28
menetralkan muatan partikel koloid protein dan membantu
penggumpalan darah.
5) Proses penjernihan air
Air mengandung partikel koloid tanah dan lainnya yang bermuatan
negatif. Untuk memperoleh air jernih, maka partikel koloid harus
dipisahkan yang dilakukan dengan penambahan tawas Al2(SO4)3.
Tawas mengandung ion Al3+ yang cukup kecil tetapi bermuatan. Ion
Al3+ terhidrolisis membentuk partikel koloid Al(OH)3 yang bermuatan
positif.
Al3+ + 3H2O Al(OH)3 + 3H+
Al(OH)3 menghilangkan muatan negatif dari partikel koloid lumpur
sehingga terjadi koagulasi. Al(OH)3 mengendap bersama-sama lumpur
(Johari 2004: 297-299).
8 Kompetensi Dasar yang Ingin Dicapai
Kompetensi dasar yang ingin dicapai dalam pembelajaran pokok bahasan
koloid adalah:
a. Mengelompokkan koloid berdasarkan hasil pengamatan dan
penggunaannya di industri.
b. Mengidentifikasi sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari.
c. Membuat berbagai koloid dengan bahan-bahan yang ada di sekitar.
(Depdiknas 2003: 122).
29
Diharapkan kompetensi dasar tersebut dapat tercapai sehingga siswa dapat
menghubungkan dan menerapkan materi pelajaran dalam kehidupan seharihari
dapat berhasil sehingga bermanfaat dalam kehidupan siswa di kemudian
hari. Pendekatan kontekstual sangat tepat digunakan dalam pembelajaran ini
karena selain pendekatan konsep dan pendekatan ketrampilan proses,
pendekatan ini juga melibatkan siswa secara aktif dan mengaitkan materi
pelajaran dengan kehidupan nyata.
Proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual yang melibatkan siswa
secara aktif diharapkan dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk
mengkonstruksi pengetahuan mereka sehingga hasil pembelajaran menjadi
lebih bermakna bagi siswa.
B. Hipotesis Tindakan
Penggunaan metode penelitian tindakan kelas dengan menggunakan
pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa
kelas XI SMA Negeri 1 Kendal.
30
BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang menggunakan
data pengamatan langsung terhadap jalannya proses pembelajaran di kelas. Data
yang diperoleh dianalisis melalui beberapa tahapan dalam siklus-siklus tindakan.
A. Lokasi dan Subyek Penelitian
Tempat pelaksanaan penelitian di SMA N 1 Kendal yang beralamatkan
di Jl Raya Barat No. 126 Kendal, kelas XI IPA 1 semester II tahun ajaran
2006/2007 dengan jumlah 43 siswa yaitu 25 siswa perempuan dan 18 siswa
laki-laki.
B. Fokus Penelitian
Fokus penelitian merupakan apa yang menjadi titik perhatian dalam
suatu penelitian. Fokus penelitian juga biasa disebut dengan obyek penelitian
atau variabel penelitian. Dalam penelitian tindakan kelas ini, yang menjadi
fokus penelitian adalah hasil belajar yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan
psikomotorik serta aktivitas belajar siswa yang meliputi aktivitas fisik siswa
kelas XI IPA 1 semester 2 dalam pembelajaran kimia melalui pendekatan
kontekstual.
31
C. Rancangan Penelitian
Prosedur kerja dalam penelitian ini merupakan siklus kegiatan yang
minimal terdiri atas tiga siklus. Masing-masing siklus meliputi perencanaan,
tindakan, observasi, dan refleksi. Prosedur kerja tersebut secara garis besar
dapat dijelaskan dengan deskripsi umum penelitian tindakan kelas (Arikunto
2006: 74).
Siklus I
Siklus II
Siklus III
Gambar 1. Prosedur kerja penelitian tindakan kelas
Permasalah
an
Rencana
Tindakan
Pelaksanaan
Tindakan
Tersele Refleksi I Observasi I
saikan
Rencana Tindakan Pelaksanaan
Tindakan
Tersele Refleksi II Observasi II
saikan
Rencana Tindakan Pelaksanaan
Tindakan
Tersele Refleksi III Observasi III
saikan
32
D. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas
Seperti yang telah dikemukakan di atas, penelitian tindakan kelas ini
dilaksanakan secara bertahap, yaitu melalui siklus 1, 2, dan 3. Jadi dalam hal
ini, bila setelah diberi perlakuan belum ada peningkatan hasil, maka akan
diadakan perbaikan pada siklus berikutnya. Penjabaran pelaksanaan kegiatan
yang dilakukan setiap siklus adalah sebagai berikut:
1. Menentukan permasalahan
Sebelum dilakukan perlakuan terhadap siswa, peneliti melakukan
observasi situasi dan kondisi siswa, guru dan proses pembelajaran agar
mengetahui akar permasalahan dan bentuk perlakuan yang cocok untuk
dilaksanakan.
2. Perencanaan tindakan
a. Dokumentasi kondisi awal meliputi nilai mata pelajaran kimia sebelum
siklus serta wawancara guru dan siswa guna memberi gambaran
permasalahan yang mendasar dalam penguasaan materi.
b. Merumuskan tindakan sebagai alternatif solusi yaitu melalui
pendekatan kontekstual.
c. Membuat media panduan sebagai alat bantu siswa dengan pokok
bahasan koloid.
d. Membuat rencana pembelajaran yang berisi ketentuan pembelajaran
menggunakan pendekatan kontekstual dengan bantuan media panduan
setiap sub pokok materi.
e. Menyusun rancangan percobaan mengenai:
33
1) Perbedaan larutan, koloid, dan suspensi
2) Sifat-sifat koloid
3) Pembuatan koloid
f. Menyusun evaluasi dan kisi-kisi soal.
g. Menyusun daftar nilai kognitif.
h. Menyusun lembar observasi aktivitas, psikomotorik, afektif dan
kinerja guru yang akan digunakan pada saat pembelajaran.
i. Menyusun lembar pengamatan minat siswa terhadap pembelajaran
kimia melalui pendekatan kontekstual.
3. Pelaksanaan Tindakan
a. Sebelum mengajar, peneliti dan siswa mengadakan kontrak
pembelajaran yang dilakukan pada pertemuan pertama. Disini, peneliti
menjelaskan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan.
b. Untuk setiap pertemuan dilakukan pembelajaran sesuai ketentuan yang
direncanakan dalam rencana pembelajaran.
c. Dalam siklus I, materi yang diajarkan adalah jenis-jenis koloid. Siklus
II membahas tentang sifat-sifat koloid, sedangkan siklus III mengenai
pembuatan koloid.
d. Diadakan pre tes di tiap siklus sebelum pelaksanaan proses
pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual.
e. Memberi tes di akhir siklus (post tes).
4. Observasi
a. Observasi dilakukan oleh guru kelas dan peneliti, yaitu mengamati
jalannya proses pembelajaran.
34
b. Observasi pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan
kontekstual menggunakan media Lembar Kerja Siswa dan
memperhatikan tanggapan siswa terhadap tindakan tersebut serta
mengenali kesulitan-kesulitan yang dialami siswa.
c. Observasi aktivitas siswa, dan afektif selama pembelajaran
berlangsung.
d. Observasi psikomotorik saat melakukan praktikum.
e. Observasi kinerja guru selama pembelajaran berlangsung.
f. Menelaah hasil pre tes dan post tes untuk menilai segi kognitif dengan
memperhatikan reaksi dan tindakan siswa selama pelaksanaan tes.
5. Refleksi
Mendiskusikan hasil pengamatan untuk perbaikan pada pelaksanaan
siklus berikutnya.
6. Analisis Data
Hasil yang diperoleh pada tahap pemantauan dikumpulkan, dianalisis,
dan dievaluasi oleh peneliti sehingga dapat diketahui apakah ada
peningkatan hasil belajar dan aktivitas saat siklus pertama.
E. Teknik Pengumpulan Data
1. Dokumentasi
Hal ini dilakukan dengan mengambil dokumen atau data-data yang
mendukung penelitian meliputi nama-nama siswa yang menjadi subyek
penelitian dan data nilai ulangan semester 1 bidang studi kimia yang
35
diambil dari daftar nilai SMA N 1 Kendal. Data ini akan digunakan untuk
analisis tahap awal.
2. Pemberian tugas terstruktur
Tugas terstruktur diberikan kepada siswa untuk mempelajari dan
mengerjakan soal yang telah dirancang peneliti, dikerjakan secara
individual ataupun berkelompok.
3. Tes
Tes ini digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa dikaitkan
dengan penggunaan pendekatan kontekstual. Metode tes ini diberikan
sebelum dan setelah siswa diberi perlakuan. Sebelum tes digunakan untuk
memperoleh data siswa sebagai subyek penelitian, terlebih dahulu
diadakan uji coba soal pada kelas di luar kelas penelitian. Uji coba soal
yang telah dilaksanakan, bertempat di kelas XII IPA 2 SMA N 1 Kendal.
4. Lembar observasi
Untuk mengetahui mengenai kemampuan segi psikomotorik dan
afektif, dilakukan dengan membuat lembar observasi. Dalam lembar
observasi ini dicantumkan indikator-indikator yang dapat dijadikan acuan
untuk mengamati kemampuan siswa dari segi psikomotorik, afektif selama
pembelajaran berlangsung.
Untuk mengetahui pengaruh penggunaan pendekatan kontekstual
terhadap aktivitas siswa, maka diperlukan lembar observasi sebagai upaya
untuk mengamati pengaruh perlakuan.
5. Lembar Pengamatan Minat Siswa
Untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh pendekatan kontesktual
diserap oleh siswa, maka dilakukan penyebaran lembar pengamatan minat
siswa pada akhir pertemuan yang diisi siswa, dan selanjutnya dianalisis.
36
F. Perangkat Penelitian
Pada tahap ini dilakukan penyusunan instrumen penelitian yang meliputi:
1. Instrumen penelitian
Perangkat penelitian ini terdiri atas rencana pembelajaran, tugas
rumah, lembar observasi aktivitas siswa, psikomotorik, afektif, dan kinerja
guru, lembar pengamatan minat siswa, serta alat ukur hasil belajar yaitu tes
kognitif.
Instrumen berupa lembar soal sebagai alat ukur hasil belajar kognitif
diuji cobakan di luar sampel. Dari hasil uji coba kemudian dianalisis untuk
menentukan soal-soal yang layak dipakai untuk instrumen penelitian.
2. Analisis instrumen
Dalam sebuah penelitian, data mempunyai kedudukan yang sangat
penting, karena data merupakan penggambaran variabel yang diteliti, dan
berfungsi sebagai alat pembuktian hipotesis. Instrumen yang baik harus
memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliabel. (Arikunto
2002: 144).
a. Analisis validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat
kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Sebuah instrumen dikatakan
valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan (Arikunto 2002:
144).
37
Rumus yang digunakan adalah:
q
p
St
r Mp Mt pbis

= (Arikunto 2002: 79)
Keterangan:
rp bis = koefisien korelasi biserial
Mp = rata-rata skor siswa yang menjawab benar
Mt = rata-rata skor seluruh siswa
St =standar deviasi skor total
p = proporsi siswa yang menjawab benar
q = 1-p
1 ( )2
2
pbis
hitung r
t n


=
dengan n = jumlah soal
thitung yang diperoleh dengan rumus tersebut dibandingkan dengan
n siswa pada taraf signifikasi 5%. Item-item yang mempunyai thitung
lebih besar dari ttabel termasuk item yang valid. Dan item yang kurang
dari ttabel termasuk item yang tidak valid perlu direvisi atau tidak
digunakan (Arikunto 2002: 145).
Berdasarkan hasil perhitungan, validitas dengan n = 39 dan taraf
signifikasi 5% diperoleh ttabel 1,687. Hasil perhitungan validitas untuk
soal uji coba siklus 1, 2 dan 3 diperoleh data sebagai berikut:
Siklus 1
Dari 30 soal yang diujicobakan, 19 soal valid
Butir soal yang tidak valid : 1, 3, 11, 13, 17, 20, 21, 22, 26, 29, dan
30.
Butir soal yang valid : 2, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 12, 14, 15, 16, 18,
19, 23, 24, 25, 27, dan 28.
38
Siklus II
Dari 30 soal yang diujicobakan, 24 soal valid.
Butir soal yang tidak valid : 7, 13, 20, 22, 28, dan 30.
Butir soal yang valid : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, 9, 10, 11, 12, 14, 15, 16,
17, 18, 19, 21, 23, 24, 25, 26, 27, dan 29.
Siklus III
Dari 20 soal yang diujicobakan, 15 soal valid.
Butir soal yang tidak valid : 2, 5, 6, 10, dan 12.
Butir soal yang valid : 1, 3, 4, 7, 8, 9, 11, 13, 14, 15, 16, 17, 18,
19, dan 20.
b. Analisis reliabilitas
Sebuah tes dikatakan reliabel apabila tes tersebut dapat
menunjukkan hasil yang ajeg, jika tes tersebut digunakan pada
kesempatan yang lalu. Rumus yang digunakan adalah KR-20, dengan
rumus sebagai berikut:
⎟⎠

⎜⎝


=
1 11 k
r k ⎟



⎜ ⎜

⎛ −Σ2
2
S
S pq
(Arikunto 2002: 101)
Keterangan:
r11 = reliabilitas tes secara keseluruhan
p = proporsi siswa yang menjawab benar
q = 1-p
S2 = varians total
k = banyak soal
39
Hasil perhitungan reliabilitas dengan n = 39 dan taraf signifikasi 5%
diperoleh r tabel sebesar 0,316. Soal uji coba siklus 1, siklus 2, dan siklus
3 diperoleh r11 berturut-turut sebesar 0,822 ; 0,846 ; 0,79. Ketiga harga r11
tersebut lebih besar daripada r tabel, sehingga termasuk reliabel.
c. Analisis daya pembeda
Rumus untuk menentukan daya pembeda adalah:
A
A
J
DP = B
B
B
J
− B (Arikunto 2002: 213)
Keterangan:
DP = daya pembeda
BA = jumlah siswa yang menjawab benar pada butir soal kelompok
atas
BB = jumlah siswa yang menjawab benar pada butir soal kelompok
bawah
JA = banyaknya siswa pada kelompok atas
JB = banyaknya siswa pada kelompok bawah
Kriteria soal-soal berdasarkan daya pembedanya sebagai berikut:
0,00 ≤ DP ≤ 0,20 daya pembedanya jelek
0,20< DP ≤ 0,40 daya pembedanya cukup
0,40< DP ≤ 0,70 daya pembedanya baik
0,70< DP ≤ 1,00 daya pembedanya baik sekali
bila D negatif, semua tidak baik, jadi butir soal yang mempunyai nilai
D negatif sebaiknya dibuang.
Berdasarkan hasil analisis data ujicoba yang telah dilakukan,
analisis daya beda soal untuk setiap siklusnya adalah sebagai berikut:
40
Siklus I
Kriteria jelek : 1, 3, 11, 13, 17, 20, 21, 22, 26, 29, dan 30 (soal
dibuang)
Kriteria cukup : 8, 10, 18, 19, dan 27
Kriteria baik : 2, 4, 5, 6, 7, 9, 12, 14, 15, 23, 24, dan 25.
Kriteria baik sekali : 16 dan 28.
Siklus II
Kriteria jelek : 7, 13, 20, 22, 28, dan 30 (soal dibuang)
Kriteria cukup : 1, 5, 8, 10, 11, 12, 14, 15, 16, 17, 18, 21, dan 27.
Kriteria baik : 2, 3, 4, 6, 9, 19, 23, 24, 25, 26, dan 29.
Siklus III
Kriteria jelek : 5, 10, dan 12 (soal dibuang).
Kriteria cukup : 1, 2, 4, 6, 8, 9, 11, 13, 14, 15, 17, dan 19.
Kriteria baik : 3, 7, 16, 18, dan 20.
d. Analisis tingkat kesukaran
A B
A B
JS JS
IK JB JB
+
+
=
Keterangan:
IK = indeks kesukaran
JBA = jumlah yang benar pada butir soal kelompok atas
JBB = jumlah yang benar pada butir soal kelompok bawah
JSA = jumlah siswa pada kelompok atas
JSB = jumlah siswa pada kelompok bawah
Kriteria yang menunjukkan tingkat kesukaran soal adalah
0,00< IK ≤ 0,30 dikategorikan soal sukar
0,30< IK ≤ 0,70 dikategorikan soal sedang
0,70< IK ≤ 1,00 dikategorikan soal mudah
41
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh taraf kesukaran sebagai
berikut.
Siklus I
Soal mudah : 3, 7, 19, 27, dan 20.
Soal sedang : 1, 2, 4, 5, 6, 8, 9, 10, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 22,
23, 24, 26, 28, dan 29.
Soal sukar : 11, 21, 25, dan 30
Siklus II
Soal mudah : 1, 2, 3, 14, 15, 24, dan 29.
Soal sedang : 4, 5, 6, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 16, 17, 18, 19, 21, 23,
dan 25.
Soal sukar : 7, 20, 22, 26, 27, 28, dan 30
Siklus III
Soal mudah : 1, 9, 11, dan 18.
Soal sedang : 2, 3, 4, 5, 8, 14, 15, 16, 19, dan 20.
Soal sukar : 6, 7, 10, 12, 13, dan 17.
G. Metode Analisis Data
Pada penelitian ini digunakan metode deskriptif dengan membandingkan
hasil belajar siswa sebelum tindakan dengan hasil belajar siswa setelah
tindakan.
42
Langkah-langkah pengolahan data sebagai berikut:
1. Merekapitulasi nilai tes semester I dan nilai pre tes dan post tes pada tiap
siklus.
2. Menghitung nilai rerata atau persentase hasil belajar siswa sebelum
dilakukan tindakan dengan hasil belajar setelah dilakukan tindakan pada
tiap siklus untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar.
3. Penilaian
a. Data nilai hasil belajar (kognitif) diperoleh dengan menggunakan
rumus:
X100%
Jumlah seluruh soal
nilai siswa = jumlah jawaban benar
(Arikunto 2002: 236)
b. Nilai rata-rata siswa dicari dengan rumus sebagai berikut:
N
x
X Σ =
Keterangan:
X = nilai rata-rata
Σ x = jumlah nilai
N = jumlah peserta tes
c. Untuk penilaian afektif dan psikomotorik digunakan rumus sebagai
berikut:
% X100%
N
NP = n
Keterangan:
NP% = Persentase nilai siswa yang diperoleh
n = jumlah skor yang diperoleh
N = jumlah skor maksimal
43
d. Untuk analisis hasil observasi keaktifan siswa yang diperlukan untuk
mengetahui sejauh mana keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Rumus yang digunakan adalah deskriptif persentase yang
menggambarkan besarnya persentase keaktifan siswa dalam proses
pembelajaran.
% X100%
N
NP = n
Keterangan:
NP% = Persentase nilai siswa yang diperoleh
n = jumlah skor yang diperoleh
N = jumlah skor maksimal
e. Ketentuan Persentase Ketuntasan Belajar Kelas
Ketuntasan belajar kelas = X100%
k
Sb
Σ
Σ
Keterangan:
ΣSb = jumlah siswa yang mendapat nilai ≥ 65% dari seluruh
tujuan pembelajaran (Mulyasa 2004: 199)
Σk = jumlah siswa dalam sampel
H. Tolok Ukur Keberhasilan
Menurut Arikunto (2002: 190), manfaat tolok ukur adalah:
1. menyamakan ukuran bagi pengumpul data agar tidak banyak terpengaruh
faktor subyektif
2. menjaga kestabilan data yang dikumpulkan dalam waktu yang berbeda
3. mempermudah peneliti dalam mengolah data agar siapapun dapat
melakukannya.
44
Menurut Mulyasa (2004: 99) seorang peserta didik tuntas belajar jika ia
mampu menyelesaikan, menguasai kompetensi atau mencapai tujuan
pembelajaran minimal 65% dari seluruh tujuan pembelajaran. Sedangkan
keberhasilan kelas dilihat dari jumlah peserta didik yang mampu mencapai
minimal 65%, sekurang-kurangnya 85% dari jumlah peserta didik yang ada di
kelas tersebut.
45
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Kondisi Awal
Kondisi awal subjek penelitian diperoleh melalui observasi penulis dengan
guru bidang studi kimia dan siswa. Berdasarkan hasil observasi, diketahui
bahwa siswa kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal mempunyai hasil belajar yang
rendah dan aktivitas siswa di kelas yang masih kurang. Hal ini dapat dilihat
dari hasil tes semester I didapatkan nilai rata-rata kelas sebesar 56,8, dan 7
dari 43 siswa (16,3%) yang mencapai ketuntasan dalam tes semester I
tersebut (lampiran 1).
Rendahnya hasil belajar siswa dapat disebabkan oleh beberapa faktor, baik
dari dalam diri siswa itu sendiri ataupun pengaruh lingkungan. Metode yang
diterapkan guru sudah cukup baik, namun kurang bervariasi, yaitu hanya
menggunakan metode ceramah dan tugas. Sehingga ada beberapa siswa yang
merasa kesulitan untuk menyerap pelajaran.
Menurut siswa, kesulitan dalam memahami materi kimia disebabkan
karena materinya sulit, banyak rumus dan hafalan. Apabila hal ini tidak segera
diatasi, maka akan mempengaruhi hasil belajar siswa dalam mempelajari
materi koloid, karena pada materi koloid banyak hafalan.
Berdasarkan kondisi awal tersebut, perlu dilakukan tindakan untuk
membantu siswa dalam memahami materi kimia dan mengubah pandangan
46
siswa bahwa kimia bukanlah pelajaran yang sulit dan membosankan. Langkah
yang diambil penulis adalah dengan menerapkan penggunaan pendekatan
kontekstual. Pendekatan kontekstual, merupakan suatu konsep belajar, guru
menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan
dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai anggota keluarga dan
masyarakat. Pendekatan kontekstual merupakan pendekatan yang
memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas, menerapkan
pengetahuan dan ketrampilan akademik mereka dalam berbagai tatanan
kehidupan baik disekolah maupun diluar sekolah. Proses pembelajaran dengan
pendekatan kontekstual yang melibatkan siswa secara aktif diharapkan dapat
memberi kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan
mereka sehingga hasil pembelajaran menjadi lebih bermakna.
2. Data Hasil Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini meliputi tiga siklus. Setiap siklus terdiri atas
tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data hasil
penelitian ini diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan oleh penulis dan
guru mitra (observer) selama proses pembelajaran berlangsung, baik pada
siklus I, II, maupun III.
a. Hasil belajar
1). Hasil belajar kognitif
Nilai hasil belajar kognitif diperoleh setelah seluruh siswa
menjawab soal-soal yang diberikan. Pada siklus I soal yang diberikan
47
sebanyak 20 dengan materi perbedaan larutan, koloid, dan suspensi
serta jenis-jenis koloid. Sedangkan pada siklus II soal yang diberikan
sebanyak 24 meliputi materi sifat-sifat koloid, dan pada siklus III soal
yang diberikan sebanyak 15 meliputi materi pembuatan koloid. Bentuk
soal yang diberikan merupakan soal pilihan ganda. Siswa dikatakan
menguasai materi apabila sekurang-kurangnya 65% dari jumlah soal
dapat dijawab dengan benar. Ketuntasan belajar secara klasikal dinilai
berhasil apabila sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa
menguasai materi. Data hasil belajar (kognitif) pre tes (sebelum) dan
post tes (setelah) diberikan pembelajaran melalui pendekatan
kontekstual untuk setiap siklus dapat dilihat pada tabel 5 berikut.
Tabel 5. Nilai hasil belajar (kognitif) siklus I, II, dan III pada pokok
bahasan koloid melalui pendekatan kontekstual siswa kelas
XI IPA 1 SMA N 1 Kendal
Siklus
I II III
No Pencapaian Pre
tes
Post
tes
Pre
tes
Post
tes
Pre
tes
Post
tes
1.
2.
3.
4.
Nilai terendah
Nilai tertinggi
Rata-rata nilai
Ketuntasan
belajar (%)
31,6
87,5
62,9
48,8
42,1
94,7
69,7
58,1
45,8
95,8
71,4
62,8
58,3
95,8
76,7
72,1
53,3
93,3
72,9
76,7
60
93,3
77
86,0
Keterangan: Data hasil belajar kognitif dapat dilihat pada lampiran 23.
Berdasarkan tabel 5, indikator keberhasilan untuk ketuntasan
belajar, yaitu sekurang-kurangnya 85% siswa memperoleh nilai lebih
besar atau sama dengan 65. Pada siklus I, rata-rata nilai pre tes adalah
62,9 dan rata-rata nilai post tes adalah 69,7 sehingga daya serap secara
individu telah berhasil tetapi secara klasikal daya serapnya masih
48
rendah. Ketuntasan belajar belum mencapai 85% sehingga penelitian
tindakan kelas pada siklus I belum berhasil.
Hasil belajar pada siklus II mengalami peningkatan, yaitu dengan
rata-rata pre tes adalah 71,4 dan rata-rata nilai post tes adalah 76,7.
Secara individu daya serapnya telah berhasil tetapi secara klasikal daya
serapnya belum mencapai 85% sehingga penelitian tindakan kelas
pada siklus II belum berhasil.
Hasil belajar pada siklus III, rata-rata nilai pre tes kelas sebesar
72,9 dan rata-rata nilai post tes sebesar 77. Daya serap secara individu
telah berhasil dan ketuntasan belajar secara klasikal telah mencapai
kriteria yang ditentukan, karena ketuntasan belajar mencapai 86%,
sehingga penelitian tindakan kelas pada siklus III telah berhasil.
Rata-rata nilai post tes dan persentase ketuntasan belajar secara
klasikal meningkat dari siklus I ke siklus II sebesar 7 dan 14%.
Sedangkan dari siklus II ke siklus III rata-rata nilai post tes dan
persentase ketuntasan belajar meningkat sebesar 0,3 dan 13,9%,
sehingga secara keseluruhan penelitian tindakan kelas ini dikatakan
telah berhasil.
Peningkatan hasil belajar kognitif dapat ditunjukkan dalam
diagram berikut.
49
Peningkatan rata-rata hasil belajar kognitif
62,9
71,4 72,9
76,7 77 69,7
0
20
40
60
80
100
1 2 3
Siklus ke-
Rata-rata
nilai
rata-rata pre tes
rata-rata post tes
Gambar 2. Diagram peningkatan rata-rata hasil belajar kognitif
Peningkatan persentase ketuntasan belajar
kognitif secara klasikal
58,10%
72,10%
86%
0,00%
20,00%
40,00%
60,00%
80,00%
100,00%
1 2 3
Siklus ke-
Persentase
Ketuntasan belajar
kognitif secara
klasikall
Gambar 3. Diagram peningkatan persentase ketuntasan belajar kognitif
secara klasikal
2). Hasil belajar psikomotorik
Nilai psikomotorik diperoleh dari lembar observasi yang
didasarkan pada 4 indikator. Hasil yang diperoleh kemudian dianlisis
dan memperoleh nilai sebagai berikut.
50
Tabel 6. Nilai psikomotoirk pada pokok bahasan koloid melalui
pendekatan kontekstual siswa kelas XI IPA 1 SMA N 1
Kendal
No. Pencapaian Siklus ke- I II II
1.
2.
3.
4.
Nilai terendah
Nilai tertinggi
Rata-rata nilai
Ketuntasan belajar (%)
50
70
63,1
62,8
50
70
65,4
74,4
60
80
70,2
88,4
Keterangan: Data hasil belajar psikomotorik dapat dilihat pada
lampiran 26.
Berdasarkan pengamatan penulis ketika praktikum, didapatkan
hasil nilai psikomotorik seperti tertera pada tabel 6 di atas. Penilaian
tersebut didasarkan pada beberapa indikator. Berdasarkan pengamatan
dan hasil penilaian, disimpulkan bahwa dengan menggunakan
pendekatan kontekstual siswa semangat selama praktikum karena
bahan yang digunakan untuk praktikum ada dalam kehidupan seharihari.
Berdasarkan pada tabel 6, indikator keberhasilan untuk ketuntasan
belajar yaitu sekurang-kurangnya 85% siswa memperoleh nilai lebih
besar atau sama dengan 65. Pada siklus I, rata-rata nilai adalah 63,1
sehingga secara individu daya serapnya masih rendah. Dalam hal ini,
penelitian tindakan kelas siklus I belum berhasil.
Hasil belajar psikomotorik pada siklus II mengalami peningkatan
yaitu dengan rata-rata kelas 65,4 dan ketuntasan belajar secara klasikal
sebesar 74,4%. Daya serap secara individu telah berhasil, namun
secara klasikal belum berhasil.
Hasil belajar psikomotorik pada siklus III telah mencapai target,
yaitu dengan rata-rata kelas 70,2 dan ketuntasan belajar secara klasikal
sebesar 88,4%.
51
Rata-rata nilai psikomotorik dan persentase ketuntasan belajar
secara klasikal meningkat dari siklus I ke siklus II sebesar 2,3 dan
11,6%. Sedangkan dari siklus II ke siklus III rata-rata nilai
psikomotorik dan persentase ketuntasan belajar meningkat sebesar 4,8
dan 14%. Sehingga secara keseluruhan penelitian tindakan kelas ini
dikatakan berhasil.
Peningkatan hasil belajar psikomotorik dapat ditunjukkan dalam
diagram berikut.
Peningkatan rata-rata hasil belajar
psikomotorik
63,1
65,4
70,2
55
60
65
70
75
1 2 3
Siklus ke-
Nilai rata-rata
Rata-rata
kelas
Gambar 4. Diagram peningkatan rata-rata hasil belajar psikomotorik
Peningkatan persentase ketuntasan belajar psikomotorik
secara klasikal
62,80%
74,40%
88,40%
0,00%
20,00%
40,00%
60,00%
80,00%
100,00%
1 2 3
Siklus ke-
Persentase
Persentase
siswa yang
tuntas
belajar
Gambar 5. Diagram peningkatan persentase ketuntasan belajar
psikomotorik secara klasikal
52
3). Hasil belajar afektif
Nilai afektif diperoleh dari lembar observasi yang didasarkan pada
10 indikator. Hasil yang diperoleh kemudian dianalisis dan
memperoleh nilai sebagai berikut.
Tabel 7. Nilai afektif pada pokok bahasan koloid melalui pendekatan
kontekstual siswa kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal
No. Pencapaian Siklus ke- I II II
1.
2.
3.
4.
Nilai terendah
Nilai tertinggi
Rata-rata nilai
Ketuntasan belajar (%)
42
74
62,6
53,5
48
76
66,8
72,1
60
76
69,5
86
Keterangan: Data hasil belajar afektif dapat dilihat pada lampiran 25.
Berdasarkan pengamatan penulis ketika pembelajaran berlangsung,
diperoleh hasil nilai afektif seperti tertera pada tabel 7 di atas.
Penilaian tersebut didasarkan pada beberapa indikator. Berdasarkan
pengamatan dan hasil penilaian, disimpulkan bahwa dengan
menggunakan pendekatan kontekstual siswa berminat dalam
pembelajaran karena materi yang diajarkan dikaitkan dengan
kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan pada tabel 7, indikator keberhasilan untuk ketuntasan
belajar yaitu sekurang-kurangnya 85% siswa memperoleh nilai lebih
besar atau sama dengan 65. Pada siklus I, rata-rata nilai adalah 62,6
sehingga secara individu daya serapnya masih rendah. Dalam hal ini,
penelitian tindakan kelas siklus I belum berhasil.
Hasil belajar afektif pada siklus II mengalami peningkatan yaitu
dengan rata-rata kelas 66,8 dan ketuntasan belajar secara klasikal
53
sebesar 72,1%. Daya serap secara individu telah berhasil, namun
secara klasikal belum mencapai 85%.
Hasil belajar afektif pada siklus III telah mencapai target, yaitu
dengan rata-rata kelas 69,5 dan ketuntasan belajar secara klasikal
sebesar 86%.
Rata-rata nilai afektif dan persentase ketuntasan belajar secara
klasikal meningkat dari siklus I ke siklus II sebesar 4,2 dan 18,6%.
Sedangkan dari siklus II ke siklus III rata-rata nilai afektif dan
persentase ketuntasan belajar meningkat sebesar 2,7 dan 13,9%,
sehingga secara keseluruhan penelitian tindakan kelas ini dikatakan
berhasil.
Peningkatan hasil belajar afektif dapat ditunjukkan dalam diagram
berikut.
Peningkatan rata-rata hasil belajar afektif
62,6
66,8
69,5
58
60
62
64
66
68
70
72
1 2 3
Siklus ke- Nilai rata-rata
Peningkatan rata-rata
hasil belajar siswa
Gambar 6. Diagram peningkatan rata-rata hasil belajar afektif
54
Peningkatan persentase ketuntaan belajar afektif secara
klasikal
53,50%
72,10%
86%
0,00%
20,00%
40,00%
60,00%
80,00%
100,00%
1 2 3
Siklus ke-
Peresentase
Peningkatan
persentase siswa
yang tuntas
belajar
Gambar 7. Diagram peningkatan persentase ketuntasan belajar afektif
secara klasikal
b. Hasil observasi kinerja guru
Observasi tentang pelaksanaan tindakan guru terdiri atas 14 item yang
diamati bersama-sama dengan pelaksanaan tindakan dalam proses
pembelajaran melalui pendekatan kontekstual. Kinerja pelaksanaan
tindakan guru berdasarkan pada kesesuaian pembelajaran guru dengan
rencana pembelajaran. Data yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Hasil observasi pelaksanaan tindakan guru siklus I, II, dan III
pada pokok bahasan koloid melalui pendekatan kontekstual
siswa kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal
No. Kegiatan Persentase
1.
2.
3.
Siklus I
Siklus II
Siklus III
71,4%
80%
95%
Keterangan: Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 27.
Hasil observasi kinerja guru dari siklus I ke siklus II mengalami
peningkatan sebesar 8,6%. Sedangkan dari siklus II ke siklus III
peningkatannya sebesar 15%. Kinerja guru sudah baik dari siklus I dan
kenaikan persentase disebabkan karena guru makin terbiasa dengan proses
55
pembelajaran dan mulai memahami karakter siswa, sehingga pada setiap
perencanaan siklus lebih matang.
c. Hasil observasi aktivitas siswa
Observasi tentang aksivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran
melalui pendekatan kontekstual pada pokok bahasan koloid terdiri atas 4
indikator. Secara garis besar, hasil observasi aktivitas siswa dapat dilihat
pada tabel 9.
Tabel 9. Hasil observasi aktivitas siswa siklus I, II, dan III pada pokok
bahasan koloid melalui pendekatan kontekstual siswa kelas XI
IPA 1 SMA N 1 Kendal
No. Keterangan Siklus I Siklus II Siklus III
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Aktivitas siswa kurang
Aktivitas siswa cukup
Aktivitas siswa baik
Aktivitas siswa sangat baik
Rata-rata nilai aktivitas siswa
Persentase ketuntasan nilai
aktivitas secara klasikal
-
9,3%
79%
11,7%
64,4
65,1%
-
2,3%
67,5%
30,2%
68,2
74,4%
-
-
48,9%
51,1%
71,7
86%
Keterangan: data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 24.
Pada siklus I, aktivitas siswa dengan kriteria cukup mencapai 9,3%,
baik 7%, dan sangat baik 11,7%. Sedangkan nilai rata-rata aktivitas siswa
sebesar 64,4 dengan ketuntasan secara klasikal 65,1%. Indikator
keberhasilan untuk ketuntasan belajar yaitu sekurang-kurangnya 85%
siswa memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan 65. Dari nilai ratarata
yang diperoleh, aktivitas belajar siswa masih rendah dan ketuntasan
belajar secara klasikal belum mencapai target.
Pada siklus II, aktivitas siswa dalam proses pembelajaran meningkat.
Hal ini nampak dari semakin banyak siswa yang menjawab pertanyaan
dari guru, semakin berkurangnya siswa yang bicara sendiri. Meningkatnya
aktivitas siswa dengan kriteria cukup hanya 2,3%, aktivitas siswa baik
56
67,5%, dan aktivitas sangat baik 30,2%. Nilai rata-rata aktivitas siswa
pada siklus II sebesar 68,2 dengan ketuntasan belajar secara klasikal
74,4%. Ketuntasan aktivitas belajar siswa belum mencapai target.
Pada siklus III, penelitian dikatakan berhasil karena telah mencapai
indikator keberhasilan yaitu dengan nilai rata-rata aktivitas siswa sebesar
71,7 dengan ketuntasan belajar 86% dan meningkatnya aktivitas siswa
dengan kriteria baik 48,9% dan kriteria sangat baik sebesar 51,1%.
Peningkatan aktivitas siswa dapat ditunjukkan dalam diagram berikut.
Peningkatan rata-rata nilai aktivitas
siswa
64,4
68,2
71,7
60
65
70
75
1 2 3
Siklus ke-
Rata-rata nilai
Rata-rata
aktivitas
siswa
Gambar 8. Diagram peningkatan rata-rata nilai aktivitas siswa
Peningkatan persentase ketuntasan aktivitas siswa
65,10%
74,40%
86%
0,00%
20,00%
40,00%
60,00%
80,00%
100,00%
1 2 3
Siklus ke- Persentase
Persentase
ketuntasan
aktivitas siswa
Gambar 9. Diagram peningkatan persentase aktivitas siswa
57
d. Hasil pangamatan minat siswa
Melalui lembar kuesioner berupa pengamatan minat siswa, penulis
setidaknya mengetahui sejauhmana ketertarikan siswa terhadap proses
pembelajaran yang telah dilaksanakan. Hal ini dapat dikatakan sebagai
umpan balik dari proses pembelajaran. Indikator yang ditanyakan pada
siswa terdiri dari 8 item. Hasil analisis siswa dirangkum pada tabel 10
berikut.
Tabel 10. Hasil kuesioner pengamatan minat siswa siklus I, II, dan III pada pokok
bahasan koloid melalui pendekatan kontekstual siswa kelas XI IPA 1
SMA N 1 Kendal
No. Pertanyaan Jumlah SS S TS STS
1. Saya senang terhadap pembelajaran pokok
materi koloid yang baru saja dilaksanakan
(yaitu dengan pendekatan kontekstual/ CTL).
16 27 – -
2. Saya lebih tertarik dengan pembelajaran yang
dikaitkan dengan kejadian sehari-hari di
lingkungan/ pengalaman saya seperti yang
diterapkan guru.
21 22 – -
3. Saya tidak bosan ketika kegiatan pembelajaran
berlangsung.
19 19 5 -
4. Saya selalu bekerjasama dengan teman satu
kelompok, teman sekelas, dan guru.
20 22 1 -
5. Teman dalam kelompk dapat membantu saya
dalam menerima pokok materi koloid.
23 19 1 -
6. Saya merasa lebih mudah memahami materi
pelajaran dengan pembelajaran (dengan
pendekatan kontekstual/ CTL).
16 26 1 -
7. Saya benar-benar memahami kesimpulan akhir
yang saya buat.
10 27 6 -
8. Setiap pembelajaran, saya ingin proses
pembelajaran dikaitkan dengan kejadian
sehari-hari di lingkungan atau pengalaman
saya seperti yang diterapkan guru.
22 21 – -
58
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa penggunaan
pendekatan kontekstual dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa
dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat terjadi karena pendekatan
kontekstual, merupakan suatu konsep belajar, guru menghadirkan situasi dunia
nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka seharihari
sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pendekatan kontekstual
merupakan pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan,
memperluas, menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik mereka
dalam berbagai tatanan kehidupan baik disekolah maupun diluar sekolah.
Proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual yang melibatkan siswa
secara aktif diharapkan dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk
mengkonstruksi pengetahuan mereka sehingga hasil pembelajaran menjadi
lebih bermakna.
Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus. Pembahasan pelaksanaan
tiap siklusnya adalah sebagai berikut:
1. Silus I
Berdasarkan hasil tes semester I, sebelum penulis melakukan
penelitian, hasil belajar siswa belum memenuhi harapan. Hal ini dapat
diketahui dari nilai rata-rata kelas sebesar 56,8, dan 7 dari 43 siswa
(16,3%) yang mencapai ketuntasan dalam tes semester I tersebut. Bertolak
dari kondisi awal tersebut dilakukan penelitian tindakan kelas untuk
59
mengoptimalkan hasil belajar melalui penerapan pendekatan kontekstual
dalam proses pembelajaran pada pokok bahasan koloid.
Pada awal pembelajaran guru memberikan apersepsi dan motivasi
yang berhubungan dengan materi yang akan dibahas agar siswa lebih siap
menghadapi bahan pelajaran dan mempunyai rasa ingin tahu yang kuat
terhadap materi yang akan dibahas. Kegiatan pendahuluan tersebut diikuti
dengan kegiatan inti. Kegiatan inti dalam proses pembelajaran yang
dilakukan adalah guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil
yang terdiri dari 4-5 siswa, kemudian guru membagikan lembar kerja
siswa/ LKS, setelah itu siswa secara berkelompok melaksanakan kegiatan
praktikum sesuai dengan petunjuk pada LKS. Kemudian masing-masing
kelompok mendiskusikan hasil pengamatannya. Setiap kelompok mengisi
lembar kerja siswa/ LKS dengan bantuan guru. Setiap kelompok diberi
kesempatan untuk mempresentasikan hasil pengamatannya kemudian
diadakan sharing klasikal dan reflkesi.
Kegiatan penutup dalam pembelajaran ini berupa diskusi dan menarik
simpulan dari materi yang telah dipelajari dengan bimbingan guru. Dalam
kegiatan ini siswa diberi kesempatan untuk menanyakan materi yang
kurang dipahami siswa, sedangkan guru menyatukan kerangka berfikir
siswa dengan menjelaskan bagian-bagian yang penting.
Dalam kegiatan pengamatan pada saat praktikum, diharapkan siswa
dapat menggunakan pengetahuan awalnya untuk membangun pengetahuan
baru. Pada kegiatan pengamatan, siswa akan mengalami proses induktif
60
(berdasar fakta nyata) sehingga siswa dapat membangun makna, kesan
dalam memori atau ingatannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Dimyati
(2002: 45) yang mengatakan bahwa dalam belajar melalui pengalaman
langsung, siswa tidak sekedar mengamati tetapi harus menghayati, terlibat
langsung dalam perbuatan dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Hal
tersebut juga didukung oleh pendapat Nurhadi (2002: 105) yang
menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran siswa membangun sendiri
pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar
mengajar.
Dalam kegiatan diskusi akan menciptakan aktivitas bertanya yang
berguna untuk menggali informasi yang dimiliki siswa, mengecek
pemahaman, dan membangkitkan respon siswa. Bertanya dalam
pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong,
membimbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa. Bertanya adalah
suatu strategi yang digunakan secara aktif oleh siswa untuk menganalisis
dan mengeksplorasi gagasan-gagasan (Nurhadi 2004: 45).
Dalam kegiatan sharing klasikal siswa saling melengkapi hasil
temuannya antara satu kelompok dengan kelompok lain. Selain itu, untuk
menyamakan konsep antara siswa yang satu dengan siswa yang lain dan
antara guru dengan siswa dengan memperhatikan keterlibatan dan
keaktifan siswa.
Proses pembelajaran pada siklus I dengan penerapan pendekatan
kontekstual diperoleh rata-rata hasil belajar siswa 69,7 dengan ketuntasan
61
belajar secara klasikal 58,14% pada hasil belajar kognitif. Meningkatnya
nilai rata-rata dan ketuntasan belajar secara klasikal tersebut berarti
pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari meningkat. Pada hasil
belajar psikomotorik diperoleh nilai rata-rata 63,14 dengan ketuntasan
belajar secara klasikal 62,8%. Pada hasil belajar afektif, diperoleh nilai
rata-rata 62,6 dengan ketuntasan belajar secara klasikal 53,5%.
Peningkatan nilai rata-rata pada siklus I ini karena siswa terlibat
langsung secara aktif dalam proses pembelajaran. Hal tersebut sesuai
pendapat John Dewey dalam Dimyati (2002: 116) yang menyatakan
bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk
dirinya sendiri, guru sekedar pembimbing dan pengarah. Dalam setiap
kegiatan belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan baik dari kegiatan
fisik yang mudah diamati sampai kegiatan psikis yang sulit untuk diamati.
Pendapat John Dewey didukung oleh Nurhadi (2004: 8-9) yang
menyatakan bahwa dalam proses belajar mengajar siswa membangun
sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar
mengajar.
Perolehan ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus I sebesar
58,14% belum memenuhi target yang diterapkan, yaitu sekurangkurangnya
85% siswa yang mampu mencapai nilai 65. Perolehan
ketuntasan belajar secara klasikal yang belum memenuhi target ini
disebabkan dari keaktifan siswa yang kurang optimal selain itu guru masih
62
kurang bisa mengelola kelas. Siswa masih enggan bertanya pada guru jika
mengalami kesulitan.
Berdasarkan hasil observasi yang diuraikan di atas, maka di akhir
siklus diadakan refleksi oleh penulis dan guru mitra terhadap pelaksanaan
pembelajaran selama siklus I berlangsung. Hasil refleksi yang
dilangsungkan adalah sebagai berikut:
a. Perlu meningkatakan motivasi bagi siswa untuk meningkatkan
aktivitas selama proses pembelajaran.
b. Perlu diberikan tugas awal sebelum materi dipelajari agar siswa
memiliki persiapan materi.
c. Perlu memberi penguatan kepada siswa yang bertanya dan yang mau
mengerjakan soal di papan tulis, agar dapat memotivasi siswa yang
lain untuk turut aktif dalam pembelajaran.
d. Pengelolaan terhadap waktu pembelajaran perlu diperhatikan dan harus
sesuai dengan alokasi waktu yang telah direncanakan.
e. Selama mengelola kelas perlu perhatian yang khusus kepada siswa
yang ramai misalnya dengan menegur, agar tidak menganggu teman
yang lain sehingga suasana kelas menjadi kondusif.
f. Perlu adanya persiapan dan perencanaan yang matang mengenai
kegiatan, alat, bahan, dan sarana lain yang diperlukan dalam proses
pembelajaran selanjutnya.
Hasil refleksi tersebut menjadi masukan untuk perbaikan kondisi
pembelajaran yang akan dilaksanakan pada siklus II.
63
2. Siklus II
Perbaikan-perbaikan dari hasil refleksi pada siklus I yang diterapkan
pada siklus II ternyata tampak hasilnya. Hal ini dapat diketahui dari proses
pembelajaran yang berjalan lancar. Siswa dapat menyesuaikan diri dengan
kondisi pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual.
Kesiapan siswa dalam pembelajaran lebih baik dibandingkan dengan
siklus I.
Pada observasi pelaksanaan siklus II diperoleh nilai rata-rata hasil
belajar pada siklus II adalah 76,7 dengan ketuntasan belajar secara kalsikal
72,1% pada hasil belajar kognitif. Pada hasil belajar psikomotorik
diperoleh rata-rata 65,35 dengan ketuntasan belajar secara kalsikal 74,4%.
Pada hasil belajar afektif diperoleh nilai rata-rata 66,83 dengan ketuntasan
secara klasikal sebesar 72,1%. Perolehan hasil belajar tersebut
menunjukkan adanya peningkatan jika dibandingkan hasil belajar pada
siklus I. Nilai rata-rata pada siklus II meningkat dari 69,7 pada siklus I
menjadi 72,1 pada siklus II. Ketuntasan belajar secara klasikal mengalami
peningkatan dari 58,14 pada siklus I menjadi 72,1% pada siklus II pada
hasil belajar kognitif yang juga diikuti pada hasil belajar afektif dan
psikomotorik.
Meningkatnya nilai rata-rata dan ketuntasan belajar secara klasikal
tersebut berarti pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari
meningkat. Peningkatan nilai rata-rata pada siklus II ini dipengaruhi oleh
meningkatnya keaktifan siswa.
64
Berdasarkan hasil observasi, diketahui bahwa aktivitas belajar siswa
meningkat selama proses pembelajaran siklus II dibandingkan pada siklus
I. Nilai rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus II meningkat dari 64,41
pada siklus I menjadi 68,25 pada siklus II dan ketuntasan belajar secara
klasikal meningkat dari 65,1% pada siklus I menjadi 74,4% pada siklus II.
Peningkatan ini dapat dilihat dari siswa aktif mengajukan pertanyaan,
menjawab pertanyaan, dan mendengarkan penyajian bahan. Adapun data
hasil observasi dapat dilihat pada lampiran 17.
Pada saat melakukan sharing secara klasikal menunjukkan keaktifan
siswa sudah merata. Meningkatnya nilai rata-rata dan ketuntasan belajar
secara klasikal tidak lepas dari meningkatnya kinerja guru dengan
memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ditemukan pada siklus I.
Tindakan perbaikan tersebut terlihat dari cara guru dalam membimbing
siswa menemukan jawaban sendiri. Selain itu guru berusaha untuk
memotivasi siswa dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan yang
pada akhirnya menuntun siswa untuk menemukan jawabannya sendiri
sehingga siswa benar-benar belajar mencari jawaban dan guru hanya
memberi rangsangan dan bimbingan. Menurut pendapat Slameto (2003:
97) dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk
mendorong, membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk
mencapi tujuan.
Hasil belajar pada siklus II masih perlu ditingkatkan lagi karena
ketuntasan belajar secara klasikal belum mencapai 85%. Hal tersebut
65
menunjukkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran masih perlu
ditingkatkan lagi, sehingga pemahaman siswa terhadap konsep yang
dibahas akan lebih optimal.
Keterlibatan siswa yang masih belum optimal disebabkan adanya
berbagai kendala diantaranya siswa yang masih bercanda sendiri dengan
temannya, masih ada siswa yang pasif, tidak mau menjawab pertanyaan
dari guru atau mengemukakan pendapatnya. Selain itu, guru kurang bisa
memanfaatkan waktu dengan baik dan kekurangtegasan guru dalam
mengorganisasi siswa pada saat pengamatan.
Berdasarkan anlisis data di atas, selanjutnya diadakan refleksi atas
proses pembelajaran yang telah berlangsung dan diperoleh hasil sebagai
berikut:
a. Guru harus meningkatkan pengelolaan pembelajaran dalam kelas
b. Lebih memotivasi siswa khususnya pada siswa yang pasif pada saat
proses belajar mengajar.
c. Guru harus berusaha memanfaatkan waktu dengan baik dan tegas
dalam mengorganisasikan siswa pada saat pengamatan.
Meskipun rata-rata hasil belajar telah memenuhi target, namun
ketuntasan secara klasikal belum memenuhi target. Hasil refleksi ini
digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk merencanakan proses
pembelajaran pada siklus berikutnya.
66
3. Siklus III
Materi yang dipelajari pada siklus III adalah mengenai pembuatan
koloid. Proses pembelajaran melalui pendekatan kontekstual berlangsung
lancar.
Berdasarkan observasi pelaksanaan siklus III diperoleh bahwa nilai
rata-rata hasil belajar kognitif sebesar 77 dengan ketuntasan secara
klasikal 86%. Rata-rata hasil belajar psikomotorik sebesar 70,2 dengan
ketuntasan secara klasikal 88,4%. Rata-rata hasil belajar afektif sebesar
69,5 dengan ketuntasan secara klasikal 86%. Pencapaian hasil belajar
tersebut telah memenuhi target yang ditetapkan untuk indikator yaitu,
sekurang-kurangnya 85% siswa mendapat nilai ≥ 65. Jika dibandingkan
dengan hasil belajar pada siklus I, siklus II dan sebelum tindakan hasil
belajar tersebut mengalami peningkatan. Hal ini berarti pemahaman siswa
terhadap materi yang dipelajari meningkat. Meningkatnya pemahaman
siswa tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya kinerja guru dan keaktifan
siswa dalam proses pembelajaran. Pada siklus III, nilai rata-rata aktivitas
sebesar 71,7 dengan keruntasan klasikal sebesar 86%.
Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa guru telah meningkatkan
kinerjanya dalam mengelola proses pembelajaran. Kinerja guru selama
proses pembelajaran siklus III termasuk dalam kriteria sangat baik.
Melalui teguran yang tegas, guru dapat mengendalikan siswa yang ramai
sehingga kondisinya lebih kondusif. Guru juga memotivasi siswa supaya
aktif bertanya, mengajukan pendapat, dan menjawab pertanyaan dari guru.
67
Selain itu, guru berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain untuk
memberikan bimbingan dan arahan kepada siswa yang masih tampak
bingung terhadap materi. Hal ini menyebabakan seluruh kelompok merasa
diperhatikan sehingga keaktifan siswa meningkat.
Dalam proses pembelajaran terjadi peningkatan jumlah siswa yang
aktif mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, dan mereka juga
sudah melakukan praktikum dengan tertib dan tepat waktu. Terlihat
kerjasama kelompok juga menunjukkan peningkatan. Peningkatan
banyaknya siswa yang terlibat aktif selama proses pembelajaran
merupakan salah satu indikator yang menunjukkan motivasi siswa untuk
belajar meningkat.
Selain diadakan post tes sebagai evaluasi, pada akhir pembelajaran
siklus III, siswa juga diberi kuesioner pengamatan minat siswa terhadap
pembelajaran yang telah dilakukan, yang berhubungan dengan pendekatan
kontekstual. Ternyata tanggapan siswa secara umum cukup baik, hal ini
ditunjukkan dengan hasil kuesioner yang dapat dilihat pada tabel 10.
Siswa merasa tertarik mengikuti pembelajaran dan menyukai suasana
kelas. Kondisi demikian dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan
aktivitas dan hasil belajarnya. Penggunaan pendekatan kontekstual dapat
digunakan untuk proses pembelajaran. Melalui pembelajaran demikian,
siswa tidak mengalami kesulitan dan merasa bahwa materi kimia bukanlah
hal yang harus ditakutkan.
68
Seperti pada siklus II, pada akhir siklus III juga diadakan refleksi
terhadap pelaksanaan proses pembelajaran. Hasil kegiatan refleksi siklus
III adalah sebagai berikut:
a. Sebagian besar siswa mempunyai aktivitas yang tinggi selama
pembelajaran, yaitu dengan rata-rata nilai aktivitas sebesar 71,7.
b. Tanggapan siswa terhadap pembelajaran cukup baik.
c. Penggunaan pendekatan kontekstual dapat membantu siswa dalam
memahami materi.
Hasil refleksi ini menunjukkan pelaksanaan pembelajaran pada siklus
III dinilai cukup berhasil dan telah memenuhi target penulis seperti yang
tercantum dalam indikator keberhasilan.
Uraian di atas menunjukkan bahwa adanya peningkatan aktivitas dan
hasil belajar dari siklus I sampai siklus III setelah diterapkannya
pembelajaran melalui pendekatan kontekstual. Hal ini sesuai dengan
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ambarwati (2005: 57)
diperoleh simpulan bahwa dengan menggunakan pendekatan kontekstual
(CTL) pada konsep sistem gerak dapat meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar siswa MTS N Parakan Kabupaten Temanggung.
69
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada
Bab IV dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan pendekatan kontekstual
aktivitas dan hasil belajar siswa kelas XI IPA 1 SMA N 1 Kendal dapat
meningkat. Peningkatan ini dapat dilihat dari:
1. Rata-rata nilai aktivitas siswa sebesar 64,4 pada siklus I, 68,2 pada siklus
II dan 71,7 pada siklus III.
2. Rata-rata nilai hasil belajar kognitif pada post tes sebagai evaluasi sebesar
69,7 pada siklus I, 76,7 pada siklus II, dan 77 pada siklus III.
3. Rata-rata nilai hasil belajar psikomotorik sebesar 63,1 pada siklus I, 65,4
pada siklus II, dan 70,2 pada siklus III.
4. Rata-rata nilai hasil belajar afektif sebesar 62,6 pada siklus I, 66,8 pada
siklus II, dan 69,5 pada siklus III.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka saran yang dapat
diberikan adalah:
1. Penerapan pendekatan kontekstual perlu dikembangkan pada topik lain
yang mempunyai permasalahan yang sama.
70
2. Jika akan diterapkan pendekatan kontekstual perlu adanya sistem kontrol
yang baik oleh guru pada saat siswa melaksanakan pengamatan dan
diskusi sehingga siswa benar-benar memanfaatkan waktu untuk
memahami materi dengan baik.
71
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, Fitriana. 2005. Skripsi: Penerapan Pendekatan Kontekstual Untuk
Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa pada Konsep Sistem
Gerak di MTS N Parakan Kabupaten Temanggung. Semarang:
UNNES.
Anni, Chatarina.T. 2004. Psikologi Belajar. Semarang: UPT MKK UNNES.
Anshory, Irfan. 1999. Acuan Pelajaran Kimia SMA. Jakarta: Erlangga.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
. 2002. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Darsono, Max, dkk. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang : IKIP
Semarang Press.
Depdiknas. 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and
Learning). Jakarta: Dirjendikdasmen.
. 2003. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian.
Jakarta: Dirjendikdasmen.
Dimyati. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Gulo. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo.
Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Johari. 2004. Kimia SMA. Jakarta: Erlangga.
Mulyasa. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Rosda Karya.
Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004 Pertanyaan dan Jawaban. Jakarta: Grasindo.
. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK.
Malang: Universitas Negeri Malang.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
PT Rineka Cipta.
http://www.sma1-sltg.sch.id/modules.php/.htm [accessed 21 / 03 / 2007]
72

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s